Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

GAMBARAN KECEMASAN DAN DEPRESI WANITA DENGAN KANKER PAYUDARA Tania, Michelle; Soetikno, Naomi; Suparman, Meiske Yunithree
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3469

Abstract

Kanker merupakan penyakit kronis yang banyak diderita oleh individu di seluruh dunia. Hal ini menjadikan kanker dianggap sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan akan menyebabkan kematian bagi penderitanya. Salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita oleh wanita yaitu kanker payudara. Kanker payudara merupakan keganasan yang berasal dari kelenjar payudara. Diagnosis kanker payudara akan berdampak kepada keadaan psikologis individu, termasuk kecemasan dan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kecemasan dan depresi pada pasien wanita dengan kanker payudara. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan alat ukur Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). Pada penelitian ini, pengambilan sampling dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Partisipan penelitian ini berjumlah 34 orang dengan rata-rata usia 53 tahun dan rata-rata partisipan sudah didiagnosis kanker payudara selama 2 tahun. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa partisipan memiliki tingkat kecemasan hingga mild yaitu sebanyak 7 (20,6%) orang dan 27 (79,4%) lainnya memiliki tingkat kecemasan yang normal. Selain itu, partisipan memiliki tingkat depresi hingga mild yaitu sebanyak 3 (8,8%) orang dan 31 (91,2%) partisipan lainnya memiliki tingkat depresi yang normal. Selain melihat kecemasan dan depresi pada wanita dengan kanker payudara, penelitian ini juga melihat adanya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan dan depresi pada wanita dengan kanker payudara, yaitu faktor religiusitas dan faktor dukungan sosial. Cancer is a chronic disease affection many individuals throughout the world, leading us to consider it an incurable disease and will certainly cause death for those afflicted with it. One of the most common types of cancer in women is breast cancer. Breast cancer is a malignancy originating from the mammary gland. The diagnosis of breast cancer will affect an individual's psychological state in the form of anxiety and depression. This study aims to describe anxiety and depression in female patients with breast cancer. The design of this study is a descriptive study using the Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) measurement tool. In this study, sampling was conducted using accidental sampling technique. Participants in this study were 34 people with mean age of 53 years and on average, participants had been diagnosed with breast cancer for 2 years. The result of the study showed that participants who had up to mild anxiety levels were as many as 7 (20.6%) people, with 27 (79.4%) others had normal anxiety levels. In addition, as many as 3 participants had up to mild level of depression (8.8%) and 31 (91.2%) other participants had normal depression level. In addition to looking at anxiety and depression in women with breast cancer, this study also looked at other factors that could affect the level of anxiety and depression in women with breast cancer, namely religiosity and social support factors.
PENGARUH PERSEPSI POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA REMAJA AKHIR SHAFIRA, NAJMADIZHA AUREL; SUPARMAN, MEISKE YUNITHREE
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4095

Abstract

This study aims to examine the effect of perceived parenting style on self-disclosure among late adolescents. Parenting styles are categorized into four types: authoritative, authoritarian, permissive, and neglectful, each of which has a different impact on adolescent development . The study uses a quantitative method with simple linear regression to analyze the influence of perceived parenting style on the level of self-disclosure. Data were collected from 260 adolescents aged 18 to 21 years through an online questionnaire. The results show that parenting style has a significant influence on self-disclosure, with an R square value of 60.1%. Another finding is that gender and each type of parenting style have a significantly different impact on self-disclosure. The authoritative parenting style was indicated as the strongest factor in self-disclosure compared to other types. Meanwhile, self-disclosure was found to be more prevalent among females than males. This study highlights the importance of a supportive parenting style in fostering adolescent self-disclosure. The findings of this study are expected to serve as a reference for developing interventions to improve communication between parents and adolescents or as a basis for future studies that consider other aspects. ABSTRAKStudi ini diperuntukkan menguji pengaruh tipe pola asuh yang dirasakan terhadap pengungkapan diri di kalangan remaja akhir. Tipe pola asuh dikategorikan menjadi empat macam: otoritatif, otoriter, permisif dan lalai, masing-masing tipe pola asuh memiliki dampak yang berbeda pada perkembangan remaja. Studi ini menggunakan metode kuantitatif menggunakan regresi linier sederhana untuk menganalisis pengaruh antara tipe pola asuh yang dirasakan dan tingkat pengungkapan diri yang dimiliki. Data dikumpulkan dari 260 remaja berusia 18 hingga 21 tahun melalui kuesioner yang disebarkan secara daring. Hasil penelitian menunjukkan pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang signifikan dengan pengungkapan diri, dengan nilai R squared sebesar 60,1%. Temuan lainnya yaitu jenis kelamin dan setiap tipe pola asuh memiliki pengaruh yang berbeda secara signifikan pada pengungkapan diri. Pola asuh otoritatif diindikasikan menjadi faktor terkuat dalam pengungkapan diri dibandingkan tipe pola asuh lainnya. Sementara itu, pengungkapan diri terlihat lebih banyak terjadi pada kelompok perempuan dibandingkan laki-laki. Studi ini menyoroti pentingnya pola asuh yang mendukung dalam menumbuhkan pengungkapan diri remaja. Temuan dalam studi ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk mengembangkan intervensi untuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dengan remaja ataupun sebagai dasar studi lanjutan dengan mempertimbangkan aspek lain.
PENGARUH KETERLIBATAN AYAH TERHADAP PREFERENSI PEMILIHAN PASANGAN PADA ANAK PEREMPUAN DEWASA AWAL Putri, Selvia Melinda; Suparman, Meiske Yunithree
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/psikologikonseling.v17i2.69434

