Dewi, Sheli Mustikasari
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ISOLASI, PEMURNIAN, DAN IDENTIFIKASI Trichoderma sp. DARI RHIZOSFER BAMBU Alma’sum, Mochamad Lurie; Ramadhan, R. Arif Malik; Dewi, Sheli Mustikasari
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 22 No 2 (2025): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fp.v22i2.4783

Abstract

Penggunaan pestisida sintetis yang berlebihan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan, serta menyebabkan resistensi patogen. Salah satu alternatif ramah lingkungan adalah pemanfaatan jamur Trichoderma sp. sebagai agen pengendali hayati. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi, mengisolasi, memurnikan, dan mengidentifikasi Trichoderma sp. dari rhizosfer bambu di Desa Leuwibudah, Kecamatan Sukaraja. Metode yang digunakan meliputi pengambilan sampel tanah rhizosfer (500 g), pemancingan menggunakan media daging kelapa, isolasi dan purifikasi pada Potato Dextrose Agar (PDA), serta identifikasi mikroskopis dengan metode kultur slide pada pembesaran 400x. Hasil eksplorasi menghasilkan empat isolat dengan variasi warna hijau dan kuning. Setelah purifikasi, tiga isolat diperoleh sebagai kultur murni, yaitu T1 hijau, T4 hijau, dan T4 kuning. Identifikasi mikroskopis menunjukkan bahwa isolat T4 kuning dapat dikonfirmasi sebagai Trichoderma sp. dengan konidia dan fialid terbentuk sempurna serta pertumbuhan koloni lebih cepat, sedangkan T1 hijau dan T4 hijau belum menunjukkan morfologi lengkap. Penelitian ini menegaskan bahwa rhizosfer bambu berpotensi sebagai sumber isolat lokal Trichoderma sp. yang dapat dikembangkan sebagai biofungisida berbasis kearifan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Pertumbuhan Bibit Kopi Arabika Malabar (Coffea arabica) yang Diaplikasikan Pupuk Organik Hayati Padat di Gunung Malabar, Kabupaten Bandung: Growth Performance of Malabar Arabica Coffee (Coffea arabica) Seedlings Applied with Solid Bio-Organic Fertilizer in Malabar Mountain, Bandung Regency Dewi, Sheli Mustikasari; Amalia, Istia Siti; Ningtyas, Dewi Nurma Yanti; Septianugraha, Reza; Giffari, Fahri Rijal; Rohimat, Nanang
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.8144

Abstract

Kopi arabika merupakan tipe kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Keberhasilan produksi kopi jangka panjang sangat ditentukan oleh kualitas bibit pada fase pembibitan. Masalah utama dalam pembibitan kopi konvensional adalah ketergantungan pada penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Penggunaan pupuk organik hayati (POH) padat menawarkan pendekatan yang lebih holistik dalam manajemen nutrisi pembibitan. Penelitian ini bertujuan  untuk menganalisis parameter pertumbuhan bibit kopi Arabika Malabar sebagai respon terhadap pemberian dosis POH padat yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus–Oktober 2024 di area pembibitan (nursery) yang berlokasi di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Menggunakan metode eksperimental dengan analisis komparatif antara dua perlakuan, yaitu aplikasi 100% dosis rekomendasi pupuk kimia tunggal dan aplikasi Bio Soltamax + 50% dosis rekomendasi pupuk kimia. Hasil penelitian menunjukkan bibit yang diberi perlakuan Bio Soltamax + 50% pupuk kimia memiliki rata-rata tinggi sebesar 56,58 cm dan rata-rata jumlah daun sebanyak 31,89 helai. Hal ini membuktikan bahwa integrasi Bio Soltamax dengan pengurangan 50% dosis pupuk kimia merupakan perlakuan terbaik untuk memacu pertumbuhan bibit kopi Arabika Malabar, terbukti mampu meningkatkan tinggi bibit (56,58 cm) dan jumlah helai daun (128,7%) secara signifikan dibandingkan dengan perlakuan kimia konvensional. Arabica coffee is a type of traditional coffee with the best taste. The success of long-term coffee production is largely determined by the quality of the seedlings in the seedling phase. The main problem in conventional coffee nurseries is the reliance on excessive use of chemical fertilizers. The use of solid Bioorganic Fertilizers (POHs) offers a more holistic approach to nursery nutrient management. This study aims to analyze the growth parameters of Malabar Arabica coffee seedlings in response to the administration of different doses of solid POH. This research was carried out in a nursery area located in Tanjungsari District, Sumedang Regency, West Java. Using an experimental method with comparative analysis between two treatments, namely the application of 100% of the recommended dose of a single chemical fertilizer and the application of Bio Soltamax + 50% of the recommended dose of chemical fertilizer. The results showed that the seedlings treated with Bio Soltamax + 50% Chemical Fertilizer had an average height of 56.58 cm and an average number of leaves of 31.89 leaves. This proves that the integration of Bio Soltamax with a 50% reduction in the dose of chemical fertilizer is the best treatment to spur the growth of Malabar Arabica coffee seedlings, proven to be able to significantly increase the height of the seedlings (56.58 cm) and the number of leaf strands (128.7%) compared to conventional chemical treatments.
The Penggunaan Pupuk Organik Hayati Padat Pembenah Tanah Terhadap Hasil Panen Tanaman Kemangi (Ocimum basilicum L.) di Tanjungsari Kabupaten Sumedang: The Application of Solid Bio-Organic Fertilizer as a Soil Conditioner on the Yield of Basil (Ocimum basilicum L.) in Tanjungsari, Sumedang Regency Ningtyas, Dewi Nurma Yanti; Dewi, Sheli Mustikasari; Giffari, Fahri Rijal; Shidiq, Fauziah Zahra Ash; Mastur, Adhi Irianto
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.8168

