Ahmad Djojosugito
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh dengan Range of MotionSendi Panggul dan Lutut Tarisya Salsabila Putri Asmara; M. Ahmad Djojosugito; Sandy Faizal
Jurnal Riset Kedokteran Volume 3, No.1, Juli 2023, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.vi.1876

Abstract

Abstract. Body mass index (BMI) is a metric currently used to define anthropometric height or weight characteristics in adults. The range of motion (ROM) is the full motion potential of the joint, usually the flexion range and extension. The hip joint is an inferior limb joint. While the knee joint is the largest joint and the superficial joint. It can be known that there is an influence of BMI on the ROM of a human being, especially on the joints of the hip and knees. It is also commonly known that medical students carry out their lecture activities in a sitting position for a long period of time. This can trigger weight gain, thus reducing the ROM of the student. This study aims to determine the connection between BMI and ROM of the hip and knee joints in UNISBA Medical Faculty students. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Sampling in this study used the consecutive sampling method and respondent calculations were carried out using a correlation analytical formula, a minimum of 39 respondents were obtained by students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University and this study has received ethical approval 146 / KEPK-Unisba / V / 2022. This research data was taken from the primer in the form of questionnaires and measurements of degrees in the joints of each student who was a respondent. The results of the research were obtained based on statistical tests, the p value was 0.004 (p < 0.05), which means that there is a relationship between Body Mass Index and knee joint ROM in students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University Class of 2019. Abstrak. Indeks massa tubuh (IMT) adalah metrik yang saat ini digunakan untuk mendefinisikan karakteristik tinggi atau berat antropometrik pada orang dewasa. Range of motion (ROM) merupakan potensi gerakan penuh sendi, biasanya rentang fleksi dan ekstensi. Sendi panggul merupakan suatu sendi ekstremitas inferior. Sedangkan sendi lutut merupakan sendi terbesar dan sendi yang superfisial. Dapat diketahui terdapat pengaruh dari IMT ke ROM seorang manusia khususnya pada sendi bagian pinggang dan lutut. Biasa di ketahui juga mahasiswa kedokteran melakukan kegiatan perkuliahannya dengan posisi duduk dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat memicu penaikan berat badan sehingga mengurangi ROM dari mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan ROM sendi panggul dan lutut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode consecutive sampling dan dilakukan perhitungan responden menggunakan rumus analitik korelasi, didapatkan minimal responden sebanyak 39 mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Bandung dan penelitian ini sudah mendapatkan persetujuan etik 146/KEPK-Unisba/V/2022. Data penelitian ini diambil dari dari primer berupa kuesioner dan pengukuran dari derajat pada sendi setiap mahasiswa yang menjadi responden. Hasil dari peneltian didapatkan berdasarkan dengan uji statistik didapatkan nilai p value ialah 0,004 (p < 0,05) yang berarti terdapat Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan ROM sendi lutut pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019.
Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh dengan Range of MotionSendi Panggul dan Lutut Tarisya Salsabila Putri Asmara; M. Ahmad Djojosugito; Sandy Faizal
Jurnal Riset Kedokteran Volume 3, No.1, Juli 2023, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.vi.1876

Abstract

Abstract. Body mass index (BMI) is a metric currently used to define anthropometric height or weight characteristics in adults. The range of motion (ROM) is the full motion potential of the joint, usually the flexion range and extension. The hip joint is an inferior limb joint. While the knee joint is the largest joint and the superficial joint. It can be known that there is an influence of BMI on the ROM of a human being, especially on the joints of the hip and knees. It is also commonly known that medical students carry out their lecture activities in a sitting position for a long period of time. This can trigger weight gain, thus reducing the ROM of the student. This study aims to determine the connection between BMI and ROM of the hip and knee joints in UNISBA Medical Faculty students. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Sampling in this study used the consecutive sampling method and respondent calculations were carried out using a correlation analytical formula, a minimum of 39 respondents were obtained by students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University and this study has received ethical approval 146 / KEPK-Unisba / V / 2022. This research data was taken from the primer in the form of questionnaires and measurements of degrees in the joints of each student who was a respondent. The results of the research were obtained based on statistical tests, the p value was 0.004 (p < 0.05), which means that there is a relationship between Body Mass Index and knee joint ROM in students of the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University Class of 2019. Abstrak. Indeks massa tubuh (IMT) adalah metrik yang saat ini digunakan untuk mendefinisikan karakteristik tinggi atau berat antropometrik pada orang dewasa. Range of motion (ROM) merupakan potensi gerakan penuh sendi, biasanya rentang fleksi dan ekstensi. Sendi panggul merupakan suatu sendi ekstremitas inferior. Sedangkan sendi lutut merupakan sendi terbesar dan sendi yang superfisial. Dapat diketahui terdapat pengaruh dari IMT ke ROM seorang manusia khususnya pada sendi bagian pinggang dan lutut. Biasa di ketahui juga mahasiswa kedokteran melakukan kegiatan perkuliahannya dengan posisi duduk dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat memicu penaikan berat badan sehingga mengurangi ROM dari mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan ROM sendi panggul dan lutut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode consecutive sampling dan dilakukan perhitungan responden menggunakan rumus analitik korelasi, didapatkan minimal responden sebanyak 39 mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Bandung dan penelitian ini sudah mendapatkan persetujuan etik 146/KEPK-Unisba/V/2022. Data penelitian ini diambil dari dari primer berupa kuesioner dan pengukuran dari derajat pada sendi setiap mahasiswa yang menjadi responden. Hasil dari peneltian didapatkan berdasarkan dengan uji statistik didapatkan nilai p value ialah 0,004 (p < 0,05) yang berarti terdapat Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan ROM sendi lutut pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019.
A Scoping Review : Hubungan Antara Konsumsi Kopi terhadap Mood pada Orang Dewasa Muhamad Hasanudin Nasrullah; Mujtahid Ahmad Djojosugito
Jurnal Riset Kedokteran Volume 2, No.2, Desember 2022, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.vi.1464

