permatasari, Anggita septyani
Universitas An Nuur

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pengaruh Hypnobirthing terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester III dalam Persiapan Persalinan di Klinik Sahabat Bumil Rosmala Kurnia Dewi; Anggita Septyani Permatasari
Jurnal Profesi Bidan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Profesi Bidan Indonesia
Publisher : LPPM AN NUUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Anxiety in third trimester pregnant women (TM III) is common and linked to negative maternal outcomes. As delivery approaches, anxiety levels increase, particularly regarding labor readiness. Hypnobirthing is a non-pharmacological relaxation technique that has been proven effective in reducing anxiety in preparation for childbirth. Purpose: To determine the effect of hypnobirthing on anxiety levels in third trimester pregnant women in preparation for childbirth at the Sahabat Bumil Clinic. Method: Pre-experimental design with one group pretest-posttest approach. Total sampling of 25 TM III pregnant women (January–June 2024). Anxiety measured using Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Data analyzed using paired sample t-test. Results: Prior to intervention, 60.0% of respondents experienced moderate anxiety, 12.0% severe, and 8.0% very severe anxiety in facing delivery. Post-intervention, 64.0% had mild anxiety and 12.0% were anxiety-free. Paired t-test showed P value = 0.004 (<0.05), mean anxiety score decreased from 2.84 (SD=0.746) to 2.32 (SD=0.476). Conclusion: Hypnobirthing significantly reduces anxiety levels in TM III pregnant women in preparation for childbirth. It is recommended as a non-pharmacological evidence-based intervention in antenatal midwifery care.
EDUKASI DAN PELATIHAN PIJAT BAYI DENGAN BERAT LAHIR RENDAH Rosmala Kurnia Dewi; Anggita Septyani Permatasari; Sehmawati; Pintam Ayu Yastirin
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Cahaya Negeriku Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Cahaya Negeriku
Publisher : LPPM AN Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/jpkm.v3i2.47

Abstract

Background: Background: LBW cases are often associated with prematurity as the cause. There are many forms of intervention in handling LBW babies, one of which is providing intervention aimed at optimizing the growth and development of the baby, one of which is providing additional stimulation which includes touch and massage. Objective: The aim of providing health education and baby massage is to provide knowledge and skills to mothers to increase the weight of LBW babies. Method: The method used in this service is a descriptive survey with implementation techniques through history taking, documentation and observation of health education and massage for LBW babies. Results: After being given health education and baby massage, the average weight of LBW babies increased. Conclusion: The method of implementing health education and baby massage has been proven to help increase the weight of LBW babies at PMB Sri Lestari Ngembak.   
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENANGANAN STUNTING MELALUI PEMANFAATAN PANGAN LOKAL Festy Mahanani M; Indah Rahayu; Maylia; Wahyu Riniasih; Anita Lufianti; Anggita Septyani Permatasari
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Cahaya Negeriku Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Cahaya Negeriku
Publisher : LPPM AN Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/jpkm.v4i1.50

