Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PENELITIAN RUANG KOTA PRODUKTIF PANGAN: EKSPLORASI TERHADAP POTENSI RUANG HUNIAN VERTIKAL DAN RUANG PUBLIK JAKARTA Indrawati, Klara Puspa; Ariaji, Priscilla Epifania; Nathania, Nathania
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.253 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v1i1.1896

Abstract

The excessively complicated food production-distribution-consumption, as evident in Jakarta today will result in economic, ecological, health, and even socio-cultural losses for the citizens. Food produced outside the area of a city means increasing carbon foot print, cutting off direct relations between producers and consumers as the key to controlling food quality, the emergence of intermediary traders, and city residents not knowing about good food sources. Living involves a bond of dependency between three elements: the body, food, and shelter. For city dwellers, their body are becoming increasingly detached from their shelter. Jakarta residents must face the complicated problem of land limitations, land prices that are becoming increasingly expensive, as well as their occupation as employees that does not allow producing their own food. Dependence of a city on food production outside its region or on industrial food cannot guarantee the future fulfillment of citizens' food with environmental quality that is predicted to experience degradation. This research was meant to present food production space in the context of housing and city public spaces. The method in this research is participatory and experimental by involving researchers and Jakarta residents to produce a study and directions on vertical farming design. Furthermore, it is hoped that some of the prototype designs produced can educate Jakarta citizens about the economic and ecological benefits of simple farms around their dwellings.ABSTRAK: Rantai produksi-distribusi-konsumsi pangan yang terlalu panjang, seperti yang terjadi di Jakarta hari ini akan menciptakan kerugian ekonomi, ekologis, kesehatan, bahkan sosio-kultural bagi warga kota itu sendiri. Pangan yang dihasilkan di luar daerah suatu kota berarti meningkatkan carbon foot print, memutus hubungan langsung antara produsen dan konsumen sebagai kunci mengontrol kualitas pangan, munculnya pedagang perantara, dan hilangnya pengetahuan warga kota tentang sumber pangan yang baik. Praktek bertinggal selalu melibatkan ikatan ketergantungan antara tiga unsur: tubuh penghuni, makanan, serta tempat tinggal. Tubuh warga kota semakin terlepas dari ikatan terhadap tempat tinggal mereka. Warga Jakarta harus menghadapi masalah pelik soal keterbatasan lahan, harga lahan yang semakin mahal, serta kesibukan sehari-hari sebagai pekerja yang tak memungkinkan penduduk kota memproduksi makanan seminimal apapun. Ketergantungan suatu kota terhadap produksi pangan di luar daerahnya maupun terhadap makanan industrial tidak dapat menjamin pemenuhan pangan warga di masa depan dengan kualitas lingkungan hidup yang diprediksi mengalami degradasi. Penelitian ini dibuat untuk menghadirkan ruang produksi pangan pada konteks pemukiman maupun dan ruang publik kota. Metode dalam penelitian bersifat partisipatif dan eksperimental dengan melibatkan peneliti dan warga pemukiman Jakarta untuk menghasilkan studi dan arahan tentang rancangan pertanian vertikal. Selanjutnya, diharapkan beberapa prototype desain yang dihasilkan dapat mengedukasi warga Jakarta tentang manfaat ekonomi dan ekologis dari pertanian sederhana di sekitar hunian mereka.
PENERAPAN PENDEKATAN EKSPERIMENTAL RASIONALISME YANG EMPATIK DALAM DESAIN FASILITAS PENGOLAHAN UDARA BERSIH DI JAKARTA Lewinski, Madeline Louis; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27196