Abstract

Tanaman kemangi (Ocimum basilicum L.) memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai sayuran segar yang banyak dikonsumsi. Di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, budidaya kemangi menghadapi hambatan berupa penurunan kualitas tanah dan rendahnya efisiensi pemupukan, sehingga hasil panen tidak optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pupuk organik hayati (POH) padat sebagai pembenah tanah terhadap pertumbuhan dan bobot panen kemangi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan: kontrol (A), 100% POH (B), POH + 25% dosis rekomendasi anorganik (C), POH + 50% dosis rekomendasi anorganik (D), POH + 100% dosis rekomendasi anorganik (E), dan 100% pupuk anorganik (F),masing-masing diulang empat kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman dan bobot panen. Hasil menunjukkan kombinasi POH dengan 50% pupuk anorganik memberikan pertumbuhan optimal (tinggi 30,41 cm; bobot 27,32 g), lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain dan kontrol. Efektivitas ini terkait kontribusi mikroorganisme POH dalam meningkatkan ketersediaan hara, fiksasi nitrogen, pelarutan fosfat, stimulasi fitohormon, serta perbaikan struktur tanah. Studi menyimpulkan penggunaan POH padat dengan 50% pupuk anorganik dapat meningkatkan hasil kemangi, efisiensi pemupukan, dan mendukung pertanian berkelanjutan. Basil (Ocimum basilicum L.) is an economically valuable crop widely consumed as a fresh vegetable. In Tanjungsari, Sumedang Regency, basil cultivation faces challenges including declining soil quality and low fertilizer use efficiency, resulting in suboptimal yields. This study aimed to evaluate the effect of solid Bio-Organic Fertilizer (BOF) as a soil conditioner on the growth and yield of basil. The experiment was conducted using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with six treatments: control (A), 100% BOF (B), BOF + 25% recommended inorganic fertilizer (C), BOF + 50% recommended inorganic fertilizer (D), BOF + 75% recommended inorganic fertilizer (E), and 100% inorganic fertilizer (F), each replicated four times. Observed parameters included plant height and fresh weight. Results indicated that the combination of BOF with 50% inorganic fertilizer produced the highest growth and yield (30.41 cm height; 27.32 g fresh weight), outperforming other treatments and the control. This effectiveness is attributed to the contribution of BOF microorganisms in enhancing nutrient availability, nitrogen fixation, phosphate solubilization, phytohormone stimulation, and soil structure improvement. The study concludes that applying solid BOF with 50% inorganic fertilizer can increase basil yield, improve fertilizer use efficiency, and support sustainable agriculture.
PENGARUH Trichoderma sp. TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAWAWUT (Setaria italica L. Beauv) PADA KONDISI CEKAMAN KEKERINGAN Dewi, Sheli Mustikasari; Amalia, Istia Siti; Ningtyas, Dewi Nurma Yanti; Haqia, Thoriq Muhammad; Yusuf, Muhammad
Jurnal Agroteknologi Vol 16, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/ja.v16i2.39026

Abstract

Drought stress caused by limited water supply in the root zone can inhibit plant growth. Foxtail millet (Setaria italica L. Beauv) is an alternative carbohydrate source known for its drought tolerance and ease of cultivation. Biofertilizers based on Trichoderma sp. can serve as biological agents that promote plant growth under abiotic stress conditions, including drought. This study aimed to evaluate the effect of Trichoderma sp. application on growth and yield of foxtail millet under drought stress conditions. This study was conducted at the Munjuljaya Experimental Field, Purwakarta Regency, using a factorial Randomized Block Design (RBD) with three replications. The first factor was Trichoderma sp. dosage with four levels: T0 (0 g), T1 (20 g), T2 (40 g), and T3 (60 g). The second factor was drought stress with three levels: C1 (25% field capacity), C2 (50% field capacity), and C3 (75% field capacity). In total, 30 experimental units were tested. The results showed that Trichoderma sp. application and water treatment did not significantly affect plant height, tiller number, leaf chlorophyll index, panicle length, panicle weight, fresh root weight, root length, 1000-seed weight, and shoot-root ratio. However, the highest dosage of Trichoderma sp. improved several growth parameters, such as plant height in T3 (60 g) with 78.13 cm, panicle length in T3 (60 g) with 8.77 cm, fresh root weight at 81 DAP (days after planting) in T3 (60 g) with 6.88 g, and the highest shoot-root ratio in T3 (60 g) with 3.35. This study has an impact on the growth and yield of millet because Trichoderma sp. plays a role in root growth and plant nutrient absorption.