Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Kurios

Spiritualitas egalitarian dalam pendidikan kristiani Jannes Eduard Sirait
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.157

Abstract

Christian education must demonstrate an egalitarian educational practice, which means treating the education process equally without discriminating against social, economic, or religious backgrounds. This research is a reflective study on various issues of Christian education that have been developed, such as education of hospitality and inclusion or those based on multiculturalism and religious moderation. Following academic discussions to find an ideal picture of Christian education, this research aims to demonstrate an egalitarian spirituality that can serve as a basis for Christian educational practices in church, home, and school. Using a qualitative approach to literature data, this research uses a descriptive method to map the needs of Christian education in this era. In conclusion, Christian education should be able to reflect God's egalitarian work by providing participation opportunities for all learners to express themselves in God's grace.AbstrakPendidikan kristiani harus mampu memperlihatkan sebuah prak-tik pendidikan yang egaliter, artinya memperlakukan proses pendidikan secara setara tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, hingga agama. Penelitian ini adalah sebuah kajian reflektif terhadap berbagai isu pendidikan kristiani yang telah dikembangkan terlebih dahulu, seperti pendidikan hospitalitas dan inklusi, atau yang berbasis pada multikulturan dan moderasi beragama. Mengikuti diskusi akademik untuk menemukan sebuah potret pendidikan kristiani yang ideal, maka penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan spiritualitas egalitarian yang dapat menjadi basis pada praktik pendidikan kristiani, baik di gereja, rumah, dan sekolah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif pada data literatur, penelitian ini menggunakan metode deksriptif untuk memetakan kebutuhan pendidikan kristiani di era ini. Kesimpulannya, pendidikan kristiani harus dapat mencerminkan karya Allah yang egaliter dengan memberikan ruang partisipasi bagi semua peserta didik dalam mengekspresikan dirinya dalam anugerah Allah.
Pengajaran sebagai misi: Sebuah pembacaan naratif misi Paulus di Kisah Para Rasul Butarbutar, Adolf Bastian; Sirait, Jannes Eduard
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1028

Abstract

The era of digital disruption has created substantial challenges for the integrity of Christian teaching, with the proliferation of divergent doctrines spread through social media platforms. This research analyzes teaching patterns in Paul's mission as represented in the Acts narrative to identify missiological models applicable to contemporary challenges. Using narrative analysis methodology, this study identifies three essential dimensions in Paul's teaching strategy: a progressive pattern of spatial movement from synagogues to public spaces to private settings; adaptive yet uncompromising contextualization of teaching for Jewish, Greek, and Roman audiences; and, the role of teaching as a catalyst for transformative community formation. The results show that Paul's missional success lay in integrating teaching with communal formation and cultural contextualization. This model offers a paradigm for contemporary churches facing digital disruption challenges, demonstrating the importance of comprehensive, contextual, and communal teaching for maintaining doctrinal integrity in the post-truth era..   Abstrak Era disrupsi digital telah menciptakan tantangan substansif bagi integritas pengajaran Kristen, dengan proliferasi doktrin menyimpang yang disebarkan melalui platform media sosial. Penelitian ini menganalisis pola pengajaran dalam misi Paulus sebagaimana direpresentasikan dalam narasi Kisah Para Rasul untuk mengidentifikasi model misiologis yang dapat diaplikasikan dalam menghadapi tantangan kontemporer. Dengan menggunakan metode analisis naratif, penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi penting dalam strategi pengajaran Paulus: pola progresif pergerakan spasial dari sinagoga ke ruang publik ke lingkungan privat; kontekstualisasi pengajaran yang adaptatif namun tidak kompromi untuk audiens Yahudi, Yunani, dan Romawi; dan, peran pengajaran sebagai katalis pembentukan komunitas transformatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan misi Paulus terletak pada integrasi pengajaran dengan formasi komunal dan kontekstualisasi kultural. Model ini menawarkan paradigma untuk gereja kontemporer yang menghadapi tantangan disrupsi digital, menunjukkan pentingnya pengajaran yang komprehensif, kontekstual, dan komunal untuk mempertahankan integritas doktrinal di era post-truth.
Spiritualitas inkarnatif sebagai fondasi pendidikan kristiani yang inklusif Sirait, Jannes Eduard
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.145

Abstract

Inclusive education is proclaimed as an innovative solution to expanding access to education for children with special needs or persons with disabilities. Christian education also has the same responsibility to fulfill the needs of persons with disabilities, especially in spirituality, but this has not been consistently actualized. This study aims to explain the narrative of the incarnation of Jesus as spirituality to build inclusive Christian education. The method used is descriptive qualitative. The findings obtained from this research are that there are spiritual values in the narrative of the incarnation of the Lord Jesus, which can become the foundation for implementing inclusive Christian education. This foundation is needed as God's way of embracing the integrity of creation without distinction through His incarnation. AbstrakPendidikan inklusi dicanangkan sebagai solusi inovatif perluasan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.  Pendidikan Kristiani juga memiliki tanggung jawab yang sama dalam pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas terutama pada aspek spiritualitas, namun saat ini hal tersebut belum teraktualisasikan secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang narasi inkarnasi Yesus sebagai spiritualitas untuk membangun pendidikan Kristiani yang inklusif. Metode yang dipergunakan adalah kualitatif deskriptif. Temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat nilai-nilai spiritual dalam narasi inkarnasi Tuhan Yesus yang dapat menjadi fondasi dalam penyelenggaraan pendidikan Kristiani yang bersifat inklusif. Fondasi tersebut dibutuhkan, sebagaimana cara Allah merengkuh keutuhan ciptaan tanpa pembedaan melalui inkarnasi-Nya
Dari trauma ke transendensi: Sebuah pendekatan teologis terhadap literasi kesehatan mental dalam kurikulum pendidikan Kristiani generasi digital  Sirait, Jannes Eduard
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1382

Abstract

The digital generation faces an unprecedented mental health crisis, with anxiety and depression rates rising dramatically since the 2010s. This article constructs a theological approach to mental health literacy as an integral component of a Christian education curriculum that is responsive to the needs of the digital generation. Through a constructive theological method with interdisciplinary analysis between trauma theology, developmental psychology, and transformative pedagogy, this study proposes a “from trauma to transcendence” framework that integrates theological understandings of suffering, grace, and healing with evidence-based mental health literacy principles. The result is a curriculum model that not only improves mental health literacy but also shapes resilient spirituality and hope rooted in the Christian narrative of healing and transformation.   Abstrak Generasi digital menghadapi krisis kesehatan mental yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan tingkat kecemasan dan depresi yang meningkat drastis sejak dekade 2010-an. Artikel ini mengkonstruksi pendekatan teologis terhadap literasi kesehatan mental sebagai komponen integral kurikulum pendidikan Kristiani yang responsif terhadap kebutuhan generasi digital. Melalui metode teologi konstruktif dengan analisis interdisipliner antara teologi trauma, psikologi perkembangan, dan pedagogi transformatif. Penelitian ini mengusulkan kerangka "dari trauma ke transendensi" yang mengintegrasikan pemahaman teologis tentang penderitaan, anugerah, dan pemulihan dengan prinsip-prinsip literasi kesehatan mental berbasis bukti. Hasilnya adalah model kurikulum yang tidak hanya meningkatkan literasi kesehatan mental, tetapi juga membentuk spiritualitas yang resilien serta harapan yang berakar dalam narasi Kristiani tentang penyembuhan dan transformasi.