Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PEMANFAATAN SERAT RAMI PADA PEMBUATAN BETON NORMAL TERHADAP KEMAMPUAN UJI SIFAT MEKANIS YUDHA KUSUMA, GUZMANSYAH; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beton merupakan bahan komposit yang pada umumnya terdiri dari campuran seperti semen, agregat kasar (kerikil), agregat halus (pasir), dan air. Salah satu kelebihan beton diantaranya adalah memiliki kuat tekan yang tinggi dan kemudahannya untuk dibentuk, sehingga menjadikannya sebagai bahan konstruksi yang banyak digunakan dalam struktur bangunan. Beton yang lemah terhadap tarik dapat ditingkatkan kekuatannya yaitu dengan menambahkan serat sebagai tambahan bahan campuran untuk beton, oleh karena itu,dalam perkembangan beton berserat ,sering dilakukan penelitian penggunaan serat alami untuk beton,yang dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Salah satu serat yang bisa digunakan sebagai tambahan bahan campuran beton yang bersifat ekonomis dan ramah lingkungan adalah serat rami. Pada hasil pengujian, dimana digunakan benda uji berupa beton silinder 10 x 20 cm dan balok tanpa tulangan 53 x 15 x 15 cm dengan komposisi serat rami 0%, 0,5%, 1,0%, dan 1,5% dapat ditarik hasil bahwa penambahan serat rami pada beton normal mampu memperbaiki sifat mekanis beton yaitu untuk kuat tarik belah dan kuat lentur. Prosentase optimum penambahan serat rami pada campuran beton normal ialah 0,5% dari berat semen dimana didapat hasil uji pada umur 28 hari, dengan kuat tekan sebesar 29,961 MPa, kuat tarik belah sebesar 4,052 MPa, dan kuat lentur sebesar 3,410 MPa. Peningkatan kekuatan terjadi pada kuat tarik belah dan kuat lentur, sedangkan pada kuat tekan mengalami penurunan, dimana kuat tekan beton normal tanpa serat rami memiliki kuat tekan sebesar 31,801 MPa. Penambahan serat rami yang terlalu banyak dalam campuran beton dapat mengakibatkan penurunan terhadap sifat mekanis beton, hal ini disebabkan karena sifat serat yang menyerap air, sehingga air yang dibutuhkan dalam proses hidrasi pada beton berkurang yang mengakibatkan proses pengikatan terganggu. Kata kunci: Beton normal, Kuat tekan, Kuat tarik belah, Kuat lentur, Serat rami. Abstract Concrete is a composite material which generally consists of mixtures such as cement, coarse aggregate (gravel), fine aggregate (sand), and water. The advantages of concrete, that it has high compressive strength and ease to form, it makes concrete is a construction material that is widely used in building structures. The concrete has weakness in splitting tensile strength can be increased by adding fiber as an additional mixture for concrete, therefore, in the development of fibrous concrete, research is often carried out on the use of natural fibers for concrete, which are considered more economical and environmental friendly. One of the fibers that can be used as an addition to concrete mixtures that are economical and environmentally friendly is jute fiber. Test results, where the specimens were used in the form of cylindrical concrete 10 x 20 cm and beam without reinforcement 53 x 15 x 15 cm with the composition of jute fiber 0%, 0.5%, 1.0%, and 1.5% it results that the addition of jute fiber to normal concrete can improve the mechanical properties of concrete, for splitting tensile strength and flexural strength. The optimum percentage of the addition of jute fiber to normal concrete mixture was 0.5% from the weight of cement which obtained the test results at 28 days, with compressive strength is 29.961 MPa, splitting tensile strength is 4.052 MPa, and flexural strength is 3.410 MPa. Strength increase occurs in splitting tensile strength and flexural strength, while in compressive strength decreases, where the compressive strength of normal concrete without jute fiber has a compressive strength 31.801 MPa. The addition of too much jute fiber in the concrete mixture can decrease the mechanical properties of concrete, this is due to the nature of the fiber that absorbs water, so that the water on the hydration process in the concrete decreases which makes the binding process being disrupted. Keywords:Normal concrete, Compressive strength, Splitting tensile strength, Flexural strength, Jute fiber.
