Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Strategi Kepala Sekolah Dalam Pemasaran Jasa Pendidikan di Lembaga Pendidikan Baru Pada Era Marketing 4.0 (Studi Kasus di SMK BP Subulul Huda) Aris Nurbawani
Southeast Asian Journal of Islamic Education Management Vol. 2 No. 1 (2021): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (previously known as IAIN Ponorogo)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/sajiem.v2i1.41

Abstract

In 2016, the government promoted the revitalization of vocational high schools (SMK). In East Java, the vocational high school revitalization was accelerated with the target of achieving a percentage of the ratio between SMK and SMA (senior high schools) of 70:30. The East Java provincial government should implement a moratorium on the establishment of SMA and facilitate the process of changing the function of SMA to SMK. However, inviting residents to attend vocational schools is not an easy matter, in fact there are still many vocational schools that are devoid of enthusiasts. The headmaster must be right in choosing a marketing strategy for educational services so that gets students as expected. Qualitative research on the headmaster's strategy in marketing educational services at new educational institutions is important to do in order to get a marketing model that is relevant to the times. This research data collection using interview techniques, observation, and documentation. The results of this study are first, the headmaster's strategy in marketing (SMK BP Subulul Huda) is based on the strategic policy of the islamic boarding school foundation, namely a forward integration strategy. To follow up on the policy, the headmaster prepared a marketing plan using market segmentation, targeting, and positioning strategies. Second, marketing implementation is carried out by applying the marketing mix (7P). Third, the headmaster develops educational services that are human-oriented and a marketing approach that is applied using offline and online interactions that are relevant to the Marketing 4.0. Abstrak Pada tahun 2016, pemerintah menggalakkan revitalisasi sekolah menengah kejuruan dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Di Jawa Timur, pada tahun 2017 melakukan percepatan revitalisasi sekolah menengah kejuruan tersebut dengan target mencapai persentase perbandingan SMK dan SMA sebesar 70:30. Melalui peraturan Gubernur, diputuskan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan moratorium pendirian SMA dan mempermudah proses alih fungsi SMA menjadi SMK. Namun, mengajak warga agar sekolah di SMK bukan perkara mudah, faktanya masih dijumpai SMK yang sepi peminat khususnya SMK di kawasan terjauh dan terdepan, bahkan tidak hanya di pedesaan saja, di kota besar juga ada SMK yang kekurangan murid. Kepala sekolah harus tepat dalam memilih strategi pemasaran jasa pendidikan agar sekolah yang dikelolanya mendapatkan murid sesuai harapan. Penelitian kualitatif tentang strategi kepala sekolah dalam pemasaran jasa pendidikan pada lembaga pendidikan baru pada era Marketing 4.0 penting untuk dilakukan agar mendapatkan sebuah model pemasaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Temuan penelitian ini pertama, strategi kepala sekolah dalam pemasaran SMK BP Subulul Huda didasari oleh kebijakan strategis Yayasan Pondok Pesantren yaitu strategi pertumbuhan integrasi ke depan. Untuk menindaklanjuti kebijakan tersebut kepala sekolah menyusun perencanaan pemasaran dengan menggunakan strategi segmentasi pasar, targeting, dan positioning. Kedua, implementasi pemasaran dilakukan dengan menerapkan bauran pemasaran 7P. Ketiga, kepala sekolah membangun produk/jasa pendidikan yang berorientasi pada manusia (mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan) dan pendekatan pemasaran yang diterapkan menggunakan interaksi offline dan online yang relevan dengan era Marketing 4.0.
Motivasi Keaktifan Mahasiswa dalam Perkuliahan Secara Daring pada Masa Pandemi COVID-19 dalam Perspektif Teori Pengharapan Victor Harold Vroom Aris Nurbawani
Southeast Asian Journal of Islamic Education Management Vol. 3 No. 2 (2022): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (previously known as IAIN Ponorogo)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/sajiem.v3i2.99

