Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Penggunaan Lilin Lebah dengan Penambahan Konsentrasi Minyak Atsiri Tanaman Serai (Cymbopogon citratus) sebagai Pengusir Lalat (Musca domestica). Ema Lestari; Fatimah Fatimah; Khusnul Khotimah
AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.407 KB) | DOI: 10.30596/agrium.v22i3.4683

Abstract

Lilin lebah dengan penambahan konsentrasi minyak atsiri serai merupakan salah satu lilin aromaterapi yang memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan manusia di antaranya  untuk merelaksasikan tubuh, menyegarkan pikiran, untuk memperbaiki mood, dan penyembuhan penyakit yang memberikan efek fisiologi. Tujuan dari penelitian ini menentukan karakteristik lilin lebah dengan penambahan konsentrasi minyak atsiri tanaman serai, menentukan daya tolak lalat terhadap lilin lebah dengan penambahan minyak atsiri tanaman serai dan daya terima panelis. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan penambahan konsentrasi minyak atsiri tanaman serai pada lilin lebah dengan formulasi  0%, 3%, 5% dan 7% serta uji ANOVA dan BNT 5% dilaksanakan dari februari hingga juli 2019 di Laboratorium Bioproses dan Bioenergi Teknologi Industri Pertanian Politeknik Negeri Tanah Laut. Pengujian yang dilakukan yaitu uji waktu leleh, uji titik leleh, uji daya tolak lalat terhadap lilin, uji organoleptik dan uji efek setelah dibakar. Hasil penelitian menunjukkan lilin aromaterapi yang memiliki waktu leleh terlama adalah lilin lebah dengan konsentrasi 3% minyak atsiri serai dan titik leleh yang sesuai SNI 0386 –1989 – A / SII 0348 – 1980 adalah lilin lebah dengan konsentrasi 5% minyak atsiri serai. Daya tolak lalat terhadap lilin aromaterapi tertinggi adalah 77% pada penambahan 7% minyak atsiri serai. Daya terima panelis terhadap lilin aromaterapi minyak atsiri serai yaitu yang disukai panelis adalah lilin aromaterapi 7% dari segi warna dan tekstur, lilin aromaterapi 5% dari segi aroma.
PEMBUATAN SABUN MADU BAGI MASYARAKAT PETANI LEBAH MADU Fatimah Fatimah; Dwi Sandri; Nuryati Nuryati
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (MEDITEG) Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/mediteg.v1i1.3

Abstract

Madu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan di Kabupaten Tanah Laut yang ditetapkan melalui Keputusan Bupati Tanah Laut Nomor 188.45/463-KUM/2013 tanggal 10 September 2013 tentang Penetapan Jenis Hutan Bukan Kayu Unggulan Kabupaten Tanah Laut yaitu Lebah Madu, Gaharu, dan Nipah. Permasalahan yang dihadapi mitra kelompok tani sangat kompleks, mulai dari budidaya sampai tahap akhir pemasaran. Untuk menangani permasalahan tersebut diupayakan penyelesaian secara bertahap dan berkesinambungan. Peran berbagai pihak sangat diperlukan dalam penyelesaian masalah yang dihadapi. Peran perguruan tinggi, dalam hal ini Politeknik Negeri Tanah Laut yang berada di kabupaten Tanah Laut sangat diperlukan. Permasalahan yang menjadi prioritas utama yaitu pengolahan produk untuk diversifikasi produk dari madu, dalam hal ini pembuatan sabun mandi madu. Lingkup kegiatan pengabdian kepada masyarakat meliputi penyuluhan tentang penggunaan madu dalam pembuatan sabun mandi madu dan mengajarkan kepada masyarakat cara membuat produk  sabun madu. Sedangkan luaran yang dihasilkan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa produk sabun mandi madu. Produk sabun madu  yang dihasilkan dapat dijadikan salah satu peluang usaha baru bagi petani lebah madu. Kata Kunci: lebah madu, madu, sabun
PEMBUATAN BEDAK DINGIN VARIAN HERBAL DAN DESAIN KEMASAN UNTUK MENINGKATKAN NILAI JUAL Nuryati Nuryati; Fatimah Fatimah
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (MEDITEG) Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/mediteg.v1i1.5

