Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA UMUR, STATUS GIZI DAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN KEJADIAN KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA DI PT. NICHINDO MANADO SUISAN Suoth, Lery F.; Pinontoan, Odi R.; Doda, Diana V.
KESMAS Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Maret 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelelahan kerja mengandung risiko bahaya yang berdampak pada terjadinya kecelakaan kerja. Kelelahan kerja dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari buruknya faktor lingkungan kerja sampai kepada masalah psikososial dapat berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan kerja. Lingkungan kerja yang tidak nyaman, ventilasi udara buruk, kebisingan, waktu istirahat yang kurang, gizi yang tidak adekuat, beban kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan psikis dan fisik pekerja, serta usia pekerja dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan tenaga kerja dan terjadinya kelelahan kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2017 di PT Nichindo Manado Suisan. Populasi dalam penelitian ini adalah 57 orang dan di ambil sampel sebesar 48 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian di analisis menggunakan uji statistik Spearman pada tingkat kesalahan 5% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara umur dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja di PT. Nichindo Manado Suisan (p value = 0.035, r = 0,305, arah korelasi positif), tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja di PT. Nichindo Manado Suisan (p value = 0.104), terdapat hubungan antara beban kerja dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja di PT. Nichindo Manado Suisan (p value = 0.003, r = 0,416, arah korelasi positif), dan beban kerja merupakan variabel yang paling besar hubungannya dengan kejadian kelelahan kerja (Beta = 0,271). Kesimpulan dari peneltian ini adalah Terdapat hubungan antara usia dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja di PT Nichindo Manado Suisan, tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja di PT Nichindo Manado Suisan, terdapat hubungan antara beban kerja dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja di PT Nichindo Manado Suisan, dan Beban kerja merupakan variabel yang paling kuat hubungannya dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja di PT Nichindo Manado Suisan. Kata Kunci : Umur, Status gizi, Beban kerja fisik, Kelelahan kerja ABSTRACTWork fatigue is a risk hazard that affects the occurrence of work accidents. Work fatigue can be influenced by many factors, ranging from poor work environment to psychosocial problems can affect the occurrence of fatigue. Uncomfortable work environment, poor air ventilation, noise, poor rest time, inadequate nutrition, workloads that are inconsistent with the psychic and physical skills of the worker, and the age of the worker may affect the health conditions of labor and the occurrence of fatigue. The method used in this research is analytic descriptive with cross sectional study design. This research was conducted from March until June 2017 at PT Nichindo Manado Suisan. The population in this research is 57 people and the sample is taken 48 people by using purposive sampling technique. The results of the analysis using Spearman's statistical test at a 5% error rate (α = 0.05). The results showed there was a relationship between age with the incidence of work fatigue in workers at PT. Nichindo Manado Suisan (p value = 0.035, r = 0.305, direction of positive correlation), there is no relationship between nutritional status with the incidence of work fatigue at workers in PT. Nichindo Manado Suisan (p value = 0.104), there is a relation between work load with the incidence of work fatigue at worker at PT. Nichindo Manado Suisan (p value = 0.003, r = 0.416, positive correlation direction), and work load is the biggest variable relation with the incidence of work fatigue (Beta = 0,271). The conclusion of this study is that there is a relationship between age with the incidence of work fatigue in workers in PT Nichindo Manado Suisan, there is no relationship between nutritional status with the incidence of work fatigue in workers in PT Nichindo Manado Suisan, there is a relationship between workload with the incidence of work fatigue on workers In PT Nichindo Manado Suisan, and Workload is the most powerful variable related to the incidence of work fatigue in workers at PT Nichindo Manado Suisan. Keywords: Age, Nutritional status, Physical work load, Work fatigue
HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DAN MOTIVASI KERJA DENGAN PERASAAN KELELAHAN KERJA PADA TENAGA KERJA LAUNDRY DI KELURAHAN KLEAK DAN BAHU KOTA MANADO Badiang, Alvionita; Joseph, Woodford B. S.; Suoth, Lery F.
