Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemanfaatan Posyandu Lansia dengan Pendekatan Model Sistem Pelayanan Kesehatan Ngatoiatu Rohmani; Ferianto Ferianto; Satria Kustiawan; Elvira La Bula
Jurnal Indonesia Sehat Vol. 1 No. 02 (2022): JURINSE, Agustus 2022
Publisher : SAMODRA ILMU: Lembaga Penelitian, Penerbitan, dan Jurnal Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.806 KB)

Abstract

Background:  Integrated Service Posts (Posyandu) Elderly is a place for health services for the elderly that are formed and driven by the community in collaboration with the Puskesmas by focusing on promotive and preventive efforts. Unfortunately, the use of the elderly posyandu program by the community is not yet optimal. The participation and activeness of the elderly in the program is still less than 80%. Purpose:  Through the health service system model, this study aims to analyze the affecting factors on the utilization of posyandu for the elderly. Method:  This study was quantitative, using descriptive analytic design with cross sectional approach. The respondents are elderly residents of Balecatur Village, Gamping. 59 sample was obtained by purposive sampling technique. Data collection using a questionnaire and analyzed using a logistic regression test. Result:  showed that 32 respondents (54.2%) use of posyandu well. Chi-square test results found that the use of posyandu is related to the performance of cadres (p = 0.011). While the logistic regression results showed that the use of posyandu is influenced by the performance of the cadres (p = 0.001, OR = 1,231) and facilities and infrastructure (p = 0.004, OR = 0.115). Conclusion:  Cadre performance is the most dominant factor influencing the utilization of elderly Posyandu.
Pendampingan Sekolah Sehat SD Krebet Kecamatan Pajangan Bantul D.I. Yogyakarta Ferianto Ferianto; Rahayu Iskandar; Ngatoiatu Rahmani; Anastasia Suci; Agus Warseno
Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 2 No 1 (2022): JIPPM - Juni 2022
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.769 KB) | DOI: 10.54082/jippm.17

Abstract

SD Krebet merupakan SD yang berada di wilayah Pajangan. SD Krebet tertantang untuk melakukan sebuah perubahan untuk menjadikan siswa SD Krebet memiliki nilai positif di tengah masyarakat desa Krebet. Dengan alasan inilah, SD Krebet menyusun program bimbingan pola hidup sehat, dengan melibatkan peran aktif siswa melalui kegiatan ekstra dokter kecil. Dalam pelaksanaannya, budaya hidup bersih dan sehat sudah mulai dimunculkan dalam program-program, diantaranya: membawa bekal, sarapan pagi bersama, sikat gigi, cuci tangan pakai sabun, pemeriksaan kesehatan oleh dokter kecil. Kegiatan tersebut merupakan program baru yang masih memerlukan bimbingan dan pendampingan dari tenaga kesehatan professional untuk memanajemen kegiatan tersebut dengan baik. Sekolah memiliki sumber daya alam yang sudah di siapkan secara sederhana. Kendala yang ada, bahwa pembimbing dokter kecil belum maksimal dikarenakan keterbatasan pembimbing. Untuk menanggulangi kendala tersebut diperlukan sebuah solusi dengan melakukan kegiatan pendampingan, pembinaan, dan bimbingan dalam upaya revitalisasi UKS di SD Krebet khususnya terkait dengan pengetahuan gizi seimbang. Pengabdian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran status nutrisi dan melakukan pendidikan kesehatan kepada dokter kecil tentang gizi seimbang. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai pengetahuan siswa tentang pedoman gizi seimbang yang signifikan (nilai p = 0,00 (p < 0,05) setelah dilaksanakan kegiatan pendampingan sekolah sehat dengan pemberian pendidikan kesehatan.
Peningkatan Keselamatan Kerja Melalui Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Pada Perawat di Rumah Sakit Ngatoiatu Rohmani; Novita Nirmalasari; Ratna Lestari
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v8i2.346

Abstract

Penyakit akibat kerja dapat terjadi pada pekerja, termasuk perawat. Perawat sering melaporkan berbagai keluhan seperti sakit kepala, nyeri pinggang, tertusuk jarum dan penularan penyakit akibat kerja. Oleh karena itu, perawat perlu meningkatkan kewaspadaan dalam menerapkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja agar dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal. Identifikasi risiko bahaya dan pemeriksaan kesehatan juga perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang dapat menurunkan produktivitas kerja. Sosialisasi dan pemberian edukasi terkait praktik K3 kepada perawat merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah angka kecelakaan kerja. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan perawat dalam melaksanakan pencegahan penyakit akibat kerja dengan menerapkan protokol yang sesuai dan mengenalkan latihan peregangan di tempat kerja untuk mencegah cedera akibat kerja. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat meliputi: pengkajian kesehatan dan bahaya, analisis masalah, dan implementasi program melalui sosialisasi dan pendidikan kesehatan. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar peserta telah menerapkan pengurangan risiko infeksi dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah prosedur dengan teknik yang benar. Occupational diseases may occur in workers, including nurses. Nurses often report various complaints such as headaches, low back pain, needle pricks and occupational disease transmission. Therefore, nurses need to increase vigilance in implementing a culture of occupational health and safety in order to provide nursing care optimally. Identification of hazard risks and health checks also need to be carried out to prevent work accidents that may reduce the work productivity. Socializing and providing education related to OSH practices to nurses is one of the efforts that can be pursued to prevent the number of work accidents. This service activity aims to increase the knowledge and compliance of nurses in implementing occupational disease prevention by implementing appropriate protocols and introducing stretching exercises in the workplace to prevent work-related injuries. The methods of conducting community service includes: health and hazard screening, problem analysis, and implementation of program through socialization and education. The results showed that majority of participants have implemented infection risk reduction by washing hands before and after the procedure with the correct technique
Analisis Kesiapan Pengembangan Rekam Medis Elektronik Menggunakan DOQ-IT di RS “X” Yogyakarta Kori Puspita Ningsih; Suryo Nugroho Markus; Ngatoiatu Rahmani; Ida Nursanti
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 11, No 1 (2023): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/inohim.v11i1.496

