Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Socio-Cultural Influences on Stunting Children Aged 24-59 Months: A Cross-Sectional Study in the Bugis Community of Indonesia Haniarti , Haniarti; Sabriani, Sabriani; Nurlinda, Nurlinda; Fitriani Umar
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 8 No. 8 (2025): August 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v8i8.7946

Abstract

Introduction: Stunting remains a persistent public health challenge in Indonesia, particularly among traditional communities such as the Bugis in Belawae Village. This study investigates the influence of socio-cultural practices on the prevalence of stunting in children under five, focusing on maternal behaviors during pregnancy, breastfeeding, and toddlerhood. The objective is to identify culturally embedded factors that contribute to undernutrition and hinder optimal child development. Method: Employing a cross-sectional design, the study collected data from 112 mothers using structured questionnaires and anthropometric measurements of their children. Socio-cultural practices, such as food taboos, avoidance of colostrum, and early complementary feeding, were examined. Data were analyzed using descriptive statistics and chi-square tests to determine associations between cultural practices and stunting. Results: Findings reveal significant associations between stunting and cultural practices at all developmental stages. Notably, the overall stunting prevalence was 33.9%. the avoidance of nutrient-rich foods during pregnancy and breastfeeding, discarding colostrum, and premature introduction of solid foods were common. These behaviors, shaped by traditional beliefs, contributed to inadequate nutrition during the child’s first 1000 days-a critical window for growth and development. The study also found that maternal education, socioeconomic status, and gender perceptions intersect with cultural norms, influencing feeding decisions and health outcomes. These results align with broader evidence highlighting the role of cultural context in determining child nutrition. Conclusion: This research contributes to the understanding of how culturally driven behaviors affect stunting, emphasizing the need for context-sensitive interventions. Strategies to reduce stunting must integrate cultural competence, promote community engagement, and support respectful behavioral change. Addressing stunting effectively requires public health approaches that balance scientific recommendations with cultural values.
Evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare: Evaluation of Distance Learning on the Mental Health of Muhammadiyah Parepare University Students Rini Anggraeny; Fitriani Umar; Sri Wulandari Rahman; Warda J
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 2 (2023): February 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i2.2804

Abstract

Latar belakang: Coronavirus Disease (Covid-19) masuk di Indonesia sejak awal Maret 2020 yang menimbulkan berbagai dampak pada aspek ekonomi, politik, sosial, hingga pendidikan. Adapun dampak terhadap pendidikan pada proses pembelajaran yaitu, berubahnya sistem pembelajaran tatap muka menjadi sistem pembelajaran jarak jauh/daring. Perubahan metode belajar ini berlangsung cepat sehingga banyak pihak yang belum siap dan merasa kesulitan sehingga timbul masalah kesehatan mental. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dampak pembelajaran jarak jauh terhadap kesehatan mental mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampelnya adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare yang mengikuti proses pembelajaran jarak jauh sebanyak 97 mahasiswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner digital yaitu platform google form. Hasil: Penelitian terhadap 98 mahasiswa diperoleh data bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki masalah psikologis (cemas, depresi) yaitu sebanyak 64 orang (66,0%), sedangkan mahasiswa yang tidak memiliki masalah psikologis sebanyak 33 orang (34,0%). Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa jumlah mahasiswa yang memiliki masalah psikologis seperti cemas dan depresi adalah sebanyak 64 responden (66,0%), sedangkan jumlah mahasiswa yang tidak memiliki masalah psikologis sebanyak 33 responden (34,0%).
Studi Kasus Determinan Kejadian Tuberkulosis pada Anak di Kota Parepare: Case Study of Determinants of Tuberculosis Incidence in Children In Parepare City Saleh, Nur Ainun Anita; Henni Kumaladewi Hengky; Fitriani Umar; Makhrajani Majid
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 12 (2023): December 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i12.4104

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis pada anak-anak dan remaja sering kali diabaikan oleh tenaga kesehatan serta sulitnya didiagnosis dan diobati. Gejala tuberkulosis pada anak umunya berbeda pada orang dewasa Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian tuberkulosis pada anak di Kota Parepare Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Studi Kasus dan bersifat deskriptif. Sampel adalah sebagian penderita tuberkulosis anak di Kota Parepare pada tahun 2021-2023. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purpossive samplingsebanyak 5 orang. Hasil: Hasil penelitian diperoleh usia penderita Tuberkulosis anak di Kota Parepare lebih banyak berusia 12 tahun yaitu 2 orang (40%) dan lainnya berumur 2, 4 dan 6 tahun yakni masing-masing 20%.Jenis kelamin penderita TB anak di Kota Parepare 60% adalah laki- laki dan perempuan sebanyak 40%.100% anak telah mendapatkan vaksin BCG. Mayoritas Tingkat pendidikan orang tua yakni ayah dan ibu penderita TB anak adalah tamat Akademi/Perguruan Tinggi yaitu masing-masing60% dan 80%. Keadaan sosial ekonomi penderita Tuberkulosis anak 80% tergolong tinggi. 80% anak memiliki riwayat kontak dengan penderita. Kesimpulan: Perlunya memberi perhatian lebih terhadap kesehatan anak-anak dikarenakan anak rentan terpapar penyakit dan memiliki sistem imun yang rendah.Bagi masyarakat yang memiliki anggota keluarga menderita TB agar mengurangi kontak atau menghindari kontak serumah antara anak dengan orang yang menderita TB