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Segala kesibukan yang ada dalam masyarakat di era globalisasi ini, misalnya para pekerja kantoran yang selalu mengabiskan waktunya di kantor serta para mahasiswa yang sibuk dengan tugas dari para dosen sehingga sudah tidak mempunyai waktu untuk melakukan aktivitas seperti mencuci pakaian dan lain sebagainya, oleh sebab itu mereka memilih cara-cara yang instan diantaranya dengan memasukan pakaian di tempat laundry terdekat. Kelelahan merupakan suatu reaksi tubuh yang muncul akibat seseorang bekerja terlalu berat. Kelelahan kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor dari pekerja itu sendiri dan faktor dari lingkungan kerja. Stress kerja dan motivasi dari pekerja juga turut mempengaruhi kelelahan kerja. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Adapun sumber data diambil dari data primer yang berupa kuesioner dan data sekunder data dari tenaga kerja ­laundry di kelurahan kleak dan bahu kota manado. Penelitian ini menggunakan metode observational analitik. Dengan jumlah populasi sebesar 70 tenaga laundry, Analisis ini dilakukan dengan uji statistik fisher exact yang dimana jika nilai ρ. <0.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi/hubungan antara variable independent dan variable dependent. Berdasarkan hasil analisis statistik didapat hasil ρ.= 0,028 (ρ.<0,05), yang berarti terdapat hubungan antara stress kerja dan perasaan kelelahan kerja. dan didapat hasil ρ.= 0.017 (ρ.<0,05) yang berarti terdapat hubungan antara motivasi kerja dan perasaan kelelahan kerja . Kata Kunci : Stres Kerja, Motivasi Kerja, Perasaan Kelelahan Kerja ABSTRACTAll the activities that exist in society in this era of globalization, for example office workers who always spend their time in the office and students who are busy with the duties of the lecturers so that they do not have time to do activities such as washing clothes and so on, by because of that they chose instant ways including by putting clothes in the nearest laundry place. Fatigue is a body reaction that results from someone working too hard. Work exhaustion can be influenced by several factors such as factors of the workers themselves and factors from the work environment. Job stress and motivation from workers also influence work motivation. The study was conducted using a cross sectional study. Sources of data are taken from primary data consisting of questionnaires and secondary data data from the labor force ¬laundry in kelle kleak and shoulders of the city of Manado. This study uses observational analytic methods. With an approximate amount of 70 laundry workers, this analysis is done by testing the fisher statistics exactly which value is ρ. <0.05, it can be concluded that there is a relationship between the independent variable and the dependent variable. Based on the results of the statistical analysis the results of ρ. = 0.028 (ρ. <0.05), which means that it relates to work stress and feeling of getting a job. and the results obtained ρ. = 0.017 (ρ. <0.05). Keywords: Work Stress, Work Motivation, Feelings of Fatigue Work
HUBUNGAN ANTARA SIKAP KERJA DAN MASA KERJA DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL PADA NELAYAN DI KELURAHAN BATUKOTA KECAMATAN LEMBEH UTARA KOTA BITUNG TAHUN 2018 Oley, Ria Avilia; Suoth, Lery F.; Asrifuddin, Afnal
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Musculoskeletal disorders (MSDs) merupakan keluhan pada otot rangka yang disebabkan oleh faktor kerja seseorang saat melakukan pekerjaan. Keluhan MSDs merupakan masalah kesehatan yang terjadi pada pekerjaan yang sering menggunakan kekuatan otot serta sikap kerja yang terlalu banyak membungkuk dengan durasi masa kerja yang lama. saat ini masih banyak para nelayan melakukan pekerjaan dengan menggunakan alat tradisional. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang hubungan antara sikap kerja dan masa kerja terhadap keluhan musculoskeletal pada nelayan di Kelurahan Batukota Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung Tahun 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional study dengan metode survey analitik. Dengan menggunakan Rapid Entire Body Assessment pada sikap kerja dan Nordic Body Map pada keluhan musculoskeletal..Lokasi penelitian di Kelurahan Batukota Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung pada bulan September – November 2018. Total sampel pada penelitian ini yaitu 51 responden. Uji statistik yang digunakan yaitu uji korelasi spearmen rank dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa sikap kerja (p=0,005) dan masa kerja (p=0,044) berhubungan secara signifikan dengan keluhan musculoskeletal. Saran bagi nelayan harus melakukan pemeriksaan secara rutin tiap minggu agar dapat mengetahui serta mengontrol kesehatan tubuh dan stamina agar terhindar dari sakit yang dapat mengganggu aktivitas bekerja.   