Abstract

Jakarta ranks among the top 10 cities with the highest pollution levels globally. Architecture can play a role to help reduce air pollution by implementing air purification technology within buildings. This design method represents the application of experimental rationalism that has not been tried before. With experimental rationalism, the air filtration technology in the design becomes the basis for an empathetic program within the building. The primary purpose is to provide a healthy space for the general public, whose daily lives are threatened by health risks triggered by air pollution. The emerging program includes an air-based therapy space, a research and education center on air pollution and air filtration technology, and commercial areas to complement the building's facilities. The empathy emphasized is towards the people of Jakarta, particularly their health risks. The building is envisioned to be a facility for healthy air processing accessible to everyone, aiming to empathize with the community and its health conditions by implementing modern air filtration technology capable of filtering harmful pollutants in Jakarta's air. Keywords: air filtration technology; air purification architecture; empathetic program; experimental rationalism Abstrak Jakarta menginjak peringkat 10 besar sebagai kota dengan polusi tertinggi di dunia. Disini arsitektur bisa berperan untuk membantu reduksi polusi udara, dengan cara mengimplementasikan teknologi penyaring udara dalam bangunan. Metode desain ini merupa penerapan eksperimental rasionalisme yang belum pernah dicoba sebelumnya. Menggunakan penerapan eksperimental rasionalisme, teknologi penyaring udara dalam desain dijadikan basis program empatik dalam bangunan, dimana pengolahan udara bersih yang diproduksi oleh bangunan tersebut dijadikan kegunaan utama bangunan, yang bertujuan untuk menyediakan fasilitas ruang sehat kepada masyarakat umum yang kesehariannya terancam oleh resiko kesehatan dipicu oleh polusi udara. Program yang dimunculkan adalah ruang terapi berbasis udara sehat, pusat riset dan edukasi polusi udara dan teknologi penyaring udara, serta area komersil untuk melengkapi fasilitas bangunan.  Empati yang diambil merupakan empati terhadap masyarakat Jakarta. Empati terhadap kesehatan mereka yang di ancam oleh resiko kesehatan. Bangunan ini menjadi sebuah fasilitas pengolahan udara sehat yang dapat diakses oleh semua orang, dan bertujuan untuk berempati terhadap masyarakat dan kondisi kesehatannya dengan cara menerapkan teknologi modern penyaring udara yang dapat memfiltrasi polutan buruk di udara Jakarta.  
PENERAPAN ARSITEKTUR PERILAKU DALAM DESAIN RUMAH SINGGAH KREATIF ANAK JALANAN Ryandi, Eric Nicholas; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27458

Abstract

The spread of street children in public spaces is still a very common problem faced in Indonesia, which is mainly caused by the increasing level of living welfare that is not matched by balanced employment opportunities. Children who go down to work on the streets are certainly influenced by the surrounding environment which has a high poverty rate so that they are vulnerable to dropping out of school because they have to work by force or self- sacrifice which reduces the interest in developing the academic or non-academic potential of the child. Street children usually have a mental and psychological condition that is still childish plus academic, motor skills, along with immature emotional intelligence due to lack of interaction from peers so that if they live in a bad environment there is a possibility that their thoughts are easily influenced if they are not given education. As part of the future of the nation's development, street children must be given proper living facilities that can provide them with a feeling of security and comfort but not forgetting interactive learning facilities that can equip their skill development so that they can grow into critical and productive individuals. Therefore, the creative boarding house is an alternative to combining residential space and creative learning space for street children used to develop their knowledge, hobbies, and skills according to their abilities. In order for the creative halfway house to be interactive with street children, the application of the applied design must follow the personality and life behavior of street children who prioritize flexibility and a sense of communal ownership Keywords: communal ownership; creative boarding house; flexibility; living environment; street children Abstrak Penyebaran anak jalanan di ruang publik masih menjadi masalah yang sangat umum dihadapi di Indonesia yang utamanya disebabkan oleh semakin meningkatnya taraf kesejahteraan hidup yang tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang seiimbang. Anak turun yang turun bekerja di jalan tentunya dipengaruhi oleh lingkungan hidup di sekitarnya yang memiliki angka kemiskinan yang tinggi sehingga mereka rentan dengan aksi putus sekolah karena harus bekerja secara paksaan atau pengorbanan diri sendiri yang menurunkan minat untuk mengembangkan potensi akademis ataupun non-akademis yang dimiliki anak tersebut. Anak jalanan biasanya memiliki kondisi mental dan psikis yang masih kekanak-kanakan ditambah lagi kemampuan akademik ,motorik, beserta kecerdasan emosional yang belum matang karena kurangnya interaksi dari teman sebaya sehingga bila ia hidup di lingkungan yang buruk ada besar kemungkinan pemikiran mereka mudah di pengaruhi bila tidak diberi pendidikan. Sebagai bagian dari masa depan pembangunan bangsa anak jalanan harus diberikan fasilitas hidup yang layak yang dapat memberikan mereka perasaan aman dan nyaman namun tidak melupakan fasilitas pembelajaran yang interaktif dapat membekali perkembangan skill mereka agar mereka dapat tumbuh berkembang menjadi pribadi yang kritis dan produktif. Oleh karena itu, rumah singgah kreatif menjadi salah satu alternatif penggabungan ruang hunian dan ruang aksi pembelajaran kreatif anak jalanan yang digunakan untuk mengembangkan ilmu, hobi, dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan kemampuan mereka. Agar rumah singgah kreatif bisa mendapat interaktif dengan anak jalanan maka penerapan desain yang diterapkan harus mengikuti kepribadian dan perilaku hidup anak jalanan yang mengedepankan fleksibilitas maupun adanya rasa kepemilikan komunal.
PENERAPAN STRATEGI URBANISME LANSKAP DALAM PLACEMAKING DI WADUK SETIABUDI Hanjaya, Michael; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30948

