Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERENCANAAN PEMBANGUNAN BOX CULVERT PADA CITRA LAND BARU DENGAN APLIKASI STAAD PRO Putra, Hutomo; Turangan, Arens E.; Ticoh, Jack H.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 12 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perencanaan pembangunan struktur diperlukan efisiensi waktu yang tepat dan hasil yang akurat dari sebuah perhitungan perencanaan struktur oleh karena itu pada penelitian ini penulis menggunakan sebuah aplikasi perhitungan struktur yaitu STAAD Pro. Box Culvert merupakan suatu saluran air tertutup yang dapat meminimalisir masuknya sampah didalam saluran tersebut sehingga aliran air tidak terganggu dan umumnya saluran ini berada di bawah tanah atau jalan raya. Pada perhitungan struktur Box Culvert digunakan teori tekanan tanah lateral dari Coulomb dan Rankine untuk menghitung tekanan tanah yang bekerja pada Box Culvert. Untuk struktur Box Culvert digunakan program STAAD Pro untuk menghitung gaya–gaya dalam yang bekerja pada struktur Box Culvert akibat dari beban tanah pada struktur tersebut. Pada penelitian ini penulis menggunakan SNI 03-2847-2002 Tata cara perencanaan struktur beton untuk bangunan gedung. Hasil dari perencanaan Box Culvert diperoleh yaitu dimensi Box Culvert sepanjang 20m dengan lebar 4 m dan tinggi 4m. Ukuran kolom yang digunakan 50cm x 50 cm dengan balok 40cm x 30 cm dan tebal plat 50cm. dengan menggunakan kuat tekan beton 17 Mpa dan tegangan leleh baja untuk tulangan lebih besar dari 12mm sebesar 320 Mpa dan untuk tulangan lebih kecil dari 12mm sebesar 240 Mpa. Sehingga Box Culvert yang direncanakan mampu menahan beban yang bekerja seperti beban Gempa Statik, beban perumahan, beban akibat tekanan tanah dan beban kendaraan berupa Truk yang akan melewati Box Culvert. Kata kunci : Beban lateral, STAAD Pro, Box Culvert
Sosialisasi Kearifan Lokal Masyarakat Baduy dalam Mitigasi Bencana di Perbatasan Wilayah Baduy Permana, R. Cecep Eka; Nasution, Isman Pratama; Nugroho, Yogi Abdi; Putra, Hutomo
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 4, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Baduy society has a local wisdom on disaster mitigation that many people outside the Baduy society are not aware of. Therefore, the Baduy community program is socializing the local wisdom to the people outside the community. The partnership of this effort is the youth of the elementary school to high school in the border area of the Baduy vicinity. In the beginning of the program, the students did not have any indication about the local wisdom of the Baduy people. However, after a period of lectures and discussions, their knowledge and understanding about the Baduy people and their wisdom on disaster mitigation have significantly increased.
Kebijakan Pembangunan Tol Laut dan Potensi Dampaknya pada Tinggalan Kapal Asing Bersejarah yang Karam di Wilayah Perairan Indonesia Putra, Hutomo
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The construction of sea toll roads is one of the manifestations of President Jokowi’s superior program for strengthening Indonesia’s identity as a maritime country and to develop Indonesia as a whole from west to east. The necessity for sea toll road construction aims to improve the distribution of goods and trade commodities, particularly for the purpose of balancing the economic gap between the western and eastern regions of Indonesia. On the other hand, the construction of sea toll roads could possibly have an impact on archaeological objects, especially the remains of historic shipwrecks that have sunk and spread in several Indonesian territorial waters. Moreover, some of these remains are located on or adjacent to sea lane paths which will indirectly be affected by the deepening of the program in the context of the sea toll road construction. This paper aims to disseminate information about the tangible proofs of Indonesian cultural richness and long maritime history that have not been fully revealed and are threatened by potential damage and destruction if no necessary action is taken. Most importantly, this paper attempts to propose a strategy for constructing sea toll roads by taking into account the use and preservation of potential historical shipwreck remains which are still scattered in several territorial waters of Indonesia.
THE SEMIOTIC CONSTRUCTION OF MEANING AND VALUE: CANTHIK KIAI RAJAMALA AS A SYMBOL IN THE CONTEMPORARY SOCIAL PERSPECTIVES Dewi, Rosa Bila Putri; Putra, Hutomo; Bawono, Rochtri Agung; Wardi, I Nyoman
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 14, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Canthik Kiai Rajamala is one of the heirlooms owned by the Keraton Kasunanan Surakarta. There are two Canthik Kiai Rajamala, each stored in the Keraton Surakarta Museum and the Radya Pustaka Museum. Surakarta is the only region traversed by the Bengawan Solo River that possesses a canthik, making it a distinctive and unique cultural heritage for the people of Surakarta. This research addresses the issue of how the meaning and value construction of Canthik Kiai Rajamala can be interpreted through Pierce's semiotic triangle theory. Additionally, this study examines how contemporary Surakarta society perceives the Canthik Kiai Rajamala. The objective of this research is to identify the cultural meanings and values of Canthik Kiai Rajamala, which are preserved in the Keraton Surakarta Museum and the Radya Pustaka Museum. The interpretation of the object involves the community’s perspective on CanthikKiai Rajamala, from its creation and use to its current status as a museum artifact. This study also focuses on the local wisdom system of Surakarta society in interpreting the cultural traditions associated with Canthik Kiai Rajamala, and its relationship with the environment and local customary community.
WHAT WE HAVE LOST FROM WHAT HAVE BEEN DONE: ETHICAL PROBLEMS OF THE SALVAGED SHIPWRECK CARGOES IN INDONESIA Putra, Hutomo
Berkala Arkeologi Vol. 39 No. 2 (2019)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v39i2.464

