Articles
Psychological well-being pasangan pernikahan dini: Adakah Peranan Marital Adjustment?
Galuanta, Deviolla Anastazya;
Meiyuntariningsih, Tatik;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9937
Psychological well-beingis the ability of individuals to accept their circumstances, form warm relationships with others, control their environment, be able to control the environment, have goals and develop talents and abilities for personal growth. One of the influencing factors psychological well-being marital adjustment were the more each individual early marriage couple can make adjustments to each other, the more they can achieve psychological well-beingThis study aims to determine the relationship between marital adjustment with psychological well-being for married couples who marry early. The hypothesis put forward in this study is that there is a positive relationship between marital adjustment with psychological well-being.This study uses quantitative methods to achieve research objectives. The subjects used in this study were early marriage couples in North Surabaya which was a research study snowball. Measuring tool using a scale marital adjustment(Hurlock 2002) and psychological well-being (Ryff 1989). The data obtained were analyzed using correlation techniques Spearman rho with the help ofSPSS 26 IBM for Macbook. Based on the results of the data analysis that has been done, it is found that there is a positive and very significant relationship between Marital Adjustments with Psychological well-being. Psychological well-being adalah kemampuan individu untuk menerima keadaannya, membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, mengendalikan lingkungannya, mampu mengontrol lingkungan, memiliki tujuan dan mengembangkan bakat dan kemampuan untuk pertumbuhan pribadi. Salah satu faktor yang mempengaruhi psychological well-being adalah marital adjustment yang dimana semakin masing-masing individu pasangan pernikahan dini bisa melakukan penyesuaian satu sama lain maka dapat bisa mencapai psychological well-being Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara marital adjustment dengan psychological well-being pada pasangan suami istri yang melakukan pernikahan dini. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara marital adjustment dengan psychological well-being. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mencapai tujuan penelitian. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pasangan pernikahan dini yang berada di Surabaya Utara yang merupakan penelitian studi snowball. Alat ukur menggunakan skala marital adjustment (hurlock 2002) dan psychological well-being (Ryff 1989). Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik korelasi Spearman rho dengan bantuan SPSS 26 IBM for Macbook. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan didapatkan bahwa ada hubungan positif dan sangat signifikan antara Marital Adjustment dengan Psychological well-being.
Body Dissatisfaction Ibu Pasca Melahirkan : Bagaimana Peran Social Comparison?
Dinda WarapSari, Dheasty Ferdhinia;
Pratikto, Herlan;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10434
Abstract The body is the most important physical asset for every human being because it is the easiest shape to see. Having an ideal body shape is the dream of all women. Dissatisfaction with the body is often felt by most women in the community. When a woman has entered into the gates of marriage, of course they will not be long to feel the period of pregnancy and childbirth This study has the aim of knowing whether there is a relationship between social comparison with body dissatisfaction in postpartum mothers. This research is correlational research. The subjects in this study were 131. Hypothesis testing was carried out using Spearman Rho's test technique. The results of this study indicate a negative relationship between social comparison and body dissatisfaction in postpartum mothers. Keywords : 1) Body Dissatisfaction; 2) Postpartum Mothers; 3) Social Comparisson Abstrak Tubuh merupakan aset fisik yang terpenting bagi setiap manusia dikarenakan bentuk yang paling mudah untuk dilihat. Memiliki bentuk tubuh yang ideal merupakan idaman semua wanita. Rasa ketidakpuasan yang terjadi pada tubuh kerap dirasakan oleh sebagian besar wanita yang berada dilingkungan masyarakat. Ketika seseorang wanita telah masukke dalam gerbang pernikahan, tentu saja mereka tidak akan lama untuk merasakan masa kehamilan dan melahirkan Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara social comparison dengan body dissatisfaction pada iibu pasca melahirkan. Penelitian ini adalah penelitian korelasional. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 131. Pengujian hipotesis yang dilakukan menggunakan teknik uji spearman rho’s. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang negatif antara social comparison dengan body disatisfaction pada ibu pasca melahirkan. Kata kunci: 1) Body Dissatisfaction; 2) Ibu Pasca Melahirkan ;3) Social Comparisson
Penerimaan diri pada remaja pengguna aktif media sosial: Bagaimana kecenderungan Body image?
