Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Hubungan Status Gizi dan Anemia dengan Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Adrian Umboh; Ronald Rompies; Valentine Umboh
Sari Pediatri Vol 23, No 6 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.6.2022.395-401

Abstract

Latar belakang. Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan kongenital pada struktur dan fungsi sirkulasi. Morbiditas dan mortalitas PJB dipengaruhi berbagai faktor, seperti status gizi dan anemia. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dan anemia pada anak dengan PJB asianotik dan sianotik di RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado. Metode. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan metode potong-lintang pada anak 1-18 tahun dengan PJB di RSUP Prof. R.D. Kandou, Manado pada Maret-Oktober 2021. Analisis hubungan berat badan, tinggi badan, status gizi dan anemia dengan PJB dilakukan dengan uji Mann-Whitney atau Chi square. Hasil. Sampel terdiri dari 62 anak (51,6% laki-laki dan 48,4% perempuan). PJB asianotik ditemukan pada 77,42% dan PJB sianotik 22,58%. Berat badan dan status gizi ditemukan berkaitan dengan PJB; anak PJB asianotik memiliki berat badan (rerata 16 kg vs 11 kg, p=0,000) dan status gizi yang lebih baik (rG=0,947 dan p=0,000). Tinggi badan tidak berkaitan dengan PJB. PJB dan anemia memiliki hubungan erat (p = 0,017), dengan OR = 4,6 (CI 95%: 1,2-16,8).Kesimpulan. Berat badan, status gizi, dan anemia berkaitan dengan PJB. Anak dengan PJB asianotik memiliki berat badan dan status gizi yang lebih baik, serta lebih mungkin mengalami anemia.
Hubungan antara Kadar Serum Kortisol Pagi Hari dan 25-OH Vitamin D pada Anak dengan Sindrom Nefrotik Adrian Umboh; Valentine Umboh; Ronald Rompies
Sari Pediatri Vol 24, No 4 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.4.2022.217-21

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik (SN) adalah penyakit ginjal kronis yang paling sering terjadi pada anak yang diobati dengan kortikosteroid dosis tinggi dan dapat menyebabkan insufisiensi adrenal sekunder, mengakibatkan penurunan kadar kortisol. Proteinuria pada SN secara tidak langsung dapat menyebabkan defisiensi vitamin D yang merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti riketsia, kanker, dan infeksi.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar serum kortisol pagi hari dengan kadar 25-OH vitamin D pada anak sindrom nefrotik.Metode. Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan potong-lintang pada 30 anak berusia 1-18 tahun dengan sindrom nefrotik yang berobat di Poliklinik Anak RSUD Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado.Hasil. Kadar kortisol serum pagi hari pada anak dengan SN ditemukan terendah pada SN resisten steroid, dan tertinggi pada SN sensitif steroid. Subjek dengan insufisiensi vitamin D paling banyak ditemui pada kategori SN resisten steroid. Ditemukan hubungan bermakna yang kuat antara kadar kortisol pagi hari dengan kadar vitamin D, dimana kadar kortisol <3 mg/l memiliki risiko 3,5 kali lebih besar mengalami insufisiensi atau defisiensi vitamin D dibandingkan kadar kortisol yang lebih tinggi.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan hubungan bermakna yang kuat antara kadar kortisol pagi hari dengan kadar vitamin D pada anak dengan sindrom nefrotik.
Perubahan Status Gizi pada Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut Selama Kemoterapi: Studi Observasional Retrospektif Anggreini, Marnellya Sylvia; Pambudi, Bobby; Rompies, Ronald; Gunawan, Stefanus
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.240-6

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi sering terjadi pada pasien kanker anak dan telah diketahui sebagai faktor risiko kekambuhan dan kelangsungan hidup. Mempertahankan status gizi yang tepat dianggap sebagai persyaratan tambahan untuk hasil terapi yang optimal. Oleh karena itu, perlu untuk mencatat status gizi dan memberikan intervensi dini untuk hasil yang lebih baik dari pasien leukemia anak terutama di Indonesia. Tujuan. Menilai status gizi dan perubahannya pada anak dengan leukemia limfoblastik akut pada titik waktu tertentu selama menjalani kemoterapi. Metode. Kami melakukan penelitian retrospektif pada pasien leukemia limfoblastik akut di Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari Januari 2022 hingga Desember 2023, dengan mengumpulkan data epidemiologi dan antropometri dari catatan medis pada empat waktu: saat diagnosis, di tengah kemoterapi intensif, di akhir kemoterapi intensif, dan di tengah terapi pemeliharaan.Hasil. Tiga puluh tujuh pasien diteliti, dengan mayoritas (64,9% laki-laki, median 7 tahun, 67,6% leukemia berisiko tinggi) memiliki berat badan normal saat awal kemoterapi. Persentase pasien kelebihan berat badan/obesitas meningkat dari 8,1% saat diagnosis menjadi 35% di akhir terapi intensif, dengan perbedaan signifikan pada berat badan terhadap tinggi badan (p<0,001). Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada berat badan dan indeks massa tubuh, serta retardasi pertumbuhan, terutama pada pasien leukemia berisiko tinggi (p=0,016).Kesimpulan. Anak-anak yang diobati untuk ALL memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi dan secara bersamaan mengalami retardasi pertumbuhan. Intervensi nutrisi harus dilakukan pada semua pasien anak untuk mempertahankan status nutrisi yang tepat, menghindari konsekuensi negatif dari kelebihan gizi, meminimalkan gangguan pertumbuhan, dan mengoptimalkan hasil pengobatan dini.