Kata Kunci :Keluhan Musculoskeletal, Sikap Kerja, Masa Kerja, dan Nelayan  ABSTRACT  Musculoskeletal disorders (MSDs) were the complaint in parts of skeletal muscle  which caused by factor of someone did work. MSDs complaint were a health issue which occurred in an activity dealt with muscle power also work attitude within bent over for a long work period. Nowadays, there are many fishermen did their job used the traditional tools. Therefore, the researcher interested to examine more deeply about the relation of work attitude and work period with musculoskeletal complaints to fishermen at Batukota Village North Lembeh District Bitung City in 2018. The research used analytic survey method with cross sectional study approach. Location of research at Batukota Village North Lembeh District Bitung City in September – November 2018. Total sample in this research was 51 respondents.  Musculoskeletal compliments used Nordic Body Map and work attitude used Rapid Entire Body Assessment. The statistical test used the spearmen rank correlation test with α = 0.05. Research result showed that work attitude (p = 0.005) and work period (p = 0.044) were significantly associated with musculoskeletal complaints. The advice for fishermen had to do routinely checks every week so they could know and controlled their health and stamina to avoid the illness that could interfere their work activities.   Keywords : Musculoskeletal Compliments, Work Attitude, Work Period and Fishermen
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, TINGKAT PENDIDIKAN DAN MASA BERKENDARA DENGAN PERILAKU SAFETY RIDING PADA TUKANG OJEK DI KECAMATAN LANGOWAN UTARA KABUPATEN MINAHASA Manopo, Sinta E.; Kandou, Grace D.; Suoth, Lery F.
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Safety Riding adalah suatu usaha yang dilakukan dalam meminimalisir tingkat bahaya dan memaksimalkan keamanan dalam berkendara demi menciptakan suatu kondisi aman dalam berkendara sepeda motor. Pekerjaan tukang ojek banyak dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Langowan Utara. Berdasarkan observasi awal dilihat kebanyakan tukang ojek berkendara dengan tidak aman karena tidak menggunakan alat pelindung diri secara lengkap saat berkendara dan pada saat di wawancarai ada tukang ojek yang sudah pernah mengalami kecelakaan lalulintas dalam berkendara sepeda motor. Tujuan peneliatian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, tingkat pendidikan dan masa berkendara dengan perilaku safety riding pada tukang ojek di kecamatan langowan utara kabupaten minahasa. Metode penelitian menggunakan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 101 tukang ojek, untuk pengetahuan, tingkat pendidikan, masa berkendara dan perilaku safety riding diperoleh menggunakan kuesioner melalui wawancara, dengan diuji menggunakan uji korelasi spearman rank dengan CI 95% dan α = 0,05. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perilaku safety riding  berhubungan dengan pengetahuan (p =0,002), berhubungan dengan tingkat pendidikan (p =0,002), dan berhubungan dengan masa berkendara (p =0,000). Kata Kunci: Perilaku safety riding, pengetahuan, tingkat pendidikan, masa berkendara. ABSTRACTSafety Riding is an effort carried out of minimizing the level of danger and maximizing safety driving in order to create a safe condition in motorcycle driving. Work of many motorcycle drivers is carried out by the people of North Langowan District. Based on preliminary observations, most motorcycle taxi drivers were driving unsafe because they did not use personal protective fully equipment while driving, and when interviewed there were motorcycle drivers who had experienced traffic accidents in motorbike driving. The aim of this study was to find out the relationship between knowledge, education level and driving period with safety riding behavior in motorcycle drivers in the sub-districts langowan north of Minahasa district. This research method used analytical survey research with cross sectional approach with a total sample of 101 motorcycle taxi drivers, for knowledge, education level, driving period and safety riding behavior obtained using questionnaires through interviews, tested using spearman rank correlation test with 95% CI and α = 0.05. Based on this study it can be concluded that the safety riding behavior is related to knowledge (p = 0.002), is related to the level of education (p = 0.002), and is related to the driving period (p = 0.000). Keywords: Behavior of safety riding, knowledge, education level, driving period.