Abstract

Banyak permasalahan pembelajaran secara daring pada masa pandemi COVID-19, salah satunya adalah fenomena ghosting dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motivasi keaktifan mahasiswa pada pembelajaran secara daring pada masa pandemi COVID-19. Jika motivasi keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran secara daring ini diketahui, maka diharapkan dapat menjadi petunjuk bagi para pendidik untuk memotivasi peserta didiknya, sehingga dapat diterapkan untuk mencegah peserta didiknya melakukan ghosting dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan termasuk jenis penelitian studi kasus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi keaktifan mahasiswa IAIN Ponorogo pada perkuliahan daring selama masa pandemi COVID-19 dipengaruhi oleh: (1) Seberapa besar tingkat keyakinan mahasiswa atas usaha (keaktifan dalam perkuliahan) terhadap hasilnya (performance - outcome expectancy), di antaranya adanya keyakinan mahasiswa bahwa keaktifan dalam perkuliahan akan menyebabkan mahasiswa mendapatkan: nilai tambah atau nilai A+, tambahan pengetahuan atau wawasan, penghargaan (reward) secara verbal dan koreksi (feedback) dari dosen, prestasi lulus tepat waktu dan bisa segera pulang ke tanah kelahiran, serta mendapatkan bekal hidup yang kelak dapat digunakan setelah lulus kuliah. (2) Seberapa besar tingkat keyakinan mahasiswa mampu untuk berusaha atau aktif dalam perkuliahan (effort-performance expectancy), di antaranya seberapa yakin mereka mampu untuk menanyakan materi yang belum dipahami (merasa mampu aktif bertanya) dan membantu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa lainnya (merasa mampu aktif menanggapi). (3) valensi yaitu seberapa penting (menarik) hasil usaha atau kadar pengharapan terhadap hasil usaha (outcome expectancy) bagi mahasiswa. Selain tiga hal tersebut, juga ada variabel lainnya yang tidak dapat dimasukkan pada model teori pengharapan, namun variabel tersebut dapat memengaruhi motivasi keaktifan mahasiswa.
Analisis Manajemen Mutu Sekolah Islam (Standar Kepegawaian dalam SOP SDIT Al-Uswah Surabaya) Aris Nurbawani
Southeast Asian Journal of Islamic Education Management Vol. 4 No. 2 (2023): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (previously known as IAIN Ponorogo)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/sajiem.v4i2.219

Abstract

Many public elementary schools in Indonesia in the 2023 PPDB will not receive any students at all. Meanwhile, SDIT Al Uswah Surabaya is different, this school is one of the Islamic schools in Surabaya which always gets quite a lot of students every year. Quality is one of the factors that makes a school attractive. One quality is the suitability of a condition to the standards used, including the suitability of the human resource standards held by SDIT Al Uswah Surabaya. This research aims to analyze the Standard Operating Procedure (SOP) for staffing standards at SDIT Al Uswah Surabaya along with its advantages and disadvantages. This research uses a qualitative approach. This research uses secondary data. Data were analyzed using human resource management theory according to Schermerhorn. The results of this research show that the SOP for staffing standards at SDIT Al Uswah Surabaya consists of 25 SOPs. The quality workforce search function consists of one SOP, the quality workforce development function consists of five SOPs, and workforce maintenance consists of twenty SOPs, and there are two SOP that can be grouped into two human resource management functions at once. The advantage of the SDIT Al Uswah Surabaya SOP is that it is prepared simply so that it is easy to understand and implement. The weakness of the SDIT Al Uswah Surabaya SOP is that there is inequality in making SOPs, namely that the maintenance SOP has more SOPs than the SOP for workforce search and development.  
The Sustainability of Islamic Education in Rural Communities in Indonesia Fery Diantoro; Aris Nurbawani
Southeast Asian Journal of Islamic Education Management Vol. 6 No. 2 (2025): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (previously known as IAIN Ponorogo)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/sajiem.v6i2.550

Abstract

This study is based on the dynamics occurring in rural communities, particularly related to limited Islamic religious knowledge and inadequate access to education, which need to be addressed through the development of sustainable Islamic education. The sustainability of Islamic education is key to changing social conditions and empowering rural communities. The purpose of this study is to identify the model of Islamic education at Griya Pintar Mbok Supi, Gading Village, the basis for building its sustainability, and the factors that influence it. The method used is field research with a qualitative and phenomenological approach, which allows for in-depth analysis of the experiences of education practitioners and the surrounding community. This study focuses on how the educational model is implemented, the basis for building educational sustainability, and the factors that influence the sustainability of Islamic education at the institution. Key findings indicate that the model of Islamic education at Griya Pintar Mbok Supi, Gading Village, is a form of community-based Islamic education that takes place in residents' homes through non-formal education channels. Its sustainability is built on the basis of strong da'wah motivation, basic capital in the form of a home as a place of education, social capital built through harmonious relationships with the community, and the utilization of local potential. Factors that influence its sustainability include the open and adaptive attitude of the community, awareness and concern for Islamic education, good communication, and support from the government and stakeholders.