Abstract

Masa dewasa awal adalah masa krusial dalam perkembangan individu, di mana individu mulai mengeksplorasi diri dan membangun hubungan romantis yang lebih intim, hubungan yang terbentuk dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu, pemilihan pasangan menjadi keputusan yang penting dalam hidup. Namun, preferensi dalam memilih pasangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu faktor keterlibatan ayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami pengaruh keterlibatan ayah terhadap preferensi pemilihan pasangan pada anak perempuan dewasa awal. penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan partisipan sebanyak 418 partisipan yang merupakan perempuan dewasa awal berusia 18 hingga 25 tahun, belum menikah, masih memiliki ayah, dan pernah tinggal bersama ayah. Alat ukur yang digunakan adalah Father Involvement Scale (FIS) dan Mate Selection Survey (MSS). Proses analisis data menggunakan IBM SPSS Statistics 27 untuk uji statistik deskriptif responden dan variabel, uji validitas dan reliabilitas, uji korelasi, dan uji regresi linear berganda. Hasilnya diperoleh keterlibatan ayah berpengaruh sebesar 7.2% terhadap preferensi pemilihan pasangan, dengan nilai sig < 0.001 < 0.05.
HUBUNGAN OPTIMISME DENGAN KECEMASAN MASA DEPAN PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Dewi, Tasya Fitriani; Suparman, Meiske Yunithree
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/psikologikonseling.v17i2.69437

Abstract

Mahasiswa, khususnya mahasiswa tingkat akhir mempunyai kekhawatiran akan masa depan kariernya. Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan tingkat pengangguran tertinggi dalam lingkup ASEAN. Data menunjukkan bahwa terdapat 5,63% lulusan universitas berstatus sebagai pengangguran terbuka. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat akhir mengalami prevalensi kecemasan di atas ambang batas klinis. Kecemasan masa depan (future anxiety) adalah bentuk kecemasan yang dialami mahasiswa tingkat akhir. Optimisme adalah salah satu faktor penting yang berperan dalam mengatasi kecemasan. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara optimisme dan kecemasan. Namun beberapa penelitian lainnya tidak menemukan adanya hubungan yang berarti. Dengan demikian, hasilnya masih beragam sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut. Selain itu, penelitian yang sudah ada cenderung membahas kecemasan secara umum. Belum banyak penelitian yang berfokus pada hubungan future anxiety dan optimisme. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara optimisme dan future anxiety pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan kuesioner daring. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir dengan rentang usia 21-25 tahun (N=201). Instrumen penelitian yang digunakan adalah Life Orientation Test Revised (LOT-R) untuk mengukur variabel optimisme dan Future Anxiety Scale (FAS) untuk mengukur variabel future anxiety. Analisis yang dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara optimisme dan kecemasan masa depan, dengan nilai r = -0.568** dan p = < 0.001. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan optimisme akan mengurangi kecemasan masa depan, dan sebaliknya.
Pengaruh Penggunaan Sosial Media terhadap Motivasi Belajar Kelas X di Salah Satu Sekolah di Jakarta Lau, Octavia Paula; Suparman, Meiske Yunithree
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.12932

Abstract

Penggunaan sosial media di kalangan remaja kian meningkat memiliki pengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Motivasi belajar merupakan dorongan yang dapat meningkatkan semangat kerja seseorang baik secara internal maupun eksternal. Studi kasus ini bertujuan untuk melihat pengaruh yang diberikan oleh penggunaan sosial media terhadap motivasi belajar siswa. Studi kasus ini menggunakan metode kuantitatif pada siswa kelas X di salah satu sekolah yang berada di Jakarta. Kuesioner yang diganakan adalah skala Social Media Usage Questionnaire (SMUQ) dengan 19 item (?=0.914) dan Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) dengan 31 item (?=0.938). Hasil dari penelitian menemukan bahwa penggunaan sosial media berpengaruh positif terhadap motivasi belajar.
MENINGKATKAN PENGETAHUAN PENGASUH PERIHAL POLA PENGASUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK-ANAK DI PANTI ASUHAN X Eunice, Jocellyn Audrey; Dwishintaria, Jennisia; Dharmawati, Sharron; Suparman, Meiske Yunithree
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i3.26152