Abstract

The reservoir in Setiabudi, Jakarta, has the potential to become a meaningful place for the surrounding community. By implementing Landscape Urbanism approaches, we can create spaces that integrate green and blue elements, enhancing residents' care and ownership of the reservoir. The main goal of this project is to transform the reservoir into an attractive and beneficial "place" for local residents. Here are some strategies that can be implemented: Green and Blue Open Spaces: Introducing green and blue open spaces can address the lack of green areas and provide attractions for residents. Green areas can be used for various activities such as sports, picnics, or relaxation. Meanwhile, the blue areas (water) can be utilized for education about water quality and how the reservoir works. Active and Passive Education: Education can encompass two aspects. Firstly, active education involves experiments with water conditions, planting water-cleansing plants, and understanding the benefits of the reservoir. Secondly, passive education includes information about how the reservoir works and observing related city utilities. Involving residents in the planning and management of the reservoir will enhance their ownership and care. Through community meetings, workshops, and other participatory activities, we can ensure that the reservoir truly becomes a beloved and community-owned place. With this approach, the Setiabudi reservoir can transform into more than just infrastructure but also an essential part of residents' daily lives. Keywords: Green and Blue Open Spaces; Landscape Urbanism; Setiabudi Reservoir Abstrak Waduk di Setiabudi, Jakarta, memiliki potensi untuk menjadi tempat yang berarti bagi komunitas sekitar. Mengimplementasikan pendekatan Landscape Urbanism, dapat menciptakan ruang yang menggabungkan elemen hijau dan biru, serta meningkatkan kepedulian dan rasa kepemilikan warga terhadap waduk tersebut. Tujuan utama dari proyek ini adalah mengubah waduk menjadi sebuah “place” yang menarik dan bermanfaat bagi warga sekitar. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan: Ruang Terbuka Hijau dan Biru: Ketika memperkenalkan ruang terbuka hijau dan biru, dapat mengatasi kekurangan area hijau dan memberikan atraksi bagi warga. Area hijau dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti berolahraga, berpiknik, atau sekadar bersantai. Sementara itu, area biru (air) dapat dimanfaatkan untuk edukasi tentang kualitas air dan cara kerja waduk, edukasi aktif dan Pasif dapat mencakup dua aspek. Pertama, edukasi aktif melibatkan eksperimen dengan kondisi air, penanaman tanaman yang memperbaiki kualitas air, dan pemahaman tentang manfaat waduk. kedua, edukasi pasif melibatkan informasi tentang cara kerja waduk dan observasi terhadap utilitas kota yang terkait, melibatkan warga dalam perencanaan dan pengelolaan waduk akan meningkatkan rasa kepemilikan dan kepedulian mereka. Ketika mengadakan pertemuan komunitas, workshop, dan kegiatan partisipatif lainnya, dapat memastikan bahwa waduk benar-benar menjadi milik dan tempat yang dicintai oleh warga sekitar. Dengan pendekatan ini, waduk di Setiabudi dapat bertransformasi menjadi tempat yang lebih dari sekadar infrastruktur, tetapi juga sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari warga.
PENERAPAN URBAN ACUPUNCTURE DAN EVERYDAY URBANISM DALAM TRANSFORMASI RUANG JALAN JAKSA SEBAGAI DESTINASI WISATA URBAN Awalokiteswara, Chaterine Edria; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30949

