Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

UPACARA PERNIKAHAN LEK BATIN DI DESA RANTAU PANDAN KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI Indriyuliani, Wulan; Nofra, Doni
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1099

Abstract

Lek Batin merupakan salah satu tradisi pernikahan yang terdapat di Desa Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Eksistensi tradisi Lek Batin ini merupakan penanda kekuatan ekonomi suatu keluarga dalam melaksanakan pesta pernikahan. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan prosesi dan perkembangan tradisi Lek Batin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapannya yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi dan penulisan. Sumber data yang didapatkan dipenelitian ini adalah wawancara dan arsip berupa buku nikah, catatan pernikahan dari KUA, serta foto-foto pernikahan. Hasil penelitian menjukkan bahwa upacara Lek Batin dilakukan dengan 3 tahapan: sebelum pernikahan, pelaksanaan pesta pernikahan, serta pasca pernikahan. Masyarakat kelas ekonomi kuat yang melaksanakan Lek Batin mampu menghadirkan hidangan hewan berkaki empat, iringan pesta musik dan arak-arakan pengantin. Lek Tengganai sebagai pesta kelas kedua tidak mampu menghadirkan itu semuanya. Seiring bertukarnya zaman tradisi lek batin tetap harus dilestarikan tanpa harus mengurangi bahkan menghilangkan ciri khas yang sudah melekat pada tradisi tersebut.
Sejarah Evolusi Identitas Budaya Suku Anak Dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas Pasca Orde Baru nofra, doni
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.385

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan evolusi budaya Suku Anak Dalam (SAD) yang bermukim di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Kawasan TNBD merupakan kawasan yang menjadi pemukiman terpadat Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi yang dikenal dengan kehidupan nomaden. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode penelitian sejarah yang memiliki empat tahapan kerja yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan observasi. Observasi bersamaan dengan kegiatan dokumentasi lapangan dan wawancara mendalam. Analisis data penelitian menggunakan teori evolusi budaya. Hasil penelitian menujukkan bahwa modernisasi seiring perkembangan zaman dan perubahan fungsi hutan telah mempengaruhi pola kehidupan dan identitas budaya mereka. Perubahan kehidupan dan identitas budaya SAD dimulai pada masa pembangunan Orde Baru, datangnya kelompok transmigran, munculnya perusahaan perkebunan swasta, hingga penetapan TNBD. Pergeseran pola hidup masyarakat SAD ditandai dengan sudah mulai menetap sebagian besar mereka, dan turunnya kesadaran generasi muda SAD akan kearifan lokal adat istiadat yang mereka miliki. Interaksi dengan masyarakat luar merubah hidup mereka secara perlahan menjadi modern, baik dalam tempat tinggal, pendidikan, ekonomi hingga persoalan kepercayaan. Hingga penelitian ini dilakukan, SAD kawasan TNBD sudah terbagi menjadi kelompok nomaden, semi-nomaden hingga menetap.
RITUAL HARI KEMATIAN RAJO NAN DUO SELO DAN RAJO BUEK DI NAGARI PADANG LAWEH KABUPATEN SIJUNJUNG (1973-2015) Nofra, Doni
Hadharah: Jurnal Keislaman dan Peradaban Vol 18, No 2 (2024): Hadharah: Jurnal Keislaman dan Peradaban
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/h.v18i2.10745