Abstract

This Humanitarian Project was implemented to carry out intervention to increase the knowledge, skills and behavior of caregivers in implementing parenting and child development patterns at Orphanage X. This intervention is motivated by the phenomenon of parenting failure, which as an example is the existence of poor discipline methods for children, which is caused because caregivers do not have guidelines. Data analysis methods used in this intervention were observation and interviews with caregivers. Intervention regarding parenting patterns and child development are designed through psychoeducation programs and developed with aspects covering children's physical, cognitive and psychosocial development, the basics of parenting, various characteristics of children, how to handle tantrums and quiet children, dan appropriate teaching methods for children to the caregivers at the Orphanage X. This intervention gave significant positive results, namely an increase in the knowledge of caregivers at the Orphanage X, where the average rating on the pre-test was 40% to 73% for the average post-test score. So the results of this increase prove that the knowledge and understanding of caregivers is much better than before and they already have guidelines that can be practiced in parenting. This increase in knowledge is also accompanied by changes in the behavior and skills of caregivers in caring for children. The caregivers become calmer, better able to control their emotions, and can recognize the characteristics of each child, and are able to have many ways to deal with the problems of children with different characteristics. ABSTRAK Proyek Kemanusiaan ini dilaksanakan untuk melakukan intervensi peningkatan pengetahuan, keterampilan dan perilaku para pengasuh dalam menerapkan pola pengasuhan dan perkembangan anak di Panti Asuhan X. Intervensi ini dilatarbelakangi oleh terjadinya fenomena kegagalan pola asuh yang sebagai salah satu contohnya adalah adanya metode pendisiplinan anak yang kurang baik, yang disebabkan karena para pengasuh belum mempunyai panduan. Metode analisis data yang digunakan untuk intervensi ini adalah observasi dan wawancara kepada para pengasuh. Intervensi mengenai pola pengasuhan dan perkembangan anak dirancang melalui program psikoedukasi dan dikembangkan dengan aspek-aspek yang meliputi perkembangan fisik, kognitif dan psikososial anak, dasar-dasar pengasuhan anak, macam-macam karakteristik anak, cara menangani anak tantrum dan anak pendiam, serta metode pengajaran anak yang tepat kepada para pengasuh di Panti Asuhan X. Intervensi ini memberikan hasil positif yang signifikan, yaitu peningkatan pada pengetahuan para pengasuh, yang mana skor rata-rata pengetahuan pengasuh pada pre-test adalah 40% menjadi 73% untuk skor rata-rata post-test. Sehingga hasil peningkatan ini membuktikan bahwa pengetahuan dan pemahaman para pengasuh telah jauh lebih baik dari sebelumnya dan mereka sudah memiliki panduan yang dapat dipraktikkan dalam mengasuh. Peningkatan pengetahuan ini juga diiringi dengan perubahan perilaku dan keterampilan para pengasuh dalam mengasuh anak-anak. Para pengasuh menjadi lebih tenang, lebih mampu mengendalikan emosinya, dan dapat mengenal karakteristik setiap anak, serta mampu memiliki banyak cara untuk menangani masalah anak-anak dengan karakteristik yang berbeda.
HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DENGAN KECEMASAN DALAM PUBLIC SPEAKING PADA MAHASISWA S1 Selly, Selly; Suparman, Meiske Yunithree
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8149

