Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Konsep Manusia Baru Di Dalam Kristus Berdasarkan Surat Efesus 4:17-32 H Hendi; Tiopan Aruan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 1 (2020): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.155 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i1.154

Abstract

The Concept of a New Man in Christ Based on Ephesians 4:17-32. This article discusses the new man in Christ through a syntactic and semantic approach to text analysis, namely the focus on the text itself, interactions with other texts, and the writings of the Church Fathers. Only those who wear the new humanity that comes from Christ can become new human. The new human consists of soul and body which is in the new humanity. Humanity in Christ is the humanity of Adam renewed by Christ by dying on the cross, buried, and rising from the dead so that Christ has provided a new container that is humanity universally new. This new humanity is universal salvation which is a kind of clothing for every individual. Wearing new humanity or Christ's clothes becomes individual salvation. When we wear the clothes of Christ, we become new people so that our souls and bodies or our whole lives are in the new humanity. The soul and body that is in this new humanity are now continuing to process or be renewed towards a soul and body like Christ. How? That is fighting sin and doing love both spiritually and physically. Konsep Manusia Baru Di dalam Kristus Berdasarkan Surat Efesus 4:17-32. Artikel ini membahas tentang manusia baru di dalam Kristus melalui pendekatan analisis teks secara sintaksis dan semantis yaitu fokus pada teks itu sendiri, interaksi dengan teks-teks lain dan tulisan para Bapa Gereja. Hanya orang Kristen yang mengenakan kemanusiaan baru yang berasal dari Kristus yang dapat menjadi manusia baru. Manusia baru terdiri dari jiwa dan tubuh yang berada di dalam kemanusiaan baru. Kemanusiaan di dalam Kristus adalah kemanusiaan Adam yang diperbarui oleh Kristus dengan jalan Yesus mati di atas kayu salib, dikubur, dan bangkit dari kematian sehingga Kristus telah menyediakan suatu wadah baru yaitu kemanusiaan baru secara universal kepada manusia. Kemanusiaan baru adalah keselamatan universal yang menjadi semacam pakaian untuk dikenakan bagi setiap individu. Memakai kemanusiaan baru atau pakaian Kristus menjadi keselamatan individu. Ketika orang Kristen mengenakan pakaian Kristus dan menjadi manusia baru, sehingga jiwa dan tubuh serta seluruh hidup ada di dalam kemanusiaan baru. Jiwa dan tubuh yang ada di dalam kemanusiaan baru ini sekarang terus berproses atau diperbarui menuju jiwa dan tubuh seperti Kristus. Bagaimana caranya? Yaitu melawan dosa dan melakukan kasih baik secara jiwai dan badani.
Nilai-nilai Karakter Hamba Tuhan Berdasarkan Surat Titus 1:5,8 Lawolo, Aprianus; Aruan, Tiopan
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 5 No. 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v5i1.263

Abstract

In this increasingly advanced world, the role of pastors is crucial. They must be extra striving to shepherd their congregation. However, today there are more or less servants of God who actually live in sin. One of them is in the sin of sexual harassment. This will cause the congregation to find it very difficult to trust the current pastor. And this will actually affect the growth of their faith. To answer the above problems, the author uses a qualitative descriptive method with a literature study approach. The results of the study show that the pastor can carry out his duties well and with integrity by maintaining a wise, fair character, and also maintaining the holiness of his own life.
Kemitraan Gereja dan Pemerintah dalam Menangani Kaum Lemah di Indonesia: Tinjauan Biblikal atas Keluaran 22:21-27 Djabu, Risno; angelina, claudia; Aruan, Tiopan; Batawi, Ardians
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 4 No. 2 (2024): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v4i2.88

