Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta: penelitian potong lintang Rodestawati, Budi; Vega, Christia Aye Waindy; Priyono, Bambang; Widita, Elastria; Hanindriyo, Lisdrianto; Agustina, Dewi; Mardhiyah, Iffah; Naritasari, Fimma; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.84983

Abstract

Populasi lanjut usia merupakan fenomena global yang menjadi tren paling signifikan saat ini dan telah terjadi di semua negara dengan berbagai tingkat perkembangan, termasuk Indonesia. Penyakit periodontal merupakan salah satu permasalahan kesehatan oral yang utama di masyarakat dan keparahannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Penyakit periodontal memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup lanjut usia dan merefleksikan permasalahan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkajipengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta. Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 108 responden (n = 108) berusia ≥ 60 tahun. Karakteristik sosio-demografi yang diteliti pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan karakteristik wilayah tempat tinggal. Kondisi jaringan periodontal dinilai berdasarkan status perdarahan (bleeding on probing), tingkat kedalaman poket periodontal (pocket depth), dan kehilangan perlekatan jaringan periodontal (clinical attachment loss). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dankarakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap status perdarahan (p = 0,001, p = 0,015) dan rerata kedalaman poket (p = 0,005, p = 0,027), namun tidak berpengaruh terhadap rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,148, p = 0,105). Pada penelitian ini, jenis kelamin tidak memiliki pengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal, baik pada status perdarahan (BOP) (p = 0,399), rerata kedalaman poket (PD) (p = 0,365), maupun rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,179). Tingkat pendidikan dan karakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal (BOPdan PD) pada populasi lanjut usia, sehingga aspek tersebut perlu dipertimbangkan dalam perencanaan intervensi pencegahan penyakit periodontal pada lanjut usia.
The CORRELATION OF ORAL HEALTH LITERACY AND GINGIVAL STATUS AMONG ELDERLY IN YOGYAKARTA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Rodestawati, Budi; Vega, Christia Aye Waindy; Nur'aini, Bekti; Widita, Elastria
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol. 9 No. 1 (2024): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v9i1.919

Abstract

Background: The aging population is growing faster in several countries around the world, including Indonesia. Oral health literacy as a personal-behavioral component has been studied and is regarded an important determinant of health as well as a causative factor for oral health disorders, which are subsequently thought to have an impact on oral health-related quality of life. Objective: The purpose of this study was to investigate the association between oral health literacy and oral health status among elderly in Yogyakarta. Method: This cross-sectional study included 193 respondents aged ?60 years in Yogyakarta City. The data collection was done using interviewer-administered questionnaires (socio-demography data, health history, health behavior, and oral health literacy) and clinical examination. The Modified Gingival Index is used to determine gingival health status during a clinical examination of the oral cavity. Result: The results of this study indicated that there was a significant relationship between oral health literacy and Modified Gingival Index (p=0.01). Understanding participants' oral health literacy levels was critical for developing successful health education materials and intervention programs that enhance oral health. Conclusion: Elderly people with higher oral health literacy have better oral health outcomes.
Hubungan antara Jumlah Gigi dan Jumlah Oklusi Gigi Posterior dengan Kekuatan Genggaman Tangan pada Populasi Lansia di Yogyakarta Vega, Christia Aye Waindy; Nur’aini, Bekti; Priyono, Bambang; Widita, Elastria; Hanindriyo, Lisdrianto; Agustina, Dewi; Naritasari, Fimma; Widyaningrum, Rini; Rodestawati, Budi
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 8, No 2 (2023): May
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.76423

Abstract

Latar Belakang: Penurunan jumlah gigi dan oklusi gigi posterior dapat memengaruhi kemampuan mengunyah yang dapat berakibat pada berkurangnya asupan nutrisi. Hal ini dapat berdampak pada aktivitas otot, terutama masa dan kekuatan otot yang tercermin melalui kekuatan genggaman tangan.Tujuan: Mengetahui hubungan antara jumlah gigi dan jumlah oklusi gigi posterior dengan kekuatan genggaman tangan populasi lansia di Yogyakarta.Metode: Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan pada 75 lansia berusia ≥60 tahun. Pemeriksaan rongga mulut dilakukan oleh empat dokter gigi terlatih. Pemeriksaan Indeks Masa Tubuh dan pemeriksaan fisik dilakukan oleh dua higienis gigi terlatih. Gigi dihitung dengan menjumlahkan gigi asli, jumlah oklusi gigi dihitung menggunakan Index Eichner’s. Indeks Masa Tubuh (IMT) dihitung dengan satuan kg/m2. Kekuatan genggaman tangan diukur menggunakan hand dynamometer dalam satuan kilogram. Tingkat aktivitas fisik dievaluasi menggunakan kuesioner terstandar IPAQ. Uji chi-square dan regresi logistik digunakan untuk mengetahui hubungan antara jumlah gigi, jumlah oklusi gigi dan variabel covariat dengan kekuatan genggaman tangan.Hasil: Uji Chi-square menunjukkan tidak terdapat perbedaan kekuatan genggaman tangan antara subjek yang memiliki jumlah gigi ≥20 dan <20 serta antara subjek dengan ≥2 dan <2 zona oklusi gigi posterior. Faktor risiko penurunan kekuatan genggaman tangan adalah aktivitas fisik (OR= 6,342, p=0,010). Kesimpulan: Mempertahankan jumlah gigi ≥20 dan aktivitas fisik bermanfaat untuk mempertahankan kesehatan oral dan sistemik.