Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Feline Atopic Skin Syndrome: an Introduction to Recently Proposed Terminology and How to Work Up the Case Gunawan, Michael; Hardani Putra, Andhika; Widyaputri, Tiara
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.79-86

Abstract

Atopic disease remains as an enigmatic hypersensitivity disorder in feline patients. Studies of cutaneous atopic syndrome in cats have reported several reaction patterns in cats, presenting as a diagnostic challenge, and a recent literature review has proposed a new set of terminologies for such diagnoses. This paper aims to report a case workup of feline atopic skin syndrome in a patient presented with severe pruritus and reaction patterns of self-inducd alopecia and facial excoriation. Feline food allergy and flea allergic dermatitis were ruled out by a 6-week elimination diet and use of fluralaner respectively. Clinical symptoms were successfully managed with the use of oral glucocorticoid (GC) and systemic and topical antimicrobial, the use of all of which for 8 weeks was deemed successful based on the degree of clinical relief provided. It is concluded that feline atopic skin syndrome is a clinical diagnosis and pharmacological interventions, including drugs to treat skin inflammation and secondary infection, are warranted.
Pengaruh Lama dan Intensitas Cahaya Terhadap Performa Produksi pada Ayam Arab (Gallus Turciccus) Putra, Aditya Wirawantoro; Trisunuwati, Pratiwi; Muharlien, Muharlien; Widyaputri, Tiara
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 1 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2022.023.01.8

Abstract

Cahaya dalam hal ini lampu adalah faktor penting dan merupakan terobosan sistem pencahayaan yang efisien untuk pengembangan peternakan ayam Arab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa produksi (fase awal bertelur, hen day production, dan berat telur) pada ayam Arab dengan menggunakan perbedaan intensitas cahaya dan lama pencahayaan. Materi penelitian ini adalah 36 ekor ayam Arab fase layer dengan rataan bobot badan 924,28 ± 90,45 g. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan, dengan Rancangan Acak Lengkap faktorial 2x2. Ternak dipelihara selama 9 minggu didalam kandang baterai. Data dianalisis menggunakan uji sidik ragam (ANOVA) dengan bantuan Program Microsoft Excel 2013. Apabila berbeda nyata (P<0,05) atau sangat nyata (P<0,01) dilanjutkan dengan uji Duncan’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan intensitas cahaya dan lama pencahayaan tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) pada performa produksi ayam Arab. Secara umum, fase awal bertelur yang paling cepat adalah kelompok I1L1 yaitu bertelur pada rata-rata umur 145,11 hari. Berat telur paling tinggi pada fase puncak adalah kelompok I1L1 dengan rata-rata 36,03 gram/butir. Kesimpulan pada penelitian ini adalah intensitas cahaya dan lama pencahayaan yang berbeda memiliki dampak terhadap performa produksi ayam Arab.
Pengaruh Penambahan Variasi Kombinasi Tepung Maggot (Hermetia illucens) Pada Campuran Pakan Terhadap Kadar Glukosa dan Asam Urat Ayam Petelur Putra, Aditya Wirawantoro; Fauziah, Farisa Amanda; Widyaputri, Tiara; Widigdyo, Anang; Purnomo, Panji
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 2 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2023.024.02.1

