Anemia pada kehamilan merupakan komplikasi yang umum terjadi, dengan defisiensi zat besi sebagai penyebab utama. Di Indonesia, Survei Kesehatan Nasional tahun 2023 melaporkan bahwa 31,4% ibu hamil usia 25–34 tahun mengalami anemia, sebagian besar berkaitan dengan rendahnya kepatuhan terhadap suplementasi zat besi. Kondisi ini memburuk pada trimester ketiga akibat hemodilusi yang menurunkan kadar hemoglobin, sehingga meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, rendahnya cadangan zat besi pada bayi baru lahir yang berkontribusi terhadap stunting. Kismis merupakan sumber pangan alami yang mengandung zat besi sekitar 2,72 mg per 100 gram dan berpotensi dikembangkan sebagai jus kismis (JUKIS) sebagai intervensi gizi berbasis pangan lokal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian JUKIS terhadap kadar Hb pada ibu hamil anemia. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi-eksperimen dengan desain pre-test post-test control group yang melibatkan 64 ibu hamil anemia, terdiri dari 32 responden kelompok intervensi dan 32 responden kelompok kontrol. Kelompok intervensi mengonsumsi JUKIS setiap hari selama empat minggu, sedangkan kelompok kontrol menerima minuman plasebo isotonik. Kadar Hb diukur sebelum dan sesudah intervensi dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dan Mann–Whitney U Test. Hasil penelitian menunjukkan kedua kelompok mengalami peningkatan kadar Hb yang signifikan (p < 0,001). Namun, peningkatan kadar Hb pada kelompok intervensi secara statistik lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001), serta ukuran efek kuat (r = 0,599). Temuan ini menunjukkan bahwa JUKIS efektif meningkatkan kadar Hb pada ibu hamil anemia dan berpotensi menjadi intervensi gizi berbasis pangan lokal.