Abstract

Abstract. Coffee (coffea) is the second most traded commodity product after vegetable oil, and is the most consumed beverage product in the world after water. Coffee consumption is synonymous with an increase in energy, where at present the increase in energy is known as central nervous system (CNS) stimulation. Coffee consumption also affects mood, such as increasing alertness, pleasure, concentration, and relaxation are very important for successful performance, safety and work productivity. Research objective: To determine the relationship between coffee consumption and mood in adults. Research method: scoping review by identifying, analyzing and evaluating a scientific paper according to inclusion and exclusion criteria and screening using eligibility criteria (elegible). Research results: Contains descriptions of research articles that have been reviewed (3 articles) which include eligible criteria, the first article results in coffee being more effective than placebo, the second article results in 1 compound in coffee which gives a less than optimal effect if consumed pure without other compounds in coffee, the third article showed that the higher the caffeine, the more significant the effect on mood. Conclusion: All three articles showed positive results between coffee consumption and mood, however in all three studies, caffeine metabolism in the body of all samples was not measured. While everyone's caffeine metabolism is different and may have different effects, genetic factors must also be considered. Abstrak. Kopi (coffea) merupakan produk komoditas kedua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak nabati, dan menjadi produk minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air. Konsumsi kopi identik dengan peningkatan energi, dimana pada masa sekarang peningkatan energi itu dikenal dengan stimulasi sistem saraf pusat (SSP). Konsumsi kopi pun berpengaruh pada mood, seperti meningkatkan kewaspadaan, rasa senang, konsentrasi, dan relaksasi sangat penting untuk keberhasilan kinerja, keamanan dan produktivitas kerja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kopi dengan mood pada orang dewasa. Metode a scoping review, dengan bahan penelitian artikel dari jurnal internasional yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan memenuhi kriteria kelayakan (eligible). Artikel ini kemudian diseleksi menggunakan diagram PRISMA dengan mempertimbangkan Population orang dewasa yang berumur diatas 16 tahun, intervention konsumsi kopi, comparison tidak ditentukan, outcome mood, dan study observasional. Didapatkan 3 artikel yang memenuhi kriteria eligible yakni artikel pertama hasilnya kopi lebih efektif dari plasebo, artikel kedua hasilnya 1 senyawa dalam kopi memberikan efek yang kurang maksimal jika dikonsumsi murni tanpa senyawa lain yang ada dalam kopi, artikel ketiga hasilnya semakin tinggi kafein maka pengaruh pada mood semakin signifikan. Kesimpulan: Ketiga artikel menunjukan hasil yang positif antara konsumsi kopi terhadap mood, namun pada ketiga penelitian tersebut, metabolisme kafein pada tubuh dari semua sampel tidak diukur. Di mana metabolisme kafein pada setiap orang berbeda dan mungkin menyebabkan efek yang berbeda pula, faktor genetik juga harus dipertimbangkan.
Hubungan Postur Kerja dan Durasi Kerja terhadap Keluhan Neck Pain pada Pekerja di Kantor Diskominfo Sumedang Tahun 2023 Rifanny Pramesti; M. Ahmad Djojosugito; Febriana Kurniasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10328

