Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Construction of Ibn 'Aṭāillāh al-Sakandarī's Tafsir: Tracing Sufistic Epistemology in Qur’anic Interpretation Kharomen, Agus Imam; In’amuzzahidin, Muh.; Meilia, Dika; Anwar, Noer Faizah
Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora - UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/tos.v12i2.18889

Abstract

This study aims to reveal the interpretation of Ibn 'Aṭāillāh, spread in his Sufism books. Apart from a historical approach, this library research applies a hermeneutic approach to understand the form of Ibn 'Aṭāillāh's Sufistic interpretation. The results reveal that Ibn ‘Aṭāillāh's tafsir product includes 630 verses from 89 surahs. The tafsir epistemology applied by Ibn 'Aṭāillāh uses a Sufism approach to reveal the wisdom of the Qur'an. His motivation is to provide guidance for the salik or spiritual travellers and position the Quran as a source of wisdom and the basis for the concept of Sufism. Ibn 'Aṭāillāh Sufistic interpretation complements other tafsir products and emphasises that the style of interpretation is determined by the approach used by the mufassir and the importance of positioning the Qur'an as a source for understanding religion.Contribution: This research contributes to revealing the Sufistic style of interpretation, which is not limited to verses dealing with ethics. The interpretation style lies in the approach rather than in the theme discussed. All verses can be approached from a Sufistic perspective, as conducted by Ibn 'Aṭāillāh.
MODEL PEMBERDAYAAN SANTRI MENUJU KEMANDIRIAN EKONOMI PESANTREN MELALUI PELATIHAN PRODUK LAUNDRY Kharomen, Agus Imam; Sya’roni, Mokh; Rahmawati, Titik; Priyadi, Danang
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.31962

Abstract

Abstrak: Kemandirian ekonomi pesantren merupakan tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan potensi santri. Pesantren Asy-Syarifah Mranggen, Demak, memiliki keterbatasan dalam aspek kewirausahaan dan penguatan ekonomi produktif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan santri melalui pelatihan produksi dan pemasaran produk laundry seperti detergen cair, pewangi, dan pelembut pakaian. Kegiatan dilaksanakan oleh tim pengabdian Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) melalui enam tahapan: identifikasi masalah, diskusi, perencanaan, sosialisasi, implementasi, dan evaluasi. Sebanyak 22 santri dilibatkan secara aktif dalam pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan santri dalam memproduksi serta memasarkan produk laundry secara mandiri. Berdasarkan hasil kuesioner, sebanyak 85% peserta menyatakan telah menguasai dengan baik proses pembuatan produk laundry, sementara sekitar 75% peserta memahami strategi pemasaran seperti analisis pasar dan cara menjangkau konsumen secara tepat. Capaian ini menunjukkan bahwa program pelatihan memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan kapasitas santri dan menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren secara berkelanjutan.Kemandirian ekonomi pesantren merupakan tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan potensi santri. Pesantren Asy-Syarifah Mranggen, Demak, memiliki keterbatasan dalam aspek kewirausahaan dan penguatan ekonomi produktif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan santri melalui pelatihan produksi dan pemasaran produk laundry seperti detergen cair, pewangi, dan pelembut pakaian. Kegiatan dilaksanakan oleh tim pengabdian Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) melalui enam tahapan: identifikasi masalah, diskusi, perencanaan, sosialisasi, implementasi, dan evaluasi. Sebanyak 22 santri dilibatkan secara aktif dalam pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan santri dalam memproduksi serta memasarkan produk laundry secara mandiri. Program ini menjadi langkah awal menuju kemandirian ekonomi pesantren secara berkelanjutan.Abstract: The economic independence of Islamic boarding schools is both a challenge and an opportunity in developing the potential of students. Asy-Syarifah Islamic Boarding School Mranggen, Demak, has limitations in terms of entrepreneurship and strengthening the productive economy. This community service activity aims to empower students through training in the production and marketing of laundry products such as liquid detergent, fragrances, and fabric softeners. The activity was carried out by the community service team of Walisongo State Islamic University Semarang using the Participatory Action Research (PAR) approach through six stages: problem identification, discussion, planning, socialization, implementation, and evaluation. A total of 22 students were actively involved in the training. The results of the activity showed an increase in the knowledge and skills of students in producing and marketing laundry products independently. Based on the results of the questionnaire, 85% of participants stated that they had mastered the process of making laundry products well, while around 75% of participants understood marketing strategies such as market analysis and how to reach consumers appropriately. This achievement shows that the training program has made a real contribution to strengthening the capacity of students and is a promising initial step in realizing the economic independence of Islamic boarding schools in a sustainable manner.
Rekonstruksi Metode Penafsiran Ayat Mutasyâbih Lafẓî (Ayat Beredaksi Mirip) Berbasis Teori Munâsabah Al-Âyât Kharomen, Agus Imam
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 9 No 2 (2023): SYARIATI : Jurnal Studi Al Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v9i2.5266