Abstract

Background:. Stunting is a condition of failure to grow and develop in babies (0-11 months) and toddlers (12-59 months) who experience chronic malnutrition, especially in the first 1000 days of life, which can be characterized by height that is not appropriate for their age (Arnita et al., 2020 in Panigoro 2020). Stunting is one of the nutritional problems in children globally, and around 161 million children under five in the world are stunted, of which half of the number of stunted children live in the Asian region (Valeriani et al. 2022). Children who experience stunting can be characterized by the height or length of the child being less than -2 SD based on the Z-Score table (Damanik et al., 2021 in Panigoro 2020).Method: Activities are carried out by providing empowerment to the community to be active in local food processing in the context of stunting prevalenceResults: Providing community empowerment related to local food processing can improve children's nutrition in Ngrandah village and the community has added value to local potential advantagesConclusion: From these efforts, we chose to carry out a stunting management program by using local food with a source of vegetable protein in the form of processed tempeh. We chose this because it was considered more affordable and could be practiced by mothers of toddlers, the preparation was in the form of tempeh nuggets. The choice of this program was because from the data we obtained there were still many children experiencing stunting. The first activity we carried out was to survey several hamlets in Ngrandah Village and collaborate with the Village Midwife in searching for data which was also assisted by Posyandu cadres and local food security was maintained.  
HUBUNGAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI PUSKESMAS KEDUNGJATI Rosmala Kurnia Dewi; Anggita Septyani Permatasari
Jurnal Profesi Bidan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Profesi Bidan Indonesia
Publisher : LPPM AN NUUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) hingga saat ini masih menjadi persoalan perinatal yang cukup signifikan, mengingat kontribusinya terhadap tingginya angka kematian neonatal serta potensi gangguan tumbuh kembang yang bersifat jangka panjang. Preeklampsia, sebagai salah satu gangguan hipertensi yang muncul selama kehamilan, dipandang berperan penting dalam munculnya BBLR karena dapat mengganggu aliran darah menuju plasenta sehingga membatasi pertumbuhan janin. Ditemukannya kasus BBLR secara berulang di Puskesmas Kedungjati sepanjang 2021 hingga 2023 mendorong perlunya penelusuran lebih mendalam terhadap faktor risiko maternal ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara preeklampsia dan kejadian BBLR pada bayi yang lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungjati. Metode: Penelitian ini memakai desain case control dalam kerangka analitik korelasional. Populasi penelitian terdiri dari seluruh bayi yang dilahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungjati sepanjang Januari 2021 hingga Desember 2023—berjumlah 1.387 bayi, 76 di antaranya kasus BBLR. Dari populasi tersebut, diambil 152 responden sebagai sampel: 76 kasus BBLR melalui total sampling dan 76 kontrol melalui simple random sampling. Data sekunder yang bersumber dari rekam medis dianalisis memakai uji korelasi Rank Spearman pada taraf signifikansi α=0,05. Hasil: Preeklampsia ditemukan pada 37 responden (24,3%), sementara 115 responden lainnya (75,7%) tidak mengalaminya. Distribusi bayi BBLR dan bayi berat lahir normal tercatat sama besar, masing-masing 76 kasus (50,0%). Uji korelasi Rank Spearman menghasilkan koefisien 0,169 dengan p=0,038 (p<0,05), yang mengarah pada hubungan positif antara preeklampsia dan BBLR yang, meskipun signifikan secara statistik, tergolong lemah dari segi kekuatannya. Simpulan: Ditemukan hubungan yang lemah namun bermakna secara statistik antara preeklampsia dan kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungjati. Temuan ini menegaskan pentingnya mengenali dan menangani preeklampsia sejak awal kehamilan sebagai strategi untuk menekan angka kejadian BBLR.
MODIFICATIONS OF PUBLIC EXERCISE AGAINST UTERINE INVOLUTION ON A POST PARTUM MOTHER Doa Yupita Wulansari; Mahanani Mulyaningrum; Anggita Septyani Permatasari
The Shine Cahaya Dunia S-1 Keperawatan Vol. 9 No. 2 (2024): THE SHINE CAHAYA DUNIA S-1 KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/

Abstract

 Latar Belakang; Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pada tahun 2019, angka kematian ibu sangat tinggi, setiap harinya kurang lebih 810 perempuan meninggal karena sebab-sebab yang dapat dicegah terkait kehamilan dan persalinan. Penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan postpartum, dimana 14 juta ibu atau 11,4% di seluruh dunia. Di negara berkembang, angka kejadian perdarahan postpartum adalah 60% dari 100 ribu ibu. kematian setiap tahunnya dan disebabkan oleh manajemen persalinan yang buruk terutama pada kala 3 yang dapat menyebabkan kehilangan banyak darah (Ramadhan, 2019).   Tujuan; Menganalisis pengaruh senam nifas terhadap involusi uteri ibu post partum di Desa Ketro Karangrayung.   Metodologi; Jenis penelitian ini kuantitatif menggunakan Desain pra eksperimen dengan pendekatan pretest posttest. Sampel dalam penelitian ini adalah 24 ibu post partum dari bulan Juni-Juli 2024 sampel yang digunakan total sampling, dengan uji Wilcoxon.   Hasil; Perbedaan rerata TFU sebelum dan sesudah senam nifas 8,92 dengan hasil data Uji komparatif menggunakan Wilcoxon dengan bantuan komputerisasi didapatkan hasil dengan nilai p-value sebesar (0.000) < ɑ (0,05). Dari hasil tersebut dapat di artikan bahwa hipotesis Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada Pengaruh senam nifas terhadap involusi uteri pada ibu post partum di Desa Ketro Kecamatan Karangrayung Kabupaten Grobogan. Kesimpulan; Kesimpulan ada pengaruh senam nifas terhadap involusi uteri ibu post partum di Desa Ketro Karangrayung. 
PENGARUH BRITHING BALL TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA IBU BERSALIN DI TPMB AMALIA TEMON, DESA BRATI Rosmala Kurnia Dewi; Anggita Septyani Permatasari
The Shine Cahaya Dunia Ners Vol 7 No 2 (2022): THE SHINE CAHAYA DUNIA NERS
Publisher : LPPM UNAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35270/ypar3417

