Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

MENGINGAT KEMBALI BUDAYA TIONGHOA DI KOTA TANGERANG MELALUI INTERAKTIF GALERI DENGAN KONSEP AXIS INTERGRATED CIRCULATION Haryono, Erick Prasetya; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30929

Abstract

The disappearance of Chinese culture in Tangerang can be traced back to the main beliefs of the Cina Benteng community, namely Confucianism, and its relationship with other religious and cultural groups. The term "Cina Benteng" refers to the Chinese population in the Tangerang area, especially in Pasar Lama and its surroundings. The ancestors of the Cina Benteng community were Hokkien Chinese who came to Tangerang and settled in the area for several generations. However, over time, the Cina Benteng culture began to fade due to various factors, such as assimilation with local culture and modernization. The aim of this study is to propose a solution that can revive the lost Chinese culture in Tangerang. This can be achieved by creating spaces that depict the characteristics of Chinese culture. The method to be used is qualitative, by conducting surveys and observations regarding the current condition of Tangerang and then collecting data to determine if Chinese culture in Tangerang can be revived. The result of this study is an interactive gallery with an integrated axis circulation concept, allowing visitors to understand and experience the richness of Cina Benteng culture once again. This gallery will showcase artifacts, art, and traditions that are an important part of the Cina Benteng cultural heritage and provide a space for the community to interact and learn more deeply about the history and contributions of this community in Tangerang. It is hoped that with the existence of this gallery, the public can better appreciate and preserve the unique and valuable culture of Cina Benteng. Keywords:  architecture; chinese; gallery; interactive; Tangerang Abstrak Hilangnya budaya Cina di Tangerang merupakan fenomena yang dapat ditelusuri kembali ke keberadaan keyakinan utama masyarakat Cina Benteng, yaitu Konfusianisme, dan hubungannya dengan kelompok agama dan budaya lainnya. Masyarakat Tionghoa Benteng adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada populasi Cina di daerah Tangerang, terutama di area Pasar Lama dan sekitarnya. Para leluhur masyarakat Cina Benteng adalah orang Cina Hokkien yang datang ke Tangerang dan tinggal di daerah ini selama beberapa generasi. Namun, seiring berjalannya waktu, budaya Tionghoa Benteng mulai memudar akibat berbagai faktor, seperti asimilasi dengan budaya lokal dan modernisasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengusulkan salah satu solusi yang bisa membangkitkan budaya Tionghoa yang telah hilang di Tangerang. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan ruang-ruang yang menggambarkan khas dari budaya Tionghoa. Metode yang akan digunakan yaitu kualitatif dengan cara melakukan survei dan pengamatan mengenai kondisi Tangerang sekarang kemudian mengumpulkan data untuk mengetahui jika budaya Cina di Tangerang diangkat kembali. Hasil penelitian ini berupa galeri interaktif dengan konsep sirkulasi terintegrasi axis, yang memungkinkan pengunjung untuk memahami dan merasakan kembali kekayaan budaya Tionghoa Benteng. Galeri ini akan menampilkan artefak, seni, dan tradisi yang merupakan bagian penting dari warisan budaya Tionghoa Benteng, serta menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi dan belajar lebih dalam tentang sejarah dan kontribusi komunitas ini di Tangerang. Diharapkan, dengan adanya galeri ini, masyarakat dapat lebih menghargai dan melestarikan budaya Tionghoa Benteng yang unik dan berharga.
BUDAYA KOMUNITAS YANG DIBAWA KEMBALI DALAM PERBELANJAAN PEDESTRIAN DI PASEBAN SENEN Arya Surya, Tania; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30930