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gereja di Indonesia dalam mengatasi kesenjangan sosial dan kemiskinan, dengan fokus pada kemitraan dengan pemerintah. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan eksegesis terhadap Keluaran 22:21-27, penelitian ini mengungkap dimensi teologis yang mendasari keterlibatan gereja dalam isu-isu sosial. Analisis ini mengintegrasikan kajian konteks historis, struktural, dan implikasinya bagi konteks Indonesia kontemporer. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi original dalam pengembangan model kemitraan yang inovatif antara gereja dan pemerintah, serta memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih efektif dalam memberdayakan kelompok-kelompok marginal.
Perbandingan Sejarah Gereja Ortodoks dan Katolik: Asal-usul dan Perkembangannya Wau, Sofiana Desraini; Aruan, Tiopan; Batawi, Adrians
Jurnal Teologi dan Pelayanan Kerusso Vol 10 No 1: Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso - Maret 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33856/kerusso.v10i1.455

Abstract

This article analyzes and compares the history of the Orthodox and Catholic Churches, focusing on the historical background, theological developments, and the social impact of the Great Schism in the 11th century. The research employs a comparative approach to analyze the theological, administrative, and cultural differences that led to the division between the two churches. The findings of this study indicate that although the Orthodox and Catholic Churches share common roots in Christian tradition, key theological differences, such as the Filioque doctrine and the authority of the Pope, have shaped two distinct church identities, each evolving in different social and political contexts. This analysis also reveals the long-term impact of the schism on Christian communities worldwide.
Tracing the Footsteps of Women in the Early Church: Their Role and Disengagement in Church History Mautuka, Maria Sonya; Aruan, Tiopan
MAHABBAH: Journal of Religion and Education Vol 5, No 2 (2024): MAHABBAH: Journal of Religion and Education, Vol.5, No.2 (July 2024)
Publisher : Scriptura Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47135/mahabbah.v5i2.128

Abstract

Women played a crucial role in the development of the early church, yet their tangible contributions have often been ignored or hidden within the official narratives of church history. This article seeks to trace the roles of female congregants such as Phoebe, Priscilla, Lydia, and others who served as house church leaders, ministers, and missionary partners in early Christian communities. Through a historical-critical approach, engagement with primary and secondary literature, and contextual hermeneutical analysis, this study exposes the patriarchal bias embedded in church historiography and offers a theological correction. It is hoped that this research will provide a theological reflection for the contemporary church to be more inclusive of women’s leadership, so that the legacy of early Christian women can inspire today’s church to build a more just and equitable community.
Teologi Sapaan: Pelayanan Non-Verbal sebagai Pewartaan Firman Tuhan di Gereja Kontemporer Tiopan Aruan
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.671

Abstract

This research is motivated by the tendency of the contemporary church to identify ministry primarily with pulpit activities and verbal proclamation, thus neglecting non-verbal expressions such as greetings, smiles, and interpersonal presence. Several studies on Christian hospitality have emphasized ethical and communal aspects, but have not specifically examined non-verbal ministry as a form of evangelism within a practical theological framework. The method used is a qualitative-descriptive approach through literature studies, with practical theology as an interpretive framework for understanding church practices as a locus of theological reflection. This research aims to build a theological understanding of non-verbal ministry as an integral part of evangelism in the contemporary church. The results show that non-verbal ministry, such as friendly greetings and church hospitality, is not merely a form of social ethics, but a theological action that concretely communicates God's love in interpersonal relationships. Furthermore, this form of ministry serves as the starting point for faith encounters, where individuals first experience the presence of the church and the Gospel message, even before hearing the verbal proclamation.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan gereja kontemporer yang mengidentikkan pelayanan terutama dengan aktivitas mimbar dan pewartaan verbal, sehingga mengabaikan ekspresi non-verbal seperti sapaan, senyuman, dan kehadiran interpersonal. Sejumlah studi mengenai hospitalitas Kristen telah menekankan aspek etis dan komunal, namun belum secara khusus mengkaji pelayanan non-verbal sebagai bentuk pewartaan Injil dalam kerangka teologi praktis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, dengan teologi praktis sebagai kerangka interpretatif untuk memahami praktik gerejawi sebagai lokus refleksi teologis. Penelitian ini bertujuan untuk membangun pemahaman teologis mengenai pelayanan non-verbal sebagai bagian integral dari pewartaan Injil dalam gereja kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan non-verbal, seperti sapaan yang ramah dan hospitalitas gerejawi, bukan sekadar bentuk etika sosial, melainkan tindakan teologis yang secara konkret mengomunikasikan kasih Allah dalam relasi antarpribadi. Lebih lanjut, bentuk pelayanan ini berfungsi sebagai titik awal perjumpaan iman, di mana individu pertama kali mengalami kehadiran gereja dan pesan Injil, bahkan sebelum mendengar pewartaan verbal.
Yudas Iskariot dan Narasi Pengampunan: Menggugat Finalitas Penghakiman dalam Tradisi Kristen Tiopan Aruan
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.1778