Abstract

Jalan Jaksa was an entertainment and recreation icon for both foreign and local tourists in Jakarta from the '60s to the '90s, leveraging its strategic location in the city center. However, after a series of riots and bombings in Indonesia, Jalan Jaksa experienced a decline in visitors, leading to a shift in its function and loss of identity. Urban acupuncture was employed to revitalize Jalan Jaksa as a cohesive strip by injecting programs at various points along the street. Using the everyday urbanism method, researchers identified the daily activities of residents and visitors, serving as a foundation for determining programmatic and sensitive acupuncture points. The goal of this study was to revive and develop the potential of Jalan Jaksa, located in the heart of Jakarta, by creating tourist attractions and a new network of programs in the area. This approach aimed to enhance interactions, activities, accessibility, and highlight Jalan Jaksa’s identity as an urban tourist destination. The resulting network of urban acupuncture points includes key attractions such as café bars and an active play area to attract visitors. Additionally, commercial amenities, capsule hotels, and improved accessibility were aligned with the street’s character, meeting the criteria for placemaking theory, including openness, social interaction, usage, comfort, image, and connectivity. Keywords:  everyday urbanism; jalan jaksa; placemaking; transforming space; urban acupuncture Abstrak Jalan Jaksa merupakan ikon hiburan dan rekreasi bagi wisatawan asing maupun wisatawan lokal di Jakarta pada tahun ’60 hingga ‘90an dengan memanfaatkan lokasi strategis di pusat kota. Setelah rentetan peristiwa kerusuhan dan pengeboman yang terjadi di Indonesia, Jalan Jaksa mengalami penurunan pengunjung yang mengakibatkan perpindahan fungsi dan kehilangan identitas kawasannya. Urban acupuncture dilakukan untuk menghidupkan kembali Jalan Jaksa sebagai satu strip dengan cara melakukan injeksi program yang menyebar pada beberapa titik di Jalan Jaksa. Menggunakan metode everyday urbanism untuk mengidentifikasi keseharian masyarakat, baik pengunjung dan lokal terhadap aktivitas spasial dan temporal sebagai acuan dasar dari karakter masyarakat dalam menentukan program dan titik sensitif akupuntur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali dan mengembangkan potensi Jalan Jaksa yang terletak di pusat kota Jakarta dengan menciptakan atraksi wisata serta jaringan program baru di kawasan Jalan Jaksa sebagai penunjang sekaligus pemicu interaksi, aktivitas, aksesibilitas serta menonjolkan identitas Jalan Jaksa sebagai destinasi wisata perkotaan, serta memenuhi kriteria place dalam teori placemaking untuk berupa keterbukaan dan interaksi sosial, penggunaan dan aktivitas, kenyamanan dan citra, serta akses dan keterhubungan. Hasilnya adalah jaringan titik akupuntur kota dengan program yang mendukung elemen pariwisata meliputi atraksi utama berupa bar cafe dan active play area sebagai faktor penarik bagi pengunjung, amenitas berupa area komersil pertokoan, akomodasi berupa hotel kapsul, dan aksesibilitas kawasan dengan karakter yang sesuai dengan kriteria karakter jalan jaksa, yaitu karakter teras.
PENERAPAN TEORI PLACEMAKING PADA REDESAIN PASAR SENI ANCOL Larasati, Nuraida Damar; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30950

