Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Penerimaan Diri Ibu Anak Down Syndrome Melalui Bimbingan Keagamaan Di Desa Sekar Biru Yanasari, Pebri
Counselle| Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol. 5 No. 1 (2025): Counselle: June 2025
Publisher : Department of Islamic Guidance and Counseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/4wzgg171

Abstract

The results of this study are: 1) Islamic The results of this study are: 1) Islamic religious guidance followed by mothers who have children with Down Syndrome has an important role in providing psychological and emotional support. This guidance is carried out through religious studies, religious study groups, individual consultations and social activities, self-reflection, and religious studies organized by local religious figures. This activity helps mothers understand that every child is a mandate from Allah and has its own special qualities; 2) The benefits of Islamic religious guidance for self-acceptance of mothers who have children with Down Syndrome provide various significant benefits. Through this guidance process, mothers not only gain religious knowledge, but also emotional and social support which is very important in self-acceptance of mothers. These benefits include: increased spiritual understanding, providing much-needed emotional support, being more active in spiritual practices, such as praying and dhikr, changes in mothers' attitudes and perceptions of their children, providing mothers with new skills in childcare, and family involvement. This research uses a qualitative approach that focuses on understanding phenomena, actions, and behaviors through the presentation of descriptive data in the form of words or writing. KEYWORDS: Maternal Self-Acceptance, Child Down Syndrome, Religious Guidance
The impact of merarik kode' on women's educational Trajectories in Central Lombok Yanasari, Pebri; Pratiwi, Aisyah; Kusniati, Endang; Abdullah, Muhammad Saffuan
INTERNATIONAL JOURNAL OF CHILD AND GENDER STUDIES Vol 12 No 1 (2026)
Publisher : UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/equality.v12i1.33859

Abstract

This study analyzes marriage practices within the merarik culture (merarik kode’) among Sasak women in Pejanggik Village, Central Lombok, using the Harvard Gender Analysis Framework and Walby’s theory of patriarchy. The study focuses on understanding how early marriage within this cultural tradition influences women’s educational experiences and gender relations in everyday life. This research employed a descriptive qualitative approach with purposive sampling to select participants who had experienced marriage through the merarik tradition. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving Sasak women who married at a young age as well as local stakeholders. The collected data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, including data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that women who experience merarik kode’ often live within unequal gender relations in which domestic responsibilities are assigned to them despite participation in income-generating activities. Their autonomy and access to resources are restricted, as many decisions require approval from their husbands. In addition, early marriage significantly affects women’s educational trajectories. Many women are forced to drop out of formal schooling, face difficulties in continuing equivalency education, and experience limited access to information and knowledge development. These limitations also influence their capacity in parenting and child education. This study highlights that early marriage within the merarik cultural context contributes to educational inequality and limits women’s opportunities for empowerment and social mobility. Therefore, culturally sensitive educational programs and community-based interventions are needed to increase awareness of women’s education and reduce early marriage practices.
Strategi Komunikasi Pemasaran Dalam Mempertahankan Eksistensi Lembaga Penyiaran Radio di Wilayah Bangka Safril; Yera Yulista; Pebri Yanasari; Muflihatul Kamila
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2419

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga penyiaran radio dalam mempertahankan eksistensinya di wilayah Bangka. Di tengah gempuran era digital yang terus mengalami perkembangan, media tradisional radio ini sedang menghadapi tantangan besar dalam upaya mempertahankan audiensnya.oleh sebab ituy, penting bagi lembaga penyiaran radio untuk menerapkan strategi pemasaran yang efektif sehingga dapat menarik perhatian para pendengar. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah  pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada beberapa stasiun radio di wilayah Bangka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan penyiar, pengelola, staf radio, yang juga disertai dengan dokumentasi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran yang efektif dengan melakukan pendekatan yang melibatkan pihak radio dengan klien dan para pendengar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengelola radio dalam merancang strategi pemsaran yang tepat sehingga dapat memeprtahankan eksistensi di tengah persaingan media yang semakin ketat.
Pendekatan Antropologi dalam Penelitian Agama bagi Sosial worker pebri yanasari
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v4i2.5450

Abstract

Kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekadar menjadi lambang kesalehan atau berhenti Sekedar disampaikan dalam kotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teori normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.Pendekatan antropologi adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Maka dengan pendekatan ini, problematika dalam agama terlihat jelas. Dengan pendekatan ini pula kita bisa mendeskripsikan masalah-masalah yang fenomenal. Antropologi pada hakikatnya membahas mengenai pembahasan budaya manusia. Namun dalam budaya, terdapat unsur yang sangat melekat yaitu agama. Tak heran jika agama merupakan salah satu yang unik dimata para antropolog. Karena banyak ritual keagamaan yang menyatu dengan budaya manusia.Pendekatan antropologi yang berkaitan dengan penelitian agama, mampu mewujudkan masyarakat sosial yang berkarakter sesuai dengan yang dituangkan dalam setiap agama. Dalam hubungan ini, maka seorang pekerja sosial tidak dapat melepaskan diri dari situasi kehidupan masyarakat dan agama. Untuk itu, seorang social worker harus membantu masyarakat agar mampu menggunakan penelitian agama dalam pendekatan antropologi.
Implikasi Emotionally Freedom Tehnique untuk Mengatasi Kecemasan Santri dalam Public Speaking di Pesantren Pulau Bangka Nurviyanti Cholid; Wahyudi; Pebri Yanasari; Yogi Christian; Iza Zumrotul Zahro
CONS-IEDU: Jurnal Program Studi Bimbingan Dan Konseling Islam Vol 6 No 1 (2026): CONS IEDU
Publisher : Program Studi Bimbingan Konseling Islam, Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan, Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/cons.v6i1.2413

Abstract

Problem: The ability to speak (muhadharah) is a mandatory competency in Islamic boarding schools, but many students on Bangka Island experience psychological barriers in the form of excessive anxiety (stage fright). This anxiety manifests in physical symptoms and loss of concentration when speaking in public. Objective: This community service activity aims to equip students with the independent technique of Emotional Freedom Technique (EFT) to reduce the intensity of anxiety and increase self-confidence when performing public speaking. Method: The implementation of the activity uses a participatory training method that includes three stages: (1) Socialization of the concept of energy psychology and anxiety mechanisms; (2) Independent practice of tapping techniques on 18 meridian points of the body; and (3) Post-intervention speech simulation assistance. The target of the service is middle-level students at one of the Islamic boarding schools on Bangka Island. Results: This activity succeeded in increasing students' understanding of emotional management by 85%. Based on self-evaluation, the majority of students reported a decrease in physical symptoms of anxiety (such as cold sweats and tremors) after practicing EFT. Students now have a self-help tool they can use anytime before stepping onto the pulpit. Conclusion: The implementation of EFT has positive implications as a practical and effective solution for overcoming students' psychological barriers. It is recommended that Islamic boarding school administrators adopt this program as part of their extracurricular da'wah activities to optimize students' rhetorical potential.Keywords: Emotional Freedom Technique, Speaking Anxiety, Public Speaking, Students, Community Service.