Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PEMANFAATAN BUAH LIMPASU (Baccaurea lanceolata) SEBAGAI PENGENTAL LATEKS ALAMI Leonard Julian Purnomo; Nuryati Nuryati; Fatimah Fatimah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 1 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.619 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v1i1.27

Abstract

Buah limpasu merupakan buah hutan khas Kalimantan yang belum banyak dimanfaatkan. Di wilayah Kalimantan buah limpasu memiliki beberapa nama, antara lain ampusu, asam pauh, buah lepasu, buah lipau, empawang, kalampesu, lampaung, lapahung, laptu, lipasu, tamasu, tampoi. Buah ini memiliki rasa masam, buahnya cukup banyak dan tidak mengenal musim. Sehingga memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif untuk koagulan lateks. Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan ekstraksi dari buah limpasu, hasil ekstraknya dikarakterisasi kandungan asam sitrat, densitas dan dihitung rendemennya. Aplikasi ekstraks limpasu digunakan untuk penggumapal lateks. Identifikasi dari pemakaian ekstrak limpasu sebagai pengental lateks meliputi lamanya waktu beku, perhitungan kadar karet kering, dan analisis kadar abu. Hasil menunjukkan bahwa dari ekstrak limpasu memiliki densitas 0,947 g/mL, kandungan asam asetat 2,79%, dan rendemen yang dihasilkan 48,77%. Pengaruh penggunaan koagulan terhadap karet yang dihasilkan meliputi waktu beku, kadar karet kering dan kadar abu. Penelitian ini menunjukkan waktu beku lateks yang dibutuhkan rata-rata 3 menit jika koagulan yang dipakai adalah ekstrak limpasu, kadar karet kering sebesar 30% dan kadar abu sebesar 0,86%.
PENGARUH PELILINAN LILIN LEBAH TERHADAP KUALITAS BUAH TOMAT (Solanum lycopersicum) Fatimah Fatimah; Erfanur Adlhani; Dwi Sandri
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.878 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v2i1.18

Abstract

Buah tomat (Solanum lycopersicum) merupakan buah yang hasilnya melimpah dan mempunyai umur simpan yang relatif pendek. Pelilinan pada buah merupakan salah satu metode dalam pengawetan produk hortikultura. Penelitian ini akan memanfaatkan lilin lebah madu dalam proses pelilinan pada buah tomat. Tujuan penelitian untuk mendapatkan formulasi pelilinan pada proses penyimpanan untuk buah tomat dan berbasis bahan baku lilin lebah madu. Perlakuan dalam pelilinan menggunakan lilin lebah madu dengan konsentrasi emulsi lilin masing-masing 2%, 4%, dan 6%. Berdasarkan uji sensoris, hasil penelitian menunjukkan bahwa pelilinan menggunakan emulsi lilin lebah madu, pelilinan dengan konsentrasi lilin 6% dapat mempertahankan mutu buah sampai hari ke-5.
Pembuatan Lipstik Alami Berbasis Ekstrak Kunyit (Curcuma longa L.) dan Kesumba Keling (Bixa orellana) sebagai Pewarna Alami Fatimah Fatimah; JARIAH JARIAH; Nuryati Nuryati
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 5 No 1 (2018): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.597 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v5i1.68

Abstract

Ekstrak kunyit (Curcuma longa L.) memiliki warna kuning dan kesumba keling memiliki warna jingga dapat digunakan sebagai bahan pewarna pada pembuatan lipstik alami. Lipstik dengan pewarna alami diperlukan untuk mengurangi ketergantungan akan pewarna sintetis dan keamanan bagi kesehatan kulit. Rancangan penelitian pada pembuatan lipstik alami adalah perbedaan konsentrasi pewarna dari campuran ekstrak kunyit dan kesumba keling. Metodepengujian yang dilakukan untuk lipstik ini yaitu uji kekuatan, uji oles, uji iritasi, dan uji stabilitas plastik. Hasil pengujian untuk uji kekuatan yaitu pada sampel lipstik dengan konsentrasi warna 2% sampel ini tidak patah. Sampel lipstik dengan konsentrasi warna 4% dan 6% menjadi patah. Uji oles untuk 4 kali oles menunjukkan semakin besar konsentrasi pewarna menghasilkan warna yang lebih jingga. Sedangkan olesan 5 kali dan 6 kali pada berbagai perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap warna lipstik yang dihasilkan yaitu jingga. Uji iritasi pada lipstik pada semua perlakuan tidak menghasilkan reaksi yaitu tidak menimbulkan kemerahan dan hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa panelis menyukai lipstik dengan nilai 4,8 dari skala penilaian 6. Uji stabilitas lipstik menunjukkan tekstur lipstik agak keras, warna menjadi jingga cerah dan baunya menjadi kurang berbau kunyit dan kesumba keling setelah didiamkan selama 4 minggu.
Kemampuan Tepung Talipuk (Nymphaea pubescens Willd) dalam Mensubstitusi Tepung Terigu Pada Kue Cookies Fatimah Fatimah; Ema Lestari; Dwi Sandri; Melisa Agustina
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.692 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v6i1.85