Abstract

An Art Market is a place where producers and consumers meet to transact art. In the context of tourism, an art market combines attractions, facilities and accommodation and acts as a place to market art through demonstrations, sales, exhibitions and performances. One of the Art Markets in Jakarta is Ancol Art Market, located in North Jakarta. However, Ancol Art Market faces significant challenges due to globalization and changing times, causing a decline in the number of visitors and active artists. This study uses a quantitative method in the form of a g-form survey aimed at the general public to find out what their interests and desires are for the arts. In addition, interviews were conducted with several experts such as artists and craftsmen in the research object area to gain insight into the context of the Ancol Art Market. This research is also supported by a case study method regarding Ancol Art Market in Indonesia, criteria collection based on placemaking theory, and qualitative research as an architectural approach. It was found that Ancol Art Market has the potential to become a re-active art district that reflects the fusion of contemporary art and open space. The buildings in this art district are designed with an open concept, providing flexible galleries, open spaces, and artist residency programs. With a design that integrates functional and aesthetic elements, as well as interactive spaces that encourage public participation, Ancol Art Market will be an art district that celebrates the creation and appreciation of art. Keywords:  public outdoor space; ancol art market; placemaking; urban tourism Abstrak Pasar Seni adalah tempat di mana produsen dan konsumen bertemu untuk bertransaksi hasil karya seni. Dalam konteks pariwisata, pasar seni menggabungkan atraksi, fasilitas, dan akomodasi serta berperan sebagai tempat pemasaran seni melalui peragaan, penjualan, pameran, dan pertunjukan. Salah satu Pasar Seni yang terdapat di Jakarta adalah Pasar Seni Ancol, yang terletak di Jakarta Utara. Namun, Pasar Seni Ancol menghadapi tantangan signifikan akibat globalisasi dan perubahan zaman, menyebabkan penurunan jumlah pengunjung dan seniman yang aktif. Studi ini menggunakan metode kuantitatif dalam bentuk survey g-form yang ditujukan kepada masyarakat umum untuk mengetahui apa minat dan keinginannya terhadap kesenian. Selain itu, dilakukan wawancara terhadap beberapa ahli seperti seniman dan pengrajin di kawasan objek penelitian untuk menambah wawasan mengenai konteks Pasar Seni Ancol. Penelitian ini juga  didukung dengan metode studi kasus mengenai Pasar Seni Ancol di Indonesia, pengumpulan kriteria berdasarkan teori placemaking, dan penelitian kualitatif sebagai pendekatan arsitektur. Ditemukan bahwa Pasar Seni Ancol memiliki potensi menjadi kawasan yang aktif kembali dalam kegiatan seni yang mencerminkan perpaduan seni kontemporer dan ruang terbuka. Bangunan di distrik seni ini dirancang dengan konsep terbuka, menyediakan galeri fleksibel, ruang terbuka, dan program residensi seniman. Dengan desain yang mengintegrasikan elemen fungsional dan estetika, serta ruang interaktif yang mendorong partisipasi publik, Pasar Seni Ancol akan menjadi distrik seni yang merayakan kreasi dan apresiasi seni.
PENERAPAN PENDEKATAN TIPOLOGI DAN URBANISME LANSKAP DALAM STRATEGI DESAIN REGENERATIF PEMAKAMAN PERKOTAAN DI TPU MENTENG PULO Fayola, Aurelia; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35575

