Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Distribusi fraktur mahkota gigi anterior rahang atas pada anak dengan cerebral palsyDistribution of maxillary crown fracture in anterior teeth in children with cerebral palsy Faizah Salsabila; Naninda Berliana Pratidina; Arlette Suzy Puspa Pertiwi Setiawan
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 4, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v4i2.27111

Abstract

Pendahuluan: Fraktur mahkota gigi merupakan fraktur yang hanya mengenai bagian keras gigi. Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas banyak terjadi pada anak  dengan cerebral palsy. Gigi anterior rahang atas berpengaruh terhadap estetik dan fungsi pengunyahan. Tujuan penelitian ini mengetahui distribusi fraktur mahkota gigi anterior anak dengan cerebral palsy di Sekolah Luar Biasa Kota Bandung sehingga dapat diupayakan penanggulangannya sejak dini. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Jumlah subjek sebanyak 35 anak dengan cerebral palsy di Sekolah Luar Biasa Kota Bandung. Data diperoleh dengan pemeriksaan klinis. Klasifikasi fraktur yang digunakan adalah klasifikasi menurut World Health Organization. Hasil: Sebanyak 23 anak (65,72%) mengalami fraktur mahkota gigi anterior rahang atas terdiri dari 13 anak laki-laki (56,53%) dan 10 anak perempuan (43,47%). Jenis fraktur yang banyak terjadi adalah retak email sebanyak 26 (52,00%) dan fraktur email sebanyak 24 (48,00%). Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas banyak terjadi pada anak dengan cerebral palsy dikarenakan keterbatasan dalam perkembangan motoriknya. Anak laki-laki lebih sering terkena fraktur mahkota gigi anterior dibandingkan perempuan. Fraktur yang sering terjadi adalah retak dan fraktur email. Simpulan: Anak dengan cerebral palsy berjenis kelamin laki-laki lebih banyak terkena fraktur mahkota dibandingkan anak perempuan dengan jenis fraktur yang banyak ditemukan adalah retak email dan fraktur email.Kata kunci: Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas, cerebral palsy, trauma gigi. ABSTRACTIntroduction: Crown fracture is fracture affecting only the hard tooth structure. Crown fracture of maxillary anterior teeth is common in children with cerebral palsy. Maxillary anterior teeth may affect the aesthetic and masticating function. The purpose of this research was to analyse the data of maxillary crown fracture in anterior teeth in children with cerebral palsy at Bandung Special School (SLB) for early prevention. Methods: The research was descriptive, with a total sampling technique. The subjects were 35 children with cerebral palsy children at Bandung Special School. The data was obtained by clinical examination. WHO (World Health Organization) classification about crown fracture was used to evaluate the fracture types. Results: Twenty three children (65.72%) had an anterior maxillary crown fracture, which consisted of 13 boys (56.53%) and 10 girls (43.47%). The most common type of fracture was enamel infraction, which was found in as many as 26 fractures (52.00%) and enamel fractures in as many as 24 fractures (48.00%). Anterior maxillary crown fractures occurred mostly in cerebral palsy children due to their limitations in motoric development. Boys were more often affected by anterior crown fractures than girls. Enamel infraction and enamel fractures were fractures that often occurred in the maxillary central incisors. Conclusion: Most of the boys with cerebral palsy have maxillary crown fractures in the central incisors with enamel infraction and enamel fractures to be the most common fracture type.Keywords: Anterior maxillary crown fractures, cerebral palsy, dental trauma.
Tingkat pengetahuan orang tua anak usia dini mengenai kebiasaan bernapas melalui mulut sebagai etiologi maloklusiKnowledge level of preschool children’s parents regarding mouth breathing habits as etiology of malocclusion Siti Nadira Aisyah; Naninda Berliana Pratidina; Anne Agustina Suwargiani; Niekla Survia Andiesta; Risti Saptarini Primarti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 6, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v6i2.33992