ANALISIS PENGENDALIAN KEBISINGAN PADA PEKERJA APRON MOVEMENT CONTROL (AMC) DI PT ANGKASA PURA I (PERSERO) BANDAR UDARA INTERNASIONAL SAM RATULANGI MANADO Windy, Najoan Marcella; Suoth, Lery F.; Mandagi, Chreisye K. F.
KESMAS Vol 8, No 6 (2019): Volume 8, Nomor 6, Oktober 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebisingan merupakan suatu suara yang tidak dikehendaki untuk didengar. Kebisingan dapat terjadi saat mesin melakukan produksi. Pada alat transportasi udara yaitu pesawat juga menghasilkan suara bising dengan frekuensi tinggi dan dapat menganggu pendengaran. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukan penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas, 2,6% mengalami gangguan pendengaran. Pekerja Apron Movement Control (AMC) yang bertugas menentukan tempat parkir pesawat setelah menerima arahan dari Aerodrome Control (ADC) Tower. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis program pengendalian kebisingan pada pekerja AMC di PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini menggunakan metode kulaitatif dengan melakukan wawancara mendalam kepada 6 orang informan yang terdiri dari  2 Section Head, SMS & OSH,  Airlines Service Team Leader,  SMS & OSH officer, dan 2  AMC officer. Dari hasil wawancara yang didapatkan program pengendalian sebagai berikut, penggunaan APD ear muff dan ear plug, safety shoes,kacamata, rompi, pengukuran kebisingan, pemeriksaan audiometri, pelaksanaan sosialisasi, adanya kebijakan dan sanksi, standar operasional prosedur (SOP), adanya pengawasan, dilakukan evaluasi. Faktor yang menghambat, ketidakpatuhan penggunaan APD, kurangnya komunikasi, ketersedian APD pada pekerja groundhandling, pengawasan yang kurang. Faktor pendukung ketersediaan APD, sosialisasi, SOP, pengukuran kebisingan, pemeriksaan audiometri, kebijakan dan sanksi. Program yang ada sudah berjalan dengan baik namun perlunya kesadaran dari pekerja agar program yang sudah ada dapat berjalan dengan baik. Kata kunci : Pekerja Apron Movemenet Control (AMC) Bandar Udara, Program Kebisingan ABSTRACT Noise is an unwanted sound to be heard. Noise can occur when the machine are doing producing. In the air transportation means aircraft also produce noise with high frequency and can disturb hearing. The results of Basic Health Research in 2013 showed that Indonesian population aged 5 years , 2.6% had hearing loss. Apron Movement Control (AMC) workers are tasked with determining the aircraft's parking place after receiving directions from the Aerodrome Control (ADC) Tower. The purpose of this research is to analyze the noise control program in workers for Apron Movement Control (AMC) workers at PT Angkasa Pura I (Persero) Sam Ratulangi International Airport, Manado. This research used a qualitative method with in-depth interviews with 6 informants consisting of 2 Section Heads, 1 Airlines Service Team Leader, 1 Safety Management System and Occupational Safety Health (SMS and OSH) officer and 2 Apron Movement Control (AMC) officers. From the interview results obtained by the control program as follows, the use of Hearing Protecting Device (HPD) ear muffs and ear plugs, safety shoes, glasses, vests, noise measurements, audiometry examinations, implementation of socialization, the presence of policies and sanctions, standard operating procedures (SOP), the existence of supervision, carried out evaluation. Inhibiting factors, non-compliance with Hearing Protecting Devive (HPD), lack of communication, availability of HDP to groundhandling workers, lack of supervision. Supporting factors for HDP availability, socialization, SOP, noise measurement, audiometry inspection, policy and sanctions. The existing program is running well but the need for awareness of workers so that existing programs can run well. Keywords : Apron Movement Control (AMC) Worker Airport, Noise Program
HUBUNGAN ANTARA SUHU LINGKUNGAN KERJA DAN JAM KERJA DENGAN STRES KERJA di PT. ADHI KARYA (PERSERO) TBK UNIT MANADO PROYEK UNIVERSITAS SAM RATULANGI Lukas, Ligriani; Suoth, Lery F.; Wowor, Ribka