PERBANDINGAN PENGGUNAAN GELAGAR PRATEKAN JEMBATAN DENGAN MENGGUNAKAN BETON PRACETAK BENTUK I DAN U BAGUS HANAN TRISNO, TU; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Desain jembatan di Indonesia pada umumnya didominasi oleh penggunaan gelagar pratekan bentuk I. Hal tersebut dikarenakan bentuk penampang gelagar pratekan bentuk I yang relatif langsing dibandingkan gelagar bentuk lain sehingga dianggap lebih ekonomis. Akibatnya, jarang ditemukan pekerjaan jembatan bentang menengah yang menggunakan gelagar pratekan bentuk lain. Namun demikian, selain tingkat ekonomis, faktor lain yang perlu diperhitungkan adalah dalam perencanaan jembatan kekuatan struktur gelagar dalam menerima dan menahan beban layan yang ada. Oleh karena itu muncul alternatif gelagar pratekan bentuk U yang memiliki sifat lebih kaku dan memiliki kapasitas menahan beban yang lebih besar dibandingkan gelagar pratekan bentuk I. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat sebuah studi penggunaan gelagar pratekan bentuk U apabila dijadikan pembanding gelagar bentuk I pada jembatan Saekan tersebut. Gelagar pratekan yang digunakan baik bentuk I dan U adalah produk dari Wika Beton (2017) dengan mutu beton 60 MPa. Perencanaan mengacu pada SNI 1725:2016 tentang Standar Pembebanan untuk Jembatan, RSNI T-12-2004 tentang Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan, dan buku teks akademisi terkait. Jembatan Saekan dengan bentang 38,8 meter dibebani oleh beban permanen, beban lalu lintas, dan beban aksi lingkungan. Elemen pendukung yang dihitung meliputi kehilangan prategang baik jangka pendek dan jangka panjang serta nilai tegangan yang pada akhirnya mengarah pada nilai lendutan pada gelagar. Hasil analisis menunjukkan bahwa gelagar bentuk I memiliki efektifitas tegangan yang lebih baik karena tidak timbul tegangan tarik dibandingkan gelagar bentuk U yang terdapat tegangan tarik pada serat atas kondisi awal walaupun masih sama-sama dibawah batas ijin yang disyaratkan dalam RSNI T-12-2004. Sementara untuk lendutan akhir gelagar bentuk I dan bentuk U memiliki selisih yang kecil, dimana gelagar bentuk U lebih baik dengan nilai lendutan yang lebih kecil 0,1% atau 0,3 milimeter dibandingkan dengan gelagar bentuk I. Kata kunci : gelagar bentuk I, gelagar bentuk U, beton prategang, post tension. Abstract The design of bridges in Indonesia is generally dominated by the use of prestressed concrete I girders. It is used because the cross section of the prestressed concrete I girder is slimmer compared to other forms, so it is considered more economical. As a result, it is rare to find intermediate span bridge work that uses other forms of prestressed girder. However, besides the economic level, another factor that needs to be taken in the planning of the bridge is the strength of the girder structure in accepting and holding the existing service load. Therefore a prestressed concrete U girder has came out as an alternative that can be chosen with some advantadges such as more rigid and has a greater capacity to be loaded than the prestressed concrete I girder. The purpose of this research is to make a study about the use of prestressed concrete U girder when used as a comparison of the prestressed concrete I girder on the Saekan bridge. Both prestressed concrete I dan U girders are products of Wika Beton (2017) which has 60 quality of concrete. The planning refers to SNI 1725: 2016 concerning Standar Pembebanan untuk Jembatan, RSNI T-12-2004 concerning Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan, and other related textbooks. The Saekan bridge has 38.8 meters is loaded with permanent loads, traffic loads and environmental action loads. The supporting elements calculated include short-term and long-term prestressing losses and stress values ??which ultimately lead to deflection values ??in the girder. The results of the analysis shows that prestressed concrete I girder has a better stress effectiveness because no tensile stress occurs compared to the prestressed concrete U girder which has tensile stress on the limit required in the RSNI T-12-2004. While for the final deflection of the fiber for the initial conditions even though it is still below the permitted prestressed concrete I and U girder has a small difference, where the prestressed concrete U girder is better with a smaller deflection value of 0.1% or 0.3 millimeters compared to the prestressed concrete I girder. Key words : prestressed concrete I girder, prestressed concrete U girder, prestressed concrete, post tension.
PERBANDINGAN SUBSTITUSI AGREGAT PADA CAMPURAN ASPAL BETON AC-WC PEN 60/70 DENGAN ASPAL DAUR ULANG (ADU) RIZQI MIRANDASARI, MARISSA; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERBANDINGAN SUBSTITUSI AGREGAT PADA CAMPURAN ASPAL BETON AC-WC PEN 60/70 DENGAN ASPAL DAUR ULANG (ADU) Marissa Rizqi Mirandasari 1 , Yogie Risdianto, S.T.,M.T. 2 1 Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya 2 Dosen Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya S1 Teknik Sipil, Teknik, Universitas Negeri Surabaya Email:Marisarizqimirandasari@gmail.com Abstrak Teknologi daur ulang merupakan salah satu alternative pemecahan karena efektif dan efisien untuk pembuatan material baru. RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) adalah campuran perkerasan jalan (yang terdiri dari material aspal dan agregat) yang diambil dari perkerasan lama untuk kemudian diproses kembali untuk menjadi material perkerasan aspal untuk keperluan pekerjaan rekonstruksi atau pelapisan ulang (overlay). Pada awalnya, material RAP hanya dibuang menjadi limbah yang menumpuk dan mengganggu lingkungan, namun semakin berkembangnya teknologi baru untuk memanfaatkan bahan limbah tersebut dengan menambah bahan semen/aspal emulsi/ foamed bitumen untuk kemudian dijadikan material perkerasan yang baru sebagai bahan perkerasan jalan. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui mengetahui nilai kadar aspal optimum pada campuran aspal beton AC-WC (Asphalt Concrete ? Wearing Course) dan campuran Aspal 60/70 dengan Aspal Daur Ulang (ADU). (2) mengetahui kinerja campuran aspal beton AC-WC (Asphalt Concrete ? Wearing Course) dan campuran aspal 60/70 dengan Aspal Daur Ulang (ADU) yang ditinjau dari karateristik marshall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran beraspal panas AC-WC+RAP yang memiliki Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar berkisar antara 4,5% hingga 6%. Penggunaan Kadar Aspal Optimum (KAO) pada campuran beraspal panas AC-WC+RAP.V.I.M 4,8% , V.M.A 15,8% dan marshall quotient 375,3 kg/mm. Kata Kunci : Aspal Daur Ulang, Lapis Aspal Beton, Kadar Aspal Optimal, Karakteristik Marshall Abstact Recycling technology is an alternative solution to make new materials because it is effective and efficient for making new materials. RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) is a mixture of road pavement (consisting of asphalt and aggregate material) taken from old pavement and then reprocessed to become asphalt pavement material for reconstruction or overlaying. In the beginning, RAP material was only disposed of into waste which accumulated and disrupted the environment, but new technology was developed to utilize the waste material by adding cement / emulsion asphalt / foamed bitumen material to be used as new pavement material as pavement material.The purpose of this study was (1) to find out the optimum value of asphalt content in the mixture of AC-WC (Asphalt Concrete - Wearing Course) asphalt and Asphalt 60/70 mixture with Recycled Asphalt (ADU). (2) find out the performance of a mixture of AC-WC (Asphalt Concrete - Wearing Course) asphalt and 60/70 asphalt mixture with Recycled Asphalt (ADU) in terms of Marshall characteristics.The results showed that the value of Optimum Asphalt Levels (KAO) of hot-asphalt mixture AC-WC + RAP which had Optimum Asphalt Levels (KAO) amounted to between 4.5% and 6%. Use of Optimum Asphalt Levels (KAO) in AC-WC hot paved mixtures + RAP.V.I.M 4.8%, V.M.A 15.8% and Marshall quotient 375.3 kg / mm. Keywords: Recycled Asphalt, Concrete Asphalt Layer, Optimum Asphalt Content, Marshall Characteristics PENDAHULUAN Jalan adalah prasarana darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel (UUNo.38 Tahun 2004). Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan, Penyelenggara jalan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk memelihara jalan sesuai dengan kewenangannya. Pemeliharaan jalan tersebut merupakan prioritas tertinggi dari semua jenis penanganan jalan. Pemeliharaan jalan meliputi pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala, dan rehabilitasi. Jalan dengan perkerasan lentur / aspal sering kita jumpai di berbagai tempat. Namun kondisi jalan tersebut banyak yang mengalami kerusakan dikarenakan banyak faktor seperti volume lalu lintas yang meningkat, cuaca dan lain-lain. Penanganan untuk memperbaiki kerusakan jalan tersebut sering terkendala dengan biaya yang cukup besar. Untuk menanggulangi kerusakan jalan dengan keterbatasan dana maka diperlukan suatu metode perbaikan jalan yang efektif. Perbaikan jalan perkerasan aspal dengan cara lapis ulang (overlay) yang terus menerus akan mengakibatkan tebal lapis perkerasan semakin tebal sehingga elevasi jalan akan menjadi lebih tinggi bahkan bisa lebih tinggi dari pemukiman disekitarnya. Teknologi daur ulang merupakan salah satu alternative pemecahan karena efektif dan efisien. Penggunaan kembali (daur ulang) aspal dan agregat eks perkerasan selain ekonomis juga menunjang kebutuhan akan konservasi sumber daya alam. Galian Perkerasan Beraspal mencakup galian pada perkerasan beraspal lama dan pembuangan bahan perkerasan beraspal dengan maupun tanpa Cold Milling Machine (mesin pengupas perkerasan beraspal tanpa pemanasan). Pengupasan tanpa Cold Milling Machine dapat Mmenggunakan asphalt cutter, jack hammer, dan Iain-lain (Spesifikasi Umum Bina Marga, 2010). Hasil galian atau pengerukan perkerasan beraspal inilah yang disebut dengan Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) (NAPA, 1996). Di dalam RAP ini masih terdapat agregat, baik kasar maupun halus, dan aspal. Hal ini tentu saja memungkinkan RAP ini untuk bisa digunakan kembali. Jika hal ini dapat dilakukan, tentu saja akan mendukung program Green Construction (konstruksi yang berwawasan lingkungan) yang sedang digalakkan oleh pemerintah saat ini. Penggunaan Material RAP ini sangat potensial untuk diterapkan pada pemeliharaan perkerasan jalan seperti untuk kegiatan patching (tambal sulam), perbaikan bentuk permukaan, dan pelapisan kembali jalan dengan volume lalu lintas rendah. Selain itu material RAP ini juga sangat memungkinkan untuk dipakai sebagai bahan untuk perkerasan bahu jalan berpenutup aspal. Umumnya sebagian besar jalan yang ada di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan, menggunakan Agregat S sebagai bahu jalan tanpa penutup aspal. Tetapi, dengan curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi tanah yang tidak cukup stabil, pemakaian Agregat S untuk bahu jalan ini juga belum bisa memberikan kondisi pelayanan optimal bagi pengguna jalan. Permasalahan pada penelitian berdasarkan uraian diatas adalah sebagai berikut: (1) Berapakah nilai kadar aspal optimum pada campuran aspal beton AC-WC (Asphalt Concrete ? Wearing Course) dan campuran Aspal 60/70 dengan Aspal Daur Ulang (ADU)?; (2) Bagaimana kinerja campuran aspal beton AC-WC (Asphalt Concrete ? Wearing Course) dan campuran aspal 60/70 dengan Aspal Daur Ulang (ADU) yang ditinjau dari karateristik marshall ? Penelitian ini memiliki manfaat adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang pemilihan jenis penanganan dengan lapis tambah pada perkerasan lentur.. Dalam penelitian ini berikut batasan-batasan yang perlu diperhatikan adalah : (1) Penelitian ini akan dilakukan pada Aspal beton AC-WC dengan pen 60/70 menggunakan campuran ADU dan fly ash sebagai filler; (2) Penelitian ini akan melakukan beberapa uji seperti marshall test, dan