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Maloklusi adalah salah satu masalah gigi dan mulut yang paling banyak terjadi di Indonesia. Penyimpangan fungsi rongga mulut berupa kebiasaan bernapas melalui mulut dapat menjadi faktor etiologi maloklusi. Bernapas merupakan fungsi rongga mulut yang pertama kali mengalami maturasi, sehingga pengetahuan orang tua anak usia dini penting dalam mencegah timbulnya kebiasaan bernapas melalui mulut pada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan orang tua anak usia dini mengenai kebiasaan bernapas melalui mulut sebagai etiologi maloklusi. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling dan simple random sampling. Penelitian dilakukan terhadap 92 orang tua murid TK Ibunda, TK Islam Raih Impian, dan TK Islam Bukit Indah. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner sejumlah 15 butir pertanyaan. Hasil: Sebanyak 5 responden (5,4%) berada di kategori tingkat pengetahuan rendah, 45 responden (48,9%) pada kategori sedang, dan 42 responden (45,7) pada kategori tinggi. Karakteristik responden yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan, dan status pekerjaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengetahuan berdasarkan analisis statistik (p > 0,05). Simpulan: Tingkat pengetahuan orang tua anak usia dini mengenai kebiasaan bernapas melalui mulut sebagai etiologi maloklusi termasuk dalam kategori sedang.Kata kunci: Tingkat pengetahuan; orang tua anak usia dini; kebiasaan bernapas melalui mulut; maloklusi ABSTRACTIntroduction: Malocclusion is one of Indonesia’s most frequent dental problems. The abnormality of oral function, such as mouth breathing habits, could be the etiology of malocclusion. Breathing is the first oral function that undergoes maturation; thus, the knowledge of preschool children’s parents is important to prevent children from developing mouth breathing habits. This study aimed to describe the level of knowledge among preschool children’s parents about mouth breathing habits as the etiology of malocclusion. Method: A descriptive analytics study was conducted towards 92 preschool children’s parents of TK Ibunda, TK Islam Raih Impian, and TK Islam Bukit Indah using random cluster sampling and simple random sampling technique. A questionnaire consisting of 15 questions was used. Results: There were 5 parents (5,4%) in low category of knowledge level, 45 parents (48,9%) in moderate category, and 42 parents (45,7) in high category. According to statistical analytics, there is no significant correlation between parents’ characteristics (gender, age, education, and employment status) and their knowledge level (p > 0,05). Conclusion: The level of knowledge about mouth breathing habits as the etiology of malocclusion among preschool children’s parents was moderate.Keywords: Level of knowledge; preschool children’s parents; mouth breathing habits; malocclusion.
Tingkat pengetahuan ibu mengenai direct breastfeeding dan tumbuh kembang rahang Description of mother’s knowledge regarding direct breastfeeding and its effect on jaw growth and development Diajeng Julian Casilda; Eriska Riyanti; Naninda Berliana Pratidina
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 6, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v6i3.35355