Abstract

Abstract. Prolonged work with non-ergonomic work postures by computer-using workers, can cause Musculoskeletal strain. One of the MSDs associated with this condition is neck pain complaints caused by non-ergonomic work postures in a long duration, this can cause muscle tension. This study aims to determine the relationship between Work Posture and Work Duration on Neck Pain Complaints in Workers at the Diskominfo Office of Sumedang Regency in 2023. This study is a quantitative study with a cross-sectional approach. Respondents of this study were workers who worked in front of a computer for at least 4 hours a day as many as 60 people who met the inclusion and exclusion criteria. Primary data was collected using the ROSA and NDI questionnaires. The results of the study conducted a correlation test between the two variables using the Spearman's rho correlation (p) method, namely work posture with neck pain complaints obtained results (p = 0.000; r = 0.627) which means there is a significant relationship between the two variables and for work duration variables with neck pain complaints (p = 0.021; r = 0.297) which means there is a relationship between the two variables. Data obtained by researchers, 7 out of 60 respondents have work postures with a high risk index at risk of high neck pain index and 38 out of 60 respondents have a work duration of 6-8 hours. The results of the study indicate that there is a relationship between work posture and work duration with neck pain index. Abstrak. Pekerjaan yang lama dengan postur kerja yang tidak ergonomis oleh pekerja pengguna komputer, dapat menyebabkan ketegangan Musculoskeletal. Salah satu MSDs terkait dengan kondisi ini adalah keluhan neck pain yang disebabkan oleh postur kerja yang tidak ergonomis dalam durasi yang lama, hal ini dapat menyebabkan ketegangan otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Postur Kerja dan Durasi Kerja terhadap Keluhan Neck Pain pada Pekerja di Kantor Diskominfo Kab. Sumedang Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Responden dari penelitian ini adalah para pekerja yang bekerja di depan komputer minimal 4 jam sehari sebanyak 60 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner ROSA dan NDI. Hasil penelitian dilakukan uji korelasi antara kedua variabel menggunakan metode Spearman’s rho correlation (p) yaitu postur kerja dengan keluhan neck pain didapatkan hasil (p = 0.000; r = 0.627) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel dan untuk variabel durasi kerja dengan keluhan neck pain (p = 0.021; r = 0.297) yang artinya terdapat hubungan antara kedua variable. Data yang didapatkan peneliti, 7 dari 60 responden memiliki postur kerja dengan index risiko tinggi berisiko neck pain index tinggi dan 38 dari 60 responden memiliki durasi kerja 6-8 jam. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara postur kerja dan durasi kerja dengan keluhan neck pain pada pekerja di Kantor Diskominfo Kab. Sumedang Tahun 2023.
Pengaruh Faktor Orang Tua terhadap Kepatuhan Imunisasi Ardhana, Feri; Djojosugito, Ahmad; Garina, Lisa Adhia
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8309

Abstract

Abstract. Basic immunization is a crucial foundation for creating a healthy and productive society in the future. It plays a significant role in the scope of health services by protecting vulnerable infants from various diseases. According to the National Immunization Strategy 2020–2024, Indonesia targets a minimum of 90% coverage of complete basic immunization at the national level and at least 80% in all districts and cities. However, in reality, disparities in achieving these targets still exist. This study aims to analyze the relationship between parental education level, age, occupation, and income with compliance in providing complete basic immunization in the working area of Babakan Tarogong Public Health Center, Bandung City. The research employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. Data were collected through questionnaires distributed to 90 mothers who met the inclusion criteria. Data analysis was conducted using the spearman statistical test to assess the relationship between variables, utilizing the SPSS software. The results showed that the parents' level of education was significantly associated with compliance to basic immunization (p = 0.000), as was the mother's age (p = 0.042). This relationship indicates that the higher the mother's level of education and age, the more likely she is to comply with providing basic immunizations for her child. Abstrak. Imunisasi dasar merupakan fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif di masa depan. Imunisasi dasar berperan penting dalam cakupan layanan kesehatan yang berdampak pada terlindunginya bayi yang rentan terhadap segala jenis penyakit. Berdasarkan Strategi Nasional Imunisasi 2020–2024, Indonesia menargetkan minimal 90% cakupan imunisasi dasar lengkap pada tingkat nasional dan minimal 80% di semua kabupaten/kota. Namun, kenyataan di lapangan masih menunjukkan adanya ketimpangan dalam pencapaiannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan, usia, pekerjaan dan penghasilan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Babakan Tarogong, Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observational analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 90 ibu yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik spearman untuk menilai hubungan antara dua variabel dengan perangkat SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua memiliki hubungan dengan kepatuhan imunisasi dasar (p=0.000), begitu juga dengan usia ibu (p=0.042). Hubungan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan usia ibu, maka semakin patuh untuk melakukan imunisasi dasar kepada anaknya.