Abstract

Talipuk (Nymphaea pubescens Willd) plant is a local term for lotus plants that are plants that live in areas of swampland in South Kalimantan. This local commodity material may be substituted as an alternative to wheat flour and the potential for flour talipuk to be processed in the manufacture of cookies. The objective of this research is to get the best formulation ratio of flour talipuk in substituting wheat flour in cookies and to analyze the quality of cookies. Cook flour talipuk powder in substituting wheat flour is made with 5 different formulation compositions, 100% wheat flour and 0% flour talipuk, 75% wheat flour and 25% flour talipuk, 50% wheat flour and 50% flour talipuk, 25% wheat flour and 75% flour talipuk, 0% wheat flour and 100% flour talipuk. The results showed that based on organoleptic test, it was found that the best formulation composition was in the treatment of 100% flour talipuk with levels a water 0.88% and ash content of 1.44% has fulfilled SNI 01-2973-1992.
Pembuatan Sabun Padat Madu dengan Penambahan Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica) Fatimah Fatimah; Jamilah Jamilah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 5 No 2 (2018): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.12 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v5i2.74

Abstract

Sabun mandi adalah senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak, serta mengandung minyak dan lilin, dimana senyawa itu mengandung ikatan tidak jenuh yang akan mudah teroksidasi, untuk menjaga kualitas sabun dari reaksi oksidasi diperlukan bahan antioksidan. Kunyit (Curcuma domestica) merupakan tanaman yang mengandung antioksidan dan minyak atsiri. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sabun yang dihasilkan dan menganalisis respon panelis terhadap sabun yang dihasilkan. Penelitian ini untuk mengkaji sabun padat madu dengan penambahan ekstrak kunyit yang berbeda yaitu 0 g, 2 g, 4 g dan 6 g. Uji sabun padat madu ini antara lain uji kadar air, uji pH, uji stabilitas busa, uji iritasi dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan kadar air terendah sebesar 11,49% dan tertinggi sebesar 15,54%, pH sabun berkisar antara 9,5- 10, stabilitas busa sebesar 84,15-89,27% dan tidak menyebabkan iritasi terhadap kulit. Respon panelis terhadap warna, aroma, tekstur dan penampakan produk sabun padat madu dengan penambahan ekstrak kunyit dengan konsentrasi yang berbeda adalah berbeda tidak nyata.
ANALISIS KUALITAS BIOBRIKET CANGKANG BIJI KARET DENGAN PERBEDAAN KONSENTRASI PEREKAT Dwi Sandri; Fatimah Fatimah; Faridah Faridah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 8 No 1 (2021): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v8i1.136

Abstract

Tujuan penelitian adalah menggali potensi cankang biji karet sebagai biobriket dengan menentukan konsentrasi perekat yang optimal untuk mendapatkan biobriket yang berkualitas. Adapun perekat yang digunakan pada penelitian ini adalah tepung tapioka dengan perlakuan perbedaan konsentrasi 3%, 4%, 5%, dan 6%. Masing-masing perlakukan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Kualitas biobriket yang dianalisis antara lain kadar air, kadar abu, nilai kalor, kadar zat terbang, kadar karbon tetap, dan kuat tekan. Hasil analisis kualitas kemudian dibandingkan dengan standar. Adapun hasil yang diperoleh Biobriket cangkang biji karet memiliki kualitas kadar air antara 4.03% - 6.26%, kadar abu 0.80% - 1.76%, Kadar zat menguap 7.57% - 12.37%, dan Nilai kalor sebesar 7255.18 (Kal/g) – 7906.14 (Kal/g) dimana nilai ini untuk disetiap perlakuan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) briket arang, sedangkan nilai kadar karbon terikat dan kuat tekan belum memenuhi standar. Sehingga perekat 3% dapat menghasilkan biobriket yang berkualitas sesuai dengan standar briket arang yaitu, kadar air 4.49%, kadar abu 0.86%, Kadar zat terbang 9.54%, kadar karbon terikat 86.09%, dan nilai kalor sebesar 7682.53 Kalori/g.
PENENTUAN UMUR SIMPAN GETUK PISANG RAINBOW YANG DIKEMAS MENGGUNAKAN KEMASAN PLASTIK POLIETILEN Fatimah Fatimah; Dwi Sandri; Nana Yuliana
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.697 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v4i1.47

