Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

STRATEGI PEMASARAN INOVATIF PT AMERTA INDAH OTSUKA DALAM MEMBANGUN BRAND KESEHATAN Zahid, Moh; Rahman, Fadali; Sulaiman, Moch; Muslim, Moh; Jefri Wahyudi, Moh; Sholehuddin, Moh; Hasan, Nur
Prosiding Pengabdian Ekonomi dan Keuangan Syariah Vol. 3 No. 1 (2024): Prospeks
Publisher : LP2M IAI AL-KHAIRAT PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/pps.v3i1.310

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui strategi pemasaran inovatif PT. Amerta Indah Otsuka dalam membangun brand kesehatan. Metode yang digunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa PT Amerta Indah Otsuka mengimplementasikan strategi pemasaran yang terfokus pada peningkatan brand awareness, diferensiasi produk, dan engagement pelanggan. Strategi pemasaran perusahaan meliputi; Brand Awareness dan Edukasi Konsumen: Amerta Indah Otsuka memprioritaskan pengenalan produk melalui kampanye yang bersifat edukatif untuk menekankan pentingnya hidrasi dan kesehatan. Melalui platform digital dan iklan televisi, produk-produk seperti Pocari Sweat diperkenalkan sebagai minuman isotonik yang dapat membantu menjaga cairan tubuh, terutama di lingkungan tropis Indonesia. Kolaborasi dan Sponsorship Acara: Perusahaan aktif dalam mendukung kegiatan olahraga, seperti maraton, serta kegiatan lain yang berfokus pada gaya hidup sehat. Ini dilakukan untuk memperkuat citra produk yang relevan dengan kesehatan dan kebugaran, sekaligus meningkatkan eksposur produk kepada konsumen potensial. Inovasi Produk dan Diferensiasi: Otsuka berusaha membedakan produknya dari pesaing melalui inovasi, baik dalam formulasi maupun kemasan. Produk Soyjoy, misalnya, diperkenalkan sebagai snack sehat yang menggunakan bahan baku kedelai dan bebas gluten, menarik bagi konsumen yang peduli akan kesehatan. Pendekatan Digital dan Interaksi Konsumen: Di era digital, PT Amerta Indah Otsuka meningkatkan kehadiran media sosial dan menggunakan strategi konten digital untuk berinteraksi langsung dengan pelanggan. Konten yang informatif dan inspiratif digunakan untuk meningkatkan engagement dan loyalitas pelanggan. Distribusi yang Luas dan Mudah Diakses: Strategi distribusi Amerta Indah Otsuka mencakup kerja sama dengan berbagai distributor dan pengecer di seluruh Indonesia untuk memastikan produknya mudah ditemukan di toko-toko modern, minimarket, dan e-commerce, mempermudah akses bagi konsumen. Secara keseluruhan, strategi pemasaran PT Amerta Indah Otsuka berfokus pada edukasi pasar, asosiasi gaya hidup sehat, dan inovasi produk untuk memenangkan persaingan di pasar minuman kesehatan Indonesia.
I MANAJEMEN KELUARGA BERDASARKAN AL-QUR'AN DAN HADIS Indah Kusharyati; Zahid, Moh; Nurhadi, Ali
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Family is the smallest order that must be managed. Family management is defined as the process of organizing, planning, directing, and controlling family resources (including finances, time, energy, and skills) to achieve common family goals. In managing a family, many bases are used, one of which is based on the Qur'an and Hadith. Based on a literature review, especially the Qur'an and Hadith, there are six basic concepts of Islamic family management, namely leadership in the family, education, justice and compassion, cooperation and responsibility, finance, and problem solving in the family. In addition, there are several theoretical foundations of Islamic family management that can be applied based on the interpretation of Al Misbah, namely the value of monotheism, the importance of justice and equality in husband and wife relationships, Islamic education and child care, the importance of managing the economy, the balance of the world and the hereafter, and patience and fortitude in facing the tests of family life.
MANAJEMEN PENGAWASAN PADA PEMBIAYAAN AKAD ‎MUDHARABAH BMT NU GALIS PAMEKASAN Zahid, Moh; Matnin; Pratama‎, Anggi; Ali, Robet
Prosiding Pengabdian Ekonomi dan Keuangan Syariah Vol. 4 No. 1 (2025): Prospeks
Publisher : LP2M IAI AL-KHAIRAT PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/pps.v4i1.849

