Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

SIFAT FISIKA DAN KIMIA TANAH PADA LAHAN HUTAN GAMBUT BEKAS TERBAKAR: STUDI KASUS KABUPATEN OGAN KOMERING ILIRSUMATERA SELATAN, INDONESIA PHYSICAL AND CHEMICAL PROPERTIES OF BURNT PEAT LAND FOREST: CASE STUDY IN OGAN KOMERING ILIR REGENCY, SOUTH SUMATRA, INDONESIA Yuningsih, Lulu; Bastoni, Bastoni; Yulianty, Taty; Harbi, Jun
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v8i1.1854

Abstract

Kebakaran di hutan gambut telah mengubah karakteristik lahan tersebut. Ironisnya, saat ini perhatian berupa riset terhadap sifat fisik dan kimia lahan gambut yang mengalami perubahan tersebut masih sangat rendah. Padahal sifat fisik dan kimia gambut merupakan faktor penting yang mempengaruhi kemampuan tanah untuk berproses. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk kondisi fisik dan kimia tanah pada lahan gambut pasca kebakaran tahun 2006 dan 2015. Studi ini dilakukan pada tahun 2017 di Kebun Konservasi Plasma Nutfah, Indonesia dan analisis dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah, Universitas Sriwijaya dan Balai Riset Standarisasi Industri Palembang (Baristand). Berdasarkan analisis uji lanjutan Beda Nyata Jujur (BNJ) pada sifat fisika tanah menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata terhadap perubahan kadar air dan bulk density di lahan pasca terbakar tahun 2015 dan lahan pasca terbakar tahun 2006 yang sudah dilakukan kegiatan rehabilitasi. Pada sifat kimia, pH, C-Organik, Phospor, dan Kalium menunjukkan adanya perubahan nyata terhadap kebakaran di lahan gambut pasca terbakar tahun 2006 dan di lahan gambut pasca terbakar tahun 2015, akan tetapi terhadap N-total adanya perubahan akan tetapi tidak terlalu nyata di kedua lokasi. Masih dibutuhkan informasi lebih komprehensif terhadap unsur fisika dan kimia lainnya serta  sifat biologi tanah sehingga dapat menjadi acuan yang lebih presisi. Fires in peat forests have changed the characteristics of the land. Ironically, current attention includes research on the physical and chemical properties of peatlands that have changed is still scarce. Though the physical and chemical properties of peatlands is an essential factor affecting the ability of the soil to process. So, the purpose of this research is to analyze the physical and chemical properties of soil on peatlands after burning in 2006 and 2015. This study was conducted in 2017 at the Kebun Konservasi Plasma Nutfah (Germplasm Conservation Garden), Indonesia and analysis were carried out at the Soil Science Laboratory, Sriwijaya University and the Palembang Industrial Standardization Research Center (Baristand). Based on further analysis of Honest Significant Difference (BNJ) on the physical properties of soil shows that there are significant differences in changes of water content and bulk density in post-burnt land in 2015 and post-burnt land in 2006 that have been carried out rehabilitation activities. In the analysis of chemical properties consisting of analysis of pH, C-Organic, Phosphor, and Potassium showed a real change in fires in peatlands after burning in 2006 and peatlands after burning in 2015. However, at the N-total values, changes occurred but not too real in both locations. More comprehensive information is still needed on other physical and chemical elements as well as soil biological characteristics so that they can become more precise references.
EFFECTIVENESS OF CONCENTRATION OF GROWTH REGULATORY SUBSTANCES ON THE GROWTH OF KALIANDRA (Calliandra callothyrsus) TRUNK Heripan, Heripan; Yuningsih, Lulu; Piande, Alam
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v10i1.3482

