Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKSPLORASI PENGGABUNGAN STATIONARY WAVELET TRANSFORM DAN DISCRETE COSINE TRANSFORM PADA KLASIFIKASI EKSPRESI WAJAH Farkhan, Farkhan; Tri Anggraeny, Fetty; Yulia Puspaningrum, Eva
JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika) Vol. 8 No. 6 (2024): JATI Vol. 8 No. 6
Publisher : Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/jati.v8i6.11264

Abstract

Ekspresi wajah memainkan peran penting dalam komunikasi non-verbal, sehingga klasifikasi ekspresi wajah menjadi topik penelitian yang signifikan dalam pengenalan pola dan visi komputer. Tantangan utama dalam klasifikasi ini adalah mengekstraksi fitur yang efektif dari citra wajah, mengingat kompleksitas informasi spasial dan frekuensi yang perlu dipertahankan. Stationary Wavelet Transform (SWT) dikenal mampu mempertahankan kedua jenis informasi ini, tetapi menghasilkan fitur dengan dimensi yang tinggi yang dapat meningkatkan beban komputasi dan risiko overfitting. Penelitian ini mengeksplorasi dan membandingkan dua metode ekstraksi fitur untuk klasifikasi ekspresi wajah: penggabungan SWT dengan Discrete Cosine Transform (DCT) untuk mengurangi dimensi fitur, dan SWT saja, dengan evaluasi kinerja menggunakan Multi-Layer Perceptron (MLP). Dataset CKPLUS digunakan dalam penelitian ini, di mana citra wajah melalui preprocessing termasuk histogram equalization, resize ke 48x48 piksel, konversi ke grayscale, dan denoising. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model yang menggunakan fitur dari SWT saja memberikan akurasi (95%), presisi (95%), recall (95%), dan F1-score (94%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan model yang menggunakan fitur dari kombinasi SWT dan DCT, yang menghasilkan akurasi (91%), presisi (89%), recall (91%), dan F1-score (81%). Temuan ini menyarankan bahwa dalam konteks klasifikasi ekspresi wajah, penggunaan SWT saja lebih optimal dibandingkan dengan penggabungan DCT.
Unraveling Conflict: Implementation of a Criminal Case Resolution Model With a Restorative Justice Approach in Sukoharjo Suciyani, Suciyani; Ariyani, Evi; Masrukhin, Masrukhin; Dona, Fery; Farkhan, Farkhan
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 6 No. 2 (2023): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v6i2.125

Abstract

Traditional law enforcement often focuses on punishing perpetrators without regard to restoring victims and damaged social relationships. Restorative Justice (RJ) has emerged as an alternative that emphasizes restoring victim harm, offender responsibility, and repairing social relationships. Sukoharjo Regency implemented RJ to resolve criminal cases more humanistically and efficiently. This study aims to analyze the implementation of RJ in handling criminal cases at Sukoharjo Police, evaluate its compliance with Standard Operating Procedures (SOPs), and assess public views on this approach. This research used a qualitative method type empirical juridical. Data were collected through in-depth interviews with police officers, victims, perpetrators, and community leaders, as well as analysis of official documents such as police reports and related regulations. The results showed that the implementation of RJ at Sukoharjo Regency was largely in accordance with the established SOPs. The mediation process is conducted transparently and involves all relevant parties. The community generally has a positive view of RJ, considering it a fairer and more efficient way to resolve criminal cases. However, there are several obstacles, such as limited trained human resources and a lack of public understanding of the RJ concept. RJ implementation at Sukoharjo District Police has successfully achieved the goals of recovery and restorative justice, although there is still room for improvement. Increased education and socialization to the community is needed, as well as additional training for police personnel to become more effective mediators. Sukoharjo Police are advised to increase RJ socialization programs, provide ongoing training for officers, and strengthen coordination with community leaders to support more optimal RJ implementation. Penegakan hukum tradisional seringkali berfokus pada penghukuman pelaku tanpa memperhatikan pemulihan korban dan hubungan sosial yang rusak. Restorative Justice (RJ) muncul sebagai alternatif yang menekankan pada pemulihan kerugian korban, tanggung jawab pelaku, dan perbaikan hubungan sosial. Di Kabupaten Sukoharjo sudah banyak pengimplementasian Restorative Justice untuk menyelesaikan perkara pidana secara lebih humanis dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi RJ dalam penanganan perkara pidana di Sukoharjo, mengevaluasi kepatuhannya terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP), serta menilai pandangan masyarakat terhadap pendekatan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan aparat kepolisian, korban, pelaku, dan tokoh masyarakat, serta analisis dokumen resmi seperti laporan kepolisian dan regulasi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi RJ di Sukoharjo sebagian besar sudah sesuai dengan SOP yang ditetapkan. Proses mediasi dilakukan dengan transparan dan melibatkan semua pihak terkait. Masyarakat secara umum memiliki pandangan positif terhadap RJ, menganggapnya sebagai cara yang lebih adil dan efisien dalam menyelesaikan perkara pidana. Namun, terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan sumber daya manusia terlatih dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang konsep RJ. Implementasi RJ di Sukoharjo berhasil mencapai tujuan pemulihan dan keadilan restoratif, meskipun masih ada ruang untuk perbaikan. Diperlukan peningkatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, serta pelatihan tambahan bagi personel kepolisian untuk menjadi mediator yang lebih efektif.  Sukoharjo disarankan untuk meningkatkan program sosialisasi RJ, menyediakan pelatihan berkelanjutan bagi petugas, dan memperkuat koordinasi dengan tokoh masyarakat untuk mendukung pelaksanaan RJ yang lebih optimal.