Sujaelanto
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PESAN DHARMA MELALUI KISAH MANDAPALA PADA KITAB ADIPARWA Sujaelanto
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.178

Abstract

Adiparwa adalah susastra Hindu yang memiliki nilai yang luas dan dalam. Nilai yang terkadung dijelaskan melalui ceritera baik berupa penokohan seseorang, ataupun ceritera binatang. Kisah tersebut sarat dengan nilai ajaran Hindu. Kitab Adiparwa terdapat kisah keluarga Mandapala dengan seorang istri dan keempat anaknya yang diperankan untuk menjaga keharmonisan dunia. Bagaimana nilai dharma yang diperankan dalam kehidupan Mandapala? Dari hasil analisis ceritera kisah pesan Mandapala kepada anak-anaknya bahwa keempat anaknya diberikan tugas masing-masing untuk melakukan tugas dharma agar keharmonisan dunia terjaga. Keempat dharma tersebut di perankan oleh Jarikeya agar melakukan tapa brahmacari, si Sarisrkwa supaya menurunkan keturunan, si Stambamitra melaksanakan tapa dan menjalankan upacara kurban dan si Drona supaya membuat tenang dunia dengan mempelajari Weda. Dari dialog dan prolog yang terdapat dalam kisah Mandapala bahwa untuk menegakkan dunia ini perlu pilar-pilar dharma sebagai penyangga yakni upacara, tapa brahmacari, berketurunan, mempelajari Weda.
IMPLEMENTASI PEMBIASAAN MENINGKATAKAN KARAKTER DAN PRESTASI SISWA PADA PENDIDIKAN PASRAMAN NON FORMAL DI EKS KARESIDENAN SURAKARTA Farida Setyaningsih; Putu Budiadnya; Setyaningsih; Titin Sutarti; Sujaelanto; Gayatri Sindi Mahesti
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.184

Abstract

Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak, jika hal tersebut tertanam dan terpatri dalam diri setiap insan sejak dini, hal tersebut merupakan awal yang baik bagi setiap Pendidikan anak bangsa untuk menjalani proses selanjutnya. Melihat betapa pentingnya pembiasaan meningkatkan karakter dan prestasi siswa, maka peneliti mengambil 3 rumusan masalah yaitu; jenis pembiasaan apa yang digunakan untuk meningkatkan karakter dan prestasi siswa pada Pendidikan Pasraman Non Forma di Eks Karesidenan Surakarta, bagaimana implementasi pembiasaan untuk meningkatkan karakter dan prestasi siswa pada Pendidikan Pasraman Non Formal di Eks Karesidenan Surakarta, dan bagaimana dampak implementasi pembiasaan terhadap karakter dan prestasi siswa pada Pendidikan Pasraman Non Forma di Eks Karesidenan Surakarta. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji dari rumusan masalah supaya bermanfaat secara teoritis maupun praktis dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, observasi, partisipan dan kepustakaan. Penelitian ini mengunakan teori pembiasaan klasik untuk membedah rumusan masalah 1, teori pembentukan karakter digunakan untuk membedah rumusan masalah 2, dan teori dampak untuk membedah rumusan masalah 3. Sehingga dapat ditarik simpulan jenis pembiasaan antara Pasraman satu dengan yang lainnya bisa ada beberapa yang sama, juga ada jenis pembiasaan yang berbeda, dalam implementasi pembiasaan juga ada yang sama dan ada yang berbeda, dalam arti ada yang rajin, kurang raji, fokus, lebih fokus, dan kurang fokus, bahkan ada yang rutin, telaten, tepat waktu sesuai jadwal yang ditentukan namun ada juga yang kurang disiplin, sehingga dampaknya juga berbeda terhadap peningkatan karakter dan prestasi siswa pada Pendidikan Pasraman Non Formal di Eks Karesidenan Surakarta. i
Strategi Orang Tua Dalam Mendidik Agama Hindu Pada Anak Pada Keluarga Pasca Sudhiwadani Sujaelanto
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.266

