Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Analisis Pengaruh Penggunaan Abu Batu Apung Sebagai Pengganti Filler Pada Campuran Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) Azhari, Muhammad Arif; Sefrus, Tri; Belladona, Meilani
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7198

Abstract

Aspal merupakan bahan utama dalam konstruksi jalan raya yang sangat menentukan kualitas, kekuatan, dan daya tahan infrastruktur jalan. Peningkatan pembangunan jalan menyebabkan kebutuhan aspal semakin tinggi, sehingga penggunaan filler konvensional seperti batu kapur dan semen juga meningkat. Oleh karena itu, diperlukan alternatif bahan pengganti yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan material lokal sebagai bahan modifikasi campuran aspal. Provinsi Bengkulu memiliki potensi sumber daya alam berupa batu apung, yaitu batuan vulkanik berpori yang memiliki kandungan silika (SiO₂) sebesar 70,21% dan alumina (Al₂O₃) sebesar 13,63%, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengganti sebagian filler pada campuran aspal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan abu batu apung sebagai pengganti filler pada campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) terhadap karakteristik campuran aspal. Persentase penggantian filler yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1%, 1,25%, 1,5%, 1,75%, dan 2%. Metode yang digunakan adalah metode Marshall dengan tahapan pengujian meliputi pengujian berat jenis, gradasi agregat, komposisi agregat, berat jenis campuran maksimum, serta perhitungan parameter Marshall seperti stabilitas dan flow. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai stabilitas meningkat seiring penambahan abu batu apung, dengan nilai stabilitas tertinggi pada persentase 2% dan terendah pada 1%. Sementara itu, nilai flow tertinggi diperoleh pada persentase 1% dan terendah pada 2%. Berdasarkan hasil analisis, persentase penggantian filler optimum diperoleh pada kadar 1,75%. Hasil ini menunjukkan bahwa batu apung lokal berpotensi dimanfaatkan sebagai filler alternatif pada campuran AC-WC, meskipun karakteristik batu apung dapat berbeda pada setiap daerah tergantung asal vulkaniknya.
Analisis Kebutuhan dan Ketersediaan Air Bersih pada IPA Nelas (PDAM) Perumda Tirta Hidayah Kota Bengkulu Menggunakan Software Stella 10.0.6 Leo Agustin; Meilani Belladona; Tri Sefrus
MASALIQ Vol 6 No 3 (2026): MEI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/masaliq.v6i3.10000

Abstract

Clean water is a basic need for the survival of living beings and constitutes an important aspect of public service provision, particularly for PDAM in improving service levels for the community. The demand for drinking water in a region continues to increase along with population growth, making it necessary to conduct a measurable analysis of clean water needs and availability. This study aimed to analyze clean water needs and availability based on population projections in the service area of IPA Nelas Cahaya Negeri over a 10-year period using Stella 10.0.6 software. The analysis was conducted through population projection modeling to facilitate comparison between clean water needs and community growth over time. The results showed that the population of the IPA Nelas Cahaya Negeri service area in 2033 was projected to reach 338.46 people. Based on this projection, clean water demand was forecast for the domestic and industrial sectors. The calculation results showed that the projected drinking water demand in six regencies in Bengkulu City reached 17,295,424.72 m³/year or 548.434 liters/second. The conclusion of this study emphasizes that projections of clean water needs based on population growth are important as a basis for PDAM service planning so that water availability can be adjusted to the needs of the community and the industrial sector. These findings imply the need to utilize software-based modeling to support more accurate and sustainable clean water distribution planning.