Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pemisahan dan Identifikasi Komponen Bioaktif Alkaloid dan Flavonoid pada Biji Kakao dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah Melalui Studi Spektrofotometri UV dan KL Sepriyana Marisa; Neitania Gabriella.T Sule; Lyse Bulo; Rosalia Sira Sarungallo; Lydia Melawaty
Paulus Chem Engineering Journal Vol 2 No 1 (2024): Vol.2 No.1 Februari 2024 Paulus Chem Engineering Journal
Publisher : Prodi Teknik Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63365/bbh22h26

Abstract

Biji kakao mengandung beberapa senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan antara lain: polifenol, flavonoid, alkaloid, mineral, dan protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mengidentifikasi, dan mengkarakterisasi kandungan alkaloid dan flavonoid pada biji kakao dari Sulawesi Selatan (Tondon) dan Sulawesi Tengah (Morowali). Isolasi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pengadukan. Identifikasi dilakukan dengan uji warna dan spektrofotometri UV. Karakterisasi isolat alkaloid dan flavonoid dilakukan dengan berbagai pereaksi warna dan uji KLT menggunakan berbagai pengelusi. Hasil isolasi biji kakao memberikan larutan berwarna merah tua untuk alkaloid dan merah untuk flavonoid. Identifikasi dengan pereaksi pewarna Lugol untuk alkaloid menghasilkan larutan berwarna coklat, sementara untuk flavonoid menghasilkan larutan berwarna ungu dengan pereaksi FeCl3. Hal ini menunjukkan bahwa isolat biji kakao dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah mengandung alkaloid dan flavonoid. Pengujian spektrofotometri UV menunjukkan panjang gelombang maksimum untuk isolat alkaloid biji kakao Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, berturut-turut: 280 nm, abs 1,009; 277 nm, abs 0,0695. Untuk isolat flavonoid biji kakao Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, berturut-turut: 274 nm, abs 1,251; 274 nm, abs 1,152. Uji KLT dengan fase diam silika gel GF254 memberikan pemisahan terbaik dalam sistem pelarut etil asetat-metanol (4:1), menghasilkan bercak berwarna coklat dengan pereaksi pewarna Lugol dengan nilai Rf 0,727 dan 0,745 untuk alkaloid biji kakao dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Sistem pelarut kloroform-metanol (9:1) menghasilkan bercak berwarna ungu dengan pereaksi pewarna FeCl3 dengan nilai Rf 0,200 dan 0,181 untuk alkaloid biji kakao dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
ANALISIS DAN PERBANDINGAN KADAR Ni, Fe2O3, dan SiO2 PADA BIJIH NIKEL LATERIT BERDASARKAN JENIS SAMPEL DI WILAYAH MALUKU UTARA Jane Aprilia Mege; Febriani Kadang; M. Saleh; Rosalia Sira Sarungallo
Paulus Chem Engineering Journal Vol 6 No 1 (2026): Vol.6 No.1 Februari 2026 Paulus Chem Engineering Journal
Publisher : Prodi Teknik Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63365/vxm1et10

Abstract

Bijih nikel laterit merupakan sumber mineral yang berperan dalam industri pengolahan dan hilirisasi nikel di Indonesia, khususnya di kawasan Maluku Utara. Variasi kadar unsur nikel (Ni), besi oksida (Fe2O3), dan silika (SiO2) pada bijih nikel laterit dipengaruhi oleh proses laterisasi dan jenis material, sehingga karakteristik kimia dibutuhkan untuk pengendalian kualitas bahan baku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kadar Ni, Fe2O3, dan SiO2 pada bijih nikel laterit berdasarkan perbedaan jenis sampel, yaitu sampel batu, sampel tanah, dan sampel campuran yang berasal dari wilayah Maluku Utara, meliputi Ternate, kawasan industri pertambangan di Halmahera, dan pulau-pulau sekitarnya. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel di lapangan, preparasi sampel melalui proses pengeringan, penghalusan ukuran 200 mesh, serta pembentukan pelet. Analisis kimia dilakukan menggunakan instrumen Energy Dispersive X-Ray Fluorescence (ED-XRF) untuk menentukan kadar Ni, Fe2O3, dan SiO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Ni dan Fe2O3 sampel tanah lebih tinggi serta kandungan SiO2 yang lebih rendah dibandingkan sampel batu dan sampel campuran, sehingga menunjukkan kualitas bijih nikel laterit yang paling baik. Sampel campuran menunjukkan karakteristik campuran material dengan tingkat laterisasi yang berbeda, sedangkan sampel batu  kualitas terendah karena sifat batuan ultramafik dan kandungan silika yang tinggi. Karakteristik bijih nikel laterit di Maluku Utara yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk pengendalian kualitas bijih serta perencanaan penambangan dan pengolahan yang lebih tepat dan berkelanjutan.