Abstract

Phenomena ranging from the demise of mall buildings to the decline in people's interest in visiting malls are starting to occur more frequently in Jakarta. The issue that occurs is that the majority of mall buildings have a generic design, so there is no uniqueness that can attract people to visit and gather, especially in the Paseban area, which is in Senen sub-district, Central Jakarta, which at one time had a culture of gathering because of the presence of communities from Sultan Agung's troops were facing war. This also causes the function of mall buildings in general to become stagnant, therefore, this research aims to produce design proposals that can attract people to visit and revive the community culture that exists in Paseban in the form of a comfortable and modern place for shopping and productivity. The method used is by conducting surveys and also observing the Paseban area and its surroundings. The research step is carried out by visiting the selected site and then observing the environment, including roads, pedestrian conditions, and any facilities or buildings in the site area. The result of this research is a pedestrian shopping concept to provide new experiences to people with a different shape. The findings obtained are that unique and different designs can make buildings interesting to visit. The novelty of the design combines landscape with building forms which are still not often found in Jakarta. Keywords: community; gather; pedestrian; shopping; stagnant Abstrak Fenomena mulai matinya bangunan mall hingga menurunnya minat masyarakat mengunjungi mall mulai banyak terjadi di Jakarta. Isu yang terjadi adalah bahwa mayoritas bangunan mall memiliki desain yang generik, sehingga tidak adanya keunikan yang dapat menarik masyarakat untuk berkunjung dan berkumpul, terutama di daerah Paseban, yang berada di kecamatan Senen, Jakarta Pusat, yang pada masanya memiliki budaya berkumpul karena kehadirannya komunitas dari pasukan Sultan Agung saat sedang menghadapi masa perang. Hal ini juga menyebabkan bangunan fungsi mall pada umumnya menjadi stagnan, oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menghasilkan usulan desain yang dapat menarik masyarakat untuk berkunjung dan menghidupkan kembali budaya berkomunitas yang ada di Paseban berupa tempat berbelanja dan berproduktifitas yang nyaman dan modern. Metode yang dilakukan yaitu dengan cara melakukan survei dan juga observasi terhadap daerah Paseban dan sekitarnya. Langkah penelitian dilakukan lewat mendatangi tapak terpilih dan kemudian melakukan observasi lingkungan baik jalanan, keadaan pedestrian, hingga fasilitas atau bangunan apa saja yang berada di daerah tapak. Hasil dari penelitian ini adalah konsep perbelanjaan berbentuk pedestrian untuk memberikan pengalaman baru kepada masyarakat dengan bentukan yang berbeda. Temuan yang didapatkan adalah desain yang unik dan berbeda dapat membuat bangunan menjadi menarik untuk dikunjungi. Kebaruan desain yang memadukan landscape dengan bentuk bangunan yang masih kurang banyak ditemui di Jakarta.
DESAIN VIHARA BUDDHA DENGAN KONSEP KESEDERHANAAN SEBAGAI IDENTITAS DI KAWASAN MANGGA BESAR Theodorus, Pricilia Angelina; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30944

Abstract

The negative impact phenomenon in the Mangga Besar area occurs because modernization and globalization have resulted in the transformation of an area that was once rich in Chinatown culture into a place famous for its nightlife. The issue of the area as the center of economic and cultural activities for the Chinese community, with its culinary diversity, religious rites and typical Chinatown architecture, is undergoing drastic changes. The biggest change that is clearly visible is the transformation of the area's function. The problem is, once filled with traditional shops, it has now been filled with the nightlife industry. This marks a shift in focus from traditional economic activities to a modern entertainment industry that accommodates Jakarta's rapidly growing urban lifestyle. This research aims to rebalance elements of Chinese culture and public perception and highlight the potential of the area through placemaking. The method used is qualitative with the concept of simplicity and naturalness of Buddhist Temple design. His findings by adding new functions that can balance activities in this area can be a solution to increase positive perceptions and achieve environmental balance in this area. The novelty is a building that can balance and provide calm amidst the busy nightlife in Mangga Besar. Keywords: architecture; degradation; function; placemaking; temple Abstrak Fenomena dampak negatif di kawasan Mangga Besar terjadi karena modernisasi dan globalisasi terhadap transformasi sebuah kawasan yang dahulunya kaya akan budaya pecinan menjadi sebuah tempat yang terkenal akan kehidupan malamnya. Isu kawasan sebagai pusat kegiatan ekonomi dan budaya masyarakat Tionghoa, dengan keberagaman kuliner, ritus keagamaan, dan arsitektur khas pecinannya tengah mengalami perubahan yang drastis. Perubahan terbesar yang terlihat jelas adalah transformasi fungsi kawasan. Masalahnya, dahulu kawasan ini dipenuhi dengan toko-toko tradisional, kini telah dipenuhi oleh industri hiburan malam. Hal ini menandai pergeseran fokus dari kegiatan ekonomi tradisional ke industri hiburan modern yang mengakomodasi gaya hidup urban yang berkembang pesat di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menyeimbangkan kembali elemen budaya pecinan serta persepsi masyarakat dan menonjolkan potensi kawasan melalui placemaking. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan konsep kesederhanaan dan kealamian desain vihara Buddha. Temuannya dengan menambahkan fungsi baru yang dapat menyeimbangkan kegiatan di kawasan ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan persepsi positif dan mencapai keseimbangan lingkungan di Kawasan ini. Kebaruannya adalah bangunan yang dapat menyeimbangkan dan memberikan ketenangan di tengah kepadatan kehidupan malam di Mangga Besar.
PERANCANGAN PUSAT REKREASI URBAN BERBASIS KOMUNITAS DI GLODOK DENGAN PENDEKATAN PERILAKU Karuniawan, Adrian; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33920