Permana, Mochammad Titis Titis Indra;
., Herlan Pratikto;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 2 (2024): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i2.10526
Previous research shows that body image is related to self-acceptance. This research aims to determine the relationship between body image and self-acceptance among teenagers who are active users of social media. This study uses a quantitative approach. The population in this study were teenage students in grades 10, 11 and 12 of SMA 17 August 1945 Surabaya. 332 students. Then the sample was taken using a purposive technique with several categories including active social media users, having 2 different social media accounts, aged 16-18 years. And use social media more than 3 hours a day. while the participants used as research respondents were 181 students using the Slovin formula. The results of data analysis using the Sphearman Rho technique in this study showed a p value of: 0.384 with a significance of 0.001 (p<0.05), which means this study concluded that there was a significant positive correlation between Body Image and self-acceptance. The conclusion that can be drawn from this research shows that there is a significant positive relationship between Body Image and Self-Acceptance of Adolescents who are Active Social Media Users.
Leisure boredom dan kecenderungan kecanduan media sosial tiktok pada gen Z
Pappa, Sofi;
Pratikto, Herlan;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 03 (2024): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i03.11728
Abstract This research aims to determine the relationship between Leisure boredom and the Tendency of Addiction to Social Media Tik Tok in Generation Z. This research is quantitative research using correlational quantitative methods. The sampling technique in this study used purposive sampling with a sample of 120 generation Z using Social Media Tik Tok scale and Leisure boredom scale. The results of the analysis using product moment correlation showed that leisure boredom with a tendency to be addicted to social media Tik Tok in generation Z obtained a correlation there is significant positive relationship between leisure boredom and the tendency to be addicted to social media Tik Tok in generation Z. This can be interpreted as the higher the leisure boredom, the higher the tendency to be addicted to social media Tik Tok in generation Z Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya Hubungan antara Leisure boredom dengan Kecenderungan Kecanduan Media Sosial Tik Tok pada Anak Muda Generasi Z. penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan pusposive sampling dengan sampel 120 anak muda generasi Z menggunakan skala kecanduan media sosial Tik Tok dan skala Leisure boredom. Hasil analisis menggunakan korelasi product moment menunjukkan bahwa leisure boredom dengan kecenderungan kecanduan media sosial Tik Tok pada anak muda generasi Z memperoleh hasil terdapat hubungan positif yang signifikan antara leisure boredom dengan kecenderungan kecanduan media sosial Tik Tok pada anak muda generasi Z. Hal ini dapat diartikan semakin tinggi leisure boredom maka semakin tinggi juga kecenderungan kecanduan media sosial Tik Tok pada anak muda generasi Z.
Penyesuaian diri pada remaja yang tinggal di ekslokalisasi: Apakah self-esteem berhubungan dengan penyesuaian diri pada remaja yang tinggal di ekslokalisasi?
Puspita, Anggun;
Meiyuntariningsih, Tatik;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 03 (2024): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i03.11748
Abstract This study focuses on assessing the relationship between self-esteem and self-adjustment among adolescents living in ex-localities. The approach applied in this research is a quantitative approach. The research sample consists of adolescents aged 17 to 20 years residing in ex-localities. Data were collected using Likert scales, which included scales for self-esteem and self-adjustment. The method used for data analysis is the Product Moment correlation. The analysis results show a correlation coefficient (r) of 0.728 with a p-value of 0.000, which is less than 0.005. These findings indicate a significant positive relationship between self-esteem and self-adjustment among adolescents in ex-localities. Therefore, the hypothesis identified in this study is accepted. Abstrak Penelitian ini berfokus pada penilaian hubungan antara self-esteem dan penyesuaian diri di kalangan remaja yang tinggal di ekslokalisasi. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari remaja berusia 17 hingga 20 tahun yang berada di ekslokalisasi. Data dikumpulkan menggunakan skala Likert yang mencakup skala harga diri dan penyesuaian diri. Metode yang diterapkan untuk analisis data adalah korelasi Product Moment. Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,728 dengan nilai p = 0,000 yang kurang dari 0,005. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-esteem dan penyesuaian diri di kalangan remaja ekslokalisasi. Oleh karena itu, hipotesis yang diidentifikasi dalam penelitian ini dapat diterima.