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Maloklusi merupakan salah satu kelainan yang dapat terjadi pada proses tumbuh kembang kraniofasial. Prevalensi maloklusi di dunia maupun di Indonesia masih tinggi. Faktor lingkungan seperti praktik breastfeeding merupakan salah satu yang dapat mencegah terjadinya maloklusi. Mekanisme pergerakan lidah dan otot yang terlibat pada direct breastfeeding dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan kraniofasial yang lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu mengenai direct breastfeeding dan tumbuh kembang rahang. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif cross-sectional menggunakan survei. Penelitian dilakukan terhadap 33 orang ibu murid PAUD Kecamatan Mampang Prapatan. Penelitian menggunakan instrumen kuesioner dengan 9 butir pertanyaan mengenai ASI eksklusif dan 5 butir pertanyaan mengenai tumbuh kembang rahang di luar data karakteristik responden. Hasil: Sebanyak satu responden termasuk dalam kategori tingkat pengetahuan rendah (3%), tujuh responden pada kategori sedang (21,2%), dan 25 responden dalam kategori tinggi (75,8%) pada pertanyaan mengenai ASI eksklusif. Sebanyak 24 responden termasuk kategori tingkat pengetahuan rendah (72,7%) dan sembilan responden dalam kategori tinggi (27,3%) pada pertanyaan mengenai tumbuh kembang rahang. Simpulan: Tingkat pengetahuan ibu anak usia dini mengenai ASI eksklusif termasuk dalam kategori tinggi, namun tingkat pengetahuan ibu mengenai efek direct breastfeeding dan tumbuh kembang rahang termasuk dalam kategori rendah.Kata kunci: tingkat pengetahuan ibu; direct breastfeeding; maloklusi ABSTRACTIntroduction: Malocclusion is a dental abnormality that might occur during craniofacial growth and development process. The prevalence of malocclusion both worldwide and in Indonesia is still high. Environmental factors could have an impact on malocclusion, one of which is breastfeeding practice. The mechanism of tongue and muscles involved during direct breastfeeding might lead to better craniofacial growth. The aim of this study is to describe mother’s level of knowledge on direct breastfeeding and its effect on jaw development. Methods: This research was a descriptive cross-sectional study, conducted on 33 mothers whose children are students of PAUD in Mampang Prapatan Subdistrict. A questionnaire consisting of 9 questions on exclusive breastfeeding and 5 questions on jaw development excluding respondents’ characteristics was used. Results: On questions regarding exclusive breastfeeding, only 1 respondent was in low knowledge level category (3%), 7 in moderate knowledge level category (21.2%), and 25 in high knowledge level category (75.8%). On questions regarding jaw development, 24 respondents were in low knowledge level category (72,7%) and 9 in high knowledge level category (27,3%). Conclusion: Respondents’ knowledge level on exclusive breastfeeding is high. However, their knowledge level on direct breastfeeding and its effect on jaw development is low.Keywords: mother’s knowledge level; direct breastfeeding; malocclusion
PERAWATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK DENGAN INTELLECTUAL DISABILITY RINGAN DALAM ANESTESI UMUM (Laporan Kasus) Naninda Berliana Pratidina; Arlette Suzy Puspa Pertiwi; Eriska Riyanti; Willyanti Soewondo
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.692 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v12i1.17075

Abstract

Intellectual disability (ID) mengacu pada sekelompok gangguan pada fungsi adaptif dan intelektual serta terjadi sebelum usia dewasa. ID bukan merupakan satu kesatuan, melainkan gejala umum dari disfungsi sistem saraf. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan gigi pada anak ID ringan dengan anestesi umum. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke Poliklinik Kedokteran Gigi Anak RSGM Universitas Padjadjaran dengan keluhan gigi yang kotor dan berbau tidak sedap yang sudah terjadi sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien didiagnosis ID ringan sejak usia 3 tahun. Pemeriksaan fisik, ekstra oral, radiografi toraks dan laboratorium menunjukkan tidak ada kelainan signifikan. Pemeriksaan intraoral: pulpitis reversibel pada gigi 55, 53, 63, 65, 75, dan 85, pulpitis ireversibel pada gigi 54, nekrosis pulpa pada gigi 64, 73, 74, 83, dan, 84, serta gingivitis marginalis kronis pada rahang atas dan bawah. Perawatan yang dilakukan adalah skeling dan profilaksis rahang atas dan bawah, aplikasi fluor topikal serta ekstraksi gigi 54, 64, 74, 73, 83 dan 84 dalam anestesi umum. Pasien merespon baik terhadap perawatan yang dilakukan. Perawatan gigi dan mulut dengan anestesi umum untuk penyandang ID dapat dijadikan pilihan pada pasien yang tidak kooperatif. Dokter gigi anak berperan penting dalam peningkatan kesehatan gigi dan rongga mulut pada penyandang ID.
Chlorine dioxide mouthwash effect in reducing plaque accumulation: A randomized controlled trial with two-period crossover study Ahmad, Alifah Halimah; Gartika, Meirina; Pratidina, Naninda Berliana
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): June 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.54132