Abstract

In modern times and the increasing human population, humans need land and space for activities, but on the other hand, the land and open space needed is increasingly limited, which also makes human activities limited. The Glodok area is a dense area, in the corners of the Glodok area there are buildings that are degraded or abandoned and left so that the land cannot be utilized optimally for human activities. Meanwhile, the Kebon Torong field, which is a community space for the Glodok community, is threatened with being evicted to be replaced with health facilities, so that the Glodok community loses its community space for exercise and recreation. Therefore, this project is aimed at re-accommodating the people of Glodok so they can exercise as well as have recreation and become a place of entertainment for the community by rebuilding abandoned or degraded buildings so that the land can be reused. This community space can also be a space for collaboration between generations of each age group so that a sense of togetherness is maintained. By presenting recreation and fitness programs that draw from the habits and behavior of the surrounding community, which includes recreation areas, commercial areas and community areas. This research uses qualitative and quantitative methods. Keywords:  behavior; community; generation; recreation; space Abstrak Di zaman modern serta meningkatnya populasi manusia membuat manusia membutuhkan lahan dan ruang untuk beraktivitas tetapi disisi lain lahan dan ruang terbuka yang dibutuhkan semakin terbatas, itu juga yang membuat aktivitas manusianya menjadi terbatas. Kawasan Glodok merupakan kawasan yang padat, di sudut-sudut kawasan Glodok terdapat bangunan-bangunan yang mengalami degradasi atau terbengkalai yang dibiarkan membuat lahannya tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk aktivitas manusia. Sementara itu lapangan Kebon Torong yang merupakan ruang komunitas bagi komunitas Glodok terancam akan digusur untuk digantikan dengan fasilitas kesehatan, sehingga komunitas Glodok kehilangan ruang komunitasnya untuk berolahraga sekaligus berekreasi. Oleh karena itu proyek ini ditujukan untuk mewadahi kembali masyarakat Glodok agar dapat berolahraga sekaligus berekreasi dan menjadi tempat hiburan bagi komunitas dengan membangun kembali bangunan yang terbengkalai atau mengalami degradasi agar lahannya dapat dimanfaatkan kembali. Ruang komunitas ini juga bisa menjadi ruang kolaborasi antar generasi dari setiap kelompok usia sehingga rasa kebersamaannya tetap terjaga. Dengan menghadirkan program rekreasi dan kebugaran mengambil dari kebiasaan dan perilaku komunitas sekitar, yaitu mencakup area rekreasi, area komersil dan area komunitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.
PERANCANGAN AREA KOMERSIAL BERBASIS DIGITAL INTERAKTIF DI GLODOK, JAKARTA BARAT Vincent, Vincent; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33921

