Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENYULUHAN TENTANG PEMANFAATAN PANGAN FUNGSIONAL PADA MASA PANDEMI COVID 19 DI FORUM KELOMPOK WANITA TANI SEKAR ARUM TANGERANG SELATAN Tagor M Siregar; Lucia Soedirga; Wenny Sinaga; Yuniwaty Halim
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.929 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1155

Abstract

Forum kelompok wanita tani (KWT) Sekar Arum merupakan kelompok masyarakat di Tangerang Selatan yang melakukan budidaya tanaman pangan. Pada masa pandemi Covid-19 masyarakat diharapkan memiliki asupan makanan sehat yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Pangan fungsional adalah pangan dengan kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Sebagian besar anggota Forum KWT Sekar Arum Tangerang Selatan masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai manfaat kesehatan bahan pangan yang telah dibudidayakan. Sebagai respon atas kondisi ini, Program Studi Teknologi Pangan UPH melaksanakan kegiatan penyuluhan pemanfaatan pangan fungsional yang bertujuan agar masyarakat dapat memanfaatkan pangan lokal yang dibudidayakan sebagai sumber pangan fungsional. Pada tahap persiapan dilakukan proses diskusi dengan pengurus Forum KWT Sekar Arum dan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tangerang Selatan untuk memastikan kesesuaian materi dan teknis pelaksanaan penyuluhan. Pelaksanaan penyuluhan dilakukan secara webinar menggunakan platform zoom meeting. Materi penyuluhan meliputi definisi, jenis komponen aktif dan manfaat fisiologis pangan fungsional. Penyuluhan diikuti oleh 87 peserta yang mewakili beberapa KWT di Tangerang Selatan. Evaluasi berdasarkan pengisian kuesioner menunjukkan 98,85% peserta menyatakan penyuluhan dapat diikuti dengan baik dan sangat bermanfaat serta menginginkan adanya penyuluhan atau pelatihan berkelanjutan dengan topik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi sumber daya yang ada.
PENYULUHAN PEMBUATAN KAMABOKO DI UMKM TANGSEL BERKIBAR TANGERANG SELATAN, BANTEN wenny silvia loren sinaga; Tagor M. Siregar; Nuri Arum Anugrahati; Melanie Cornelia; Intan Cidarbulan Matita
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.398 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1177

Abstract

Kondisi pandemi COVID-19 telah mengakibatkan jumlah pengangguran semakin meningkat. Hal ini mendorong berbagai usaha untuk memperluas lapangan usaha. Salah satu usaha memperluas lapangan usaha adalah memperdayakan masyarakat melalui penguatan usaha kecil dan menengah. Komunitas usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Berkibar merupakan salah satu UMKM di wilayah Tangerang Selatan. Namun usaha makanannya belum dikembangkan ke bidang usaha produk olahan perikanan. Berdasarkan hal tersebut, maka Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) akan melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam bentuk penyuluhan. Tujuan PkM adalah untuk memberikan informasi tentang bahan dan cara pembuatan kamaboko. Kamaboko yang berasal dari ikan tenggiri dan merupakan bahan yang sudah sering digunakan oleh mitra untuk kegiatan usaha. Metode PkM yang dilakukan adalah penyuluhan secara daring yang meliputi pemaparan materi, penayangan video, dan tanya jawab. Diharapkan dengan melakukan kegiatan tersebut, maka UMKM Berkibar Tangerang Selatan dapat memperluas bidang usahanya di bidang olahan perikanan dan memberdayakan masyarakat sekitar.
OPTIMASI KAPASITAS ANTIOKSIDAN KECAMBAH KEDELAI VARIETAS WILIS Sinaga, Wenny Silvia Loren Boru; Sitanggang, Azis Boing; Jessica, Jessica
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (The Journal of Food Technology and Health) Vol 1 No 2 (2019): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v1i2.186