Abstract

Abstract The struggling in the ethical issues of submerged underwater sites and underwater cultural heritage have been undertaking in Indonesia for the last two decades. During these 20 years, commercial companies in collaboration with the National Shipwreck Committee recovered and salvaged substantial numbers of material cargoes. Unfortunately, the majority of these operations occurred without the involvement of archaeologists and lack of proper and controlled archaeological methods and excavation techniques. Since 2010, the Indonesian Government has declared a moratorium that temporarily stopped all commercial survey and salvage activities, and prohibits the sale of the artefacts. Nowadays, more than 190,000 artefacts raised by salvagers are currently stored at the National Shipwreck Committee warehouses near Jakarta, in Cileungsi, West Java, Indonesia. This study attempts to illustrate the disadvantages of the commercial salvage practices and the auction of salvaged artefacts. This research also discusses some recommendations to contribute to a more ethical system of protection and the long-term management of the Indonesian maritime cultural resources, including its existing collections from salvaged shipwreck sites that are stored at the National Shipwreck Committee warehouse today.
Transformasi Konsep Tata Kelola Penyelenggaraan Keamanan Laut Indonesia: Sebuah Tinjauan dari Perspektif Badan Keamanan Laut Kurnia, Aan; Wisnu, Pramandita; Putra, Hutomo; Rusata, Tatang
Jurnal Kelautan Nasional Vol 19, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v19i1.12810

Abstract

Keamanan maritim merupakan salah satu isu keamanan yang menonjol dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebagai negara kepulauan, Indonesia harus mampu mengakomodasi kepentingan internasional sehingga keamanan dan keselamatan di laut yang menjadi tuntutan masyarakat internasional dapat terpenuhi. Kepentingan nasional Indonesia sebagai negara maritim harus diturunkan menjadi kebijakan dan strategi maritim, dalam hal ini yaitu terkait dengan tata kelola penyelenggaraan keamanan laut. Saat ini, tata kelola keamanan laut di Indonesia masih menerapkan konsep multiagency single task yang masih berjalan secara parsial berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh masing-masing instansi terkait, termasuk Bakamla di dalamnya. Dalam skala Nasional, Bakamla dibentuk untuk mewujudkan harmonisasi dan sinergitas dalam komunikasi antar pemangku kepentingan di laut dalam upaya penegakan hukum di laut secara ideal dan holistik. Pertanyaanya, “apakah konsep dan sistem tata Kelola penyelenggaraan keamanan maritim saat ini telah berjalan dengan baik?”. Lalu, “bagaimana kosep tata Kelola penyelenggaraan keamanan maritim yang ideal dan mampu mewujudkan gagasan dan visi Pemerintah Indonesia di bidang kemaritiman secara keseluruhan?” Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Tinjauan literatur akan dilakukan untuk mengetahui aspek-aspek yang menjadi pembahasan penting dalam penelitian ini. Studi komparatif akan digunakan untuk menemukan solusi dalam upaya memecahkan masalah penelitian. Analisis SWOT juga akan digunakan untuk mengidentifikasi faktor- faktor dan strategi, memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan ancaman, dalam upaya menghasilkan transformasi tata Kelola penyelenggaraan keamanan laut Indonesia yang lebih baik Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konsep tata Kelola penyelenggaraan keamanan maritim Indonesia yang ideal dan holistik melalui perspektif Bakamla yang memiliki kewenangan dalam penegakan hukum di laut. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menghasilkan konsep strategis yang bersifat adaptif dalam menghadapi potensi ancaman dan permasalahan di laut yang bersifat dinamis dan sulit untuk diprediksi. Transformasi konsep tata kelola keamanan maritim di Indonesia dihadapkan dengan aktivitas nasional yang holistic dan memerlukan pendekatan berpikir sistem triple helix dan penerapan konsep single agency multitask. Hasil dari paradigma sistem ini meliputi tata kelola keamanan maritim dan strategi pengelolaan wilayah yurisdiksi dan wilayah perairan Indonesia yang berbasis kesadaran wilayah maritim atau Maritime Domain Awareness (MDA) meliputi Indonesian Maritime Information Center (IMIC), Alur Pelayaran Tol Laut (APTL), Seabed Sonar Surveillance (S3), dan Electronic Maritime Law Enforcement (EMLE).