Abstract

Jakarta faces urban pressure from high population density and limited land availability, while inner-city cemeteries occupy large strategic areas that remain underutilized. Traditionally, public cemeteries (TPU) serve only as passive burial grounds, contradicting their designation as RTH-7, which requires them to function as green spaces, burial sites, social spaces, and sources of revenue. TPU Menteng Pulo exemplifies the complex interplay between land scarcity, burial needs, and untapped ecological potential. This research aims to develop a regenerative design strategy by integrating architectural typology and landscape urbanism principles. The methodology begins with a typological analysis of burial practices based on spatial orientation (horizontal/vertical), burial technology (in-ground, cremation, alternatives), and cultural values. These findings inform the creation of functional zones: Earth (traditional horizontal burial), Mountain (modular vertical structures), and Forest (active landscape). The landscape urbanism approach transforms passive land into multifunctional RTH-7, activating ecological (carbon absorption), social (communal space), and economic (income generation) functions while maintaining the primary burial role. Ultimately, this study offers an applicative framework for managing urban cemeteries in dense areas through a regenerative approach that balances technical, environmental, and socio-cultural aspects. Keywords: burial typology; landscape urbanism; regenerative design; urban cemetery Abstrak Jakarta menghadapi tekanan urban akibat kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan, sementara Tempat Pemakaman Umum (TPU) di pusat kota justru menempati area strategis yang luas namun tidak termanfaatkan secara optimal. Selama ini, TPU berfungsi secara pasif sebagai lahan penguburan horizontal tanpa kontribusi aktif terhadap kehidupan perkotaan, sehingga menjadi "lahan mati" dalam struktur kota. Hal ini bertentangan dengan peruntukkan lahan TPU sebagai RTH-7 yang mana selain hadir sebagai lahan hijau juga berfungsi sebagai lahan penguburan serta pendukung kota seperti berfungsi sebagai ruang sosial bagi masyarakat dan sebagai sumber pendapatan. Dengan ini, TPU Menteng Pulo merepresentasikan isu kompleks antara keterbatasan lahan, kebutuhan ruang pemakaman, dan potensi ekologis yang belum tergarap. Maka, penelitian ini bertujuan mengembangkan strategi desain regeneratif melalui integrasi pendekatan tipologi arsitektural dan prinsip urbanisme lanskap. Metode penelitian diawali dengan analisis tipologi pemakaman berbasis tiga kriteria: (1) orientasi spasial (horizontal/vertikal), (2) teknologi penguburan (tanah/kremasi/alternatif), dan (3) nilai kultural. Temuan tipologi kemudian diimplementasikan melalui pembagian zona fungsional: Earth (pemakaman horizontal tradisional), Mountain (struktur vertikal modular), dan Forest (lanskap aktif). Pendekatan urbanisme lanskap memungkinkan transformasi lahan pasif menjadi memenuhi fungsinya sebagai RTH-7 yang mengaktifkan tiga fungsi simultan: ekologis (penyerapan karbon), sosial (ruang komunal), dan ekonomi (sumber pendapatan) dan disaat yang bersamaan tetap mempertahankan fungsi utama sebagai lahan penguburan. Akhirnya, temuan ini memberikan kerangka aplikatif bagi pengelolaan TPU perkotaan di kawasan padat dengan pendekatan regeneratif yang seimbang antara aspek teknis, lingkungan, dan sosio-kultural.
PENERAPAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EMPATI UNTUK DESAIN REGENERATIF RUMAH LANSIA PRODUKTIF DAN RUANG KOMUNITAS DI HAJI NAWI Setiawan, Jennifer; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35576

