Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal Fatmawati Laboratory

PENETAPAN KADAR HIDROKUINON PADA KRIM PEMUTIH WAJAH YANG BEREDAR DI PASAR CIRACAS DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV- VIS Purwanitiningsih, eny; Mayasari, Yeshi; Sukmawati , Anggi; Bedah, Sumiati
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 3 No 2 (2023): Pemeriksaan Laboratorium Medis Jilid 2
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v3i2.560

Abstract

Kemajuan teknologi telah memberikan doktrin kepada masyarakat bahwa kulit putih adalah kulit yang sangat diminati dan dikagumi. Kulit putih dianggap lebih menarik daripada kulit sawo matang, hal ini menimbulkan berbagai macam produk krim pemutih yang ditawarkan oleh berbagai toko kosmetik. Hidrokuinon adalah bahan pemutih yang sering ditambahkan dalam krim kosmetik dengan tujuan untuk memutihkan kulit. Cara kerja hidrokuinon dalam memutihkan kulit yaitu memperlambat dan mencegah produksi melanin kulit. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar Hidrokuinon yang beredar di Pasar Ciracas. Metode yang digunakan adalah uji kualitatif menggunakan pereaksi warna ditandai perubahan warna hijau sampai ungu menandakan bahwa sampel positif Hidrokuinon. Jika terdapat sampel positif dilanjutkan uji Kuantitatif dengan metode Spektrofotometri Uv-Vis. Hasil penelitian penetapan kadar Hidrokinon pada kirm pemutih menunjukkan bahwa 10 sampel krim pemutih yang positif Hidrokuinon mengandung kadar yaitu: Krim A; 1,9317%, krim G; 0,3337%, krim H; 0,2619%, krim I; 1,2360%, krim J; 4,6494%, krim K; 7,1692%, krim M; 7,1587%, krim N; 5,3892%, krim O; 7,1595%, krim P; 5,4279%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 10 sampel hanya 4 yang memenuhi persyaratan Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia Nomor HK. 00.05.4.1745 Tahun 2011 Tentang Kosmetik Berbentuk Obat yaitu dengan syarat kurang dari 2%.
Epidemiologi Infeksi Jamur: Kasus Tinea Pedis Dikalangan Pencuci Jasa Kendaraan Bermotor Bedah, Sumiati; Putri Salsabilla, Dinda; Purwanitiningsih, Eny
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 1 (2025): Otomatisasi Laboratorium
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i1.1016

Abstract

Tinea pedis atau athlete’s foot, sering menyerang orang dewasa yang bekerja di lingkungan basah dan memakai sepatu tertutup setiap hari. Gejalanya bervariasi dari tanpa keluhan hingga gatal dan nyeri akibat infeksi sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jamur penyebab Tinea pedis pada pencuci jasa kendaraan di Wilayah Pondok Melati Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 30 sampel pencuci kendaraan yang diambil melalui teknik accidental sampling. Identifikasi jamur dilakukan secara mikroskopis dengan pemeriksaan menggunakan KOH 20% dan dibiakan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Dari 30 sampel kerokan kulit sela jari kaki, 1 sampel (3,3%) positif jamur Dermatophyta spesies Trichophyton rubrum pada media kultur, sedangkan 29 sampel (96,7%) negatif dan semua sampel negatif pada pemeriksaan langsung. Berdasarkan usia 1 sampel (3,3%) dengan usia 15-40 tahun positif jamur dermatophyta. Berdasarkan durasi kerja 1 sampel (3,3%) dengan durasi kerja < 8 Jam positif jamur dermatophyta. Berdasarkan waktu lamanya bekerja 1 sampel (12,5 %) dengan lamanya bekerja > 4 Tahun positif jamur dermatophyta. Berdasarkan penggunaan sepatu boots 1 sampel (11,1%) dengan menggunakan sepatu boots positif jamur dermatophyta. Kesimpulan penelitian ini adalah jamur penyebab Tinea pedis ditemukan jamur Dermatophyta dengan spesies Trichophyton rubrum pada pencuci jasa kendaraan di Wilayah Pondok Melati Kota Bekasi.
Prevalensi Pedikulosis Kapitis pada Santriwati Pondok Pesantren: Tinjauan Literatur dan Analisis Faktor Risiko Bedah, Sumiati
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 2 (2025): Hematologi Klinik
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i2.1202

Abstract

Pendahuluan : Pedikulosis kapitis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama pada kelompok remaja perempuan yang tinggal di lingkungan berasrama seperti pondok pesantren. Infestasi oleh Pediculus humanus capitis menyebabkan gangguan fisik, psikologis, dan sosial, serta sering diperburuk oleh kepadatan hunian, personal hygiene yang kurang optimal, dan kebiasaan berbagi barang pribadi. Penelitian ini dilakukan untuk menyajikan gambaran komprehensif mengenai prevalensi dan faktor risiko pedikulosis kapitis pada santriwati pondok pesantren melalui tinjauan literatur terbaru. Metode: Studi ini merupakan tinjauan literatur dengan pendekatan naratif berdasarkan prinsip PRISMA. Pencarian artikel dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, SpringerLink, dan ProQuest untuk publikasi tahun 2016–2025. Sebanyak 1.258 artikel teridentifikasi pada tahap awal, kemudian disaring berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh 27 artikel yang dianalisis. Data yang diekstraksi meliputi desain penelitian, lokasi, jumlah sampel, metode diagnosis, prevalensi, serta faktor risiko yang terkait dengan infestasi pedikulosis kapitis. Hasil: Analisis literatur menunjukkan bahwa prevalensi pedikulosis kapitis pada santriwati pondok pesantren berkisar antara 23% hingga 59%, dengan sebagian besar penelitian menggunakan desain cross-sectional dan metode pemeriksaan visual serta sisir serit. Faktor risiko yang paling konsisten dilaporkan adalah frekuensi keramas ≤2 kali/minggu, rambut panjang, kebiasaan berbagi alat pribadi (sisir, jilbab, handuk, bantal), kepadatan hunian, ventilasi buruk, dan tingkat pengetahuan kebersihan yang rendah. Odds Ratio (OR) dari faktor-faktor tersebut berada pada kategori risiko sedang hingga tinggi, memperkuat hubungan antara perilaku dan lingkungan dengan kejadian pedikulosis. Pembahasan: Temuan menunjukkan bahwa pedikulosis kapitis tidak hanya merupakan infestasi parasit biasa, tetapi juga indikator lingkungan hunian dan praktik kebersihan santri. Interaksi sosial yang erat, karakteristik hunian pesantren yang padat, serta praktik kebersihan rambut yang rendah mendukung transmisi parasit. Edukasi higiene, skrining berkala, penataan hunian, dan kebijakan barang pribadi menjadi intervensi yang disarankan. Kesimpulan: Pedikulosis kapitis merupakan masalah kesehatan yang sangat umum pada santriwati pondok pesantren, dengan prevalensi tinggi dan faktor risiko yang konsisten berkaitan dengan personal hygiene dan kondisi lingkungan. Upaya pengendalian membutuhkan pendekatan komprehensif berbasis komunitas yang meliputi edukasi, pemeriksaan rutin, peningkatan higiene pribadi, serta perbaikan kondisi hunian.