Abstract

Bedak dingin sudah ada pada zaman nenek moyang kita dahulu, mereka menjadikan bedak dingin sebagai salah satu cara untuk menghilangkan berbagi masalah wajah. Di era perkembangan jaman saat ini banyak wanita yang lebih menyukai produk kosmetik yang ditawarkan, memang saat ini banyak sekali produk yang berkualitas namun ada juga yang mungkin membahayakan bagi wajah kita. Bedak dingin ini sebenarnya tidak hanya bermanfaat bagi wanita, tetapi juga mempunyai berbagai manfaat bagi kulit kita. Bedak dingin mempunyai manfaat dapat menghaluskan wajah, mencegah jerawat dan dan dapat mencerahkan kulit wajah. Dalam kegiatan ini akan dibahas mengenai proses pembuatan bedak dingin, penambahan bahan herbal sesuai dengan fungsinya, desain kemasan untuk meningkatkan nilai jual, dan perhitungan analisis ekonomi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Kurau, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut pada Hari Jum’at, 23 Oktober 2015 bertepatan dengan kegiatan Manunggal Tuntung Pandang Pemerintah Kabupaten Tanah Laut. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat terutama ibu-ibu di Daerah Kurau tentang bahan herbal yang dapat ditambahkan dalam pembuatan bedak dingin, dan desain pengemasan untuk meningkatkan nilai jual bedak dingin. Berdasarkan perhitungan analisis ekonomi dengan asumsi tiap bulan memproduksi sebanyak 5 liter beras putih, maka keuntungan yang didapat Rp 649.750. Kata kunci: Bedak dingin, herbal, desain kemasan, Kurau
HILIRISASI SARANG LEBAH MADU MENJADI PRODUK LILIN AROMATERAPI BAGI MASYARAKAT PETANI LEBAH MADU Fatimah Fatimah; Dwi Sandri
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (MEDITEG) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/mediteg.v2i1.16

Abstract

Madu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan di Kabupaten Tanah Laut. Pada pengambilan hasil madu, sarangnya tidak dimanfaatkan lebih lanjut oleh para peternak lebah. Lilin yang berasal dari sarang lebah hanya dimanfaatkan untuk pembuatan pondasi rumah untuk sarang lebah. Dengan kata lain, lilin lebah yang dihasilkan belum menghasilkan nilai ekonomi yang lebih.  Lilin lebah dapat lebih bernilai ekonomis dengan membuat produk yang bernilai jual tinggi, salah satunya adalah dengan membuat produk lilin aromaterapi. Masyarakat sasaran pada kegiatan ini adalah Petani lebah madu Kelompok Tani Harapan Makmur dan Kelompok Wanita Tani Mekar Sari.  Lingkup kegiatan meliputi pengambilan lilin lebah dari sarang lebah kemudian membuat lilin aromaterapi dari lilin lebah yang dihasilkan dengan menambahkan aroma minyak atsiri, sehingga dihasilkan lilin aromaterapi dari lilin lebah.  Lilin aromaterapi yang terbuat dari lilin lebah  menghasilkan aroma sesuai dengan minyak atsiri yang digunakan ketika dinyalakan. Kata Kunci: Sarang lebah, Lebah madu, Lilin aroma terapi.
PENGOLAHAN TELUR ASIN ASAP DENGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PADA MASYARAKAT PEDAGANG TELUR Fatimah Fatimah; Marlia Adriana; Kurnia Dwi Artika
Dharmakarya Vol 8, No 4 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v8i4.23924

