Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

INVESTIGATING STUDENTS’ABILITY IN LEARNING ENGLISH: A CASE STUDY IN THE FIRST SEMESTER OF COMMUNICATION DEPARTMENT Rosadi, Ariani; Hermanto, Lubis
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 5, No 4 (2021): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v5i4.2614

Abstract

Sebagai bahasa internasional, bahasa inggris menjadi tantangan bagi seluruh pengajar dan pelajar di suatu lembaga pendidikan. Mata kuliah ini wajib dipelajari pada semester awal oleh semua mahasiswadi hampir setiap program studi di perguruan tinggi. Sayangnya, kemampuan bahasa inggris setiap orang berbeda-beda. Banyak hal yang mendukung dan menghambat proses pemahaman dan penerapannya di kehidupan sehari-hari. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi latar belakang mahasiswa yang memiliki kemampuan berbahasa inggris kurang maupun lebih. Dengan merujuk pada potensi mahasiswa ilmu komunikasi dalam berkomunikasi secara efektif di dunia kerja sangat besar, maka peneliti memilih tempat penelitian di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Mbojo Bima (STISIP Mbojo Bima) yang mempunyai program studi Ilmu Komunikasi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif , khususnya studi kasus dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi yang dilakukan pada dua kelas di semester awal, wawancara dilaksanakan pada dua orang mahasiswa yang pintar dan dua orang mahasiwa yang kurang dalam kemampuan berbahasa inggris, serta dokumentasi berisi hasil kegiatan mahasiswa di ruang kelas. Kemudian, data dianalisis dengan triangulasi. Hasil menunjukkan bahwa kesulitan dalam mengatur jadwal belajar sejak sekolah, pola pikir yang kurang tepat, malas  membaca dan menyimak serta lingkunganyang kurang memotivasi dapat menyebabkan mahasiswa sulit memahami dan mengaplikasikan kemampuan bahasa inggris. Namun, sebaliknya mahasiswa yang mendapatkan motivasi tinggi dalam meluangkan waktu belajar , senang melatih diri dengan tontonan dan bacaan berbahasa inggris, pola pikir yang benar dan lingkungan yang mendukung dapat membuat mahasiswa mendalami kemampuan berbahasa inggrisnya.
Peranan Pengetahuan Bahasa, Budaya dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Public Speaking Mahasiswa Bima Rosadi, Ariani; Hermanto, Lubis
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 5, No 3 (2021): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v5i3.2144