Abstract

Manajemen pengawasan pada pembiayaan akad mudharabah di BMT NU Galis Pamekasan memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan lembaga keuangan mikro syariah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis praktik pengawasan yang diterapkan dalam pembiayaan akad mudharabah, serta dampaknya terhadap kinerja dan kepuasan nasabah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap pengurus dan nasabah. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa BMT NU Galis menerapkan berbagai metode pengawasan, termasuk monitoring berkala, evaluasi kinerja nasabah, dan program pembinaan untuk meningkatkan kemampuan manajerial mereka. Selain itu, pengawasan yang ketat juga berfungsi untuk mengurangi risiko kredit macet dan meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap lembaga. Penelitian ini menekankan pentingnya pengawasan yang efektif dalam mengoptimalkan pembiayaan akad mudharabah, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan berkelanjutan dalam proses manajerial. Dengan demikian, manajemen pengawasan yang baik tidak hanya berkontribusi pada kelangsungan lembaga, tetapi juga mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pembiayaan yang lebih inovatif dan bertanggung jawab.
Sharia and Local Wisdom in Indonesia: A Criticism of jāhiliyyah Law Misinterpretation Zahid, Moh
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.25100

Abstract

There are some opinions that laws not derived from the Qur'an and hadith are jahiliyyah laws. In order to create a national law with Indonesian characters, it is necessary to accommodate the local wisdom, traditions and customs  of  the  people.  This  research  explores  the  views  of  Muslim  scholars about the meaning of jāhiliyyah law to formulate national law with Indonesian characters. The study used a phenomenological approach showing that there are differences in viewing the notion of jahiliyyah law. Some believe that the law originating from customs and culture is jahiliyyah law, while the others argue against it. The latter considers the principle of al-‘ādah muḥakkamah, al-‘urf and maqāṣid  al-sharī'ah.  The  accommodation  of  local  wisdom  and Islamic  law  in  the  formation  of  national  law  is  to  ensure  the  plurality  of national legal sources.Keywords: jāhiliyyah law; Islamic law; custom; local wisdom AbstrakAda pendapat yang berkembang bahwa hukum yang tidak bersumber dari Al-Qur'an dan hadis adalah hukum jahiliah. Untuk menciptakan hukum nasional yang berkarakter Indonesia, perlu akomodasi kearifan lokal, tradisi, dan adat istiadat. Penelitian ini menggali pandangan para cendekiawan Muslim dan ulama tentang makna hukum jahiliah dalam merumuskan hukum nasional yang berkarakter keindonesiaan. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian  ini  menunjukkan  adanya  perbedaan  pendapat  dalam  memaknai hukum  jahiliah.  Sebagian  berpendapat  bahwa  hukum  yang  bersumber  dari adat dan budaya adalah hukum jahiliah, namun sebagian lainnya menentang pendapat  tersebut.  Pendapat  terakhir  mempertimbangkan  prinsip  al-‘ādah muḥakkamah, al-‘urf dan maqashid al-shari'ah. Dengan demikian, akomodasi kearifan lokal dan hukum Islam dalam perumusan hukum nasional diperlukan untuk menjamin pluralitas sumber hukum nasional.Kata Kunci: hukum jahiliyyah; hukum Islam; adat; kearifan lokal
Reaktualisasi Nilai Ta’dzim al-‘Ilm wa Ahlih dalam Al-Qur’an: Telaah Tematik di Era Disrupsi Digital Misnawi, Misnawi; Zahid, Moh
Reflection Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/19dx0m57