Abstract

Kedelai adalah produk pangan bernilai gizi tinggi yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pada penelitian ini, kedelai dimodifikasi dengan cara perkecambahan. Komponen zat gizi akan berubah menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana selama proses perkecambahan sehingga menjadi lebih mudah dicerna bagi tubuh manusia. Selain itu, perkecambahan juga dapat meningkatkan kapasitas antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kondisi perkecambahan untuk mengoptimalkan kapasitas antioksidan dari biji kedelai varietas Wilis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik untuk mengoptimalkan kapasitas antioksidan adalah dengan cara perkecambahan pada suhu 25°C selama 15 jam dengan rasio biji kedelai dan air 1:3 tanpa adanya penambahan garam. Kapasitas antioksidan kecambah kedelai var. Wilis pada 100 ppm memiliki radical scavenging activity sebesar 9,69% dengan scavenging ternormalisasi 0,65% dengan total fenol 2,1 mg GAE/g pada biji dan 2,9 mg GAE/g pada kecambah. Dari hasil identifikasi GC-MS ditemukan senyawa-senyawa antioksidan yang terdapat pada biji kedelai dan kecambah kedelai berupa benzoic acid, 2-methoxy-4-vinylphenol, 2,5-dihydroxytoluene, pyrogallol 1,3-dimethyl ether, 2,5-dihydroxytoluene, pyrogallol 1,3-dimethyl ether, hexadecanoic acid methyl ester dan methyl oleate serta terdapat juga senyawa-senyawa antioksidan baru yang muncul setelah proses perkecambahan yaitu neophytadiene, campesterol, stigmasterol, delta-tocopherol dan gamma-tocopherol.  ABSTRACT: Soybean is a high nutrition food product that is largely consumed by Indonesians. In this research, the soybean will be modified by going through the germination process. Complex nutrition would be changed into substances that were more simple during the germination process. Therefore, it would be easier for human to digest it. Moreover, this process might also increase the antioxidant capacity of the soybean itself. The aim of this research is to find out the most suitable germination condition in order to acquire the optimum antioxidant capacity of Wilis variety soybean. The result shows that the best condition to optimize the antioxidant capacity is by performing the germination process at 25°C for 15 hours with soybean to water ratio being 1:3 without any salt addition. The antioxidant capacity of Wilis soybean at 100 ppm has 9,69% of radical scavenging activity, with 0,65% being normalized. The total phenolic compound found in the beans was 2,1 mg GAE/g, whereas 2,9 mg GAE/g were found in the sprout. Based on the GC-MS identification, the antioxidant compounds that are found in both the soybean and sprout are known to be benzoic acid, 2-methoxy-4-vinylphenol, 2,5-dihydroxytoluene, pyrogallol 1,3-dimethyl ether, 2,5-dihydroxytoluene, pyrogallol 1,3-dimethyl ether, hexadecanoic acid methyl ester, and methyl oleate. In addition, there are also several new antioxidant compounds that emerge after the germination process, which are neophytadiene, campesterol, stigmasterol, delta-tocopherol, and gamma-tocopherol. Keywords: Soybean var. Wilis, Sprout, Antioxidant, Water Ratio
Pengaruh Penambahan Jeruk Nipis dan Minyak Esensial Eucalyptus globulus terhadap Aktivitas Antioksidan dan Organoleptik Seduhan Teh Hitam [The Effect of the Additional Lime and Eucalyptus globulus Essential Oil toward Antioxidants Activity and Organoleptics of Black Tea Steeping] Hardoko, Hardoko; Gunawan, Windy; Sinaga, Wenny Silvia Loren
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 5 No. 2 (2022): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v6i1.5263

Abstract

Black tea has lower antioxidant activity than green tea, the color is slightly darker and less stable during storage. Therefore, it is necessary to add natural antioxidants so that antioxidants increase, and the color is brighter and stable. This study aims to determine the effect of adding lime juice and Eucalyptus globulus essential oil (MEEg) on antioxidant activity and color, as well as organoleptic hedonic brewing of black tea. The research method used was an experimental method consisting of 2 stages, namely the stage of determining the length of brewing black tea and the stage of adding lime juice (0, 1, 2, 3% v/v) and MEEg (0.00, 0.05, 0). ,10, and 0.15% v/v). The results showed that the best brewing time was 8 minutes with an IC50 value of 1411.24±75.79 ppm, a pH value of 5.25±0.02, a yellow-red color (oHue 75.93±3.16), and a lightness value. 47.09±1.06. The addition of lime juice tends to decrease antioxidant activity, total phenolic, total flavonoid, and total condensed tannins, but the addition of MEEg increases antioxidant activity, total phenolic, total flavonoid, and total condensed tannins in black tea. The addition of lime juice and MEEg increased the preference for the tea color and mint flavor, but decreased the preference for the sour taste and tea aroma. The selected treatment was the one with the highest antioxidant activity and hedonic value, namely the addition of 3.0% lime and 0.15% MEEg.Bahasa Indonesia Abstract:Teh hitam mempunyai aktivitas antioksidan lebih rendah daripada the hijau, warna seduhannya agak gelap dan kurang stabil selama penyimpanan. Oleh karena itu perlu ditambahkan antioksidan alami agar antioksidan meningkat dan warna lebih terang dan stabil. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan perasan jeruk nipis dan minyak esensial Eucalyptus globulus (MEEg) terhadap akivitas antioksidan dan warna, serta organoleptik hedonic seduhan teh hitam. Metode penelitian yang digunakan metode eksperimen yang terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap penentuan lama penyeduhan teh hitam dan tahap penambahan perasan jeruk nipis (0, 1, 2, 3% v/v) dan MEEg (0,00, 0,05, 0,10, dan 0,15% v/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu penyeduhan terbaik adalah 8 menit dengan nilai IC50 1411,24±75,79 ppm, nilai pH 5,25±0,02, warna kuning merah (oHue 75,93± 3,16), dan nilai lightness 47,09±1,06. Penambahan perasan jeruk nipis cenderung menurunkan aktivitas antioksidan, total fenolik, total flavonoid, dan total tanin terkondensasi, tetapi penambahan MEEg meningkatkan aktivitas antioksidan, total fenolik, total flavonoid, dan total tanin terkondensasi seduhan teh hitam. Penambahan perasan jeruk nipis dan MEEg meningkatkan kesukaan terhadap warna seduhan teh dan rasa mint, tetapi menurunkan kesukaan terhadap rasa asam dan aroma teh. Perlakuan terpilih adalah yang memiliki aktivitas antioksidan dan nilai hedonik tertinggi yaitu penambahan jeruk nipis 3,0% dan MEEg 0,15%.