Abstract

Jakarta is currently entering an aging population phase, with an expected 18% increase in population by 2040. The main issue that arises is senior housing that meets standards is generally located in suburban areas, while  in Jakarta are scarce and fail to meet standards. This results in seniors being separated from their families in the city center. Further, compounded by senior facilities that do not support productivity and are poorly integrated with community spaces. This research aims to design specialized housing for productive elderly that integrated with community spaces in Haji Nawi, as a modern alternative to the traditional senior housing concept, which often carries a negative stigma. This allows elderly individuals to live alongside their families in the city center, creating spaces for social interaction and maintaining productivity. The research method uses a qualitative approach with primary data  through field studies, while the design method is empathetic architecture, which observes the spatial needs of productive seniors and the trends they desire to create spatial design. The novelty of the research lies in the concept of “productive co-living,” which combines inclusive design principles with regenerative architecture. This concept encourages the elderly to remain productive, engage in activities, and interact socially within the building. It offers the elderly to live in a densely populated urban area that is livable and empowers them as active participants in community life, while contributing to environmental sustainability through the implementation of regenerative systems. Keywords:  empathic architecture; community room; productive elderly; regenerative architecture; senior living Abstrak Jakarta saat ini sedang memasuki aging population dimana pada tahun 2040 akan mengalami peningkatan penduduk sebesar 18%. Isu utama yang muncul adalah hunian lansia umumnya yang memenuhi standar berada di sub-urban, sedangkan yang berlokasi di Jakarta minim yang memenuhi standar. Hal ini menyebabkan lansia terpisah dari keluarga di pusat kota. Masalah ini juga disertai fasilitas lansia yang tidak mendukung produktivitas dan kurang terintegrasi dengan ruang komunitas. Penelitian ini bertujuan merancang hunian khusus bagi lansia produktif yang terintegrasi dengan ruang komunitas di Haji Nawi, sebagai alternatif modern dari konsep panti jompo tradisional yang sering berstigma negatif. Memungkinkan Lansia tinggal berdampingan dengan keluarga di tengah kota, menciptakan ruang untuk berinteraksi secara sosial dan tetap produktif. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data primer melalui studi lapangan, sedangkan metode perancangan yang sesuai adalah arsitektur empati dimana mengobservasi kebutuhan ruang lansia produktif dan tren apa yang mereka inginkan untuk menciptakan spasial ruang. Kebaruan penelitian berada pada konsep “productive co-living” yang menggabungkan prinsip desain inklusif dengan arsitektur regeneratif. Konsep ini mendorong lansia tetap produktif beraktivitas dan berinteraksi sosial di dalam bangunan. Menawarkan lansia tinggal di perkotaan padat yang layak huni dan memberdayakan lansia sebagai bagian aktif di kehidupan bermasyarakat, dan berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan melalui penerapan sistem regeneratif.
PENERAPAN PENDEKATAN REGENERATIF DAN EVERYDAY URBANISM UNTUK REDESAIN PASAR JAYA GLODOK, JAKARTA BARAT Josephine, Jane; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35577

Abstract

Pasar Jaya Glodok is one of the oldest markets in Jakarta, which is currently experiencing a decline in attractiveness due to deteriorating physical conditions, overcrowding, and inadequate facilities. This research aims to find effective revitalization strategies using the everyday urbanism approach. By prioritizing the daily activities of the community, everyone who moves within the public space plays an active role in the design of public spaces. The method used is through observation, interviews, and literature studies to understand user needs and local potential, complemented by design analysis that is environmentally friendly, improves accessibility, and enhances the comfort level of the market. The design results show that the everyday urbanism approach will enrich public spaces and provide a more vibrant and inclusive character, while also strengthening the identity of Pasar Jaya Glodok as an economic, social, and cultural center. The surrounding community indicates that without community involvement in the final stages through socialization, the results obtained will not produce a design that is beneficial in terms of utilization. With active community participation, the revitalization of the market will have a positive impact on the physical building, strengthen social interaction, and create a more comfortable environment. Keywords: Everyday Urbanism;  Pasar Jaya Glodok; Redesain; Regenerative Abstrak Pasar Jaya Glodok adalah salah satu pasar tertua di Jakarta yang kini mengalami penurunan daya tarik akibat kondisi fisik yang menurun, kepadatan, dan fasilitas yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mencari strategi revitalisasi yang efektif dengan pendekatan everyday urbanism. Dengan mengedepankan aktivitas sehari-hari masyarakat, setiap orang yang bergerak dalam ruang publik turut memiliki peran aktif dalam perancangan ruang publik. Metode yang digunakan melalui observasi, wawancara, serta studi literatur untuk memahami kebutuhan pengguna serta potensi lokal, ditambah dengan analisis desain yang ramah lingkungan, meningkatkan aksesibilitas, serta menambah tingkat kenyamanan pasar. Hasil desain memperlihatkan bahwa pendekatan everyday urbanism akan memperkaya ruang publik dan memberikan sifat inklusif yang lebih hidup, dan berkelanjutan sekaligus meningkatkan identitas Pasar Jaya Glodok sebagai pusat ekonomi, sosial, dan budaya. Masyarakat sekitar menunjukkan bahwa tanpa masyarakat terlibat dalam tahap akhir melalui sosialisasi, hasil yang didapatkan tidak akan menciptakan desain yang bermanfaat dari sisi pemanfaatan. Dengan partisipasi aktif warga, revitalisasi pasar akan membawa dampak positif terhadap fisik bangunan dan memperkuat interaksi sosial serta menjadikan lingkungan lebih nyaman.
TELAAH TERHADAP PANDUAN RANCANG KOTA, KAWASAN PONDOK INDAH: SUB KAWASAN DI RUAS 1 Ariaji, Priscilla Epifania; Salim, Justine; Horis, Ivonne Nelvina; Sutrisno, Jennifer
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32387

