Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Implementasi Kebijakan Kesehatan tentang Rumah Sehat di Wilayah Pesisir Sofyandi, Arif; Kardi, Kardi; Fariani, Aulia Ali; Ningsih, Murtiana
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/4nepn352

Abstract

Rumah  sehat  adalah  proporsi  rumah  yang  memenuhi  kriteria  sehat  minimum komponen rumah dan sarana sanitasi dari 3 komponen (rumah, sarana sanitasi dan perilaku). Penelitian ini dilakukan bahwa beberapa warga bagek kembar masih banyak warga yang tidak mengetahui cara pengolahan air seperti salah satunya pengolahan air minum. Hampir semua warga tidak mengolah air PDAM atau air sumur sebelum dikonsumsi atau kata lainnya mereka lebih sering mengkonsumsi air mentah. Selain itu, kebiasaan masyarakat yang tidak menutup sumur yang mereka gunakan sebagai sumber air minumnya sehingga dapat mengakibatkan pencemaran air sumur yang diakibatkan oleh polusi, bakteri,dan bahan kimia lainnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan sering terjadi penyakit seperti penyakit diare, typus, dan penyakit lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah rumah warga di Wilayah Pesisir, Kelurahan Tanjung Permai memenuhi kriteria rumah sehat atau tidak. Sesuai dengan Kebijakan Kesehatan tentang persyaratan rumah sehat. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan analisis dekskriptif, untuk mendapatkan gambarang tentang sanitasi rumah dan perilaku hidup bersih dan sehat Lingkungan Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Sekarbela, Mataram. Instrumen dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan form persyaratan rumah sehat. Checklist, wawancara, survei formulir penilaian rumah sehat yang didasarkan pada Peraturan Kementerian Kesehatan No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Permukiman. Sampel dalam penelitian ini adalah 15 orang warga di Lingkungan Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Sekarbela, Mataram. Hasil dari penelitian ini adalah dari 15 rumah warga tersebut tidak ada yang memenuhi syarat rumah sehat karena memilki standar nilai di bawah dari nilai rumah kategori sehat adalah dengan nilai 1068-1200. Implementation of Health Policy on Healthy Homes in Coastal Areas Abstract A healthy home is the proportion of homes that meet the minimum healthy criteria for home components and sanitation facilities from 3 components (home, sanitation facilities, and behavior). This study was conducted, several residents of Bagek Kembar still have many residents who do not know how to treat water, such as drinking water treatment. Almost all residents do not treat PDAM water or well water before consumption, or in other words, they often consume raw water. In addition, people's habit of not covering the wells they use as a source of drinking water can result in well water contamination caused by pollution, bacteria, and other chemicals. This can lead to frequent diseases such as diarrhea, typhoid, and other diseases. The purpose of this study is to determine whether residents' homes in the Coastal Area, Tanjung Permai Village meet the criteria for a healthy home or not. In accordance with the Health Policy on the requirements for healthy homes. This study is an observational study with descriptive analysis, to obtain an overview of home sanitation and clean and healthy living behavior in the Bagek Kembar neighborhood, Tanjung Karang Permai Village, Sekarbela, Mataram. The instruments in this study were using a healthy home requirements form. Checklist, interviews, surveys, healthy home assessment forms based on the Ministry of Health Regulation No. 829 / Menkes / SK / VII / 1999 concerning Residential Health Requirements. The sample in this study was 15 residents in the Bagek Kembar neighborhood, Tanjung Karang Permai Village, Sekarbela, Mataram. The results of this study were that none of the 15 residents' houses met the requirements for a healthy home because they had a standard value below the healthy home category value, which is 1068-1200.
Hubungan Kondisi Tempat Penampungan Air Bersih dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Puskesmas Brang Rea Sofyandi, Arif; Murtiananingsih, Murtiananingsih; Wahyudi, Dicky; Mujiburrahman, Mujiburrahman
Empiricism Journal Vol. 7 No. 2: June 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v7i2.5726

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk Kabupaten Sumbawa Barat. Data Dinas Kesehatan yang disitasi dari Satu Data NTB menunjukkan peningkatan kasus DBD dari 142 kasus pada 2021 menjadi 166 kasus pada 2022 dan 182 kasus pada 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kondisi tempat penampungan air bersih dengan kejadian DBD di Desa Sapugara Bree, Kecamatan Brang Rea, tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei analitik case-control. Sampel berjumlah 38 responden yang terdiri atas 19 kelompok kasus dan 19 kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui observasi kondisi tempat penampungan air dan telaah rekam medis Puskesmas Brang Rea. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63,2% tempat penampungan air berada dalam kondisi terbuka. Uji Chi-Square menghasilkan nilai p = 0,019, yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kondisi tempat penampungan air bersih dan kejadian DBD. Tempat penampungan air terbuka berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sehingga meningkatkan risiko penularan DBD. Penelitian menyimpulkan bahwa kondisi tempat penampungan air merupakan faktor lingkungan penting dalam pencegahan DBD. Masyarakat perlu menutup, membersihkan, dan memantau tempat penampungan air secara rutin. Pemerintah daerah dan dinas kesehatan juga perlu memperkuat edukasi, surveilans jentik, promosi kesehatan, dan kebijakan pengendalian DBD berbasis risiko lingkungan. Upaya tersebut diharapkan menekan kepadatan vektor dan penularan secara berkelanjutan. The Relationship Between Clean Water Storage Conditions and Dengue Fever Incidence in the Brang Rea Community Health Center Area Abstract Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a major public health concern in Indonesia, including West Sumbawa Regency. Data from the Health Office, as cited by Satu Data NTB, showed an increase in DHF cases from 142 cases in 2021 to 166 cases in 2022 and 182 cases in 2023. This study aimed to analyze the association between the condition of clean water storage containers and the incidence of DHF in Sapugara Bree Village, Brang Rea District, in 2025. This study employed a quantitative approach using an analytical survey with a case-control design. The sample consisted of 38 respondents, comprising 19 individuals in the case group and 19 individuals in the control group. Data were collected through direct observation of water storage container conditions and a review of medical records from the Brang Rea Community Health Center. Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-square test at a 5% significance level. The results showed that 63.2% of water storage containers were left uncovered. The Chi-square test yielded a p-value of 0.019, indicating a significant association between the condition of clean water storage containers and the incidence of DHF. Uncovered water storage containers may serve as breeding sites for Aedes aegypti mosquitoes, thereby increasing the risk of DHF transmission. The study concludes that the condition of water storage containers is an important environmental factor in DHF prevention. Communities should routinely cover, clean, and monitor water storage containers. Local governments and health authorities should also strengthen public education, larval surveillance, health promotion, and environmental risk-based DHF control policies. These measures are expected to reduce vector density and sustainably prevent disease transmission.