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Dental plaque is one of the factors causing dental caries. Chemical plaque control is achieved through the use of mouthwash. Chlorhexidine (CHX) and chlorine dioxide (ClO2) mouth rinses help reduce plaque on tooth surface. This study aims to analyze the differences in plaque score reduction after using ClO2 and CHX mouthwash. Methods: This research utilized a randomized controlled crossover design with purposive sampling. The research was conducted on 30 students in grades 4-6 at SD Islam Bakti Asih Kabupaten Bandung, divided into two groups. Group I was instructed to rinse with ClO2 and Group II with 0.2% CHX, twice daily for three days. After a seven-day washout period, each group switched to the opposing mouthwash. Plaque scores were measured before and after mouth rinse use using the O’Leary index. Inter-rater reliability was tested using Intraclass Correlation Coefficient (ICC).  The result demonstrated that the ICC of all examiners was in good agreement (r=0.886, 95% confidence interval (CI)). Data were analyzed using paired t-tests and unpaired t-tests. Results: This research shows that plaque scores before and after using mouthwash decreased significantly (p<0.05). However, there was no significant difference in plaque scores reduction between ClO2 and CHX mouthwash (p=0.414). Conclusion: There was a difference in plaque scores before and after using ClO2 and CHX mouthwash, and there was no difference in reduced plaque scores between ClO2 and CHX mouthwash. ClO2 mouthwash could be an alternative additional treatment for reducing plaque in children.KEY WORDS: chlorine dioxide mouthwash, chlorhexidine, plaque index, O’Leary indexEfek  berkumur  menggunakan chlorine  dioxideterhadap  penurunan  akumulasi plak: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Plak gigi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya karies. Pengendalian plak secara kimiawi dilakukan menggunakan obat kumur. Obat kumur klorheksidin (CHX) dan chlorine dioxide (ClO2) membantu menurunkan plak pada permukaan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan penurunan skor plak setelah penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX. Metode: Penelitian menggunakan studi eksperimental acak terkontrol dan menyilang dua periode dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada 30 siswa di SD Islam Bakti Asih Kabupaten Bandung yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I diinstruksikan berkumur obat kumur ClO2 dan kelompok II diinstruksikan berkumur obat kumur CHX 0.2%, dua kali sehari selama tiga hari. setelah tujuh hari periode washed out, masing-masing kelompok menggunakan obat kumur yang berlawanan. Pengukuran skor plak dilakukan sebelum dan sesudah pemakaian obat kumur menggunakan indeks O’Leary. Uji reliabilitas antar rater menggunakan Intraclass Correlation Coefficient (ICC). Uji kesepakatan antar rater didapatkan nilai ICC termasuk kategori baik (r=0.886, 95% confidence interval (CI)). Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Penelitian menunjukkan skor plak sebelum dan sesudah penggunaan obat kumur mengalami penurunan yang signifikan(p<0.05), namun tidak ada perbedaan penurunan skor plak yang signifikan antara penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX (p=0.414). Simpulan: Terdapat perbedaan skor plak sebelum dan sesudah penggunaan dari obat kumur ClO2 dan CHX serta tidak terdapat perbedaan penurunan skor plak antara penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX. Obat kumur ClO2 dapat menjadi alternatif perawatan tambahan dalam penurunan plak pada anak.  KATA KUNCI: obat kumur chlorine dioxide, klorheksidin, indeks plak, indeks O’Leary
Empowering adolescent cadres for promoting oral health behavior: A persuasive communication training pilot study in Indonesia Setiawan, Arlette Suzy; Pratidina, Naninda Berliana; Budiarto, Arief; Sukmasari, Susi
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol. 57 No. 3 (2024): September
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga https://fkg.unair.ac.id/en

