Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KETERKAITAN TRADISI ULAMBANA DENGAN PENGUATAN KARAKTER BANGSA Tri Yatno
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 6, No 1 (2019): June 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upacara ulambana merupakan tradisi umat Buddha sekte Mahayana dalammendoakan leluhur yang telah meninggal. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis upacara ulambana dalam pembentukan karakter bangsa. Metodepenelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.Alasan utamanya adalah ingin lebih memahami struktur kesadaran umatBuddha sekte Mahayana ketika melakukan doa kepada leluhur dalam upacaraulambana dan direlevansikan dengan pembangunan karakter bangsa. Teknikpengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik keabsahan data menggunakan trianggulasi. Hasil penelitian adalahadanya keterkaitan upacara ulambana dengan penguatan karakter bangsadiantaranya adalah tradisi ulambana sebagai perbuatan baik yakni pelimpahanjasa kepada leluhur yang telah meninggal. Melalui perbuatan baik tersebutseseorang meningkatkan pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakanmoral yang menjadi satu kesatuan utuh membentuk karakter yang tidak dapatdipisahkan satu sama lainnya.
Strategi Sosialisasi Remaja dalam Komitmen Berorganisasi Sekolah Minggu Buddha di Kecamatan Susukan Tri Yatno Tri Yatno
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 4, No 2 (2017): December 2017
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelidan ini bertujuan untuk menganalisis terjadinya proses sosialisasi remaja Buddhis di Kecamatan Susukan dan untuk menganalisis strategi pelaksanaan sosialisasi remaja Buddhis terhadap komitmen berorganisasi di Kecamatan Susukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Akan umma memakai fenomenologi sebagal pendekatan karena adanya sesuatu keunikan dari tingkat kemampuan sosialisasi bagi remaja Sekolah Minggu Buddha di Kecamatan Susukan. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan untuk keabsahan data menggunakan tzianggulasi. Hail dari penelitian ini adalah: proses sosialisasi terjadl karena adanya partisipasi remaja mengikuti organisasi, adanya kebutuhan dalam mengembangkan agama Buddha, dan adanya agen organisasi sebagai wadah berkomunikasi. Strategi pelaksanaan sosialisasi remaja Buddhis dalam komitinen berorganisasi di Kecamatan Susukan terbagi menjadi dua macam, yekni strategi bag' remaja yang mudah bersosialisasi dan remaja yang susah bersosialisasi dalam hal komitmen pada tugasikewanban, komitmen rasa mernilild, komitmen regencrasi, komitmen memelihara umat, komitmen beke4a keras mempertahankan dan mengembangkan Agama Buddha, dan komitmen menanamkan kcyakinan.
DESKRIPSI MODEL PENYELESAIAN KONFLIK AGAMA BUDDHA (STUDI TENTANG PENYELESAIAN KONFLIK UMAT THERAVADA DAN BUDDHAYANA DI DUSUN LENEK DESA BENTEK KECAMATAN GANGGA KABUPATEN LOMBOK UTARA) Ayuniwati; Tri Yatno; Prihadi Dwi Hatmono
NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa Vol. 1 No. 1 (2020): Nivedana : Jurnal Komunikasi & Bahasa
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/nivedana.v1i1.138

Abstract

Kasus konflik intern agama Buddha yang terjadi di Dusun Lenek Desa Bentek Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara. Konflik yang terjadi seperti gesekan umat Theravada dengan umat Buddhayana. Konflik tersebut adalah bukti bahwa dalam internal agama Buddha terjadi gesekan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pola penyelesaian konflik antar umat Theravada dengan umat Buddhayana dan menerapkan pola penyelesaian konflik antar umat Theravada dengan Buddhayana di Dusun Lenek. Jenis penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, display data, dan kesimpulan. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh agama, tokoh masyarakat dan umat Buddha di Dusun Lenek. Objek dalam penelitian adalah kasus konflik yang terjadi antara umat Theravada dan Buddhayana di Dusun Lenek. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola penyelesaian konflik yang diterapkan oleh umat Theravada dan Buddhayana adalah (a) sikap toleransi, mengembangkan sikap toleransi disini adalah adanya sikap saling menghargai dan menghormati. (b) Adanya sikap yang mau berdamai, dengan tidak mengembangkan sikap kemarahan dan kebencian. (c) mengembangkan sikap yang mau bekerjasma dalam hal apapun untuk mengembangkan agama Buddha ataupun mengembangkan Dusun Lenek.
ANALISIS SIMBOLISME RELIGIUS DALAM ALIRAN THERAVADA DAN TANTRAYANA: KAJIAN KOMPARATIF MAKNA DAN FUNGSI Silasari; Tri Yatno; Sudarto
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/e3jz0055

Abstract

Artikel ini mengkaji simbolisme religius dalam dua aliran utama Buddhisme yang dianut masyarakat Desa Candigaron, yaitu aliran Theravada dan aliran Tantrayana. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah makna di balik simbol-simbol keagamaan yang digunakan dalam praktik ibadah kedua aliran tersebut serta bagaimana simbol-simbol tersebut memengaruhi pengalaman spiritual umat. Aliran Theravada, simbolisme terlihat pada penggunaan lilin, dupa, air, buah, dan bunga yang digunakan secara sederhana sebagai bentuk penghormatan dan sarana perenungan menuju pembebasan batin. Sedangkan aliran Tantrayana simbolisme keagamaan mengambil bentuk yang lebih kompleks melalui penggunaan mudra, mantra Tibet, visualisasi mandala, berbagai jenis air persembahan, dupa, bunga dan lilin yang semuanya membentuk satu kesatuan sakral untuk menyatukan tubuh, ucapan, dan pikiran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan inkuiri naturalistik dengan berbasis observasi lapangan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda dalam bentuk, kedua aliran memiliki tujuan spiritual yang serupa, yaitu pencerahan dan ketenangan batin. Simbol dalam masing-masing aliran tidak hanya memiliki makna ritual, tetapi juga nilai sosial yang mempererat hubungan antarumat. Simbolisme dalam praktik keagamaan terbukti menjadi jembatan penting bagi penghayatan makna hidup spiritual dan sosial umat Buddha di Desa Candigaron.