Abstract

The emergence of the online store phenomenon that has developed since 2020, especially during the pandemic, has had a significant impact on conventional businesses such as offline stores, markets, and trade centers. The issue arose that spaces in the market area became very quiet, some of them were even forced to close their businesses. This problem is very serious considering the growing trend while the space in the market is static. The purpose of this study is to provide solutions and recommendations for space to create a new atmosphere that can help offline traders survive and compete. The research was conducted with a descriptive and qualitative approach to better understand the impact of this static space. The research method used is to utilize a descriptive and qualitative approach. The research steps began with a literature study, then continued with a survey for sampling which was continued with the distribution of questionnaires to collect customer opinion data regarding the experience of space and comfort in the space. The results of the study on the design of space in the surrounding shophouses show that to create an area that is attractive to the community, the initial step that needs to be taken is only a few shophouses. One way that can be applied is to add space functions, such as integrating an online shop platform. With this platform, sellers will find it easier to make transactions both online and offline, so that it can increase the attraction and visits of the community to the area. The novelty is designing a commercial place for traders with the concept of connectivity architecture andutilizing the shape of the surrounding buildings so as to create harmony between the masses and their surroundings. Keywords: business; market; on line; trader; traditional Abstrak Munculnya fenomena online shop yang berkembang sejak tahun 2020, terutama di masa pandemi, memberikan dampak yang signifikan terhadap bisnis konvensional seperti toko offline, pasar, dan pusat perdagangan. Timbul isu ruang–ruang pada kawasan pasar menjadi sangat sepi, bahkan beberapa di antaranya terpaksa menutup usahanya. Masalah ini menjadi sangat serius dikarenakan tren yang terus berkembang sedangkan ruang pada pasar statik. Tujuan penelitian ini adalah memberikan solusi dan rekomendasi ruang guna menciptakan suasana baru yang dapat membantu pedagang offline bertahan dan bersaing. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif dan kualitatif untuk memahami lebih dalam dampak ruang yang statik ini. Metode penilitian yang digunakan yaitu memanfaatkan pendekatan dekriptif dan kualitatif. Langkah penelitian diawali dengan melakukan studi literatur, kemudian dilanjutkan dengan survei untuk pengambilan sampel yang diteruskan dengan pembagian kuesioner untuk mengumpulkan data opini pelanggan mengenai pengalaman ruang dan kenyamanan dalam ruang. Hasil penelitian mengenai perancangan ruang pada ruko-ruko di sekitar menunjukkan bahwa untuk menciptakan kawasan yang menarik bagi masyarakat, langkah awal yang perlu dilakukan adalah meredesain beberapa ruko . Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah dengan menambah fungsi ruang, seperti mengintegrasikan platform onlineshop. Dengan adanya platform ini, para penjual akan lebih mudah melakukan transaksi baik secara daring maupun luring, sehingga dapat meningkatkan daya tarik dan kunjungan masyarakat ke kawasan tersebut. Kebaruannya adalah merancang tempat komersial untuk para pedagang dengan konsep arsitektur konektivitas dan memanfaatkan bentuk bangunan sekitar sehingga menimbulkan keselarasan antara massa dan sekitarnya.
TRANSFORMASI DESAIN SEBAGAI STUDI TIPOLOGI RUMAH BA’ANJUNG DAN BALLA Lianto, Fermanto; Husin, Denny; Trisno, Rudy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.4049

Abstract

The phenomenon of the Indonesian capital relocation has shifted the development focus from Java Island towards the central part of Indonesia. The islands of Kalimantan and Sulawesi are preparing to carry out an entirely new planned city, including the modernization of these two islands, while their current condition is relatively traditional. The problem includes marginalized, threatened, eroded local culture and natural environment as the move would have grave repercussions for the entire region, such as deforestation, global cultural influences, and instantaneous modernization. Conservation and preservation of local architectural DNA have become urgent research; this paper presents a design idea as a study based on two representatives’ local architecture. The research objective is to study the various potency of two tribal houses' typological transformation, they are called Ba’anjung (Kalimantan) and Balla (Sulawesi), as alternative variations to embrace modernized tradition. It aims to promote its genetic structure as the arch-type for present-day development. Typology is utilized to study morphological formations, demonstrating the design process while investigating the two-house types as the case studies. Research steps include 1) Typological study, 2) Module Configuration, and 3) Design transformation. The outcome is a typo-morphological study based on unit design transformation. The novelty is a unit variation of forms Ba’anjung and Balla.
A TYPOLOGICAL INVESTIGATION OF THE Y.B. MANGUNWIJAYA’S URBAN CHURCH Trisno, Rudy; Lianto, Fermanto; Husin, Denny
Dimensi: Journal of Architecture and Built Environment Vol. 47 No. 1 (2020): JULY 2020
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.166 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.47.1.1-10