Abstract

The potential of our energy sources in Indonesia is getting thinner day by day. Energy sources that come from fossils if we take it continuously will run out and cannot be renewed. Therefore, it is necessary to have an alternative source of renewable energy, one of the renewable energies to replace fossil energy, is wood biomass. One of the woods that can be used as a renewable energy source is Kaliandra wood (Calliandra calothyrsus). Calliandra (Calliandra callothyrsus) is a type of tree that can grow throughout the year. The problem faced in generative breeding of Kaliandra is the low seed germination caused by Kaliandra seeds having hard seed dormancy, and the skin has a waxy coating. To overcome the problem of meeting the needs of Kaliandra wood in energy resources, vegetative propagation of plants is needed, one of which is stem cuttings. This study aims to determine the level of effectiveness of the successful growth of Kaliandra stem cuttings using various concentrations of growth regulator Rootone F. The research method used is quantitative by conducting various experiments, namely treatment of Kaliandra stem cuttings without treatment, treatment using Rootone-f hormone with concentration (100 ppm), and treatment using the hormone Rootone-f with a concentration (200 ppm). The results showed that the number of shoots and the number of leaves were the same in each treatment, namely 1 shoot. The length of shoots in the Rootone F hormone treatment with a concentration of 100 (ppm), produced the largest shoot length of 0.71 cm, the percentage of life in the Rootone F hormone treatment with a concentration of 100 ( ppm) was 6.67%, and the root length of Kaliandra cuttings on Rootone F hormone treatment with a concentration of 100 (ppm) produced the largest 0.25 cm. 
37 INVENTARISASI PENGGUNAAN LAHAN HUTAN PADA KAWASAN HUTAN KONSERVASI DI SUAKA MARGASATWA BENTAYAN PADA WILAYAH DESA BEJI MULYO KECAMATAN TUNGKAL JAYA KABUPATEN MUSI BANYUASIN Syofian, Dedy; Abubakar, Rafeah; Yuningsih, Lulu
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v3i1.162

Abstract

This study aims to determine the total area of the Bentayan Wildlife land use rather than as a conservation forest area, know the different types of land use in the region Bentayan Wildlife and find out the reason the public or others in the areas of land use Bentayan Wildlife as a business unit. The data collection was conducted in August to September 2013.The method used is that known location survey research, while collecting data through observation and interviews directly to KK example, the method of result through descriptive analysis with qualitative and quantitative approaches that explain or describe what it is according to the conditions that exist in the field.From well known results in the use of forest land Forest Wildlife Conservation Bentayan of 50 families in the form of examples is 201.8 ha rubber plantation area of 131.1 ha, 60.7 ha of oil palm plantations and citrus orchards 10 Ha. From the vast number, the rubber plant business type selected Mulyo Beji village community forest land conservation use. While the economy as a reason to make a living day-to-day village of Beji Mulyo encourage people to use forest land Bentayan Wildlife Conservation in District Tungkal Jaya Regency of Musi Banyuasin.
DESAIN REKLAMASI- REVEGETASI EKS TAMBANG UNTUK PEMENUHAN BAHAN BAKU ENERGI TERBARUKAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU Yuningsih, Lulu; Hidayat, Yayat
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v5i1.466

Abstract

Kerusakan ekosistim pada lahan bekas penambangan sebagai dampak dari kerusakan akibat kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah menjadi buruk. Selain itu tanah terbuka bekas penambangan terjadi pemadatan, lapisan tanah tidak berprofil, minim kandungan unsur hara, kekurangan unsur hara esensial, berpotensi keracunan mineral, miskinnya bahan organik, kapasitas tukar kation rendah, serta minimnya populasi dan aktivitas mikroba tanah potensial, merupakan faktor-faktor penyebab buruknya pertumbuhan tanaman dan rendahnya tingkat keberhasilan revegetasi.Untuk dapat mengatasi masalah ini maka upaya perbaikan lahan dan upaya memilih jenis tanaman yang tepat, serta perlakukan teknik silvikultur yang benar perlu diterapkan. Secara umum revegetasi bertujuan untuk protektif, produktif, konservatif dan estetika. Pemilihan jenis untuk revegetasi areal bekas tambang, harus didasarkan pada faktor ekologis, ekonomis, teknis dan social. Rencana reklamasi areal bekas tambang batubara PT. Adimas Puspita Serasi di Kabupaten Ogan Komering Ulu dicanangkan untuk program pengembangan bio-energi dengan menanam Jarak Pagar (Jatropha curcas) dan Kemiri (Aleuritas moluccana). Dalam rangka peningkatan pemanfaatan fungsi lahan selain menanam jarak pagar dan kemiri juga akan menanam tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dengan menanam Rumput Gajah (Pennisetum purpureum). Untuk percepatan perbaikan iklim mikro dan mengatasi kekurangan unsur hara terutama Nitrogen pada tapak tanam yang belum stabil, maka kegiatan revegetasi akan dikombinasikan dengan menanam cover croops.
ANALISIS VEGETASI (HHK DAN HHBK) DI HUTAN LINDUNG SUNGAI MERAH KPHP (KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI) UNIT IV MERANTI MELALUI PENDEKATAN NATIONAL FOREST INVENTORY Hoirun, Hoirun; Yuningsih, Lulu; Milantara, Noril
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v6i1.891