Pengambilan keputusan pada mahasiswa yang mengikuti MBKM: Bagaimana peran konformitasnya?
Firmansyah, Aditya Rizky;
Meiyuntariningsih, Tatik;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 03 (2024): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i03.11835
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konformitas dengan pengambilan keputusan pada mahasiswa yang menempuh MBKM. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan jenis penelitian korelasional. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang menempuh MBKM di Fakultas Psikologi yang berjumlah 103 orang. Metode pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket secara online menggunakan Google Form dengan menggunakan skala likert. Diperoleh hasil Product Moment dengan nilai signifikan untuk hubungan antara Konformitas dengan Pengambilan Keputusan sebesar 0,000 < 0,01 yang artinya terdapat hubungan yang negatif antara Konformitas dengan Pengambilan Keputusan. Artinya semakin tinggi konformitas maka semakin rendah pengambilan keputusan namun sebaliknya semakin rendah konformitas maka semakin tinggi pengambilan keputusan. Penelitian ini menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang melakukan perilaku konformitas terkait pengambilan keputusan dalam MBKM yang diikutinya. Kata Kunci : Kesesuaian, Pengambilan Keputusan, Siswa, MBKM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara Konformitas dengan Pengambilan Keputusan pada Mahasiswa yang mengikuti MBKM. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan penelitian korelasional. Subjek penelitian ini sebanyak 103 pada mahasiswa yang mengikuti MBKM di Fakultas Psikologi. Metode pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuisioner secara online menggunakan Google Form dengan menggunakan skala likert. Diperoleh hasil Product Moment dengan nilai signifikan pada hubungan Konformitas dengan Pengambilan Keputusan adalah sebesar 0,000 < 0,01 yang berarti terdapat hubungan negatif antara Konformitas dengan Pengambilan Keputusan. Artinya semakin tinggi konformitas maka semakin rendah keputusan pengambilan, namun sebaliknya semakin rendah konformitas maka semakin tinggi keputusan pengambilan. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih banyak yang melakukan perilaku konformitas atas pengambilan keputusan pada MBKM yang mereka ikuti . Kata Kunci : Konformitas, Pengambilan Keputusan, Mahasiswa, MBKM
Navigasi Stres Akademik pada Mahasiswa Perantau: Apakah Mindfulness Menjadi Solusi?
A'yun, Qurrotul;
Pratikto, Herlan;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12448
Abstract The transition to academic life often presents challenges for students who migrate for their studies, particularly in dealing with academic stress. This study aims to examine the relationship between mindfulness and academic stress among first-semester migrant students in Surabaya. A quantitative approach was employed in this research, involving 200 students from various regions in Indonesia as participants. Data collection was conducted using mindfulness and academic stress scales, while the data analysis technique utilized Spearman's Rho correlation. The results showed a significant negative relationship between mindfulness and academic stress (r = -0.347, p < 0.01). This indicates that students with higher levels of mindfulness tend to experience lower levels of academic stress, and vice versa. Thus, the hypothesis stating a negative relationship between mindfulness and academic stress among first-semester migrant students in Surabaya is accepted. Abstrak Transisi ke dunia akademik sering menjadi tantangan bagi mahasiswa perantau, terutama dalam menghadapi stres akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara mindfulness dengan stres akademik pada mahasiswa semester satu perantau di kota Surabaya. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan melibatkan 200 mahasiswa Surabaya dari berbagai daerah di Indonesia sebagai partisipan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala mindfulness dan stres akademik, sedangkan teknik analisis data menggunakan korelasi Spearman’s Rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara mindfulness dengan stres akademik (r= -0.347, p<0.01). Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa dengan tingkat mindfulness yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat stres akademik yang lebih rendah, begitupun sebaliknya. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan negatif antara mindfulness dengan stres akademik pada mahasiswa semester satu perantau di Kota Surabaya diterima.