Abstract

The dynamic changes and development of Jakarta have actually been considered and anticipated through the creation of Urban Design Guidelines (UDGL), which are usually evaluated every five years. Pondok Indah area is one of the areas that holds significance in its development in the southern part of Jakarta and already has the Pondok Indah Area Urban Design Guidelines, last revised in 2012. This PKM (Community Service Program) aims to contribute by participating in the evaluation of the implementation of existing Urban Design Guidelines in Jakarta. The focus of observation taken from the UDGL is the Pondok Indah Area UDGL established by Governor Regulation number 185 of 2012. The area's vision as an integrated business center serving domestic and international businesses needs to be assessed for its development. The evaluation of the Pondok Indah Area UDGL will be divided into three PKM proposals focusing on sub-areas in Sections 1, 2, and 3. This proposal will focus on the sub-area in Section 1. The method used is descriptive-analytical-comparative, comparing government plans outlined in the UDGL with actual conditions in the field. Data collection is conducted through literature review and field surveys, followed by a comparative analysis method, evaluating the actual occurrences to draw conclusions. The main questions focus on "How and to what extent has the UDGL been realized in the field?" and "What problems arise if the plans are not implemented?" Through this PKM, it is hoped that an evaluation book will be produced to provide input for the future development of the Pondok Indah Area UDGL. ABSTRAK Perubahan dan perkembangan Kota Jakarta sebenarnya sudah dipikirkan dan diantisipasi dengan dibuatnya Panduan Rancang Kota (PRK) atau sering disebut Urban Design Guideline (UDGL) yang biasanya di evaluasi setiap 5 tahun sekali, Kawasan Pondok Indah merupakan salah satu kawasan yang memiliki arti penting dalam perkembangannya di selatan Kota Jakarta, dan sudah memiliki PRK Kawasan Pondok Indah yang terakhir direvisi pada tahun 2012. PKM ini mencoba berkontribusi dengan cara ikut serta mengevaluasi realisasinya Panduan Rancang Kota yang ada di Jakarta. Fokus amatan PRK yang diambil adalah PRK Kawasan Pondok Indah yang ditetapkan oleh Pergub nomor 185 tahun 2012. Visi kawasasan sebagai Kawasan terpadu pusat bisnis yang melayani bisnis domestik maupun international perlu dilihat perkembangannya. Evaluasi PRK Kawasan Pondok Indah ini nantinya akan dibagi menjadi 3 proposal PKM yang fokus pada sub Kawasan di Ruas 1; Sub Kawasan di Ruas 2 dan Sub Kawasan di Ruas 3. Proposal ini akan fokus pada Sub Kawasan di Ruas 1. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis-komparatif dengan membandingkan rencana pemerintah dalam muatan PRK dengan kondisi nyata di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kajian literatur dan survai ke lapangan untuk kemudian dilanjutkan metode analisis komparatif, mengevaluasi kebenaran yang terjadi sehingga nantinya bisa ditarik kesimpulan-kesimpulan. Pertanyaan fokus pada `Bagaimana dan seperti apa atau sudah samapi manakah realisasi PRK di lapangan, serta `Apa permasalahan yang terjadi jika sampai rencana tadi belum terealisasi. Melalui PKM ini diharapkan akan dapat menghasilkan buku evaluasi sebagai yang berguna sebagai masukan untuk pengembangan PRK Kawasan Pondok Indah nantinya.