Uji Fisis pada Aspal AC-WC pen 60/70 dengan campuran ADU dan fly ash sebagai filler; (3) Filler yang digunakan adalah limbah pembakaran batu bara yaitu fly ash. METODE Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian kuantitatif, karena penelitian dilakukan secara sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Dari data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui ketebalan lapis tambah yang diperlukan untuk penanganan kerusakan di lokasi penelitian serta kebutuhan biaya untuk penanganan kerusakan dengan lapis tambah. Penelitian ini dilakukan secara bertahap yang ditunjukkan pada diagram alir pelaksanaan penelitian sebagai berikut : MULAI PENDAHULUAN PENGUMPULAN DATA PERSIAPAN BAHAN PEN 60/70 + ADU + AGREGAT MERAK PERENCANAAN CAMPURAN PENGUJIAN CAMPURAN (MARSHALL TEST) YA TIDAK SELESAI ANALISIS HASIL/KONTROL STUDI LITERATUR Gambar 1. Diagram Alir Pelaksanaan Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian ini dilakukan di Laboratorium AMP PT. Merak Indo Mix Jl. Raya Krikilan Driyorejo KM.27 dan Laboratorium Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya Jl. Ketintang, Gayungan, Kota Surabaya, Jawa Timur 60231. Adapun waktu dari kegiatan penelitian skripsi ini dilaksanakan pada tanggal 01 Januari 2018 ? 07 September 2018. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah Aspal Beton Ac-Wc Pen 60/70. Pada penelitian ini akan dilakukan komparisasi Aspal AC-WC pen 60/70 yang diharapkan mampu memberikan alternatif/solusi dalam penggunaan material Aspal daur ulang pada kontruksi perkerasan jalan. Langkah - langkah Penelitian Penelitian ini menggunakan pengujian benda uji dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Pengumpulan data dan bahan Pengumpulan data dan bahan yang dilakukan untuk penelitian ini meliputi observasi untuk mendapatkan bahan/ material pengujian. 2. Studi Literatur Literatur adalah bahan atau sumber ilmiah yang digunakan untuk membuat suatu karya tulis atau kegiatan ilmiah lainnya. Sumber teori yang digunakan untuk penelitian ini meliputi jurnal ilmiah, buku pengantar kuliah, buku teknik sipil serta buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini. 3. Pembuatan Benda Uji Membuat benda uji atau briket beton aspal. Terlebih dahulu disiapkan agregat dan aspal sesuai jumlah benda uji yang akan dibuat dan menyiapkan campuran sesuai perhitungan gradasi dari substitusi agregat pada campuran aspal beton ac-wc pen 60/70 dengan aspal daur ulang (adu) dan aspal alam. Untuk mendapatkan kadar aspal optimum umumnya dibuat 10 buah benda uji dengan 5 variasi kadar aspal yang masing masing berbeda 0,5%. Kadar aspal yang dipilih haruslah sedemekian rupa, sehingga dua kadar aspal kurang dari nilai kadar aspal tengah, dan dua kadar aspal lagi lebih besar dari nilai kadar aspal tengah. Jika kadar aspal tengah adalah a% , maka benda uji dibuat untuk kadar aspal (a-1) %, (a-0,5) %, a %, (a+0,5) %, dan (a+1) %. Masing-masing kadar aspal dibuat 2 buah benda uji. Berikut adalah langkah-langkah pembuatan benda uji: a.) Campuran disiapkan untuk satu benda uji. Agregat ditimbang sesuai fraksi ukurannya berdasarkan gradasi yang diinginkan. Berat total agregat campuran adalah berat agregat yang dapat menghasilkan satu benda uji padat setinggi 6,35cm dengan diameter 10,2cm. Umumnya berat agregat campuran adalah ± 1200 gram.(Sukirman.S.2003) b.) Agregat dipanaskan sampai mencapai temperatur ± 20 °C di atas suhu pencampuran. Agregat panas dan aspal panas dimasukan kedalam tempat pencampuran untuk dicampur merata pada suhu pencampuran ± 150 °C sesuai dengan ketentuan beton aspal campuran panas (hotmix). c.) Campuran beton aspal panas dituangkan ke dalam mold yang telah disiapkan, ditusuk-tusuk, dan dipadatkan dengan mempergunakan penumbuk (hammer) seberat 10 pon (=4,356 kg) dengan tinggi jatuh 18 inch (=45,7 cm) dan jumlah tumbukan masing-masing sisi benda uji sebanyak 75 kali. Tabel 3.1 memberikan batasan tentang jumlah tumbukan yang dilakukan untuk setiap sisi benda uji, berdasarkan beban lalu lintas yang akan dilayani oleh perkerasan ini. Setelah pemadatan selesai dilakukan, maka benda uji dibiarkan dingin dan dikeluarkan dari mold. 4. Pengujian Material Pengujian dilakukan untuk mengukur atau mengetahui sesuatu dengan cara dan aturan yang sudah ditentukan. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian material dan benda uji sesuai kebutuhan penelitian. Rekapitulasi hasil pengujian material akan dimasukan kedalam grafik dan tabel yang akan dideskripsikan. Teknik Analisis Data Pada pelaksanaan penelitian ini, analisa data yang digunakan yaitu berupa deskriptif kualitatif. Data-data yang hasilkan dari praktik laboratorium akan diolah menjadi tabel dan grafik dengan bantuan software Microsoft Excel. Data tersebut kemudian akan dianalisa sebagai berikut: 1. Kelayakan Data Analisis untuk kelayakan data mengacu pada peraturan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 35/PRT/M/2006 untuk mengetahui data memenuhi persyaratan atau tidak. 2. Korelasi dan Regresi Analisis korelasi dan regresi dilakukan dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel untuk memperoleh hasil perhitungan yang baik. 3. Analisa Deskriptif Data yang diperoleh dikelompokkan menjadi beberapa populasi yang selanjutnya diolah sehingga mendapatkan parameternya. Parameter adalah nilai yang menjadi ciri ? ciri dari sebuah populasi. Dengan bantuan parameter ini diharapkan nantinya bisa diambil kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan. a. Mengidentifikasi Parameter-parameter Marshall b. Melakukan Studi Komparisasi kualitas kinerja antara Asbuton dan Aspal AC-WC pen 60/70. c. Melakukan Analisa dari hasil pengujian sifat fisis aspal d. Melakukan Analisa dari hasil pengujian Kuat Tekan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. KAO AC-WC + RAP Hasil pangujian marshall dengan meggunakan kadar aspal rencana (3%, 3,5%, 4%, 4,5%, 5%, 5,5%, 6%) untuk campuran AC-WC dan RAP diperoleh Kadar Aspal Optimum (KAO) yang ditentukan dari