Abstract

Salah satu cara terpenting untuk dapat menjamin agar biodiversitas tetap lestari sehingga dapat lebih memenuhi kebutuhan manusia sekarang dan masa yang akan datang adalah dengan menetapkan dan mengelola kawasan-kawasan yang dilindungi (Dunggio dan Gunawan, 2009). Hutan Lindung Sungai Merah yang berada di KPHP Unit IV Meranti Kabupaten Musi Banyuasin, keberadaannya dekat dengan pemukiman. Saat ini sebagian besar kondisinya sudah dikelola atau dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai hutan produksi dengan mengolahnya menjadi lahan usaha tani karet. Atas dasar tersebut agar fungsi ekologis dan ekonomis dari hutan lindung dapat dimanfaatkan secara maksimal dan untuk mengetahui seberapa besar potensi dari biodiversitas pada Hutan lindung Sungai Merah, maka keberadaan HHK dan HHBK pada kawasan hutan lindung Sungai Merah harus terdata dengan jelas, sehingga diperlukan penelitian tentang “Analisis Vegetasi HHK dan HHBK di Hutan Lindung Sungai Merah  KPHP Unit IV Meranti Melalui Pendekatan National Forest Inventory. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi HHK dan HHBK di Hutan Lindung Sungai Merah yang berada di KPHP Unit IV Meranti. Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Lindung Sungai Merah  KPHP Unit IV Meranti Kabupaten Musi Banyuasin selama 3 (tiga) bulan terhitung dari Mei 2016 sampai Agustus 2016. Metode pengambilan sampel yang dilakukan yaitu Systematic Sampling With Random Start (Kementerian Kehutanan, 2015) dengan bentuk plot dari NFI (National Forest Inventory) dengan bentuk plot persegi 100 m x 100 m, setiap plot terdiri dari 16 buah sub plot dengan ukuran setiap sub plot 25 m x 25 m. Berdasarkan hasil penelitian analisis vegetasi HHK dan HHBK di Hutan Lindung Sungai Merah KPHP Unit IV Meranti maka di peroleh jumlah jenis HHK yang terdapat di Hutan Lindung Sungai Merah terdiri dari 120 spesies, di perkebunan 11 spesies sedangkan di lahan terbuka terdapat 13 spesies.
PENINGKATAN KESUBURAN TANAH MELALUI TEKNIK KONSERVASI VEGETATIF DENGAN PENAMBAHAN PUPUK KANDANG Yuningsih, Lulu; Khotimah, Khusnul
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v7i1.1079

Abstract

Penggunaan agrokimia dan pestisida pada lahan dalam kurun waktu yang panjang akan berdampak pada kehidupan biota tanah dan menurunnya kandungan bahan organic. Salah satu metode untuk meningkatkan kesuburan tanah yaitu konservasi vegetatif dan penggunaan bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan pupuk kandang dalam meningkatkan kesuburan tanah pada lahan yang sudah diberi perlakukan teknik konservasi vegetatif. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk kandang sebagai perlakukan serta bibit kopi (Coffea robusta) dan kayu afrika (Maesopsis eminii Engl.) sebagai indikator. Nilai kimia tanah pada lahan yang telah dilakukan teknik konservasi vegetatif dan dilakukan penambahan pupuk kandang memberikan nilai PH 5; C-Organik 43,87; unsur N 4,13; P-bray 225,68; K-dd 3,48 dan KTK 37,40. Persentasi penambahan nilai adalah 17,10% untuk PH; 123,83% C-Organik; 173,51% unsur N; 434,15% P-bray; 1.238,46% K-dd dan 145,57% KTK. Nilai persentasi penambahan sipat kimia tanah dari lahan yang baru diberi perlakukan dengan teknik konservasi vegetatif dan lahan yang dilanjutkan dengan penambahan pupuk kandang adalah tidak ada penambahan nilai untuk PH; 108,72% C-Organik; 96,03% unsur N; 422,98% P-bray; 869,23% K-dd dan 143,40% KTK. Nilai pertumbuhan tanaman indikator untuk tanaman kopi (Coffea robusta) adalah persen hidup 84%; diameter 0,2 cm; tinggi 8,7 cm dan untuk nilai pertumbuhan kayu afrika (Maesopsis eminii Engl.) perse hidup 76%; diameter 0,2 cm; tinggi 7,7 cm.
INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI HASIL HUTAN BUKAN KAYU DI SUNGAI JERNIH DI KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI (KPHP) MERANTI UNIT IV Efrizoni, Efrizoni; Yuningsih, Lulu; Milantara, Noril
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v5i1.425