Abstract

In recent years, the challenges of the disruptive era should be a positive impact on society, especially on young generations. It is necessary to improve language skills and adapt to the wider community, including its culture, especially for Bimanese students, West Nusa Tenggara. Therefore, this study aims to identify the role of language, cultural knowledge, and its implications for public speaking learning of Bimanese students of the communication science study program, Mbojo Bima College of Social and Political Sciences (STISIP) Mbojo Bima. The students involved in this study were in the fourth semester and the research method was ethnographic research. It is a qualitative research approach that allows the researcher to engage as participant-observation. Data were collected through observation, in-depth interviews, and video among ten Bimanese students. The informants originally came from Bima. The results of this research show that: (a) for Bimanese students, language and culture play a vital role in creating and maintaining communication. They use Bahasa Indonesia in formal context in which the audience comes from different cultures. However, some chose to mix Indonesian (official language) and Mbojo language (Local language) for audiences from the same culture, old people and less educated people as the proper way to respect them; (b) language and culture are inseparable parts and influential to the individuals’ ways of thinking and also how they describe the world or realities in the coordinate relationship and (c) Bimanese students could identify subordinate relation involved in learning about aspects of linguistics and ethic of language during public speaking learning.
VARIASI BAHASA: SAMBORI DAN MASYARAKAT MBOJO KONTEMPORER Ariani Rosadi; Lubis Hermanto
Jurnal Komunikasi dan Kebudayaan Vol. 5 No. 2 (2018): November : Jurnal Komunikasi dan Kebudayaan
Publisher : Universitas Mbojo Bima - Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang perbedaan mendasar dari dialek masyarakat adat desa sambori kecamatan lambitu kabupaten bima dengan masyaraka mbojo pada umumnya. Bahasa merupakan alat seseorang dalam mengenal dunia dan memahami kehidupannya. Seseorang tidak dapat hidup tanpa adanya komunikasi. Pola komunikasi khususnya pada bahasa verbal merupakan sebuah khazanah ilmu pengetahuan yang harus tetap dicari arti dan maknanya. Hakikat dalam komunikasi itu sendiri adalah mencari makna dari segala sesuatu yang ada di alam ini, baik secara verbal maupun non verbal. Daerah Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat, sungguh banyak memiliki keanekaragaman budaya khusunya dalam keanekaragaman bahasa aslinya. Salah satu suku yang masih kental dengan penggunaan bahasa asli ibunya adalah suku sambori. Sambori adalah wajah lama Bima yang memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari keunikan itu adalah Bahasa (Dialek) yang dituturkan warganya yang berbeda dengan bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Bahasa Sambori menyebar di sejumlah kampung dan Desa yang ada di gugusan pegunungan La Mbitu di tenggara Kota Bima seperti di Desa Tarlawi, Kaboro, Teta, Kalodu, Sambori, Kadi dan Kuta. Desa-desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan pemekaran La Mbitu. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data penelitian antara lain: observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Kemudian teknik analisa data dengan menggunakan reduksi data, display data dan pengambilan kesimpulan (verifikasi)
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP EKSISTENSI KEARIFAN BUDAYA LOKAL (Studi Pada Desa Wisata “Uma Lengge” Maria Kecamatan Wawo Kab. Bima) Lubis Hermanto; Ariani Rosadi
Jurnal Komunikasi dan Kebudayaan Vol. 5 No. 2 (2018): November : Jurnal Komunikasi dan Kebudayaan
Publisher : Universitas Mbojo Bima - Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya merupakan salah satu sistem tatanan yang mengatur kehidupan manusia. Hadirnya budaya merupakan khazanah kehidupan yang selalu harus dijaga kelestariannya. Indonesia adalah Negara yang memiliki sejarah akan warisan budaya yang sangat berpengaruh akan tatanan sistem Negara. Melalui semboyan Bhineka Tunggal Ika, jelas bahwa Negara kita dibangun atas pondasi sebuah budaya melalui kearifan lokal budaya di tiap-tiap Daerahnya. Selain terkenal karena pacuan kudanya, daya tarik wisata lainnya yang bisa dikunjungi di Bima adalah rumah tradisionalnya yang disebut Uma Lengge dan Uma Jompa, salah satu rumah adat tradisional yang berdiri sejak ratusan tahun silam dimana rumah tradisonal itu adalah peninggalan asli nenek moyang suku Bima. Seiring perubahan zaman, kualitas Uma Lengge maupun Uma Jompa banyak yang mengalami perubahan. Oleh karena perkembangan zaman juga, masyarakat lebih memilih tinggal di rumah yang lebih luas dan nyaman, maka keberadaan uma lengge ini sudah semakin terkikis dan tertinggal. Fungsinya pun yang dahulunya sebagai tempat tinggal sudah dialihkan hanya sebagai lumbung padi dan terpisah dari rumah penduduk. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik pengumpulan data penelitian antara lain : observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Kemudian teknik analisa data dengan menggunakan reduksi data, display data dan pengambilan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, peran Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten Bima, maupun Pemerintah Kecamatan Wawo dalam mendukung serta menjaga dari nilai-nilai budaya kearifan lokal yaitu eksistensi desa wisata “Uma Lengge” sudah dirasakan oleh masyarakat Maria Wawo, terlihat dari keseriusan Pemerintah dalam mengelola dan melestarikan aset Daerah maupun Negara antara lain dengan ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata sebagai kategori Desa Wisata, serta dibentuknya petugas-petugas pelaksana yang menjaga Desa Wisata “Uma Lengge” yang sekaligus digaji khusus oleh Pemerintah. Kedua, Lembaga adat Desa Maria sebagai sebuah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Bima adalah wadah pemangku budaya yang bersinergi dengan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan kearifan budaya lokal khususnya “Uma Lengge”. Ketiga, Persepsi masyarakat akan eksistensi dari Desa Wisata “Uma Lengge” Maria Wawo menunjukkan bahwasannya masyarakat Wawo sangat bangga akan warisan leluhur kebudayaan “Uma Lengge”. Eksistensi “Uma Lengge” tercermin dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh segenap unsur baik masyarakat, pemerintah, swasta, pemerhati budaya, yaitu dengan mengadakan festival “Uma Lengge” yang diadakan di Desa Wisata “Uma Lengge” Maria Wawo.