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v57.i3.p164-171

Abstract

Background: Adolescents are considered good cadres to be able to socialize with this healthy dental behavior. Therefore, designing a dental health education program is necessary to prepare adolescents to socialize with dental health behavior. Purpose: This study evaluates the pilot training for trainers using persuasive communication to socialize dental health behavior. Methods: Thirty-five participants (13-16 years old) are trained by a persuasive communication coach and practice the skills with a simulated client”this one-day training has a two-phase structure; lectures and practicum. The evaluation is done through three out of four-level methods from Kirkpatrick (1959). The data analysis used for the reaction evaluation is descriptive statistics, calculating the average score per category of training support assessment items (curriculum, facilitator, accommodation, and overall score). The learning outcome analysis resulted from an analysis of the pre-post test results using the N-Gain value and paired T-test. Behavior outcomes were also analyzed descriptively by calculating the average score of all participants in every timeline (baseline and two weeks after the training). Results: evaluation of this training revealed that "reaction” has an average total score was 4.02, which shows that the participants were satisfied with the training, "learning” has an N-Gain acquisition of 48.28%, and "behavior” level shows a good outcome as an increased in points from 3.4 to 4.2. Conclusion: The training program produced thirty cadres ready to implement the program in the community.
PERAWATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK DENGAN INTELLECTUAL DISABILITY RINGAN DALAM ANESTESI UMUM (Laporan Kasus) Naninda Berliana Pratidina; Arlette Suzy Puspa Pertiwi; Eriska Riyanti; Willyanti Soewondo
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/cdj.v12i1.17075

Abstract

Intellectual disability (ID) mengacu pada sekelompok gangguan pada fungsi adaptif dan intelektual serta terjadi sebelum usia dewasa. ID bukan merupakan satu kesatuan, melainkan gejala umum dari disfungsi sistem saraf. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan gigi pada anak ID ringan dengan anestesi umum. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke Poliklinik Kedokteran Gigi Anak RSGM Universitas Padjadjaran dengan keluhan gigi yang kotor dan berbau tidak sedap yang sudah terjadi sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien didiagnosis ID ringan sejak usia 3 tahun. Pemeriksaan fisik, ekstra oral, radiografi toraks dan laboratorium menunjukkan tidak ada kelainan signifikan. Pemeriksaan intraoral: pulpitis reversibel pada gigi 55, 53, 63, 65, 75, dan 85, pulpitis ireversibel pada gigi 54, nekrosis pulpa pada gigi 64, 73, 74, 83, dan, 84, serta gingivitis marginalis kronis pada rahang atas dan bawah. Perawatan yang dilakukan adalah skeling dan profilaksis rahang atas dan bawah, aplikasi fluor topikal serta ekstraksi gigi 54, 64, 74, 73, 83 dan 84 dalam anestesi umum. Pasien merespon baik terhadap perawatan yang dilakukan. Perawatan gigi dan mulut dengan anestesi umum untuk penyandang ID dapat dijadikan pilihan pada pasien yang tidak kooperatif. Dokter gigi anak berperan penting dalam peningkatan kesehatan gigi dan rongga mulut pada penyandang ID.
The effectiveness of brushing the teeth using two shapes of toothbrush Riyanti, Eriska; Andisetyanto, Prima; Pratidina, Naninda Berliana; Primarti, Risti Saptarini; Andiesta, Niekla Survia
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 33, No 2 (2021): July 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjd.vol33no2.34790

Abstract

Introduction: Dental and oral health or cleanliness is one indicator to measure the effectiveness of brushing teeth, particularly concerning the type and shape of toothbrush and the way of brushing teeth. The aim of the study was to find out the effectiveness of plaque index decrease before and after brushing teeth using two different types of the toothbrush.  Methods: The investigation was carried out using single-blind and parallel quasi-experimental methods.  The sample comprises 30 people from Bandung City aged between 6 – 7 years old, selected through purposive sampling.  The subjects were directly categorized into two groups of treatment.  Patient Hygiene Performance Modification (PHP-M) used to measure the amount of plaque. Results: The data were analyzed using paired t-test and independent t-test.  The straight-handled toothbrush yielded a score of 11.967 in the paired t-test.  This score is higher than the t-table (t = 2.160; p < 0.05), which meant that the H0 is rejected.  The angled-handled toothbrush had a score of 7.385 in the paired t-test.  The score is higher than the t-table (t = 2.131; p < 0.05), which meant that the H0 is rejected.  The statistical analysis using independent t-test yielded a score of 1.814, which was lower than the t-table (t = 2.048; p > 0.05). Thus, meaning that the H0 is accepted. Conclusion: It was concluded that there is no difference in the plaque index before and after brushing teeth using the two types of the toothbrush.
PERAWATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK DENGAN INTELLECTUAL DISABILITY RINGAN DALAM ANESTESI UMUM (Laporan Kasus) Pratidina, Naninda Berliana; Puspa Pertiwi, Arlette Suzy; Riyanti, Eriska; Soewondo, Willyanti
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/cdj.v12i2.17830