Abstract

Setiap orang tua dalam keluarga Hindu berkewajiban memberikan pendidikan agama Hindu pada anak di keluarga. Setiap orang tua memiliki kedalaman pengetahuan agama Hindu yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebabkan beberapa factor antara lain latar belakang pendidikan agama orang tua, pekerjaan, budaya, lingkungan dan sudhiwadani. Sudhiwadani adalah upacara Hindu sebagai azas legalitas formal menjadi penganut agama Hindu. Parisada Hindu Kota Semarang pernah melakukan Sudhiwadani kepada sesorang yang berstatus bujangan, sudhiwadani kepada salah satu calon pasangan penganten dan sudhiwadani kepada satu keluarga (ayah, ibu dan anak). Pelaksanaan sudhiwani yang terkahir sangat unik dan akan berdampak kepada proses pendidikan agama Hindu. Permasalahan yang dihadapi oleh keluarga yang baru melaksanakan sudhiwani adalah permasalahan pengetahuan agama Hindu untuk dirinya sendiri dan permasalahan pengetahuan agama Hindu terhadap anak-anaknya. Untuk menanggulangi permasalahan pendidikan agama Hindu kepada anakanaknya, orang tua memiliki strategi yang dilakukan agar anak-anaknya yang baru memeluk agama Hindu menjadi lebih yakin dan mantap. Dalam artikel ini akan dibahas Bagaimana Strategi Orang Tua Dalam Mendidik Agama Hindu Pada Anak pada Keluarga Pasca Sudhiwadani. Dari hasil data dan analisa yang ditemukan bahwa strategi yang dilakukan orang tua yang melakukan sudhiwani adalah pertama Strategi Keteladanan, strategi ini dilakukan dengan sengaja dan tidak dalam bentuk perbuatan, dan perkatan yang dilakukan di dalam rumah tangga, di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, komunitas Hindu dan di pura. Keteladanan orang tua wujudkan dengan cara perpakaian sembahyang, punia, pengucapan panganjali, melakukan ritual agama. Kedua Strategi Bercengkrama, strategi ini dilakukan orang tua dengan media obrolan/percakapan menyenangkan, bersenda-gurau antara anak dengan orang tua yang dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah dan diselingi memasukan nasehat nilai agama secara tak terstrukur. Ketiga Strategi Mendorong dalam Kegiatan Keagamaan, strategi ini dilakukan dalam bentuk emansipasi orang tua dalam segala kegiatan keagamaan di pura. Keempat Strategi Pemberian Reeward, strategi ini dilakukan orang tua dalam bentuk respon berupa barang atau bentuk lain sebagai imbalan karena telah mampu menghafal doa-doa, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, mau bersosialissai bersama teman-teman sebaya di pura.
DHARMASANTI AGEN PEMBELAJARAN Sujaelanto
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 2 (2024): Widya Aksara
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i2.274

Abstract

Abstrak Dharmasanti adalah rangkaian kegiatan hari suci Nyepi oleh umat Hindu di Indonesia. Pelaksanaan dharmasanti menyesuaikan dengan tingkatan dan kondisi umat Hindu. Dharmasanti merupakan kegiatan keagamaan Hindu yang bersifat profan yang didalamnya sarat sumber nilai pendidikan. Nilai pendidikan tidak serta merta diperoleh hanya dari pendidikan formal, tetapi dapat diperoleh disetiap saat, termasuk kegiatan dharmasanti yang kaya akan sumber pembelajaran. Apakah kegiatan dharamsanti di Jenawi menjadi agen pembelajaran Hindu. Penelitian ini dilakukan pada saat acara dharmasanti di Jenawawi Karanganyar pada bulan April 2024. Data diperoleh menggunakan observasi dan di analisis dengan teori social kognitif. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah Dharmasanti adalah metode pembinaan umat Hindu melalui kegiatan hari Nyepi. Rangkaian acara dharmasanti umat Hindu Jenawi meliputi pengisian melodi seni, penampilan tari, pembacaan weda wakya, melagukan Indonesia raya, pengucapan ikrar, sambutan dan dharmawaca. Rangkaian acara dharmasanti tidak saja disajikan untuk melengkapi kegiatan secara formal dan ritual, tetapi nilai-nilai terkandung disetiap sesi acara memberikan motivasi dan inspirasi umat Hindu dalam menjalankan sradha dan bakti kepada Tuhan, negara dan sesamanya. Peran dharmasanti sebagai agen pembelajaran Hindu adalah sebagai fasilitator, motivator, pemberi inpirasi pembelajaran umat Hindu di Jenawai. Dharmasanti sebagai tempat untuk bersimakrama (silaturami) umat Hindu dengan para tokoh umat Hindu serta pemimpin wilayah untuk melaksanakan dharma agama dan dharma negara.
PEDHANYANGAN OMAH SIMBOL BHAKTI UMAT HINDU DESA LINGGOASRI KECAMATAN KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN Sujaelanto; Awikoro Wartono
Jawa Dwipa Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/jd.v5i1.81