menggabungkan nilai VIM, VMA, VFA, Stabilitas, Flow dan Marshall Quotient (MQ) yang mendapatkan suatu selang kadar aspal yang memenuhi syarat tersebut yaitu berkisar 5,0%. Penentuan kadar aspal optimum (KAO) ditentukan dari hubungan beberapa parameter pengujian mix design aspal AC-WC dan RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) dengan standar yang disyaratkan, seperti pada Gambar diatas. a. Analisis Terhadap Nilai VIM Gambar 4.2. Grafik Analisis Nilai V.I.M Menunjukkan hasil pengujian pada VIM sudah memenuhi spesifikasi pada penambahan kadar aspal 5%-6% karena berada dalam batasan spsesifikasi yang diberikan oleh Bina Marga 2010 (Revisi I Divisi 6) yaitu dengan nilai VIM diantara 3.5%-5%. Sedangkan pada hasil Marshall Test untuk kadar aspal 3%- 4.5% hasil uji yang didapat kurang memuaskan karena tidak memenuhi spesifikasi sehingga dapat diambil kesimpulan untuk analisis terhadap nilai VIM kadar aspal yang paling baik yaitu antara 5%-6%. b. Analisi Terhadap Nilai VMA Gambar 4.3. Grafik Analisis Nilai V.M.A. Persentase yang didapat pada setiap kadar aspal mengalami peningkatan. Hasil tabel menunjukkan semakin banyak kadar aspal yang disubstitusikan semakin tinggi pula nilai VMA yang didapat. Namun hanya kadar aspal 4,5%-6% yang memenuhi spesifikasi 15%. PENUTUP Simpulan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) sebagai bahan substitusi agregat terhadap karakteristik Marshall dengan tambahan fly ash sebagai filler , maka pada penelitian ini berhasil diperoleh kesimpulan antara lain adalah (1) nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) pada campuran beraspal panas AC-WC+RAP yang memiliki Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar antara 4,5% hingga 6%; (2) berdasarkan hasil pengujian di laboratorium diperoleh nilai stabilitas tertinggi pada campuran beraspal panas Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) yang memiliki stabilitas Marshall 1208,64 kg. DAFTAR PUSTAKA Sukirman Silvia, April 2003. Beton Aspal Campuran Panas. Jakarta Sukirman Silvia, 1999. Perkerasan Lentur Jalan Raya. Penerbit Nova, Bandung. PutrowijoyoRian, 2006. Kajian Laboratorium Sifat Marshall dan Durabilitas AC-WC dengan Membandingkan Penggunaan Semen Portland dengan Abu Batu sebagai Filler. Tesis. Semarang: PPs Teknik Sipil Universitas Diponegoro. Anonim, 2010. Spesifikasi Umum. Kementrian Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Bina Marga, Republik Indonesia. Departemen Pekerjaan Umum, Revisi 2010. Rancangan Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan Divisi VI Perkerasan Beraspal. Edisi November 2010. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta Hendarsin, Shirley L. 2000.PerencanaanTeknikJalan Raya, JurusanTeknikSipil ? PoliteknikNegeri Bandung. Bandung. Sugiyono. 2004. Statitika Untuk Penelitian. Alfabeta : Bandung. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & RND. Alfabeta : Bandung. Tenriajeng, Andi Tenrissuki. 2002. Rekayasa Jalan Raya-2. Penerbit Gunadarma : Jakarta.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT SABUT KELAPA PADA PEMBUATAN BETON RINGAN CELLULAR LIGHTWEIGHT CONCRETE MARFRANKLIN, MUHAMMAD; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di era globalisasi, pertumbuhan sumber daya manusia yang semakin tinggi meningkatkan kebutuhan di bidang pembangunan dan hal ini menimbulkan kebutuhan akan material untuk pembangunan tersebut salah satunya adalah penggunaan beton. Penggunaan beton sangat diminati karena keunggulannya yaitu kuat akan gaya tekan, ketersediaan material dasar, dan tahan akan cuaca , namun beton juga memiliki kelemahan yaitu berat sendiri beton yang menambah beban berat pada gedung, dan lemah akan gaya tarik.Penelitian ini dilakukan penambahan serat sabut kelapa dengan tujuan untuk solusi kelemahan beton ringan terhadap tarik serta membuat beton ringan lebih padat dikarenakan pori-pori beton ringan terisi oleh serat sabut kelapa sehingga kuat tekan dan kuat tariknya meningkat serta mengurangi resapan airnya. Penambahan serat ini memiliki variasi penambahan sebesar 0%, 0.1%, 0.3%, 0.5% dan 0.7% terhadap volume benda uji. Hasil penelitian dari penambahan variasi tersebut diperoleh bahwa kuat tekan beton tertinggi pada variasi 0.3% sebesar 5.06 MPa dengan berat volume 0.99 gr/cm3 dan resapan air 24.31%, sedangkan variasi tanpa serat atau 0% diperoleh sebesar 4.19 MPa dengan berat volume 1.05 gr/cm3 dan resapan air 23.07% pada umur 28 hari. Kuat lentur tertinggi diperoleh pada variasi 0.3% sebesar 0.92 MPa dengan berat volume 0.828 gr/cm3 pada umur 28 hari. Kata Kunci: Beton Ringan, Serat Sabut Kelapa.In this globalization era, the growing of human resources leads the needs of development and its material, one of them is concrete. The use of concrete is very desirable because of its advantages, it has strong compressive force, availability of basic materials, and wheather resistance, but concrete also has disadvantages, its weight adds heavy loads to the building, and weak of pulling force.This research was carried out with the addition of coconut fiber with the aim of solution to the weakness of lightweight concrete to tensile strength and to make lightweight concrete denser because the pores of lightweight concrete were filled with coconut fiber so that the compressive strength and tensile strenght increased it can reduce water absorption. The variation of fiber addition were 0%, 0.1%, 0.3%, 0.5% and 0.7% with respect to the volume of test object.The result of addition of the variation showed that the highest concrete compressive strenght in the variation of 0.3% by 5.06 MPa with a volume weight of 0.99 gr/cm3 and water absorption of 24.31%, while the variation without fiber or 0% was obtained at 4.19 MPa with volume weigth 1.05 gr/cm3 and 23.07% water absorption at the age oft 28 days. The highest flexural strength was obtained the highest at 0.3% variation of 0.92 MPa with a volume weight of 0.828 gr/cm3 at the age of 28 days. Keywords: Lightweight concrete, Coconut Fiber.