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaknai ulang etika pendidikan dengan mereaktualisasikan nilai al-Qur’an dan merumuskan implementasinya dalam konteks digital. Ini merupakan kajian Pustaka (library research) dengan pendekatan tafsir dan melalui analisis isi (content analysis). Data utama diambil dari surah Al-Mujadalah: 11, An-Nahl: 43, Az-Zumar: 9, dan Al-Kahfi: 60–82 serta tafsir ayat dari para mufassir klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai adab yang sangat substansial namun mengalami degradasi yang signifikan adalah Ta’dzim (penghormatan) terhadap al-Ilm wa ahlih termasuk di ruang virtual, kekaburan makna antara informasi dan ilmu dan penyetaraan antara ulama’ dan serach engine sehingga terjadi desakralisasi otoritas keilmuan. Selain itu, kecenderungan memperoleh pengetahuan secara instan menyebabkan mulai hilangnya nilai kesabaran dalam proses mencari ilmu sehingga menganggap informasi dari internet sebagai pengetahuan final. Oleh karena itu, nilai ta’dzim dalam al-Qur’an yang bisa diwujudkan berupa: 1) tafassuh yaitu kelapangan hati dan intelektual termasuk di ruang digital seperti ikhlas mengikuti setiap arahan guru, menghormati guru dan teman serta menghargai perbedaan pendapat; 2) pengakuan terhadap otoritas keilmuan dengan memposisikan ilmu dari ulama’ di atas informasi mesin pencari (search engine) artinya kebenaran pengetahuan yang diperoleh dari internet harus tetap divalidasi oleh ulama’ atau berdasarkan karyanya; dan 3) Ibrah dari kisah nabi Musa dan nabi Hidr menegaskan bahwa validasi kebenaran tetap dikembalikan kepada ahli ilmu dan kesabaran epistemologis harus diwujudkan dengan selalu belajar dari sumber aslinya walaupun tidak instan. Konsep tersebut dapat diperkuat melalui beberapa cara, yaitu kontekstualisasi suhbah (pendampingan) terutama saat pembelajaran daring dalam pembelajaran campuran (blended learning), digitalisasi sanad keilmuan untuk memastikan tetap ada sambungan sanad walaupun belajar secara online, mewujudkan komunikasi Qur’ani melalui qaulan karima dan qaulan sadida seperti tidak mendebat guru dan berkomentar berdasarkan fakta dan data bukan asumsi; dan mengintegrasikan literasi digital dengan kesadaran spiritual. Dari itu jelas bahwa penelitian ini juga menawarkan model reaktualisasi implementatif yang relevan dengan pendekatan IPO (input, process, output) dalam penanaman nilai. Ia juga menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan Islam tetap harus berorientasi pada pemuliaan ilmu dan pembentukan karakter spiritual-moral yang kokoh. Reactualization of The Value of Ta'dzim al-Ilm Wa Ahlih in The Qur’an: a Thematic Study in the Digital Disruption Era This study aims to reinterpret the educational ethics by reactualizing Qur’anic values and formulating their implementation in the digital context. This is a library research by using tafsir approach and content analysis. The primary data sources are surah Al-Mujadalah: 11, An-Nahl: 43, Az-Zumar: 9, and Al-Kahfi: 60–82, including the interpretations from both classical and contemporary mufassir. The results of the study show that the value of adab which is very substantial but degradated significantly is Ta'dzim (respect) for al-Ilm wa ahlih including in virtual space, the blurring of meaning between information and knowledge and the equalization between ulama' and serach engine, so that there is a desacralization of knowledge authority. In addition, the tendency to acquire knowledge instantly causes the loss of the value of patience in the process of seeking knowledge so that information from the internet is considered as the final one. Therefore, the value of ta'dzim which can be remanifested are: 1) tafassuh, namely the openness of heart and mind including in the digital space, such as sincerity in following every teacher's direction, respecting teachers and friends and apriciating the differen opinions; 2) recognition of knowledge authority by positioning the knowledge from ulama' above the information from search engine. It means that the truth of knowledge from internet must be validated by the experts or their works; and 3) Ibrah from the story of the prophet Moses and the prophet Hidr emphasizes also that the validation of the truth is still returned to the scholar, and epistemological patience must be realized by always learning from the original sources although not instantly. The concepts can be strengthened in several ways, namely by contextualizing suhbah (assistence) especially during online class in blended learning, digitizing sanad (chain of knowledge transmission) to ensure that there is a sanad connection even though by online learning, realizing the Qur'anic communication through qaulan karima and qaulan sadida such as not debating teachers and commenting based only on facts and data instead of assumptions; and integrating digital literacy with spiritual awareness. Those all confirm that this research also offers an implementative reactualization model in which is relevant with IPO (input, process, output) approach in internalizing value. It also emphasizes that the digital transformation in Islamic education should be oriented towards the exaltation of knowledge and the strengthening of spiritual-moral character