Latar belakang: Asam urat adalah senyawa pemecah purin dalam tubuh yang memiliki fungsi mengatur pertumbuhan sel dan menyediakan energi. Asam urat akan dikeluarkan melalui urin apabila penumpukan asam urat terjadi. Asam urat berlebih terakumulasi dan membentuk kristal tajam seperti jarum di persendian dan jaringan sekitarnya, hal ini bisa menyebabkan sensasi nyeri, peradangan, dan pembengkakan pada sendi. Pola makan yang tidak sehat berkaitan dengan kandungan asam urat dalam darah. Tujuan: Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar asam urat dan pengetahuan pola makan pada warga Aisyiyah Kebasen. Metode: Pengabdian masyarakat dilakukan pada 30 responden dan menggunakan desain observasional analitik. Hasil: Karakteristik responden sebagian besar berusia Muda Tua (61-74 tahun) 12 responden (40%), tingkat pendidikan Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 15 responden (50%), kadar asam urat ≥6 mg/dL sebanyak 15 responden (50%) dan tingkat pengetahuan setelah dilakukan penyuluhan dalam kategori baik sejumlah 24 responden (80%). Kesimpulan: Pengetahuan tentang kadar asam urat dalam darah meningkat setelah edukasi pada partisipan. Sebagian partisipan memiliki kadar asam urat di atas nilai normal dengan mayoritas memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Kata kunci: asam urat, aisyiyah, deteksi dini, edukasi, pola makan ________________________________________________________________________________ Background: Uric acid is a metabolic byproduct of purine breakdown in the body, playing a role in cell growth regulation and energy provision. Under normal conditions, uric acid is excreted through urine; however, excessive accumulation may occur. Elevated uric acid levels can lead to the formation of sharp, needle-like crystals in the joints and surrounding tissues, resulting in pain, inflammation, and swelling. Unhealthy dietary patterns are associated with increased uric acid levels in the blood. Objective: This community service program aimed to assess the profile of uric acid levels and dietary knowledge among members of the Aisyiyah community in Kebasen. Method: This community-based program involved 30 respondents and employed a descriptive-analytic design. Result: The majority of respondents were aged 61–74 years (12 respondents; 40%). In terms of educational level, 15 respondents (50%) had attained higher education. Elevated uric acid levels (≥6 mg/dL) were observed in 15 respondents (50%). Following the educational intervention, 24 respondents (80%) demonstrated a good level of knowledge. Conclusion: Participants’ knowledge regarding blood uric acid levels improved after the educational intervention. A proportion of participants had uric acid levels above the normal range, although the majority demonstrated good knowledge levels. Keywords: uric acid, Aisyiyah, early detection, education, dietary pattern