Abstract

As the iconic buildings in Yogyakarta, the Mangunwijaya’s churches contribute a great influence on the city. His wisdom is not only written in his books, but also has been implemented through his architectural projects, revealing a specific composition of a spiritual language. A qualitative study is used to reveal Mangunwijaya’s architectural principles, by using the tracing method to highlight the structural elements of his urban churches. A typological investigation is accompanied by retracing Mangunwijaya’s drawing, where its spatial composition and form are emphasized through points and lines. Hence, by eliminating decorative elements, the most fundamental components of the churches can be raised, consisting: 1) The roof as the most dominant element, a volume that suggests the openness of the building; 2) Landscape defines a mutual symbiosis between indoor and outdoor, stimulating communication and gesture; 3) A typological composition that respects a Roman-Catholic church’s principles while revealing a local identity.
Spatial Analysis and Development Dynamics of Kampung Kamal Muara via Coastal Mapping Husin, Denny
Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture Vol. 7 No. 2 (2025): Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture
Publisher : Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/acesa.v7i2.14640

Abstract

This research aims to conduct a spatial mapping analysis for Kamal Muara Fisherman Kampung to understand the development dynamic of its housing fabric. It focuses on identifying and exploring the potential for spatial hybridity, a key factor in the transformation of the kampung’s physical layout. The study identifies a critical issue in the current spatial aggregation, which lacks optimal development and coherence, thereby emphasizing its character for strategic planning and design intervention. A qualitative interpretive methodology is employed, utilizing a typo-morphological approach. The primary research instrument involves digital mapping techniques. The mapping process consists of three main stages: (1) map extraction, (2) morphological analysis, and (3) typological synthesis. The expected outcome of this research is the formulation of a spatial algorithm for model development, with a particular emphasis on generating a prototype for residential units that could serve as the structural core of the kampung’s spatial network.
PENERAPAN MATERIAL RAMAH LINGKUNGAN PADA PERANCANGAN ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA DI JAKARTA BARAT Thejaya, Hansen; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35578

Abstract

The growth in the number of students at Tarumanagara University in West Jakarta increases the need for adequate and sustainable housing. Urban environmental issues such as the energy crisis, the heat island effect, and limited green space demand responsive and sustainable architectural solutions. This study aims to design a Untar student dormitory with a green architecture approach, especially through the selection of building forms and materials that support energy efficiency, thermal comfort, and sustainability. The design method is carried out through literature studies, site and climate analysis, and design synthesis based on passive design principles. The design results show that building forms based on solar orientation and cross ventilation, as well as the selection of local materials such as perforated bricks and bamboo, are able to create a healthy, energy-efficient, and urban biodiversity-supporting residential environment. This design can be a model for sustainable housing in a dense campus environment in a big city.  In addition to considering environmental aspects, the design also integrates the social and psychological needs of students by providing communal spaces that encourage interaction, collaboration, and a sense of togetherness. The arrangement of building masses and open spaces is chosen to maximize natural lighting, air circulation, and visual connection with surrounding greenery. This approach not only improves occupant comfort but also reduces reliance on mechanical systems such as air conditioning and artificial lighting. Therefore, this dormitory design not only addresses the need for student housing but also plays an active role in creating a more environmentally friendly and long-term sustainable campus environment. Keywords: Biodiversity; Environmentally Friendly Materials; Green Architecture Abstrak Pertumbuhan jumlah mahasiswa Universitas Tarumanagara di Jakarta Barat meningkatkan kebutuhan akan hunian yang memadai dan berkelanjutan. Isu lingkungan perkotaan seperti krisis energi, efek pulau panas, dan keterbatasan lahan hijau menuntut solusi arsitektur yang responsif dan berkelanjutan. Studi ini bertujuan merancang asrama mahasiswa Untar dengan pendekatan arsitektur hijau, khususnya melalui pemilihan bentuk dan material bangunan yang mendukung efisiensi energi, kenyamanan termal, dan keberlanjutan. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, analisis tapak dan iklim, serta sintesis desain berbasis prinsip desain pasif. Hasil perancangan menunjukkan bahwa bentuk bangunan berbasis orientasi matahari dan ventilasi silang, serta pemilihan material lokal seperti bata berlubang dan bambu, mampu menciptakan lingkungan hunian yang sehat, hemat energi, dan mendukung biodiversitas urban. Desain ini dapat menjadi model hunian berkelanjutan di lingkungan kampus padat kota besar. Selain mempertimbangkan aspek lingkungan, rancangan juga mengintegrasikan kebutuhan sosial dan psikologis mahasiswa melalui penyediaan ruang-ruang komunal yang mendorong interaksi, kolaborasi, dan rasa kebersamaan. Strategi penataan massa bangunan dan ruang terbuka dipilih untuk memaksimalkan pencahayaan alami, sirkulasi udara, serta koneksi visual dengan elemen hijau di sekitarnya. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan penghuni, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada sistem mekanis seperti pendingin udara dan pencahayaan buatan. Dengan demikian, rancangan asrama ini tidak hanya menjawab kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.
GALERI TANI: LANDSCAPE ARCHITECTURE DENGAN PERMACULTURE DI JAKARTA SELATAN Stefani, Stefani; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35579

