Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Differences in Prostaglandin f2α Level in Adolescent Girls Experienced and Not Experienced Premenstrual Syndrome: A Cross-Sectional Study Ruqaiyah, Ruqaiyah; Wulandari, Ikrawanti Ayu; Harun, Ayatullah; Irwan, Hadriani; Amir, Fatmawati; Alamsyah, Alamsyah
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 3 (2023): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i3.2491

Abstract

This study aims to determine the differences in Prostaglandin f2α concentration in female adolescents who experienced and did not experience Pre-Menstrual Syndrome (PMS). Cross-sectional study conducted at a single institution. The sample for this study was female adolescents at the Darul Arqam Islamic Boarding School in Makassar, consisting of 50 adolescents who experienced PMS and those who did not experience PMS in a ratio of 1:1. Prostaglandin f2α levels were measured using an ELISA kit. The sample used was 5 cc blood from the median cubital vein by laboratory staff 5 days before menstruation. Data were analyzed descriptively and statistically. The results showed that the average Prostaglandin f2α in the group that experienced PMS (379.07) was higher compared to the group that did not experience PMS (101.23) with a p-value < 0.05, significantly. Furthermore, the group that experienced mild PMS had an average Prostaglandin f2α value of 283.32, while the group that experienced severe PMS had an average Prostaglandin f2α value of 454.31. The average Prostaglandin f2α level in the group who did not experience PMS, mild PMS, and severe PMS had a p-value < 0.05. This study concludes that there is a significant difference in the Prostaglandin f2α Level in adolescents who experience PMS and those who do not experience it and there are differences based on the severity of PMS.
Penyuluhan Penerapan Lima Pilar STBM Terhadap Kejadian Stunting B, Muslimin; Ruqaiyah, Ruqaiyah; Imran, Ali
Media Implementasi Riset Kesehatan Vol 5 No 2 (2024): Media Implementasi Riset Kesehatan (Desember)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mirk.v5i2.1099

Abstract

Satu indikator faktor lingkungan yang dapat menyebabkan stunting masyarakat secara tidak langsung adalah sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). Metode pembangunan kesehatan yang berkaitan dengan sanitasi ini memanfaatkan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong perubahan perilaku, terutama perilaku yang berpotensi mengakibatkan peningkatan kasus stunting. Karena kekurangan sumber daya dan jangkauan area kegiatan yang begitu luas, kegiatan penyuluhan belum dilakukan sepenuhnya. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang lima Pilar STBM dan stunting pada ibu balita di Desa Benteng Gajah. Metode: Penyuluhan memberikan pengabdian masyarakat, yang kemudian digunakan untuk mengukur indikator keberhasilan dengan menggunakan pre-test dan post-test. Hasil: Hasil dari kegiatan penyuluhan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta tentang 5 Pilar STBM dan Stunting. Ini ditunjukkan oleh nilai pre-test dan nilai post-test peserta baik sebelum maupun sesudah penyuluhan, dengan 61% peserta mengetahui tentang pilar STBM dan Stunting, dan 89% peserta mengetahui tentang pilar tersebut setelah penyuluhan. Keputusan: Kegiatan penyuluhan dapat membantu ibu balita lebih memahami penerapan 5 Pilar STBM dan Stunting. Untuk itu, kegiatan penyuluhan harus ditingkatkan agar petugas kesehatan dapat mengajarkan ibu balita hal-hal baru tentang kesehatan. Kata Kunci: pengabdian masyarakat ,penyuluhan,  pengetahuan,5 Pilar STBM, Stunting
Developing Students’ Critical Thinking through Problem-Based Learning in English Class at SMK Putera Puteri Cendekia Kurniawati, Elis; Ruqaiyah, Ruqaiyah
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Vol. 5 No. 2 Juli-Desember 2025
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/mudabbir.v5i2.1180