Abstract

Permasalahan yang ditemui pada peternak dan pedagang di desa Telaga kabupaten Tanah Laut masih belum memiliki keterampilan mengolah telur asin. Hanya rasa original (asin) saja belum bisa mengolah variasi aneka rasa sebagai pilihan konsumen. Proses pembuatan juga sangat terbatas, masih menggunakan teknik tradisional dengan bahan-bahan yang sederhana yaitu menggunakan batu bata dan garam dengan proses pemeraman selama 7 hari. Proses pengerjaan yang sederhana ini menyebabkan produksi juga menjadi terbatas,  pedagang hanya mampu mengolah 300 sampai 350 butir telur seminggu padahal permintaan bisa 600 sampai 700 perminggu dipasar tradisional.   Telur yang dihasilkan juga memiliki umur simpan yang relatif singkat karena tanpa penambahan proses pengawetan.  Beberapa kendala tadi menyebabkan produksi maupun nilai jual produk menjadi rendah. Oleh karena itu melalui program PKM ini akan memberikan pendampingan secara menyeluruh dalam hal pelatihan pembuatan variasi aneka rasa pada telur asin yaitu rasa bawang, rasa pedas dan rasa jahe. Produksi telur juga akan dibantu memperpendek waktu pemeraman dari 7 hari menjadi 1-2 hari dengan kualitas yang sama. Selain itu juga akan diberikan pelatihan dengan mesin teknologi tepat guna berupa oven pengolah telur asin asap agar memperpanjang daya tahan telur asin dan proses menjadi lebih higienis. Kemudian untuk perencanaan keuangan akan diberikan pelatihan, selain itu pelatihan juga akan diberikan untuk memasarkan produk secara luas baik secara online atau media sosial, restoran, tempat wisata, minimarket modern yang ada di Tanah Laut sehingga dengan pangsa pasar yang luas akan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan mereka.
VOLUME KEMBANG ADONAN DAN SENSORY ROTI MANIS YANG DIBUAT DARI MODIFIED TALIPUK FLOUR (MOTAF) [Dought Volume and Sensory Properties of Sweet Bread made from Modified Talipuk Flour (Motaf)] Ema Lestari; Dwi Sandri; Fatimah Fatimah; Umaira Umaira
Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian Vol 24, No 2 (2019): Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian
Publisher : Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1113.857 KB) | DOI: 10.23960/jtihp.v24i2.113-120

Abstract

Modified talipuk flour (motaf) can reduce the amount of wheat flour utilization as the main ingredient in making sweet bread. This study was aimed to determine the dough volume and organoleptic properties of sweet bread made from modified talipuk flour (motaf) with 6 formulations namely 0%, 5%, 10%, 15%, 20% and 25% (w/w). The hedonic sensory test was applied to 30 panelists. The results showed that the addition of motaf increased the taste and aroma scores, but decreased the volume of dough development, color score, texture, and overall acceptance of sweet bread. The highest volume of dough development was 57.17 cm found in the 5% formulation of motaf.
Potensi Asap Cair Cangkang Biji Karet Sebagai Koagulan Untuk Meningkatkan Mutu Sit Angin Dwi Sandri; Fatimah Fatimah; Erni Hasanah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 7 No 1 (2020): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v7i1.108

Abstract

Sit angin merupakan salah satu jenis bahan olahan karet rakyat (bokar) yang biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan karet SIR, dimana SIR memiliki standar spesifikasi teknis yang harus dimiliki agar sesuai dengan SNI. Pengolahan bokar yang dihasilkan masih banyak bermutu rendah, salah satu penyebabnya adalah penggunaan koagulan yang tidak tepat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis mutu sit angin dengan menggunakan koagulan asap cair cangkang biji karet. Pada penelitian ini dilakukan analisis mutu sit angin berupa kondisi koagulasi, uji sensori, kadar karet kering, kadar zat menguap dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukan penggunaan asap cair cangkang biji karet memberikan pengaruh terhadap bokar sit angin yang dihasilkan, semakin tinggi dosis yang diberikan akan menghasilkan aroma asap yang menyengat. Adapun untuk nilai Kadar karet kering berkisar 99.27% - 99.53%, kadar zat menguap berkisar 0.37% - 0.73%, kadar abu 0.22% - 0.47%, sehingga sit angin yang terbentuk dapat direkomendasikan sebagai bahan baku jenis mutu SIR 5.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK BUAH SAWO MENTAH (Acrhras zapota ) DENGAN BERBAGAI PELARUT PADA Salmonella typhii Fatimah Fatimah; Erfanur Adlhani; Dwi Sandri
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.718 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v2i2.16