PENGARUH VARIASI JUMLAH TUMBUKAN MENGGUNAKAN ASBUTON BUTON GRANULAR ASPHALT (BGA) DAN LAWELE GRANULAR ASPHALT (LGA) SEBAGAI CAMPURAN ASPHALT CONCRETE WEARING – COURSE (AC – WC) PENETRASI 60/70 HASAN BASRI, MOHAMMAD; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Kadar Aspal Optimum dari variasi jumlah tumbukan dan untuk mengetahui pengaruh variasi jumlah tumbukan terhadap asbuton BGA dan LGA pada campuran Asphalt Concrete ? Wearing Course (AC ? WC) melalui pengujian Marshall. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan melakukan pengujian di laboratorium. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengarush asbuton BGA dan LGA dengan analisa data yang sudah ditentukan. Kadar Aspal Optimum yang dihasilkan oleh campuran AC ? WC dengan 75 dan 112 tumbukan adalah 5,5%. Kadar Aspal Optimum yang dihasilkan oleh campuran AC-WC dan BGA didapatkan 5,0% untuk 75 tumbukan dan 5,5% untuk 112 tumbukan. Kadar Aspal Optimum yang dihasilkan oleh campuran AC-WC dan LGA dengan 75 dan 112 tumbukan adalah 5,0%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan jumlah tumbukan 75 menghasilkan nilai stabilitas yang lebih tinggi dari tumbukan 112. Rata ? rata nilai flow yang dihasilkan oleh tumbukan 75 telah memenuhi spesifikasi jika dibandingkan dengan tumbukan 112. Hal ini menunjukkan bahwa dengan jumlah tumbukan lebih dari 75 semua benda uji campuran AC-WC dengan BGA maupun LGA tidak memenuhi spesifikasi Bina Marga 2010. Kata Kunci: AC ? WC, Asbuton, Tumbukan Abstract The purpose of this study was to determine the Optimum Asphalt Level from variations in the number of collisions and to determine the effect of variations in the number of collisions on BGA and LGA asbuton in a mixture of Asphalt Concrete - Wearing Course (AC - WC) through Marshall testing. This research was quantitative research by testing in the laboratory and conducted to determine the effect of BGA and LGA asbuton by analyzing the data that has been determined. Optimum Asphalt Levels produced by AC-WC mixtures with 75 and 112 collisions are 5.5%. Optimum Asphalt Levels produced by a mixture of AC-WC and BGA obtained 5.0% for 75 collisions and 5.5% for 112 collisions. Optimum Asphalt Levels produced by a mixture of AC-WC and LGA with 75 and 112 collisions are 5.0%. The results showed that with the number of collisions 75 produced a higher stability value of collision 112. The average flow value produced by the collision 75 has met the specifications when compared with collision 112. This shows that with the collision number of more than 75 all test specimens the mix of AC-WC with BGA and LGA did not meet the 2010 Bina Marga specifications. Keywords: AC - WC, Asbuton, Collision
PENGGUNAAN ASBUTON LAWELE GRANULAR ASPHALT (LGA) DAN BUTON GRANULAR ASPHALT (BGA) PADA CAMPURAN ASPAL PORUS ADNANY, IFTITAH; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Aspal porus merupakan generasi baru dalam perkerasan lentur. Aspal porus memiliki campuran dengan agregat tertentu, yang didesain mempunyai pori-pori udara dan membolehkan air meresap secara vertical maupun horizontal. Aspal porus memiliki nilai stabilitas marshall yang lebih rendah dari aspal beton yang menggunakan gradasi rapat. Penggunaan aspal porus dinilai bisa menjadi solusi dari permasalahan kondisi jalan di Indonesia. Asbuton ditemukan oleh geolog asal Belanda WH Hetzel Asbuton pada tahun 1924, dan digunakan pertama kali dalam pengaspalan jalan dua tahun kemudian. Aspal alam di Pulau Buton totalnya tidak kurang dari 750 juta ton, ini berarti 80% cadangan aspal alam di dunia terdapat di Pulau Buton. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan Buton Granular Asphalt (BGA) dan Lawele Granular Asphalt (LGA) dalam campuran Aspal Porus yang menggunakan agregat bergradasi seragam ditinjau dari karakteristik Marshall. Agregat bergradasi seragam adalah agregat yang hanya terdiri dari butir ? butir agregat berukuran sama atau hampir sama. Metode penelitian ini menggunakan standart SNI 06-2489-1991 dengan gradasi campuran menggunakan standart Australian Asphalt Pavement Association (2004). Variasi kadar aspal dengan campuran LGA BGA adalah 2%, 2,5%, 3%, 3,5%, 4%, dan 4,5% dengan menggunakan aspal pen 60/70. Serta penambahan BGA pada agregat halus (0 mm-5 mm) dengan perbandingan 50:50 dan penambahan LGA pada agregat medium (5 mm ? 10 mm) dengan perbandingan 50:50. Hasil penelitian menunjukan dengan adanya penambahan asbuton LGA dan BGA berpengaruh cukup baik dilihat dari nilai stabilitas menigkat mencapai 724,3 kg, mengalami kenaikan hingga 15,66% dari campuran aspal porus tanpa penambahan LGA dan BGA. Untuk nilai VIM pada kadar aspal 2,75% telah memenuhi spesifikasi dari Australian Asphalt Pavement Association (2004) sehingga dapat memenuhi parameter untuk struktur perkerasan lentur. Nilai permeabilitas mengalami penurunan dari kondisi kontrol tetapi tetap berada di atas standart yang ditentukan. Kata Kunci : Aspal porus, Buton Granular Asphalt (BGA), Lawele Granular Asphalt (LGA), Marshall, Permeabilitas.