Abstract

This research aims to inventory and identify the type of any species of non-timber forest products recorded (classification and nomenclature, morphology and value the benefits of species) timber forest in clear river protected forest. Research conducted at the Clear River Protected Forest Production Forest Management Unit (KPHP) Meranti Musi Banyuasin for 2 (two) months. Sampling method Sampling is done by sistematic. Selection of sample clusters based on the classification of types of land cover interpretation of the image by using GIS software. The intensity of sampling to be used is 0.025% with consideration of available medium resolution satellite imagery. Plots to be used refer to the manual survey natural forest and cultivated plants providing local communities with extensive plot of 0.1 ha plot with rectangular shape (20x50) meter. From the results, five classes of land cover in the Landsat 2015 ie dry land forests of primary, secondary dry land forests, plantations, Shrublands, Land open. Based on observations in the field of primary dry forest in protected forests KPHP Clear River Meranti is not a group but a primary dry forest secondary forest dry land. Type Timber Forest in protected forest Sungai Rotan Clear ie ants (Korthalsia echinometra Becc), Rattan dahanan (Korthalsia nets J. Dransf), Rotan Shrimp (Korthalsia robusta Blume), Pasak Bumi (Eurycoma longifoia), Samak Pandan (Pandanus tectorius), Palm Serdang (Livistona rotundifolia), Rubber (Hevea brasiliensis). Timber forest dominant type of rubber (Hevea brasiliensis) in the Primary forest land cover, Shrublands, Plantations with density values (K) at 55, 86, 280 trees / ha had the highest number compared to other types Timber Forest others. Potential Timber Forest largest in secondary forest land cover.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGENDALIAN KEBAKARAN LAHAN GAMBUT DI DESA MUARA MEDAK KECAMATAN BAYUNG LENCIR KABUPATEN MUSI BANYUASIN PROVINSI SEMATERA SELATAN Wardoyo, Wardoyo; Yuningsih, Lulu; Kurniawan, Rahmat
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v6i1.892

Abstract

Community Participation in Peatland Fire Control in Muara Medak Village, Bayung Lencir Subdistrict, Musi Banyuasin Regency, Sumatera Selatan Province. This research aims to determine how much the level of community participation in responding to peatland fire control that often occurs when the dry season comes. This research was conducted in Muara Medak Village, Bayung Lencir Subdistrict, Musi Banyuasin Regency of Sumatera Selatan Province from March to August 2016. The method used research is the purposive sampling by taking sample 10%. Based on the results obtained in this research that some people in Muara Medak Village have participated in the peatland fire control, it is seen from the meeting of the interest the people who do land processing still take into account in order to avoid the spread of land fires during the land clearing.
ANALISIS VEGETASI PADA LAHAN HUTAN GAMBUT BEKAS TERBAKAR DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR (OKI), PROVINSI SUMATERA SELATAN, INDONESIA Yuningsih, Lulu; Bastoni, Bastoni; Yulianty, Taty; Harbi, Jun
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v7i2.1541