Abstract

Ayam petelur merupakan salah satu ternak unggas yang dapat menghasilkan produk hewani berupa telur dan daging sehingga biasa disebut dwiguna. Ayam petelur dalam pemberian pakan dapat menggunakan pakan alternatif berupa Maggot Black Soldier Fly (BSF). Maggot Black Soldier Fly (BSF) merupakan salah satu jenis insekta yang memiliki kadar protein tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tambahan variasi kombinasi tepung maggot 0%, 25%, 50%, 75% terhadap kadar glukosa dan asam urat darah ayam petelur. Penelitian telah mendapatkan Keterangan Laik Etik No. 010-KEP-UB-2023. Pengambilan sampel darah penelitian dilakukan pada ayam Isa brown fase layer berumur 22 minggu. Pemeriksaan kimia darah dilakukan untuk melihat kadar glukosa dan asam urat darah menggunakan alat Sinocare Safe® AQ UA. Data yang diperoleh kemudian dianalisa menggunakan metode one-way ANOVA lalu dilanjutkan dengan uji Tukey untuk mengetahui perbandingan antar kelompok perlakuan. Hasil kadar glukosa darah ayam petelur fase layer yang diberi tambahan variasi kombinasi tepung maggot tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan nilai (P>0,05). Pemberian perlakuan pakan pada semua kelompok tidak memberikan pengaruh terhadap kadar glukosa. Hasil kadar glukosa yang didapatkan pada penelitian berada dalam kisaran 188,60-199,80 mg/dL. Hasil kadar asam urat pada ayam petelur fase layer yang diberi tambahan variasi kombinasi tepung maggot 25% dan 50% tidak berbeda nyata dengan pemberian 100% tepung ikan. Kelompok pemberian pakan 50% tepung maggot dan 75% tepung maggot dapat meningkatkan kadar asam urat sama dengan kelompok kontrol negatif yang diberi pakan komersial. Hasil kadar asam urat yang didapatkan pada penelitian berada dalam kisaran 3,90-7,16 mg/dL. Rekomendasi persentase tepung maggot yang dapat digunakan untuk tambahan pakan ayam petelur fase layer adalah 25%.
Diagnosa dan Penanganan Kasus Feline Ceruminous Cystomatosis pada Kucing Persia di DNA Animal Clinic Bogor Husna, Safira Mustafida; Daroendio, R. Soenarti; Widyaputri, Tiara
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.4.1.28-33.

Abstract

Feline ceruminous cystomatosis merupakan kondisi proliferatif jinak pada kelenjar serumen kucing yang ditandai dengan pembentukan kista multipel berisi cairan pada liang telinga. Kondisi ini dapat menimbulkan bau tidak sedap, akumulasi serumen, dan terbentuk massa pada telinga. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan proses diagnosis dan penanganan feline ceruminous cystomatosis pada seekor kucing Persia berusia 8 tahun. Pasien datang dengan keluhan bau telinga dan benjolan pada liang telinga. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik, Fine Needle Aspiration (FNA), sitologi, serta pemeriksaan hematologi dan kimia darah. Sitologi menunjukkan kelompok sel epitel sekretori dengan morfologi seragam, pleomorfisme minimal, serta anisositosis dan anisokariosis ringan, konsisten dengan proliferasi jinak kelenjar serumen. Pemeriksaan hematologi mengidentifikasi polisitemia relatif, anisositosis, dan trombositopenia, sementara profil kimia darah normal. Berdasarkan temuan tersebut, pasien didiagnosis dengan feline ceruminous cystomatosis dengan prognosa fausta. Penanganan dilakukan dengan prosedur electrosurgery untuk eksisi nodul kistik. Prosedur berlangsung tanpa komplikasi dan pasien menunjukkan pemulihan klinis yang baik pascaoperasi. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi sitologi dan pemilihan teknik pembedahan yang tepat untuk mencapai hasil terapeutik optimal.
Blood Parasites in Captive Parrots: Morphological Detection and Risk Analysis in Exotic Psittaciformes from East Java Reza Yesica; Nurohmah, Alya; Rickyawan, Nofan; Widyaputri, Tiara; Kusumarini R, Shelly
Journal of Parasite Science Vol. 10 No. 1 (2026): Journal of Parasite Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jops.v10i1.73875

Abstract

Blood parasite infections in exotic birds can lead to a decline in productivity, ultimately contributing to population reductions. This study aimed to identify the species of blood parasites, determine the infection proportion, and assess the significance of body mass and cage type as risk factors for blood parasite infection in captive exotic Psittaciformes housed in Prigen and Batu, East Java, Indonesia. A total of 330 blood smear samples were collected from 165 individual birds using a simple random sampling method. Blood parasite detection was conducted via microscopic examination of stained blood smears. The infection proportion was calculated by comparing the number of infected individuals to the total number examined. The associations between bird body mass and cage type with blood parasite infection were analyzed using the chi-square test, followed by the calculation of Odds Ratio (OR) and Relative Risk (RR) using SPSS software version 27. The identified blood parasite species included Haemoproteus spp., Leucocytozoon spp., and Plasmodium spp. The overall infection proportion among the examined Psittaciformes was 7.8%. Chi-Square analysis revealed no statistically significant associations (P > 0.05) between either body mass or cage type and infections with Plasmodium spp., Leucocytozoon spp., or mixed infections involving Plasmodium spp. and Haemoproteus spp.