Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengembangan Metode Penentuan Kawasan Relokasi Akibat Bencana Awan Panas Guguran. Studi Kasus : Erupsi Semeru 4 Desember 2021 Setiawan, Muhammad Anggri; Rhosadi, Iwan; Kafafa, Utia; Laksana, Agung; Farda, Nur Muhammad; Wibowo, Sandy Budi; Palembang, Muhammad Fikram
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.1.53-70

Abstract

Kawasan permukiman yang terletak di zona rawan bencana gunungapi sudah seharusnya memiliki rencana antisipasi berupa kajian relokasi akibat dampak bencana. Penentuan kawasan relokasi seringkali dilakukan pada situasi pasca tanggap darurat bencana sehingga cenderung tergesa-gesa, rawan konflik kepentingan atau bahkan dapat memunculkan permasalahan baru yang rumit. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode penentuan kawasan relokasi bagi permukiman terdampak berdasarkan pada bencana letusan gunungapi Semeru dengan tipe awan panas guguran tahun 2021.  Pengembangan metode dilakukan dengan menggabungkan tiga skenario model SMCE (Spatial Multi Criteria Evaluation) dan Network Analysis secara berjenjang. Kerangka utama dalam pengembangan metode ini adalah mencari lokasi aman multi-ancaman namun tetap memiliki daya dukung dan daya tampung yang baik, serta tidak terlalu jauh dengan lokasi desa yang menjadi sumber penghidupan mereka. Secara sosiologis dan ketentuan peraturan, masyarakat akan diperbolehkan memanfaatkan kembali lahan milik mereka untuk aktivitas non-permukiman (seperti perkebunan dan pertanian) ketika status ancaman Gunungapi Semeru kembali normal. Wilayah administrasi desa digunakan sebagai satuan analisis kesesuaian lokasi. Setelah muncul beberapa pilihan lokasi desa yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditentukan dalam skenario SMCE, maka analisis jaringan jalan terdekat dilakukan untuk memilih desa yang paling dekat dengan kawasan yang terdampak. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi secara obyektif bahwa Desa Penanggal, Kecamatan Pronojiwo sebagai tempat yang paling sesuai untuk relokasi kawasan permukiman akibat guguran awan panas Gunungapi Semeru. Metode ini perlu dimanfaatkan oleh pemangku kebijakan untuk mempercepat pengambilan keputusan yang tepat dan menjadi investasi yang berkelanjutan dalam pengurangan risiko bencana.
Assessing Watershed Characteristics and Hydrological Response Using SWAT: A Case Study in the Raya Watershed, West Kalimantan Alhakim, Euis Etty; Bondan, Abimanyu; Iswanto, Eko Rudi; Anzhar, Kurnia; Indrawati, Yuni; Solihat, Sufiana; Setiawan, Muhammad Anggri
EKSPLORIUM Vol. 46 No. 1 (2025): MAY 2025
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/eksplorium.2025.11420

Abstract

The watershed is primarily influenced by land use and population activities within the watershed area. Along with the increasing number of people, there is the potential for land-use changes that lead to a change in the land's function. This condition can cause soil erosion in the upstream areas and potential flooding in the downstream area of the watershed. This study aims to determine the hydrology response based on watershed characteristics in terms of annual flow coefficient (AFC) and geomorphology. Geospatial hydrological modeling was built to assess hydrological characteristics using the SWAT (Soil and Water Assessment Tool). The analysis utilized primary data from field surveys and secondary spatial data, including geological maps, DEM, land use, soil, and daily rainfall, from 2013 to 2022. The study area covers the Raya Watershed in West Kalimantan. It was found in the Raya Watershed that open land use is prominent, with slopes ranging from sloping to steep in the upstream areas. The type of soil generally had porosity that did not support water absorption. These conditions caused more rainfall to be discharged as surface flow than absorbed into the soil. The AFC value during the study period ranged from 0.36 to 0.45, indicating a moderate hydrological response. Thus, groundwater storage in the watershed was very low. Consequently, the hydrological response of the watershed is unable to function optimally in its current condition. To overcome these problems, land conservation strategies, reforestation, and rehabilitation of old mine fields in upstream sub-basins are needed to reduce runoff and improve the watershed's ability to maintain a sustainable water balance.