Abstract

AbstractMedical records are a vital part of the evidence for recording patient examinations. Several middle and high-income countries have implemented Electronic Medical Records (RME) to support patient health documentation. The development of RME in Indonesia has been regulated in the Minister of Health Regulation 24 of 2022. Hospital "X" Yogyakarta is starting to develop RME but has not yet developed a strategic plan for developing RME. Without a clear plan, developing RME at Hospital "X" Yogyakarta seems patchy. Therefore, in developing RME, it is necessary to analyze the hospital's readiness first. This research uses analytical observational research with a mixed-method data collection approach. This study uses an adequate instrument to analyze healthcare facilities' readiness to implement EHR using the DOQ-IT approach. The analysis of RME development readiness results from human resources, leadership, organizational culture, and infrastructure components at the "X" Hospital Yogyakarta. Analysis of the scores of the four components of 76.48 with an average value of 2.64. The assessment results show that RS "X" Yogyakarta is ready to develop RME. The readiness to develop RME is strong at RS "X" Yogyakarta, supported by strengths in organizational work culture, leadership and infrastructure, but also weaknesses in human resources. Therefore, RS "X" Yogyakarta needs to provide training and increase motivation so that human resources are far ready for RME development.Keywords: readiness, DOQ-IT, EMR AbstrakRekam medis merupakan bagian vital dalam bukti pencatatan pemeriksaan pasien. Beberapa negara berpenghasilan menengah dan tinggi, telah menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME) untuk mendukung dokumentasi kesehatan pasien. Pengembangan RME di Indonesia telah diatur pada Permenkes 24 Tahun 2022. RS “X” Yoyakarta muai mengembangkan RME, namun belum menyusun rencana srategi pengembangan RME. Dalam pengembangan RME diperlukan perencanaan yang matang, sehingga rumah sakit bisa menilai sejauh mana kesiapan untuk memulai tahap pengembangan RME. RS “X” Yogyakarta sudah mengembangkan RME, namun masih terkesan tambal sulam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan pengembangan RME menggunakan pendekatan DOQ-IT. Penelitian ini menggunakan observational analitik. dengan pendekatan pengumpulan data mixed methode. Pada penelitian ini menggunakan instrumen yang efektif untuk menganalisis kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dalam melaksanakan EHR menggunakan pendekatan DOQ-IT. Hasil analisis kesiapan pengembangan RME dari komponen sumberdaya manusia, kepemimpinan, budaya organisasi, dan infrastruktur di RS “X” Yogyakarta. Analisis skor dari keempat komponen sebesar 76,48 dengan rata-rata nilai sebesar 2,64. Dari hasil penilaian tersebut menunjukkan RS “X” Yogyakarta cukup siap dalam mengembangkan RME. Kesiapan pengembangan RME kuat di RS “X” Yogyakarta   didukung dengan adanya kekuatan di budaya kerja orgnanisasi, kepemimpinan dan infrastruktur, akan tetapi juga memiliki kelemahan di SDM. Oleh karena itu RS “X” Yogyakarta perlu memberikan pelatihan dan meningkatkan motivasi supaya SDM menjadi jauh siap dalam pengembangan RME.Kata Kunci: kesiapan, DOQ-IT, rekam medis elektronik 
The mental workload of primary health care workers during a covid-19 pandemic Ngatoiatu Rohmani; Fajriyati Nur Azizah
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No S1: Supplement
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.541 KB) | DOI: 10.30604/jika.v8iS1.1702