Abstract

This article is a response to the method of interpretation (tafsîr) of identical versesof Nashruddin Baidan (b. 1951 M) which has not succeeded in revealing the meaning of the verse mutasyâbih lafẓî totally as the result of interpretation is still limited to the meaning behind the different text (redaction). This study is a library-based research, with the object of study of Nashruddin Baidan method of tafsîr, by using descriptive-analytic methods, through content analysis and interpretation approaches, as well as the theory of 'Ulûm al-Qur`ân and the rules of interpretation. The literatures used include Metode Penafsiran al-Qur’an: Kajian Kritis terhadap Ayat-ayat Beredaksi Mirip by Nashruddin Baidan (b. 1951 M), al-Burhân fî ‘Ulûm al- Qur`ân by al-Zarkasyî (d. 1392 M), Kaidah Tafsir by M. Quraish Shihab (b. 1944 M), Durrah al-Tanzîl wa Ghurrah al-Ta’wîl by al-Iskâfî (d. 1029 M), al-Baḥr al-Muḥîṭ by Abû Ḥayyân (d. 1344 M) and al-Taḥrîr wa al-Tanwîr by Ibnu ‘Âsyûr (d. 1973 M). This study shows the importance of examiningthe meaning relationship among the mutasyâbih lafẓî verses. This study proves that munâsabah can be an approach to reveal the meaning relationship among mutasyâbih lafẓî verses so that a comprehensive meaning of the verse can beobtained.
Rekonstruksi Pendekatan Munāsabah Ayat dalam Metode Penafsiran Al-Qur’an Kharomen, Agus Imam; In’amuzzahidin, Muh.
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.610

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi masih minimnya kajian munāsabah makna dan perangkat munāsabah yang dijadikan alat analisa dalam metode tafsir yang saat ini masih terbatas pada mengungkap keterkaitan antar ayat yang berdekatan letaknya, bukan pada hubungan maknanya. Penelitian ini merupakan library research, dengan menggunakan metode deskriptif-analitik dan pendekatan interpretasi, dengan mengacu literatur ‘ulum Al-Qur’an dan kaidah tafsir, seperti al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an karya al-Zarkasyi, al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an karya al-Suyuthi, Qawa‘id al-Tafsir karya Khalid al-Sabt, ‘Ilm al-Munasabat fi al-Suwar wa al-Ayat karya Bazamul dan Kaidah Tafsir karya Quraish Shihab, penelitian ini mencoba merumuskan langkah-langkah dalam menerapkan munāsabah makna sebagai pendekatan penafsiran dan kontribusinya dalam penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini menawarkan empat langkah dalam menerapkan munāsabah makna sebagai pendekatan tafsir, yakni: menyimpulkan tema ayat yang sedang dikaji, mengidentifikasi ayat-ayat pendukung yang punya hubungan dengan tema utama, mendialogkan antar makna yang terdapat dalam ayat utama dan pendukung, merumuskan kesimpulan sebagai hasil temuan munāsabah makna ayat Al-Qur’an. Adapun kontribusi pendekatan munāsabah makna dapat menghasilkan penafsiran antar ayat yang memiliki hubungan makna secara komprehensif.
Construction of Ibn 'Aṭāillāh al-Sakandarī's Tafsir: Tracing Sufistic Epistemology in Qur’anic Interpretation Kharomen, Agus Imam; In’amuzzahidin, Muh.; Meilia, Dika; Anwar, Noer Faizah
Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora - UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/tos.v12i2.18889

Abstract

This study aims to reveal the interpretation of Ibn 'Aṭāillāh, spread in his Sufism books. Apart from a historical approach, this library research applies a hermeneutic approach to understand the form of Ibn 'Aṭāillāh's Sufistic interpretation. The results reveal that Ibn ‘Aṭāillāh's tafsir product includes 630 verses from 89 surahs. The tafsir epistemology applied by Ibn 'Aṭāillāh uses a Sufism approach to reveal the wisdom of the Qur'an. His motivation is to provide guidance for the salik or spiritual travellers and position the Quran as a source of wisdom and the basis for the concept of Sufism. Ibn 'Aṭāillāh Sufistic interpretation complements other tafsir products and emphasises that the style of interpretation is determined by the approach used by the mufassir and the importance of positioning the Qur'an as a source for understanding religion.Contribution: This research contributes to revealing the Sufistic style of interpretation, which is not limited to verses dealing with ethics. The interpretation style lies in the approach rather than in the theme discussed. All verses can be approached from a Sufistic perspective, as conducted by Ibn 'Aṭāillāh.
Studi Tafsīr Kawasan: Pergeseran Paradigma Tafsīr Syi’ah di Iran Era Modern Afni, Nadifa Nisaul; Kharomen, Agus Imam
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol. 11 No. 1 (2025): SYARIATI : Jurnal Studi Al Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v11i1.9486