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan Brithing Ball diberikan kepada ibu bersalin dengan intruksi duduk diatas bola dengan kedua kaki membuka telapak kaki menempel lantai dan ditekuk 900, kemudian menggoyangkan panggung searah jarum jam atau kekiri dan kekanan.  Goyangan panggul diatas Brithing Ball meningkatkan kemajuan persalinan, mengurangi rasa nyeri, dan membuat rasa nyaman. Setelah aktivitas nyeri terhambat, produksi endorphin meningkat lalu dibawa ke otak untuk diterjemahkan. Peningkatan produksi endorphin menyebabkan penurunan sensasi nyeri sehingga menurunkan intensitas nyeri yang berhubung juga dengan penurunan tingkat kecemasan (Simanjuntak, M. K. 2022).  Tujuan penelitian : untuk menganalisis pengaruh brithing ball terhadap tingkat kecemasan pada ibu bersalin di TPMB Amalia Temon Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan Quasi Ekxperimental menggunakan one group pretest posttest desaign. Jumlah sampel sebanyak 15 ibu bersalin. Hasil: Hasil penelitian dilihat dari tingkat kecemasan ibu bersalin sebelum dan sesudah penggunaan Brithing Ball mengalami penurunan dengan selisih rata-rata sebesar 3,14 dan nilai p value tingkat kecemasan <0,05 sehingga terdapat perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi Brithing Ball pada ibu bersalin di TPMB Amalia Temon. Kesimpulan: Pelaksanaan Brithing Ball terbukti membantu mengurangi tingkat kecemasan pada ibu bersalin di TPMB Amalia Temon.
STUDI KORELASI : KESEHATAN MENTAL REMAJA DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA Yunita Dwiyanti; Pintam Ayu Yastirin; Anggita Septyani Permatasari
The Shine Cahaya Dunia Kebidanan Vol. 10 No. 2 (2025): The Shine Cahaya Dunia Kebidanan
Publisher : Lppm Unan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Data survei rumah tangga berskala nasional yang dilakukan oleh Indonesia Nasional Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja (34,9%) atau setara dengan 15,5 juta memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi Kesehatan mental remaja adalah pola asuh orang tua. Pola asuh orang tua tercermin dari sikap dan interaksi orang tua dengan anak dalam kehidupan sehari – hari. Sikap maupun interaksi orang tua tercermin dalam kehidupan sehari–hari. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap kesehatan mental remaja di SMP Negeri 1 Wirosari. Metode : penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi, dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian dilakukan menggunakan teknik random sampling sejumlah 247 responden. Hasil : hasil sampel 247 remaja mengalami gangguan kesehatan mental sebanyak (37.2%) dan remaja tidak mengalami gangguan kesehatan mental sebanyak (63,9%). Sebagian besar pola asuh orang tua  menerapkan tipe pola asuh demokratis yaitu sebanyak 134 (53,2%),  Kesimpulan : berdasarkan dari penelitian terdapat ada hubungan pola asuh orang tua terhadap kesehatan mental remaja di SMP Negeri 1 Wirosari.  
NUTRITION EDUCATION AND SUPPORT FOR FAMILIES WITH STUNTED TODDLERS THROUGH COMMUNITY-BASEDMIDWIFERY CARE IN SENDANGREJO VILLAGE,GROBOGAN REGENCY Anggita Septyani Permatasari; Rosmala Kurnia Dewi
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Cahaya Negeriku Vol 6 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Cahaya Negeriku
Publisher : LPPM AN Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/jpkm.v6i2.105

Abstract

Background: In many parts of Indonesia, toddlers still grow up shorter than they should because of prolonged nutritional deficits, a condition known as stunting. National figures stood at 21.5% in 2023, Grobogan Regency recorded 20.2% the same year,, and by June 2026 eight toddlers in Sendangrejo Village alone had been identified as stunted. A parent's education level, household income, and a father's smoking habit are among the circumstances repeatedly linked to the problem. Purpose: This community service activity aimed to provide midwifery-based community education and nutritional accompaniment for a family with a stunted toddler, and to describe the outcome of the intervention. Method: A descriptive case-study approach was used, applying the midwifery care management process (assessment, diagnosis, planning, implementation, and evaluation). Interventions included nutrition education, local-food supplementary feeding (PMT), growth monitoring every three days, and health education on the danger of household cigarette-smoke exposure. Results: After the intervention, the family's understanding of stunting improved, the child's appetite and animal-protein intake increased, body weight began to rise, and the father participated cooperatively in smoking-cessation education. Conclusion: Family-centered midwifery education and nutritional accompaniment can improve family knowledge and support early nutritional recovery in a stunted toddler; sustained family involvement and cross-sector support (posyandu, health workers, and family) are essential for stunting prevention