Abstract

Public health centre plays a role in monitoring the implementation of prevention, detection, and response to the COVID-19 pandemic at the individual, family, and community level. This situation may impact the workload for healthcare workers (HCWs). Thus, HCWs are at a high risk of experiencing severe mental problems due to increased exposure to the coronavirus, separation from family, and unclear situations.The study aims to explore the mental workload of healthcare workers during the novel coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic. NASA-TLX has been used to measure the mental workload of 55 HCWs at the public health center and distributed directly to them between March and April 2021. The mental workload of HCWs was high. The most important dimensions of mental workload were mental demand, and physical demand. Among HCWs, midwives had the highest workload. Males had higher scores of mental workload compared to females. However, females had higher frustration scores than males. Health workers who worked in the emergency unit had higher scores of mental and physical demand compared to the poly unit. A significant correlation was observed between mental demand and the work unit (r = -0.35, p = 0.009). This study suggests that attention should be paid to the psychological well-being of HCWs. Mental support and intervention need to be taken by the government or related parties to reduce the mental workload of health workers during the COVID-19 pandemic.Abstrak:  Puskesmas berperan dalam pemantauan pelaksanaan pencegahan, deteksi, dan penanggulangan pandemi COVID-19 di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat. Situasi ini tentunya berdampak pada beban kerja para petugas kesehatan yang bertugas di Puskesmas. Dengan demikian, petugas kesehatan berisiko tinggi mengalami masalah mental yang parah akibat peningkatan paparan virus corona, perpisahan dari keluarga, dan situasi yang tidak jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi beban kerja mental petugas kesehatan selama pandemi novel coronavirus 2019 (COVID-19). NASA-TLX telah digunakan untuk mengukur beban kerja mental 55 petugas kesehatan di Puskesmas dan didistribusikan secara langsung kepada responden pada bulan Maret – April 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petugas kesehatan memiliki beban kerja mental yang tinggi . Dimensi yang memiliki skor tinggi dari beban kerja mental adalah tuntutan mental, dan tuntutan fisik. Di antara petugas kesehatan, bidan memiliki beban kerja tertinggi. Laki-laki memiliki skor beban kerja mental yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Namun, perempuan memiliki skor frustrasi yang lebih tinggi daripada laki-laki. Tenaga kesehatan yang bekerja di unit gawat darurat memiliki skor tuntutan mental dan fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan unit poli. Ada hubungan yang signifikan antara tuntutan mental dan unit kerja (r = -0,35, p = 0,009). Penelitian ini mengindikasikan bahwa perlu adanya perhatian terkait kesejahteraan psikologis bagi petugas kesehatan. Dukungan sosial dan intervensi mental perlu dilakukan oleh pemerintah atau pihak terkait untuk mengurangi beban kerja mental tenaga kesehatan di masa pandemi COVID-19
PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN PADA IBU BERSALIN FASE LATEN Trisetyaningsih, Yanita; Pratama, Budi; Rohmani, Ngatoiatu
Jurnal Kesehatan Samodra Ilmu (JKSI) Vol 9 No 2 (2018): JURNAL KESEHATAN SAMODRA ILMU (JKSI)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.202 KB)

Abstract

Latar Belakang : Pada dasarnya semua wanita akan mengalami kecemasan pada proses persalinan terutama pada fase laten. Pada fase ini ibu biasanya merasa gelisah, gugup, cemas, dan khawatir sehubungan dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi. Kecemasan yang dialami oleh ibu pada awal persalinan mempengaruhi kemampuan ibu dalam menghadapi proses persalinan. Salah satu teknik yang cukup mudah dilakukan dalam meredakan ketegangan emosional adalah relaksasi otot progresif. Tujuan Penelitian : Diketahuinya pengaruh pemberian terapi relaksasi otot progresif terhadap penurunan tingkat kecemasan pada ibu bersalin fase laten. Metode Penelitian : Desain penelitian quasi ekperiment atau studi intervensi dengan menggunakan pre test-post test without control group. Sampel diambil dengan teknik acidental sampling sebanyak 20 ibu bersalin. Instrumen yang di gunakan berupa kuesioner ZSAS. Hasil penelitian dianalisis dengan uji paired sample t-test. Hasil penelitian : Tingkat kecemasan pada ibu bersalin fase laten sebelum perlakuan relaksasi otot progresif kategori cemas sedang (50%). Tingkat kecemasan pada ibu bersalin fase laten sesudah perlakuan relaksasi otot progresif kategori cemas ringan sebanyak 9 orang (45%). Hasil uji paired sample t-test diperoleh p-value 0,000.
Pengaruh Karakteristik Sosial Demografi Terhadap Kepemimpinan Kader: Survey di Wilayah Desa di Indonesia Rohmani, Ngatoiatu; Utari, Dewi
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Sosial Humaniora dan Ekonomi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Community health volunteers (CHVs) are the manifestation of community participation in an attempt of solving health issues in their area. One of skill asset that must be possessed by CHVs is leadership. CHVs selection criteria based on socio-demographic characteristics need to be upgraded to support their role in moving the community towards a healthy Indonesian optimally. The aim of this study was to assess the leadership role of CHVs in Purwomartani village and its contributed factors. This study used a cross sectional design conducted in Purwomartani, Kalasan, Sleman using 53 respondents selected through purposive sampling technique. Data were collected using a validated questionnaires and analyzed using SPSS version 20.0. The respondent comprised 100.0 % females with an average age of 45 years and living as a housewife. Most CHVs have education level up to senior high school and above (83.1%) and have experience as CHVs ± 10 years. Multiple regression analysis revealed that factor contributed with role of leadership was experience of being CHVs (