Abstract

The phenomenon of food waste in Indonesia has reached a critical point. Food that is still suitable for consumption ends up as waste is an important issue because there are still no buildings or places that process food waste, so DKI Jakarta occupies the first position in terms of Food Waste. The amount of food waste in DKI Jakarta poses a serious problem because it fills up landfills. In this case, regenerative architecture is a way to restore and improve by processing food waste into fertilizer. The purpose of this design is to process food waste into fertilizer by designing waste treatment, urban farms, galleries, and cafes where the fertilizer can be used to grow plants, fruits, vegetables, and herbs that can be used as raw materials for cafes, and can be sold to local residents. The method for this design uses the permaculture architecture method. Permaculture architecture focuses on system linkages, energy efficiency, local production, and ecological integration. The form of this design is a food waste processing, urban farm, gallery, and cafe. The result of this design is a regenerative ecosystem design with interconnections between functions that produce not only consumption spaces, but also recovery and education spaces. The novelty of this design is the integration of spaces that do not produce final waste and are cyclical through a permaculture architecture approach. Keywords:  architecture; waste; permaculture; regenerative Abstrak Fenomena limbah makanan di Indonesia telah mencapai titik kritis. Makanan yang masih layak konsumsi berakhir sebagai limbah merupakan isu penting dikarenakan masih belum ada bangunan maupun tempat yang mengolah limbah makanan, sehingga DKI Jakarta menduduki posisi pertama dalam hal Food Waste. Banyaknya limbah makanan di DKI Jakarta menimbulkan masalah yang serius karena membuat lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi penuh. Dalam hal ini, regeneratif arsitektur merupakan cara untuk memulihkan dan memperbaiki dengan mengolah limbah makanan menjadi pupuk. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mengolah limbah makanan menjadi pupuk dengan merancang pengolahan limbah, urban farm, galeri, dan kafe yang pupuknya dapat digunakan untuk menanam tanaman, buah, sayuran, dan rempah yang bisa digunakan untuk bahan baku kafe, dan bisa dijual ke warga sekitar. Metode untuk perancangan ini menggunakan metode permaculture architecture. Permaculture architecture memfokuskan keterkaitan sistem, efesiensi energi, produksi lokal, dan integrasi ekologis. Wujud dari perancangan ini merupakan pengolahan limbah makanan, urban farm, galeri, dan kafe. Hasil dari perancangan ini adalah desain ekosistem regeneratif dengan interkoneksi antar fungsi yang menghasilkan tidak hanya ruang konsumsi, tetapi juga ruang pemulihan dan edukasi. Kebaruan dari perancangan ini adalah integrasi ruang yang tidak menghasilkan limbah akhir dan bersifat siklus melalui pendekatan permaculture architecture.