PEMANFAATAN LIMBAH BETON SEBAGAI BAHAN CAMPURAN ASPAL PORUS KURNIA WILUJENG, BERLIAN; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, limbah beton yang digunakan sebagai subtitusi material pada konstruksi perkerasan jalan masih belum dikembangkan. Aspal porus merupakan campuran perkerasan yang memiliki porositas tinggi dibanding dengan jenis perkerasan lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik marshall dan permeabilitas dari campuran limbah beton untuk perkerasan jalan aspal porus. Pada penelitian ini, metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan standar gradasi Australian Asphalt Pavement Association (2004). Digunakan variasi kadar aspal campuran limbah beton adalah 4%, 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, 6,5% dengan menggunakan aspal pen 60/70. Masing-masing dibuat 3 benda uji untuk dilakukan pengujian Marshall dan 2 benda uji untuk dilakukan pengujian Permeabilitas. Hasil analisis dari penelitian menunjukkan kadar aspal optimum sebesar 5,75%. Dengan menggunakan limbah beton sebagai campuran aspal porus, memberikan pengaruh yang signifikan pada nilai Void In Mix, stabilitas, flow, dan juga permeabilitas.Kata Kunci: Aspal Porus. Limbah Beton, Marshall, Permeabilitas
PEMANFAATAN SERAT KARUNG GONI (RAMI) SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN BETON DAN ELECTRIC ARC FURNACE SLAG 30% SEBAGAI SUBTITUEN PASIR PADA PEMBUATAN BETON NORMAL DUDDIAN WAHYU RAHMAN, MEDIO; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu bahan campuran beton normal yaitu pasir juga mempunyai dampak buruk dalam kerusakan alam. Electrical Arc Frunance Slag atau limbah dari pembakaran atau peleburan baja yang merupakan limbah dari hasil proses pembakaran dari pabrik baja dapat dimanfaatkan sebagai substitusi pasir pada beton.Beton yang lemah terhadap tarik dapat ditingkatkan kekuatannya yaitu dengan menambahkan serat sebagai tambahan bahan campuran untuk beton. Bahan serat yang digunakan pada beton dapat berupa serat kawat, serat plastik (polypropylene), atau serat alami. Perkembangan beton berserat ,sering dilakukan penelitian penggunaan serat alami untuk beton,yang dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh EAFS dan serat rami pada campuran beton terhadap sifat mekanis beton. Pada penelitian ini akan melakukan experimental dengan menggunakan persentase EAFS 30% dan variasi serat rami 0%,0,5%0,75%,1% untuk kuat tekan , tarik dan lentur pada beton. Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dengan memanfaatkan Electrick Arc Furnace Slag (30%) dan serat rami pada campuran beton normal mampu memperbaiki kuat tarik belah dan kuat lentur pada beton penggunaan serat rami optimal yang dapat ditambahkan pada campuran beton ialah sebesar 0,5% dapat meningkatkan kuat tarik sebesar 30,84%.One material that is a mixture of concrete, namely sand, also has a negative impact on environmental damage. Electrical Arc Frunance Slag or a waste from steel combustion or melting which is a waste from the results of the combustion process of a steel plant can be used as a substitute for sand in concrete. Weak concrete against the drag can be strengthen by adding fiber as a mixture of concrete. Fiber materials used in concrete can be wire fibers, plastic fibers (polypropylene), or natural fibers. Many researches have been done for the development of fibrous concrete, which often carried out by using natural fibers for concrete, is more economical and environmentally friendly. The purpose of this study was to determine the effect of EAFS and hemp fiber on concrete mixtures in terms of the mechanical properties of concrete. In this research, the experiment are done by using 30% percentage of EAFS and the variation of hemp fiber start from 0%, 0.5% 0.75%, 1% for compressive strength, tensile strength and bending. The results of the research that have been carried out can be concluded that by utilizing Electrick Arc Furnace Slag (30%) and hemp fiber in normal concrete mixtures can improve split tensile strength and flexural strength in concrete using optimal hemp fiber which can be added to the concrete mixture is 0, 5% can increase the tensile strength by 30.84%
PEMAKAIAN LIMBAH ASPAL SEBAGAI SUBTITUSI AGREGAT PADA CAMPURAN ASPAL PORUS DEANITA PUTRI, AYU; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) adalah limbah aspal yang didapat dari pengerukan perkerasan jalan, RAP sendiri jarang dimanfaatkan dan menumpuk di suatu tempat yang mengganggu lingkungan sekitarnya. Dari penjelasan tersebut muncul suatu inovasi dengan memanfaatkan limbah aspal sebagai substitusi agregat pada campuran aspal porus. Sehingga dengan memanfaatkan limbah aspal sebagai substitusi agregat, diharapkan menghasilkan perpaduan yang baik.Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa RAP ketika dirancang dengan baik dapat memiliki kinerja yang lebih baik atau serupa dengan campuran aspal panas. Dengan demikian, dalam penilitian ini penggunaan RAP sebagai agregat pada campuran aspal porus diharapkan bisa menghasilkan campuran yang baik. Dalam penelitian ini dilakukan analisa saringan untuk menentukan komposisi agregat dengan spesifikasi AAPA (2004). Didapat komposisi campuran agregat tiap-tiap fraksi 45% (10-15mm), 40% (RAP 5-10mm), 11% (0-5 mm), dan filler 4%. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode marshall dan permeabilitas untuk mengetahui karakteristik campuran. Hasil penelitian menunjukan dengan penggunaan RAP didapat stabilitas 654.50 kg, flow 3.3 mm, dan permeabilitas 0.15 cm/dt. Hasil tersebut memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan oleh AAPA (2004). Kata kunci : Karakteristik Marshall, Permeabilitas, Aspal Porus, Limbah Aspal, AAPA 2004 Reclaimed Asphalt Pavement is a waste obtained from dredging asphalt pavement, RAP is rarely used and piled up somewhere, RAP cumulation can disrupt the surrounding environment. At the same time, the growing importance of environmental and economic matters has led reserchers and engineers to promote reusing milled materials rather than using valuable and nonrenewable natural resources (bitumen and aggregates). Recenlty, we revealed that when properly designed, RAP can have better or similiar performance to those of new conventional hot mix asphalt mixtures. Thus, in this research study, the use of RAP as aggregate in porous asphalt was evaluated with the hope of using RAP as aggregate in porous asphalt mixture could produce a good mixture. In this study has been carried out sieve analysis to specify the aggregate composition with the AAPA (2004) specifications. The results showed the composition of the aggregate mixture in each fraction required 45% (10-15 mm); 40% (RAP 5-10mm); 11% (0-5mm), and 4% (filler). Various performance tests such as marshall and permeability test has been carried out to discover characteristics of porous asphalt mixture with RAP. The results showed with the use of RAP in porous asphalt mixture obtained stability 654.50 kg, flow 3.3 mm, and permeability 0.15 cm/dt. The laboratory results indicate that the porous asphalt mixture with RAP provide better performance in terms of stability, flow, and permeability, also these research results fulfill the specifications by AAPA (2004). Keywords : Marshall Characteristic, Permeability, Porous Asphalt, Asphalt Waste, AAPA 2004
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT SABUT KELAPA (COCONUT FIBER) TERHADAP KUAT TEKAN , KUAT TARIK BELAH DAN KUAT LENTUR PADA BETON RIVALDO LUMBAN TOBING, GHARY; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beton terdiri dari bahan campuran semen, kerikil, pasir, air dan bahan tambah. Penggunaan bahan tambah berupa serat alam yakni serat sabut kelapa diharapkan dapat memperbaiki sifat mekanik beton terkhususnya beton normal. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui komposisi penambahan serat sabut kelapa yang meningkatkan nilai kuat tekan, kuat tarik belah dan kuat lentur pada beton. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan merancang komposisi campuran beton untuk masing-masing tambahan serat serabut kelapa kemudian membuat sampel beton berbentuk silinder dan balok untuk kemudian dilakukan pengujian terhadap beton Penelitian ini menggunakan kuat tekan rencana f?c 24,90 N/mm2. Benda uji berupa silinder beton berukuran 15x30 cm dan balok beton berukuran 15x15x60 cm. Proses pengujian kuat tekan , kuat tarik belah, dan kuat lentur dilakukan pada umur beton 7 , 14, 21, dan 28 hari. Serat serabut kelapa sebagai bahan tambahan berupa serat dengan ukuran panjang 25-40 mm dan dengan persentase 2%, 4%, dan 6%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan serat serabut kelapa 2% mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kuat tarik belah dan kuat lentur, namun mengalami penurunan kuat tekan. Sehingga, kadar optimum penambahan serat serabut kelapa terhadap kuat lentur dan kuat tarik belah tertinggi terjadi pada penambahan sebesar 2% diperoleh rata-rata kuat tarik belah sebesar 2,38 MPa dan kuat lentur sebesar 5,705 MPa. Kata Kunci: beton serat, kuat lentur, kuat tarik belah, kuat tekan, serat serabut kelapa, ABSTRACT Concrete content consists of a mixture of cement, gravel, sand, water and added ingredients The use of natural fibers, namely coconut fiber, is expected to improve the mechanical properties of concrete, especially normal concrete. This study is intended to determine the composition of the addition of coconut fiber which increases the value of compressive strength, split tensile strength and flexural tensile strength in concrete. The research method is to design the composition of the concrete mixture for each coconut fiber addition and then produce cylinder and beam concrete samples to then test the concrete. This research using compressive strength plan f?c 24,90 N/mm2. The test specimen is a 15x30 cm concrete cylinder and a 15x15x60 cm concrete beam. The testing process of compressive strength, split tensile strength, and flexural tensile strength was carried out at 7, 14, 21 and 28 days of concrete. The proportion of fiber concrete mixture is 3 variations of stir. Coconut fiber as an additional material in the form of fibers with a length of 25-40 mm and with a percentage of 2%, 4%, and 6%. The results showed that the addition of 2% coconut fiber had an effect on the increase in split tensile strength and flexural strength, but experienced a decrease in compressive strength. Thus, the optimum level of coconut fiber addition to the highest flexural strength and split tensile strength occurred in an addition of 2% obtained by the average split tensile strength of 2.38 MPa and flexural strength of 5.705 MPa. Key words: coconut fiber, compressive strength, fiber concrete, flexural tensile strength, splitting tensile strength