Abstract

Intellectual disability (ID) mengacu pada sekelompok gangguan pada fungsi adaptif dan intelektual serta terjadi sebelum usia dewasa. ID bukan merupakan satu kesatuan, melainkan gejala umum dari disfungsi sistem saraf. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan gigi pada anak ID ringan dengan anestesi umum. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke Poliklinik Kedokteran Gigi Anak RSGM Universitas Padjadjaran dengan keluhan gigi yang kotor dan berbau tidak sedap yang sudah terjadi sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien didiagnosis ID ringan sejak usia 3 tahun. Pemeriksaan fisik, ekstra oral, radiografi toraks dan laboratorium menunjukkan tidak ada kelainan signifikan. Pemeriksaan intraoral: pulpitis reversibel pada gigi 55, 53, 63, 65, 75, dan 85, pulpitis ireversibel pada gigi 54, nekrosis pulpa pada gigi 64, 73, 74, 83, dan, 84, serta gingivitis marginalis kronis pada rahang atas dan bawah. Perawatan yang dilakukan adalah skeling dan profilaksis rahang atas dan bawah, aplikasi fluor topikal serta ekstraksi gigi 54, 64, 74, 73, 83 dan 84 dalam anestesi umum. Pasien merespon baik terhadap perawatan yang dilakukan. Perawatan gigi dan mulut dengan anestesi umum untuk penyandang ID dapat dijadikan pilihan pada pasien yang tidak kooperatif. Dokter gigi anak berperan penting dalam peningkatan kesehatan gigi dan rongga mulut pada penyandang ID.
ORAL TREATMENT IN MILD INTELLECTUAL DISABILITY CHILDREN UNDER GENERAL ANESTHESIA (A Case Report) Pratidina, Naninda Berliana; Pertiwi, Arlette Suzy Puspa; Riyanti, Eriska; Soewondo, Willyanti
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/cdj.v12i1.16179

Abstract

Intellectual Disability (ID) mengacu pada sekelompok gangguan pada fungsi adaptif dan intelektual serta usia onset sebelum maturitas tercapai. ID bukan merupakan satu kesatuan, melainkan gejala umum dari disfungsi sistem saraf. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan gigi pada anak ID ringan dengan anestesi umum. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke Poliklinik Kedokteran Gigi Anak RSGM UNPAD dengan keluhan gigi yang kotor dan berbau tidak sedap, hal ini sudah terjadi sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien dan ibunya pernah ke dokter gigi, tetapi tidak dapat dilakukan perawatan. Pasien didiagnosis ID ringan sejak usia 3 tahun. Pemeriksaan fisik, ekstra oral, radiografi thorax dan laboratorium menunjukkan tidak ada kelainan signifikan. Pemeriksaan intraoral menunjukkan pulpitis reversibel gigi 55, 53, 63, 65, 75, dan 85, pulpitis irreversible gigi 54, nekrosis pulpa gigi 64, 73, 74, 83, dan, 84, serta gingivitis marginalis kronis rahang atas dan bawah. Perawatan yang dilakukan adalah skeling dan profilaksis rahang atas dan bawah, aplikasi fluor topikal serta ekstraksi gigi 54, 64, 74, 73, 83 dan 84 dalam anestesi umum. Pasien merespon baik terhadap perawatan yang dilakukan. Perawatan gigi dan mulut dengan anestesi umum untuk penyandang ID dapat dijadikan pilihan pada pasien yang tidak kooperatif. Dokter gigi anak berperan penting dalam peningkatan kesehatan gigi dan rongga mulut pada penyandang ID.Kata kunci: Intellectual disability, Anestesi umum, Special Care Dentistry