Abstract

Pedanyangan Omah sebagai sarana umat Hindu Linggoasri dalam mewujudkanharmonisasi antara manusia dengan alam. Dalam usaha meningkatkan pemahaman ajaranagama, masyarakat Hindu Linggoasri membangun Pedanyangan Omah. Bagaimana bentuk,makna dan fungsi Pedanyangan Omah di desa Linggoasri Kecamatan Kajen KabupatenPekalongan? Penelitian ini dirancang dengan metode kualitatif dengan Analisa teori teori religi.Hasil Penelitian ini menyimpulkan Pedhanyangan Omah adalah suatu bangunan suci yangdibuat melalui prosesi ritual yang berada di pekarangan rumah dipergunakan untukmenghormati roh sebagai cikal bakal yang mampu memberikan energi positif yang terkendali.Bentuk pedhanyangan omah secara fisik adalah berbentuk sangat sederhana, sederhana, semipermanen dan permanen. Pedahanyangan omah memiliki fungsi sebagai tempat untukpemujaan secara rutin dan insidentil umat Hindu Linggoasri yang memiliki kekuatan positifyang terhubung secara vertical dengan areal wilayah/desa. Pedhanyangan omah dipergunakansebagai tempat pemujaan roh leluhur sebagai cikal bakal yang menempati wilayah yangdipercayai memiliki pengaruh yang cukup kuat. Pedhanyangan omah merupakan bagian tata kehidupan upacara keagamaan Hindu Linggoasri dalam mewujudkan keharmonisan denganlingkungan tempat tinggal.
TRADISI SLAMETAN PENGELING-ELING MASYARAKAT HINDU KABUPATEN BLITAR: PRAKTEK HARMONISASI DENGAN LELUHUR Sujaelanto
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 1 (2025): Maret
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i1.308

Abstract

Death is a certainty experienced by every living creature, including humans. In the Hindu belief system, the Spirit that leaves the physical body will be followed by its karma wasana and will have an impact on rebirth (punarbawa). The process of the spirit's journey after leaving the physical body, for Hindus in Blitar will be given respect through a thanksgiving. The death thanksgiving begins on the first day of death until the thousandth day, and some people still continue the death thanksgiving after a thousand days, which is known as the pengeling-eling thanksgiving which has no end. This phenomenon is the reality of the Hindu community in Blitar Regency in carrying out the teachings of pitra yadnya. The Selamten tradition is one of the rituals of people aimed at asking for safety in the form of a feast event. The salvation ritual becomes the soul in the lives of Javanese Hindus. Pengeling eling is a death thanksgiving ritual after the thousand-day thanksgiving event and is carried out to coincide with the pancawara, sapta wara and sasih days of death. The series of pengeling-eling includes nyekar, offerings and a feast event. The Nyekar event is held at the grave by scattering flowers and boreh and reciting prayers to the ancestors using Javanese. The offerings event is held before the kenduri procession which is held in a certain place by offering various foods, drinks and prayers carried out by one of the family representatives. The kenduri event is the peak event of the southern pengeling-eling. Kenduri invites close neighbors to witness the pengeling-eling. Prayers are read by the tukang ujub and after finishing reciting the prayers, the offerings given by the prayer are divided equally to the guests who are present to be eaten together and the sides are taken home in the form of blessings. The series of pengeling-eling events include various flower, fruit, drink and food facilities complete with ingkung arranged into an ambeng. The pengeling-leing celebration facilities are a reflection of pitra yadnya in Hindu teachings. The completeness of the facilities used in the pengeling-eling event is only as a mediation for spiritual communication between the living family and the deceased. Verbal communication is carried out by reciting the pengeling-eling prayers.
MEMBANGUN KEBERSAMAAN UMAT HINDU KABUPATEN BLITAR Sujaelanto
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.324

Abstract

Religion is not only a guide for each person's personal life but also serves as a social glue for socio-religious life in society. However, in reality, religion also contributes to conflict and division when its teachings are interpreted in an incomprehensible manner. In today's world, the wealthy, who should be helping, instead expect to be helped. The Hindu concept of "punia" teaches us to give a portion of our wealth so that others can enjoy it. Is giving part of one's possessions based on religious obedience or is there something else that motivates someone to give "punia"? This paper will present how the social dimension of "punia" fosters unity among Hindus in Blitar Regency. This issue is analyzed and explained using semiotic theory. The analysis reveals that "punia" is a teaching with both social and spiritual dimensions. Socially, "punia" fosters attitudes and behaviors that care for the needs of others. Spiritually, "punia" serves as self-control against greed. Based on this concern, Hindus voluntarily donate a portion of their wealth for social purposes greater than their own. Offerings of alms (punia) are given to groups or individuals in need or underprivileged, but are also undertaken as an effort to meet the needs of socio-religious activities and/or to build social and religious facilities. Offerings are not only material but can also be expressed through labor, knowledge, skills, moral encouragement, and sense control. Offerings are carried out based on religious teachings and humanitarian values. The awareness and concern for offering alms (punia) among Hindus demonstrates the community's enthusiasm for practicing religious teachings.