Abstract

This study explores the implementation of Problem-Based Learning (PBL) in English language teaching and its contribution to developing students’ critical thinking skills at SMK Putera Puteri Cendekia. As vocational education increasingly emphasizes 21st-century competencies, critical thinking has become essential for preparing students to face real-world challenges. PBL provides a student-centered approach where learners engage with contextual problems through inquiry, group collaboration, and reflection. This research employed a qualitative descriptive method, involving one English teacher and Grade XI students. Data were collected through classroom observations, interviews, and field notes to capture the dynamics of PBL in practice. The results indicated that students actively participated in analyzing issues, constructing arguments, and presenting logical solutions. The teacher played a crucial role as a facilitator and co-investigator throughout the process. Despite several challenges, including limited time and varying English proficiency among students, the implementation of PBL fostered a supportive and engaging environment. Overall, PBL proved to be an effective strategy to enhance critical thinking in English language teaching within vocational school settings.
Edukasi Kesehatan Reproduksi Berbasis Komunitas Terhadap Peningkatan Pengetahuan Pasangan Usia Subur Di Wilayah Kerja Puskesmas Polongbangkeng Timur Kabupaten Takalar Ruqaiyah, Ruqaiyah
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Juni)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Reproductive health is an important aspect in improving the quality of life of couples of reproductive age. Lack of knowledge related to reproductive health can increase the risk of unintended pregnancy, sexually transmitted infections, and low utilization of health services. This community service program aims to improve the knowledge of reproductive-age couples through community-based reproductive health education. The method used was a participatory educational approach through counseling, interactive discussions, and distribution of educational media. The activity was conducted on February 11, 2026, involving 150 participants in the working area of Polongbangkeng Timur Public Health Center, Takalar Regency. Evaluation was conducted using pre-test and post-test. The results showed an increase in participants' knowledge with the average score rising from 55.2 to 82.6. There was also an improvement in understanding contraceptive use, reproductive health, and prevention of sexually transmitted infections. In conclusion, community-based reproductive health education is effective in improving the knowledge of reproductive-age couples. Keywords: Reproductive Health, Couples Of Reproductive Age, Health Education, Community Service ABSTRAK Kesehatan reproduksi merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasangan usia subur (PUS). Kurangnya pengetahuan terkait kesehatan reproduksi dapat berdampak pada meningkatnya risiko kehamilan tidak diinginkan, penyakit menular seksual, serta rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasangan usia subur melalui edukasi kesehatan reproduksi berbasis komunitas. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif melalui penyuluhan, diskusi interaktif, dan pembagian media edukasi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2026 dengan jumlah peserta sebanyak 150 pasangan usia subur di wilayah kerja Puskesmas Polongbangkeng Timur Kabupaten Takalar. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dengan nilai rata-rata dari 55,2 menjadi 82,6. Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman terkait penggunaan kontrasepsi, kesehatan reproduksi, dan pencegahan penyakit menular seksual. Kesimpulan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan pengetahuan pasangan usia subur. Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi, Pasangan Usia Subur, Edukasi Kesehatan, Pengabdian Masyarakat
Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah (Penelitian Tindakan Kelas) Bagi Guru – Guru SD zetriuslita, zetriuslita; Ariawan, Rezi; Ruqaiyah, Ruqaiyah
Community Education Engagement Journal Vol. 1 No. 2 (2020): April
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/ceej.v1i2.4774