Abstract

Permasalahan yang terdapat pada Ritual Hari Kematian Rajo Nan Duo Selo dan Rajo Buek Di Nagari Padang Laweh kabupaten Sijunjung adalah: bahwa didalam agama Islam jika ada yang meninggal dunia maka dianjurkan untuk bersedih dan dilarang untuk meratap, sedangkan pada hari kematian Rajo Nan duo Selo dan Rajo Buek Di Nagari Padang Laweh pada hari kematiannya dilaksanakan acara maratok serta mengarak jenazah hingga ke kuburan dengan iringan talempong dan gendang.Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, yang lokasi penelitiannya adalah di Nagari Padang Laweh Kabupaten Sijunjung. Sumber primer dari penelitian ini adalah sumber lisan yang dilakukan dengan cara wawancara. Hasil penelitian dari Ritual Hari Kematian Rajo Nan duo Selo dan Rajo Buek di Nagari padang Laweh adalah: 1. Rajo adat meninggal pada tahun 1973, dan digantikan oleh cucu nya dan menjabat hingga sekarang. Pada hari kematian Rajo adat di tahun 1973 dilaksanakan beberapa rangkaian acara, yaitu Marato’i mayat saat akan turun rumah, dan juga dengan arakan talempong serta gendang. 2. Rajo ibadat meninggal pada tahun 2008, nama datuak yang meninggal tahun 2008 adalah datuak Isrin, dan digantikan oleh kemenakannya Datuak Sahirman yang juga masih menjabat hingga sekarang, seeta pada hari kematiannya juga dilaksanakan ritual seperti pada hari kematian Rajo adat. 3. Rajo Buek meninggal pada tahun 2015. Dan digantikan oleh cucunya yang bernama Datuak Roni dan masih menjabat hingga sekarang.
Metode Tempoyak Kelapa : Ekspresi Pendidikan Sufistik dalam Sejarah Islam Tradisional Minangkabau (Kajian Historis atas Peran Syekh Muhammad Yunus di Nagari Kapa, 1940–1962) Rahman, Adi; Nofra, Doni; Suriani , Suriani; Afdayeni, Melia
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1808

Abstract

Penelitian ini menyelidiki praktik pendidikan Islam tradisional yang diimplementasikan oleh Syekh Muhammad Yunus (Tuanku Sasak) di Nagari Kapa, Pasaman Barat, pada kurun 1940 hingga 1962. Metode Tempoyak Kelapa penggunaan tempurung kelapa sebagai substitusi bantal dianalisis sebagai sebuah bentuk disiplin fisik-spiritual yang bermuatan nilai-nilai asketisme (zuhud), konsistensi (istiqomah), dan kesungguhan hati (mujahadah). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif historis, pengumpulan data secara observasi, wawancara dengan anak, cucu, menantu, murid dan tokoh akademisi, kemudian pengumpulan arsip serta dokumentasi. Penelitian ini mengungkap bagaimana metode tersebut berfungsi sebagai instrumen transformasi karakter santri sekaligus penanda era transisi pendidikan dari sistem surau non-formal ke lembaga pendidikan terstruktur. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode ini merepresentasikan integrasi antara ajaran tasawuf, kearifan lokal Minangkabau (“alam takambang jadi guru”), dan kebutuhan pedagogis pada masanya tempurung kelapa sebagai pengganti bantal tidur bagi para santri saat lelah dalam belajar. Dalam penerapannya terdapat empat cabang keilmuan yakni: aqidah, fiqih, tarikh dan nahwu. manfaatnya adalah, menggajarkan mengenai kesungguhan hati dalam belajar yang dibarengi dengan niat, istiqomah di mana para santri diajarkan mengenai keikhlasan dan zuhud yakni suatu prinsip untuk tidak ketergantungan terhadap dunia yang mengajarkan para santri tentang kesederhaan dan fleksibilitas dalam belajar.
TRANSFORMATION OF FIQH KNOWLEDGE IN THE NASKAH TRADITION IN LUHAK AGAM MINANGKABAU (HISTORICAL STUDY APPROACH) Nofra, Doni; Pratama, Fikri Surya
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 15 No. 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v15i2.2372

Abstract

The presence of Islam in Minangkabau had a significant impact on the formation of the intellectual tradition of the community, especially in the writing and transmission of religious knowledge. Islamic scholars, tarekat groups, and their students produced various religious manuscripts that played an important role in the education and social life of the Minangkabau people. This research aims to examine the process of fiqh knowledge transformation through local manuscripts in Agam Regency, West Sumatra. Using a qualitative approach and historical research method, data were collected through field observations, in-depth interviews, and literature studies. The analysis was conducted interactively since the beginning of data collection by emphasising the historical, social and cultural context of the manuscripts studied. The results show that the existence and distribution of fiqh manuscripts in the Luhak Agam region is a reflection of the distinctive Islamic intellectual dynamics in Minangkabau. The fiqh manuscripts from Agam contain various important themes, ranging from the fiqh of worship to socio-cultural issues, such as the pros and cons of Minangkabau customs, women's issues and other unique issues. These manuscripts were not only used in teaching in surau, but also became instruments in fighting for social transformation in society. Thus, fiqh manuscripts in Minangkabau reflect the dynamics of interaction between texts, education and the evolving social reality.