Abstract

Kajian Tafsīr di Iran menunjukkan dinamika yang khas karena latar belakang sejarah, budaya, dan dominasi mazhab Syi’ah yang kuat. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya menganut Syi’ah Iṡna ‘Asyariyah, tradisi penafsiran di Iran mengalami perkembangan signifikan, mulai dari corak ekstrem yang kaku secara teologis hingga munculnya pendekatan moderat yang lebih terbuka dan kontekstual. Fokus kajian ini adalah mengungkap pergeseran paradigma Tafsīr Syi’ah di Iran era modern, dengan menelusuri transformasi dari pendekatan tradisional berbasis riwayat menuju pendekatan hermeneutis dan interdisipliner. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, mengandalkan sumber primer berupa kitab-kitab Tafsīr klasik dan kontemporer, serta literatur sekunder dari artikel jurnal dan referensi akademik terkait. Pendekatan deskriptif-interpretatif dipakai untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor revolusi politik, arus modernisasi, dan interaksi dengan pemikiran Barat menjadi pemicu utama perubahan paradigma Tafsīr. Penafsiran Syi’ah di Iran bergerak dari corak apologetik-ekstrem menuju corak moderat yang inklusif, seperti terlihat dalam karya-karya mufassir seperti Thabathaba’i. Adopsi metode hermeneutika juga memperkuat pendekatan kontekstual yang responsif terhadap tantangan sosial-kultural modern, menjadikan Iran sebagai salah satu pusat studi Tafsīr yang dinamis di dunia Islam. .
Pengembangan Kurikulum Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir pada Perguruan Tinggi Berbasis Unity of Sciences (UoS) UIN Walisongo Semarang Machrus, Machrus; Kharomen, Agus Imam; Safriliani, Aissya Salsa; Al Hazmi, Muhammad Anas
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i1.1069

Abstract

Tulisan ini sebagai respon atas perbedaan pendapat di antara para pakar tafsir mengenai kurikulum Prodi IAT di PTKI. Penelitian ini menawarkan konsep pengembangan kurikulum Prodi IAT berbasis unity of sciences (UoS) yang digagas UIN Walisongo Semarang dengan memfokuskan pada struktur kurikulum dan relevansinya dengan profil lulusan Prodi IAT. Penelitian ini termasuk kajian kepustakaan (library research), dengan menggunakan metode deskriptif-analisis dengan pendekatan interpretasi kontekstual. Temuan penting penelitian ini menyatakan bahwa struktur kurikulum Prodi IAT berbasis UoS terdiri tiga aspek. Pertama, tujuan kurikulum yaitu CPL mahasiswa mampu mengembangkan dan mempraktikkan ilmu-ilmu umum dalam kajian Al-Qur’an dan Tafsir dengan dilandasi nilai dan prinsip-prinsip agama. Kedua, materi kurikulum, yaitu penambahan mata kuliah yang sejalan dengan prinsip dan strategi UoS, serta mengarahkan orientasi mata kuliah pada prinsip dan strategi UoS. Ketiga, strategi pembelajaran berupa optimalisasi mata kuliah praktik dengan kegiatan berbasis projek dan produk yang menguatkan penguasaan mahasiswa atas teori dan internalisasi prinsip dan strategi UoS. Adapun relevansi kurikulum Prodi IAT dengan tantangan kontemporer terlihat pada tiga aspek. Pertama, distingsi kurikulum Prodi IAT berbasis UoS yang memfokuskan pada keseimbangan antara teori keilmuan tafsir, dan kemampuan mengaplikasikan paradigma UoS. Kedua, profil profesionalisme alumni Prodi IAT sebagai pribadi yang baik dalam profesi yang digelutinya, sekaligus menjadi pribadi yang responsif dan solutif terhadap problem sosial yang sedang terjadi di sekitarnya. Ketiga, karakteristik alumni Prodi IAT sebagai pribadi moderat, berwawasan luas, memiliki cara pandang holistik dan kontributif bagi kemaslahatan umat.
Contextualization of the meaning of the story of Ashabul Fil in QS. Al-Fil perspective al-Fann al-Qashasi Khalafullah Rohman, Taufiqur; Kharomen, Agus Imam; Muhammad, Hayim
QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/qist.v5i1.14619

Abstract

This study analyzes the narrative of Ashābul Fīl in Surah al-Fīl through Muhammad Ahmad Khalafullah's al-fann al-qashāṣī framework. While classical exegesis largely emphasizes the historical dimension of the event, limited research systematically applies Khalafullah's literary-narrative approach to short Makkiyyah surahs. This study addresses that gap by examining the aesthetic structure, symbolism, and theological meaning of QS. al-Fīl beyond historiographical concerns. Using a qualitative-descriptive design with a literary-hermeneutic approach, the research is based on textual analysis of the Qur'an, classical and modern tafsīr, and Khalafullah's theoretical works. Narrative structural analysis and thematic interpretation are employed to identify symbolic and theological patterns within the text. The findings show that QS. al-Fīl presents a dramatic structure consisting of threat, divine intervention, and the destruction of tyranny. The symbols of ṭayran abābīl and ḥijārah min sijjīl function as theological metaphors representing divine sovereignty and moral accountability. This study demonstrates that Khalafullah's approach enriches contemporary Qur'anic interpretation by integrating aesthetics, symbolism, and theology. Globally, the research highlights the Qur'an's ethical relevance in addressing injustice, authoritarianism, and moral crisis in modern society.