Abstract

Tren kebakaran hutan terbesar yang terjadi di Indonesia terjadi pada tahun 1997, 2006 dan 2015. Salah satu daerah yang menjadi pusat kebakaran hutan tersebut terletak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Hal ini terjadi karena adanya lahan basah khususnya gambut yang mendominasi wilayah ini. Proses rehabilitasi terhadap lahan pasca terbakar tahun 2006 telah dilakukan dan tidak diberikan perlakuan serupa pada lahan pasca terbakar tahun 2015. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan proses suksesi pada lahan gambut bekas terbakar. Penelitian dilakukan pada tahun 2017 di Desa Kedaton, Kecamatan Kayuagung, OKI, Sumatera Selatan. Metode penelitian menggunakan analisis vegetasi, analisis kekayaan jenis Margelaf dan analisis indeks keanekaragaman jenis Shannon-Weinner yang mencakup strata pertumbuhan semai/tumbuhan bawah, pancang, tiang dan pohon. Nilai INP tertinggi sehingga mengominasi yaitu kumpai (Hymenachine amplexicaulis rudge) pada lahan terbakar 2015 dengan indeks kekayaan jenis tinggi dan pakis (Stenochlaena Palustris) untuk lahan terbakar tahun 2006 dengan indeks kekayaan jenis sedang. Indeks Keanekaragaman kedua lahan termasuk kriteria sedang namun nilai kemerataan jenis relatif rendah. Sudah adanya proses suksesi alami tingkat pertama pada lahan gambut pasca terbakar tahun 2015 dan pada pada lahan gambut pasca terbkar tahun 2006 yang sudah dilakukan kegiatan rehabilitasi dan revegetasi daya hidup pohon yang ditanam antara 82-97 % dan penutupan tajuk pepohonan meningkat dari 0 % menjadi 50-70 %. Jenis tanaman dengan kerapatan tertinggi adalah kumpai pada lahan terbakar tahun 2006 dan pakis udang pada lahan terbakar tahun 2015 The biggest forest fire trends in Indonesia occurred in 1997, 2006 and 2015. One of the areas that became the center of the forest fires was located in Ogan Komering Ilir (OKI) Regency. This is due to the presence of wetlands, especially peat which dominate in this region. The rehabilitation process for post-burnt land in 2006 was carried out and was not given a similar treatment on post-burnt land in 2015. The purpose of this study was to see the differences in the succession process that occurred on burnt peat land. The research was conducted in 2017 in Kedaton Village, Kayuagung District, OKI, South Sumatra. The research method uses vegetation analysis, analysis of species wealth (Margelaf) and analysis of species diversity index by Shannon-Weinner which includes seedling/seedling growth stems, saplings, poles and trees. The highest INP value that dominates is kumpai (Hymenachine amplexicaulis rudge) in land burned 2015 with high species richness index and pakis (Stenochlaena Palustris) on land burned in 2006 with the species richness index in the medium category. The diversity index of the two lands is in the medium criteria but the species evenness is relatively low. There has been a first-degree natural succession process on peatland after burning in 2015 and on post-burnt peatland in 2006 the rehabilitation and revegetation activities of planted trees between 82-97% and canopy cover increased from 0% to 50 -70%. The highest density of plants is "kumpai" (on land burned in 2006) and "shrimp ferns" (on burned land in 2015)
HARMONISASI PERUSAHAAN DAN MASYARAKAT DI WILAYAH KPHP MERANTI DESA PANGKALAN BULIAN KECAMATAN BATANGHARI LEKO KABUPATEN MUSI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN Tobri, Al Muhibut; Yuningsih, Lulu; Lensari, Delfy
Sylva : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v5i1.426

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pendataan perusahaan yang ada di sekitar KPHP Meranti Desa Pangkalan Bulian, mengetahui tatanan kehidupan masyarakat, mengetahui permasalahan masyarakat dan perusahaan serta untuk mengetahui peran yang dilakukan perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat Desa Pangkalan Bulian. Penelitian ini dilakukan di KPHP Meranti Desa Pangkalan Bulian Kecamatan Batanghari Leko Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan, dan dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2016. Pendataan perusahaan yang berada di KPHP Meranti Desa Pangkalan Bulian yang dilakukan secara sensus. Pengambilan data permasalahan masyarakat secara umum, permasalahan perusahaan, tanggapan masyarakat terhadap program perusahaan dan peran perusahaan dilakukan melalui metode quisioner dan wawancara langsung. Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat Desa Pangkalan Bulian dan perusahaan yang berada di Desa Pangkalan Bulian. Pendataan permasalahan masyarakat dilakukan secara sampling dengan menggunakan snowball sampling. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dari hasil wawancara dengan masyarakat dilapangan. Data sekunder diperoleh dari data dinas atau instansi terkait dengan penelitian ini, diantaranya data tentang keadaan umum daerah, data umum penelitian dan data-data lainnya yang dapat menunjang penelitian ini. Data-data perusahaan yang dihasilkan dari survei akan ditampilkan secara tabulasi. Metode analisis data harmonisasi perusahaan dengan masyarakat menggunakan skala likert. Dari hasil penelitian diketahui ada empat perusahaan yang berbatasan langsung dengan Desa Pangkalan Bulian. Sebagian besar mata pencaharian penduduk sebagai petani dan penambang minyak tradisional. Permasalahan penduduk mulai dari permasalahan dalam pengembangan wilayah, permasalahan dibidang sosial budaya dan di bidang perekonomian. Dari sejumlah program dan pelatihan yang diberikan perusahaan kepada masyarakat belum dapat meningkatkan perekonomian masyarakat hal ini diakibatkan oleh ketidak sesuaian dengan keadaan desa dan kebiasaan masyarakat.