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres kerja merupakan respon psikologis negatif dari pekerja, yang mengalami stres kerja 35% diantaranya mengalami stres kerja berakibat fatal dan diperkirakan hari kerja yang hilang sebesar 43%. Suhu lingkungan kerja merupakan faktor fisik lingkungan kerja, terdapat suhu lingkungan diatas nilai ambang batas dan dibawah nilai ambang batas. Jam kerja/hari seorang pekerja dapat bekerja dengan normal yaitu 8 jam/hari. tekanan yang berlebihan dari pekerjaan, hal ini dapat memicu stres akibat kerja. Jenis penelitian ini yaitu survei analitik yang bersifat observasional. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara suhu lingkungan kerja dan jam kerja dengan stres kerja di PT. Adhi Karya (Persero) Tbk Unit Manado Proyek Universitas Sam Ratulangi. Sampel dalam penelitian ini yaitu 88 responden. Alat pengukuran untuk stres kerja menggunakan heat stress monitor, dan pengukuran stres kerja menggunakan kuesioner, serta di dalam kuesioner terdapat keterangan untuk jam masuk kerja dan pulang kerja untuk mengukur jam kerja/hari. Data diolah secara statistik menggunakan SPSS. Dari hasil penelitian terdapat 71 (80,7%) responden berada pada suhu lingkungan kerja diatas nilai ambang batas dan 17 (19,3%) responden berada pada suhu lingkungan dibawah nilai ambang batas. Tingakat stres kerja paling banyak responden berada pada tingkat stres kerja tinggi yaitu 60 (72,3%). Dengan P-value 0,000 artinya <0,05 dan r 0,666. Hasil pengukuran jam kerja dimana pekerja paling banyak bekerja >8jam/hari yaitu 83(94,3%), dan paling sedikit =/<8jam/hari 5 (5,7%). Dengan p-value 0,037 dan r 0,223. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara suhu lingkungan kerja dengan stres kerja dan kekuatan hubungan kuat dengan arah hubungan positif, dan terdapat hubungan antara jam kerja dengan stres kerja dengan kekuatan hubungan lemah dan arah hubungan positif. Perlu adanya program perbaikan pengaturan jam kerja untuk mengurangi waktu paparan dengan suhu lingkungan kerja diatas nilai ambang batas.Kata kunci: Stres kerja, suhu lingkungan kerja dan jam kerjaABSTRACTJob stress is a negative psychological response from workers, who experience work stress 35% of them experience work stress which is fatal and estimated work days are lost by 43%. Work environment temperature is working environment factors there are environmental temperature threshold values above and below the threshold value. Working hours / days a worker can work normally which is 8 hours / day. excessive pressure from work, this can trigger stress due to work. This type of research is an observational analytical survey. The purpose of this study is to determine the relationship between the temperature of the work environment and working hours with work stress at PT. Adhi Karya (Persero) Tbk Unit Manado Proyek Universita Sam Ratulangi. The sample in this study is 88 respondents. Measuring tools for work stress using heat stress monitors, and work stress measurements using questionnaires, as well as in the questionnaire there are information for working hours and returning to work to measure working hours / day. Data is processed statistically using SPSS. From the results of the study there were 71 (80.7%) respondents at the work environment temperature above the threshold value and 17 (19.3%) respondents were at ambient temperature below the threshold value. Job stress levels at most respondents are at high job stress levels of 60 (72.3%). With P-value 0,000 it means <0.05 and r 0.666. The results of the measurement of working hours where the worker works the most> 8 hours / day is 83 (94.3%), and at least = / <8 hours / day 5 (5.7%). With p-value 0.037 and r 0.223. Based on these results it can be concluded that there is a relationship between the temperature of the work environment with work stress and the strength of a strong relationship with the direction of a positive relationship, and there is a relationship between working hours and work stress with the strength of weak relationships and the direction of positive relationships. There is a need to improve work hours regulation to reduce exposure time with work environment temperature above the threshold value.Keywords: Job stress, work environment temperature and working hours
GAMBARAN INTENSITAS PENCAHAYAAN PADA PENJAHIT DI KOMPLEKS GEDUNG PRESIDENT PASAR 45 KOTA MANADO Pompano, Sendiarto; Suoth, Lery F.; Maramis, Franckie R. R
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Agustin Puryani Wulandari, (2010) pengaruh intensitas cahaya terhadap aktivitas kerja bagian produksi di PT. Indofood Cbp Sukses Makmur Divisi Noodle Cabang Semarang. Penelitian ini menunjukan bahwa pengaruh intensitas cahaya pada proses kerja yang tidak sesuai dengan jenis pekerjaan akan mengakibatkan gangguan ketidaknyamanan pada aktivitas kerja. Pencahayaan adalah faktor lingkungan kerja yang termasuk dalam kelompok faktor risiko. Oleh karenanya sama seperti faktor lingkungan yang lain (seperti kadar debu yang banyak, intensitas bising yang tinggi, panas yang berlebihan, radiasi mengion ataupun radiasi yang tidak mengion), apabila intensitas pencahayaan tidak memadai (suram ataupun menyilaukan), maka dapat menyebabkan produktivitas tenaga kerja menurun ataupun menjadi rendah. Pencahayaan yang kurang baik dapat mengakibatkan pekerjaan menjadi lebih rumit dan sukar karena mengganggu penglihatan dari penjahit pakaian. Metode penelitian: Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif.  