Abstract

Abstract. The figure of Judas Iscariot has historically been labeled as a symbol of failure, betrayal, and eternal damnation. In many Christian traditions, the narrative of Judas Iscariot concludes with the final judgment, leaving no room for restoration or forgiveness. This article intends to challenge that understanding through a narrative approach and a hermeneutic of forgiveness, by re-examining the story of Judas Iscariot from theological, ethical, and pastoral perspectives. It compares the responses of remorse shown by Judas Iscariot and Peter, while also exploring insights from theologians such as Karl Barth, David Bentley, and Miroslav Volf. Thus, this paper highlights the possibility of forgiveness within God's plan of salvation—even for the “son of perdition.”Abstrak. Tokoh Yudas Iskariot secara historis telah dilabel sebagai simbol kegagalan, pengkhianatan, dan kebinasaan kekal. Dalam banyak tradisi Kristen, narasi tentang Yudas Iskariot berujung pada finalitas hukuman, tanpa ruang untuk pemulihan atau pengampunan. Artikel ini berupaya menantang pemahaman tersebut melalui pendekatan naratif dan hermeneutika pengampunan, dengan menelaah kembali kisah Yudas Iskariot secara teologis, etis, dan pastoral, dan dengan membandingkan respons penyesalan Yudas Iskariot dan Petrus serta mengeksplorasi pemikiran dari teolog-teolog seperti Karl Barth, David Bentley, dan Miroslav Volf. Dengan demikian, tulisan ini menyoroti kemungkinan adanya ruang pengampunan dalam rencana keselamatan Allah, bahkan bagi “anak kebinasaan” sekalipun.
Reformasi dan Revolusi:: Warisan Martin Luther Dalam Transformasi Kekristenan Barat dan Implikasinya bagi Teologi Kontekstual di Indonesia Waruwu, Damica Albertina; Aruan, Tiopan
Jurnal Silih Asah Vol. 3 No. 2 (2026): Agustus: Jurnal Silih Asah
Publisher : LPPM - STT Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/silihasah.v3i2.128

Abstract

Artikel ini mengulas tentang Reformasi yang diprakarsai oleh Martin Luther pada abad ke-16 dan dampaknya terhadap perkembangan Kekristenan di Barat serta implikasinya untuk teologi kontekstual di Indonesia. Reformasi timbul sebagai reaksi terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi di Gereja Katolik, khususnya praktik penjualan indulgensi dan penyalahgunaan kekuasaan gereja. Melalui 95 Dalil yang diterbitkan pada tahun 1517, Luther menegaskan bahwa keselamatan diperoleh melalui iman, Alkitab sebagai sumber otoritas, dan anugerah Tuhan menjadi landasan ajaran Kristen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Reformasi menghasilkan tradisi Protestan dan membawa perubahan signifikan di bidang teologi, pendidikan, sosial, dan budaya. Selain itu, prinsip-prinsip Reformasi tetap memiliki relevansi bagi gereja di Indonesia dalam upaya menjaga otoritas Alkitab, memperbaharui pelayanan gereja, dan mengembangkan teologi kontekstual yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang beragam. Dengan demikian, warisan dari Reformasi Martin Luther masih memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan gereja dan teologi di Indonesia.