Abstract

Buah sawo (Achras zapota) mentah dipercaya masyarakat pedesaan untuk mengobati penyakit tifus. Penggunaannya sederhana dan bahannya pun mudah diperoleh sehingga relatif terjangkau dikalangan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini untuk membuktikan bahwa buah sawo mentah memiliki zat aktif yang dapat menghambat mikroorganisme penyebab tifus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan untuk mendapatkan ekstrak sawo mentah pada pelarut yang berbeda kepolarannya yaitu ekstrak perasan, metanol, aseton, dan n-heksan. Perlakuan konsentrasi ekstrak sawo mentah diujikan untuk penghambatan aktivitas mikroorganisme bakteri Salmonella typhii dengan variasi konsentrasi 10%, 30%, dan 50% disertai control positif dan negatif. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak sawo mentah dengan pelarut methanol dan aseton konsentrasi 50% memberikan aktivitas antibakteri zona hambat yang masih kecil yang menunjukkan respon yang kurang efektif
Pengaruh Konsentrasi Gula pasir dan Gula Aren pada Pembuatan Nata De Coco Fatimah Fatimah; Nina Hairiyah; Riski Yulia Rahayu
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.874 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v6i2.97

Abstract

Gula pasir sudah umum digunakan sebagai sumber nutrisi pada media pembuatan nata de coco. Sedangkan gula aren belum digunakan sebagai sumber nutrisi pada media pembuatan nata de coco. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan konsentrasi optimal gula aren dalam pembuatan nata de coco. Perlakuan yang digunakan adalah variasi konsentrasi gula, yaitu gula pasir 2%, gula aren 2%, dan perbandingan antara gula pasir 1% : gula aren %. Pengukuran nata de coco meliputi ketebalan dan rendemen nata. Formulasi terbaik pembuatan nata de coco adalah pada perlakuan dengan konsentrasi perbandingan gula pasir 1% : gula aren 1%, menghasilkan nata dengan rendeman 76% dan tebal 0,83 cm. Sedangkan pembuatan nata menggunakan gula pasir konsentrasi 2% memiliki rendemen sebesar 45% dengn tebal 0,46 cm. Pembuatan nata menggunakan gula aren berpengaruh sangat nyata terhadap rendemen nata, sehingga gula aren dapat menggantikan gula pasir dalam pembuatan nata de coco.
OPTIMASI PENAMBAHAN MINYAK ATSIRI BUNGA KAMBOJA TERHADAP LILIN AROMATERAPI DARI LILIN SARANG LEBAH Dwi Sandri; Fatimah Fatimah; Erfanur Adlhani; Lisda Erlinda
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.597 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v3i1.8

Abstract

Aromaterapi adalah salah satu teknik pengobatan atau perawatan menggunakan aroma harum yang terdapat pada minyak atsiri. Minyak atsiri dapat dipadukan dengan lilin sebagai media relaksasi. Lilin yang digunakan dapat diperoleh dari sarang lebah madu. Sejauh ini di daerah Tanah Laut para petani lebah madu tidak memanfaatkan kembali sarang lebah setelah dipanen. Pemanfaatan sarang lebah dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan dibuat menjadi lilin lebah aromaterapi. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kondisi optimum penambahan minyak atsiri aroma kamboja serta menganalisis kualitas lilin lebah aromaterapi. Penelitian ini dilakukan dengan optimasi penambahan minyak atsiri bunga kamboja sebanyak 1%, 2%, 3%, 4%. Berdasarkan pengujian lilin lebah aromaterapi yang terbaik yaitu aromaterapi kamboja dengan penambahan minyak atsiri sebanyak 1%.Kata kunci : aromaterapi, lilin lebah, minyak atsiri, kamboja