Forgiveness pada Dewasa Awal Pasca Putus Cinta: Bagaimana Peran Emotional Intelligence?
Putri, Maharani Luvinda;
Pratikto, Herlan;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12525
Putus cinta merupakan pengalaman emosional yang berat, terutama bagi individu yang berada pada tahap dewasa awal. Pada fase ini, individu sering kali merasakan emosi negatif yang akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek penting dalam proses penyembuhan yaitu forgiveness. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan emotional intelligence dengan forgiveness pada dewasa awal yang pernah mengalami putus cinta melalui pendekatan kuantitatif korelasional. Partisipan yang digunakan sebanyak 200 responden dengan teknik Purposive Sampling. Skala forgiveness diukur mengacu teori McCoullough, Root, Cohen (2006) dan skala Emotional Intelligence mengacu teori Goleman (2007) yang dikembangkan oleh peneliti. Teknik analisis yang diaplikasikan melalui korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan postif dan signifikan antara emotional intelligence dengan forgiveness pada dewasa awal yang pernah mengalami putus cinta, artinya semakin tinggi emotional intelligence juga semakin tinggi forgiveness yang dimilikinya.
Cinderella Complex pada Remaja Berpasangan: Adakah Peranan Fatherless dan Loneliness?
Fadhillah, Hanifah Nur;
Meiyuntariningsih, Tatik;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Masa remaja merupakan fase transisi krusial yang ditandai oleh tuntutan kemandirian dan tantangan perkembangan, termasuk membangun hubungan romantis yang sehat. Salah satu fenomena yang terjadi adalah cinderella complex, yaitu ketergantungan perempuan pada laki-laki yang dipicu oleh ketiadaan figur ayah dan perasaan kesepian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan subjek remaja perempuan usia 16-21 tahun, melibatkan 151 responden melalui teknik kuota sampling. Pengumpulan data menggunakan skala Likert, meliputi skala cinderella complex (Dowling, 1980), skala fatherless (Lamb, 2010), skala loneliness (1996). Hasil menunjukan secara simultan fatherless dan loneliness memiliki hubungan positif dengan cinderella complex. Secara parsial fatherless memiliki hubungan yang positif dengan cinderella complex, begitu juga pada loneliness dengan cinderella complex secara parsial memiliki hubungan positif. Kata Kunci: Cinderella complex, ketiadaan peran ayah, kesepian, remaja berpasangan
Regulasi Emosi dan Kepribadian Introvert: Faktor Penentu Self Injury di Kalangan Mahasiswa di Surabaya
Setyawan, Riko Yuli;
Pratikto, Herlan;
Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12584
Students are expected to have good critical thinking and problem solving skills, but in reality some of them still commit self injury as a way to relieve or divert the emotional pain they feel. This study aims to determine whether there is a relationship between emotion regulation and introverted personality tendencies with self injury tendencies in university students in Surabaya. Correlational quantitative research method with the number of respondents as many as 384 students who were taken using purposive sampling technique. The analysis in this study used multiple linear regression analysis. The results showed that there is a significant relationship between emotion regulation and introverted personality tendencies with self injury tendencies in university students in Surabaya. Students with low emotion regulation and high introverted tendencies tend to have a greater risk of self injury. This research provides important insights in efforts to prevent and intervene in self injury behavior through improving emotion regulation and understanding individual personality types.