Abstract

Anxiety in public speaking is often experienced by people aged 18 to 25 years. On the other hand, self-compassion is considered a form of defense to reduce anxiety. This study aims to determine the relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students. The method used is a non-experimental quantitative with a correlational approach. The sampling technique used purposive sampling and finally obtained 396 student respondents aged 18–25 years. Data were collected through distributing questionnaires using Google Forms to students who have had public speaking experience within 1 year. The correlation test used is the nonparametric Spearman Rank test. The results of the analysis show a positive relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students, evidenced by sig. <0.001 (sig. <0.05). The negative correlation coefficient (–0.447) indicates that higher levels of self-compassion are associated with lower scores of public speaking anxiety. On the other hand, the higher the anxiety in public speaking, the lower the self- compassion in students. The results of this study also found that students who are busy with social activities can reduce the risk of anxiety in public speaking. ABSTRAK Kecemasan dalam public speaking sering kali dialami oleh orang dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Di sisi lain, self-compassion dianggap sebagai bentuk pertahanan untuk meredakan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara self-compassion dengan kecemasan dalam public speaking pada mahasiswa S1. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimen dengan pendekatan korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan akhirnya didapatkan 396 responden mahasiswa berusia 18–25 tahun. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan Google Form kepada mahasiswa yang pernah memiliki pengalaman public speaking dalam 1 tahun. Adapun uji korelasi yang digunakan adalah uji nonparametrik Spearman Rank. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif antara self-compassion dengan kecemasan dalam public speaking pada mahasiswa S1, dibuktikan dengan nilai sig. <0,001 (sig. < 0,05). Korelasi yang bernilai negatif (-0,447) dapat diartikan semakin tinggi self-compassion, maka hal tersebut akan menurunkan skor kecemasan dalam public speaking. Sebaliknya semakin tinggi kecemasan dalam public speaking maka semakin rendah self-compassion pada mahasiswa. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki kesibukan/ kegiatan sosial lebih dapat menurunkan risiko kecemasan dalam public speaking.
STUDI KUALITATIF : STRATEGI KOMUNIKASI PASANGAN MENIKAH DALAM MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN JARAK JAUH Setiawan, Anjelly Catrina; Suparman, Meiske Yunithree
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8972

Abstract

The increasing prevalence of long-distance marriages (LDMs) due to the demands of professional mobility and technological advancements requires couples to develop complex communication strategies to maintain healthy relationships. This study focuses on analyzing the communication strategies employed by married couples in LDMs and their implications for relationship quality in the digital era. Using a qualitative phenomenological approach, data were extracted through in-depth interviews with four LDM couples to understand the dynamics of their interactions. The study findings revealed that each couple adopted adaptive communication strategies according to their emotional needs, with assurance, openness, and conflict management as dominant pillars. Digital media has proven to play a significant role as an emotional bridge, but its effectiveness depends heavily on the couple's ability to minimize misunderstandings due to the absence of non-verbal cues. It is concluded that the success of LDMs is not solely determined by technological sophistication, but rather by the couple's maturity in building trust, commitment, and a solid support system. Integration between wise use of technology and quality interpersonal interactions is key to maintaining the stability and harmony of long-distance marriages. ABSTRAK Fenomena pernikahan jarak jauh (Long Distance Marriage/LDM) yang semakin marak akibat tuntutan mobilitas profesional dan perkembangan teknologi mengharuskan pasangan mengembangkan strategi komunikasi yang kompleks demi mempertahankan hubungan yang sehat. Penelitian ini berfokus pada analisis strategi komunikasi yang diterapkan pasangan suami istri dalam menjalani LDM serta implikasinya terhadap kualitas hubungan di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data digali melalui wawancara mendalam terhadap empat pasangan LDM untuk memahami dinamika interaksi mereka. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa setiap pasangan mengadopsi strategi komunikasi yang adaptif sesuai kebutuhan emosional, di mana dimensi assurance (pemberian jaminan), keterbukaan, dan manajemen konflik menjadi pilar dominan. Media digital terbukti berperan signifikan sebagai jembatan emosional, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan pasangan meminimalisir kesalahpahaman akibat absennya isyarat non-verbal. Disimpulkan bahwa keberhasilan LDM tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kematangan pasangan dalam membangun kepercayaan, komitmen, serta sistem dukungan yang solid. Integrasi antara pemanfaatan teknologi yang bijak dan kualitas interaksi interpersonal menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan rumah tangga jarak jauh.  
Self-Compassion dan Fomo pada Mahasiswa Dewasa Awal Generasi Z Pengguna Media Sosial Stevani, Lydia; Suparman, Meiske Yunithree
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maraknya penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa Generasi Z (Gen Z) memunculkan fenomena fear of missing out (FoMO), yaitu perasaan cemas ketika tertinggal dari berbagai aktivitas sosial daring. Berdasarkan teori self-compassion yang dikemukakan oleh Neff, individu yang memiliki belas kasih terhadap diri cenderung lebih mampu mengelola emosi negatif dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial daring. Oleh karena itu, self-compassion diduga berperan sebagai faktor protektif terhadap FoMO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan FoMO pada mahasiswa Gen Z dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan mahasiswa sebagai populasi, dan sampel ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Compassion Scale dan Online Fear of Missing Out (ON-FoMO) Scale adaptasi Bahasa Indonesia, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-compassion dan FoMO, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat self-compassion, semakin rendah kecenderungan FoMO. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kesadaran diri dan self-compassion sebagai strategi untuk mengurangi FoMO pada mahasiswa Gen Z pengguna media sosial.