Yaitu  memberikan gambaran secara jelas yang terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya sehingga hanya merupakan penyikapan suatu fakta dan data yang diperoleh digunakan sebagai bahan penulisan laporan. Dalam laporan ini, penulis memaparkan hasil peninjauan, pengamatan dan pengukuran tentang intensitas penerangan pada penjahit di kompleks Gedung President Pasar 45 Kota Manado. Populasi dari penelitian ini adalah semua penjahit di kompleks Gedung President Pasar 45 yang berjumlah 31 penjahit. Sampel  dari penelitian ini adalah semua populasi penjahit di kompleks Gedung President Pasar 45 yang berjumlah 31 penjahit. Intensitas pencahayaan ini di ukur menggunakan alat ukur pencahayaan (Lux meter) dengan satuan pengukuran 200 Lux. Hasil penelitian: Distribusi frekuensi gambaran intensitas pencahayaan terdapat 29 Orang (93,5%) pekerja dengan umur 15-49 tahundan 2 orang (6,5%) pekerja dengan umur ≥ 50 tahun, 16 orang (51,6%) pekerja laki-laki dan 15 (48,4%) pekerja perempuan, 25 orang (80,6%) pekerja berpendidikan terkahir SMA dan 6 Orang (19,4%) pekerja berpendidikan terakhir SMP, dan 21 Orang (67,7%) dengan masa kerja> 4 Tahun dan 10 Orang (32,3%) dengan masa kerja ≤ 4 Tahun. Dari Intensitas pencahayaan, terdapat 18 orang (58,1%) pekerja yang bekerja dengan memenuhi persyaratan Luks minimal untuk bekerja dan 13 Orang (41,9%). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan intensitas pencahayaan pada penjahit di Kompleks Gedung President Pasar 45 Kota Manado yang dimana ada sejumlah 13 penjahit yang intensitas pencahayaannya tidak memenuhi syarat (<200 Luks) dan 18 penjahit yang intensitas pencahayaannya memenuhi syarat ≥200 Luks. Kata Kunci : Intensitas Pencahayaan ABSTRACTbased on previous research conducted by Agustin Puryani Wulandari, (2010) the influence of light intensity towards the production of parts in the work activities of PT Indofood Cbp Affluent Successful Division of Semarang branch of the Noodle. This research showed that the influence of light intensity on a work process that is incompatible with the type of work will result in the disruption of discomfort at work activities. Lighting is a work that includes environmental factors in a group of risk factors. Therefore, just as the other environmental factors (such as the levels of dust, high noise intensity, excessive heat, radiation or radiation that is not mengion mengion), when the intensity of the lighting is inadequate (or bleak dazzling), then it can lead to declining labor productivity or become low. A less good lighting can lead to the job become more complicated and difficult because of the disturbing sight of a tailor. research methods used in this research is descriptive. that is clearly illustrates the limited effort revealed a problem and circumstances as it is so just how is a fact and the data obtained is used as material for the writing of the report. In this report, the author presents the results of the review, observations and measurements of the intensity of the illumination at the tailor in the complex Building President 45 Market City of Manado. The population of this research is all the tailors in the Building complex totalling 45 Markets President 31 tailor. The sample of this research is all population tailors Building complex totalling 45 Markets President 31 tailor. The intensity of the lighting in this measure using a measuring instrument illumination (Lux meters) with units of measurement 200 Lux. The frequency distribution of the image of the intensity of the lighting there is 29 people (93.5%) of workers aged 15-49 years and 2 people (6.5%) of workers aged ≥ 50 years of age, 16 (51.6%) of male workers and 15 (48.4%) of female workers, 25 (80.6%) workers This last one educated high school and 6 persons (19.4%) of workers educated the last junior high, and 21 men (67.7%) with a working period > 4 years and 10 people (32.3%) with a working period ≤ 4 years. From the intensity of the lighting, there are 18 persons (58.1%) workers working with Luks are eligible to work on and at least 13 people (41.9%). Based on the results of research conducted can be concluded that there is a difference in the intensity of the lighting on the tailor in the complex Building President Market 45 Manado city in which there are a number of 13 seamstresses intensity pencahayaannya not qualified (200 < Luks) and 18 tailor who qualified pencahayaannya intensity ≥ 200 Luks. Keywords: Lighting Intensity.
Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap dengan Tindakan Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Pekerja Mebel di Desa Leilem Dua Kecamatan Sonder Kabupaten Minahasa Mongkau, Febrial R. P.; Rattu, Joy A. M.; Suoth, Lery F.
Medical Scope Journal Vol 1, No 2 (2020): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.1.2.2020.27202

Abstract

Abstract: Furniture worker is one of the jobs that is at risk of working accidents and illness related to work. Therefore, it is necessary to control work hazard, one of them is by using personal protective equipment (PPE). During observation, many workers had lack of understanding about the importance of using PPE. This study was aimed to obtain the relationship between knowledge and attitude and the action of using PPE among furniture workers at Leilem, Sonder. This was a quantitative study with a cross sectional design. The instruments in this study were questionnaires and chek-list sheets. We used the chi-square test with a p-value of 0.05 to analyze the relationships. The results showed that of 68 respondents, 67 had good level of knowledge about the PPE, while 1 respondent had low level of know-ledge. There were 36 respondents that had good attitude about using PPE meanwhile those with poor attitude were 32 respondents. Respondents that did not use complete PPE were 18 worker while those who did not use PPE were 50 worker. The chi-square test showed a p-value of 1.00 for the relatjonship between knowledge and the action of using PPE and a p-value of 0.418 for the relationship between attitude and the action of using PPE. In conclusion, there were no relationships between knowledge and the action of using PPE as well as between attitude and the action of using PPE among the furniture workers at Leilem, Sonder.Keywords: knowledge, attitude, action of using personal protective equipment Abstrak: Pekerja mebel merupakan salah satu pekerjaan yang berisiko kecelakan kerja dan penyakit akibat kerja. Untuk itu perlu adanya pengendalian bahaya salah satunya dengan menggunakan alat pelindung diri (APD). Dari hasil pengamatan banyak pekerja yang kurang memahami pentingnya penggunaan APD saat melaksanakan pekerjaan. Penelitian ini bvertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan tindakan penggunaan APD pada pekerja mebel di Desa Leilem Dua Kecamatan Sonder Kabupaten Minahasa. Jenis penelitian ialah kuantitatif dengan desain potong lintang. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner dan lembar chek-list. Analisis hubungan menggunakan uji chi-square (p=0,05). Hasil penelitian mendapatkan 68 responden penelitian. Responden dengan tingkat pengetahuan baik tentang APD sebanyak 67 orang, sedangkan yang pengetahuan kurang baik berjumlah 1 orang. Responden dengan sikap baik terhadap penggunaan APD ialah 36 orang dan yang sikap tidak baik 32 orang. Responden yang menggunakan APD tidak lengkap 18 orang dan yang tidak menggunakan APD 50 orang. Hasil uji chi-square hubungan pengetahuan dengan tindakan penggunaan APD mendapatkan nilai p=1,00 dan hubungan sikap dengan tindakan penggunaan APD mendapatkan nilai p=0,418. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan tindakan penggunaan APD pada pekerja mebel di Desa Leilem Dua, Sonder.Kata kunci: pengetahuan, sikap, tindakan penggunaan alat pelindung diri