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru – guru tentang PTK dan meningkat kemampuan guru – guru dalam penulisan laporan PTK. Pengbadian ini dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2020 di gugus 1 (SD Negeri 6) Tanjung Samak Kecamatan Rangsang Kabupaten Kepulauan Meranti. Jumlah peserta pengabdian adalah sebanyak 20 orang yang terdiri dari guru – guru yang tergabung ke dalam SD yang terdapat di gugus 1. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah metode ceramah dan metode demontrasi. Metode ceramah digunakan untuk menyampaikan materi pengabdian dan metode demontrasi digunakan untuk menyajikan draf proposal yang telah dirancang. Instrumen pengabdian yang digunakan adalah slide presentasi materi dan draf proposal PTK yang disajikan dengan bantuan laptop dan LCD. Hasil pengabdian secara keseluruhan dapat dinyatakan cukup baik. Hal ini terlihat dari ketercapaian target yang telah ditentukan, diantaranya yaitu: (1) target jumlah peserta pengabdian yaitu 100%; (2) target tujuan pelatihan yaitu 5%; (3) target materi yang telah direncanakan yaitu 90%; (4) target kemampuan peserta dalam penguasan materi yaitu 20%.
Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pembelajaran Aktif Bagi Guru SD se-Kecamatan Rangsang Kepulauan Meranti Ruqaiyah, Ruqaiyah; Ariawan, Rezi
Community Education Engagement Journal Vol. 1 No. 2 (2020): April
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/ceej.v1i2.4818

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan perubahan berbagai aspek kehidupan manusia dalam menyongsong era globalisasi yang semakin menantang. Untuk itu diperlukan keterampilan guru dalam melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan cara menyajikan materi pembelajaran dalam bahan ajar (LKPD) yang menarik. Hal ini sejalan dengan tuntutan dalam implementasi K13. Dalam membuat bahan ajar (LKPD), guru harus bias mengintegrasikan model-model pembelajaran yang diamanatkan dalam K13 yaitu model pembelajaran aktif. Kondisi dilapangan ditemukan bahwa sebagian besar guru belum mampu untuk membuat, merancang maupun mendesain sendiri bahan ajar (LKPD) sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Berdasarkan itulah, makanya pengabdian ini dilakukan untuk membantu memberikan transfer ilmu kepada guru bagaimana melakukan pengembangan bahan ajar (LKPD) berbasis pembelajaran aktif.
Health Information Exposure and Obstetric Emergency Knowledge Among Pregnant Women: A Cross-Sectional Study in Makassar, Indonesia Alamsyah, Alamsyah; Arfinayanti, Arfinayanti; Ruqaiyah, Ruqaiyah; Samsir, Samsir; Handayani, Tut; Harun, Ayatullah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol. 15 No. 1 (2026): January - June
Publisher : LPPM Politeknik Sandi Karsa, South Sulawesi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiksh.v15i1.261

Abstract

Introduction: Maternal mortality remains a significant public health concern, particularly in low- and middle-income countries where delays in recognizing obstetric danger signs contribute to preventable complications. Adequate maternal knowledge regarding obstetric emergencies is essential for timely care-seeking. This study aimed to examine the association between health information exposure and knowledge of obstetric emergencies among pregnant women attending antenatal care services. Research Methodology: An analytical cross-sectional study was conducted at the Antenatal Care (ANC) clinic of Labuang Baji Hospital, Makassar, Indonesia, from August to September 2025. A total of 45 pregnant women were recruited using accidental sampling. Data were collected using validated questionnaires measuring health information exposure (10 Likert-scale items; Cronbach’s α = 0.856) and obstetric emergency knowledge (20 true–false items; Cronbach’s α = 0.876). Descriptive statistics were used to summarize respondent characteristics. Fisher’s Exact Test and logistic regression analysis were performed to examine associations between variables. Statistical significance was set at α = 0.05. Results: Exposure to maternal health information was significantly associated with knowledge of obstetric emergencies. Pregnant women exposed to health information were nearly seven times more likely to demonstrate good knowledge compared with those who were not exposed (OR = 6.93; 95% CI: 1.18–40.55; p = 0.026). Multivariate logistic regression confirmed that information exposure remained the strongest predictor of obstetric emergency knowledge (OR = 6.96; 95% CI: 1.11–43.41; p = 0.038). Conclusion: Health information exposure plays a critical role in improving pregnant women’s knowledge of obstetric emergencies. Strengthening structured maternal health education within antenatal care services, complemented by community and digital health communication strategies, may enhance maternal awareness and support early recognition of obstetric complications