Abstract

Getuk pisang adalah makanan kue yang tebuat dari pisang masak yang dikukus laluditumbuk halus bersama gula pasir dan kemudian digulung dengan daun pisangsehingga berbentuk bulat panjang. Sedangkan getuk pisang rainbow terbuat daripisang uli (Musa paradisiaca Sapientum) khas Kalimantan dengan pewarna daribahan alami sehingga berwarna warni dan dikemas menggunakan plastik kemasan.Pengolahan pisang uli di Kalimantan Selatan belum dimanfaatkan secara optimal.Getuk pisang rainbow yang berbahan dasar pisang uli sudah ada dilakukan, tetapimasih belum dilakukan pengujian untuk lama umur simpan terhadap produk tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan umur simpan getuk pisang rainbowmenggunakan jenis kemasan plastik Polietilen (PE) berdasarkan penerimaan panelis,pengamatan bakteri dan analisis kadar air. Getuk pisang rainbow yang dikemasmenggunakan kemasan plastik PE dapat bertahan selama 2 hari. Hasil iniberdasarkan uji organoleptik terhadap produk getuk pisang rainbow yang dapatditerima oleh panelis selama 2 hari penyimpanan. Umur simpan getuk pisangrainbow juga ditentukan berdasarkan jumlah bakteri yang telah melewati ambangbatas yang diperbolehkan pada penyimpanan selama 2 hari.
OPTIMASI SUHU DAN LAMA PENGUKUSAN UNTUK MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN GETUK PISANG RAINBOW Fatimah Fatimah; Erfanur Adlhani; Dwi Sandri
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.982 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v3i2.1

Abstract

Getuk merupakan pangan semi basah yang biasanya terbuat dari ubi kayu melalui tahap persiapan bahan, pengukusan, penghancuran atau penumbukan, pencampuran bahan tambahan dan pencetakan atau pembentukan. Getuk pisang rainbow merupakan produk inovasi olahan getuk berbahan baku pisang uli. Produk ini dinamakan getuk rainbow karena memiliki tiga variasi warna sehingga terlihat seperti pelangi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperpanjang umur simpan getuk pisang rainbow dengan melakukan optimasi terhadap suhu dan lama pengukusan getuk. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan variasi suhu 600C, 700C, 800C, dan 900C dan variasi waktu untuk masing-masing suhu pengukusan 15 menit, 30menit, dan 45 menit. Penentuan umur simpan dilakukan menggunakan metode Extended Storage Studies (ESS) yaitu penentuan tanggal kadaluwarsa dengan jalan menyimpan suatu seri produk pada kondisi normal sehari-hari sambil dilakukan pengamatan terhadap penurunan mutunya hingga mencapai tingkat mutu kadaluwarsa. Hasil menunjukkan bahwa suhu pengukusan terbaik diperoleh pada suhu 800C dengan waktu pengukusan selama 45 menit yang mana getuk pisangrainbow diterima oleh panelis 80% dengan waktu penyimpanan selama 2 hari, dan berdasarkan hasil pengamatan bakteri, getuk pisang rainbow dapat bertahan selama 2 hari dengan jumlah mikroba yang melewati ambang batas yang diperbolehkan pada hari ke-3.Kata kunci : getuk, getuk pisang rainbow, umur simpan
Uji Hedonik Sari Kedelai dengan Penambahan Gula Aren dan Jahe Fatimah Fatimah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol. 10 No. 02 (2023): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inovasi pembuatan sari kedelai dengan penambahan gula aren dan jahe sebagai olahan minuman menyehatkan sekaligus sebagai pangan fungsional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis daya terima produk sari kedelai dengan pemanis alami gula aren dan adanya penambahan jahe. Penelitian dirancang menggunakan perbedaan konsentrasi gula aren yaitu 3,75% (F1), gula aren 5% (F2), gula aren 6,25% (F3), dan gula aren 7,5% (F4). Uji daya terima mengunakan panelis sebanyak 25 orang dengan rentang usia 18-20 tahun dengan skor penilaian tingkat kesukaan rentang 1 (Amat sangat tidak suka) sampai 9 (Amat sangat suka) . Penentuan formulasi terbaik berdasarkan analisis data mengunakan uji de Garmo. Hasil menunjukkan minuman sari kedelai dengan pemanis gula aren sebesar 6,25% paling disukai panelis dengan nilai rata-rata warna sebesar 7,67, aroma sebesar 7,48 dan penilaian rasa sebesar 8,21 dari skala 9. Hasil uji de Garmo menunjukkan nilai produktivitas paling tinggi yaitu sebesar 0,99.