Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Nilai Moral Kristiani dalam Ukiran Figuratif Sa’o Ngaza pada Masyarakat Ngada Nusa Tenggara Timur Paskalis Lina; Raymundus I Made Sudhiarsa
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 8, No 1 (2022): Jurnal SMaRT : Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.142 KB) | DOI: 10.18784/smart.v8i1.1517

Abstract

This article focuses on extracting one of the local wisdom, namely, figurative carvings on the traditional house (sa’o ngaza) of the Ngada community, East Nusa Tenggara, and reviewing it from the perspective of Christian moral theology. The method used is a qualitative one, employing especially a phenomenological approach and a narrative approach. The data are obtained from direct interviews with key informants who understand the figurative carvings on traditional houses and come from several villages in the Ngada Flores Regency, East Nusa Tenggara. The results show that the figurative carvings contain moral values, such as discipline, hard work, responsible leadership and integrity, loyalty, and sacrifice. These values can be called local wisdom and can be used as a reference for knowledge and understanding for developing moral character to overcome the leadership and social crises that still plague Indonesian society today.
Konsep Penebusan Kosmik Dalam Mitologi Tradisi Pante pada Masyarakat Manggarai Indonesia Sefrianus Juhani; Raymundus I Made Sudhiarsa; Alexander Jebadu; Bernadus Raho; Jόzef Trzebuniak
Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Vol. 12 No. 1 (2023): HERITAGE OF NUSANTARA
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/hn.v12i1.669

Abstract

This study aims to explore the cosmic redemption concepts in the mythology of the pante tradition in Manggarai community. Pante tradition was an attempt to promote an attitude of respect for non-human creations so that nature would return to its harmonious state. The data was obtained through interviews with several key informants who were very close to these myths, including some palm tappers from several villages in Manggarai. From interviews and collected documents, several myths were found in the pante tradition. In Manggarai mythology, it is believed that there is inseparable relationship between humans, non-human creations, and the Supreme Being. Each creation has a contribution to the survival of the others and has eschatological future. The Manggarai people also believe that there is a place for the eternal life called pa'ang be le. This finding contributes to the development of ecological theology in the Indonesian Catholic Church and the universal Church. In addition, the awareness of the ultimate future for all creation strengthens the commitment of the Christians to preserve the environment.
Gereja: Peran Budaya Dalam Masyarakat Majemuk Raymundus I Made Sudhiarsa
Seri Filsafat Teologi Vol. 33 No. 32 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v33i32.195

Abstract

Tanggung jawab budaya merupakan panggilan luhur dari Allah kepada setiap orang beriman. Kesadaran ini menjadikan Gereja lebih hidup, karena setiap anggotanya memiliki keyakinan akan perannya sebagai subjek-subjek yang mendapat mandat untuk turut memajukan budaya yang memanusiakan manusia. Pada kenyataannya, setiap kebudayaan, entah kebudayaan etnis entah kebudayaan nasional, tidak pernah lepas dari godaan untuk menjadi hegemonik dengan konstruksi sosial yang oposisional. Justru dalam konteks itulah mandat budaya dalam iman kristiani menjadi relevan. Artikel ini, dengan merujuk pada antropologi kristiani, ingin mengajak sidang pembaca yang budiman untuk tetap aktif memajukan budaya yang memuliakan manusia di tengah budaya yang tidak toleran dan cenderung diskriminatif
Konsep Penebusan Kosmik Dalam Mitologi Tradisi Pante pada Masyarakat Manggarai Indonesia Juhani, Sefrianus; I Made Sudhiarsa, Raymundus; Jebadu, Alexander; Raho, Bernadus; Trzebuniak, Jόzef
Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Vol. 12 No. 1 (2023): HERITAGE OF NUSANTARA
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/hn.v12i1.669

Abstract

This study aims to explore the cosmic redemption concepts in the mythology of the pante tradition in Manggarai community. Pante tradition was an attempt to promote an attitude of respect for non-human creations so that nature would return to its harmonious state. The data was obtained through interviews with several key informants who were very close to these myths, including some palm tappers from several villages in Manggarai. From interviews and collected documents, several myths were found in the pante tradition. In Manggarai mythology, it is believed that there is inseparable relationship between humans, non-human creations, and the Supreme Being. Each creation has a contribution to the survival of the others and has eschatological future. The Manggarai people also believe that there is a place for the eternal life called pa'ang be le. This finding contributes to the development of ecological theology in the Indonesian Catholic Church and the universal Church. In addition, the awareness of the ultimate future for all creation strengthens the commitment of the Christians to preserve the environment.
Memahami Fungsi Setiap Unsur Dalam Budaya Tinju Adat (Sudu) Masyarakat Zepe, Ngada, Menurut Perspektif Antropologi Budaya Ralph Linton Septo Pigang Ton , Sekundus; Edelbertus Dua, Yoseph; Gerri Parto , Hilarion; Antonius Dimas Satyawardhana, Fransiskus; I Made Sudhiarsa, Raymundus
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 6 : Juli (2024): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The focus of this paper is to understand the function of each element in the customary boxing culture (Sudu) of the Zepe community, Ngada, from the perspective of Ralph Linton's cultural anthropology. Sudu (customary boxing) in Ngada society is a tradition of boxing matches that has a function as a relationship in strengthening social ties between individuals. The purpose of this paper is to understand the function of each element in Ngada people's sudu culture that has social meaning and value. The findings are that sudu is a culture that has been passed down from generation to generation and has the function of mutual respect and brotherhood. In addition to these functions, sudu also has a deep meaning for survival and social relations. The sudu ceremony reflects harmonious relations and friendship through sportsmanship between boxers, as well as solidarity between lives in the Ngada community. Sudu is not only a physical fight, but also a medium to express courage, honor and traditional values. Furthermore, the nelo (dance) that accompanies sudu serves as a cultural expression that strengthens identity and social bonds. The methods used in writing this paper are literature studies and interviews with a descriptive-analytical approach.  
Soteriologi Antropologis: Menanggapi Tantangan Fenomena Bunuh Diri I Made Sudhiarsa, Raymundus
Seri Filsafat Teologi Vol. 34 No. 33 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v34i33.250

Abstract

Bunuh diri ditengarai sebagai fenomena sosial yang semakin mengkhawatirkan baik secara mondial maupun nasional. Jumlahnya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Banyak Lembaga, baik sekuler maupun religius, baik akademis maupun praktis, telah berupaya merespon dengan penuh minat. Dengan menggunakan data sekunder, baik dalam format cetak maupun elektronik, tulisan ini ingin menelaah masalah kemanusiaan ini dari perspektif teologi, khususnya soteriologi antropologis. Penulis ingin mengajak pembaca untuk bekerja sama menanggapi fenomena ini dari kacamata iman. Pertama, hidup ini harus disyukuri sebagai anugerah Allah. Itulah yang kita sebut ars vivendi, seni hidup beriman, yang bukan hanya sekedar modus vivendi. Lalu, hidup ini perlu diterima sebagai tanggungjawab sosial, yakni mandat Ilahi untuk membangun masyarakat yang saling menolong dan saling mengasihi. Juga, penulis ingin memberi semangat kepada keluarga-keluarga yang anggotanya pernah melakukan bunuh diri dan para penyintas lainnya untuk menghayati hidup ini dengan penuh syukur. Hidup yang dihayati dengan tanggungjawab iman adalah suatu bentuk perayaan keselamatan itu sendiri. Setiap orang yang menghayati hidupnya dalam ketaatan kepada Tuhan, sebagai ars vivendi, akan selalu siap menyerahkan kembali hidupnya dengan sukacita kepada Tuhan. Itulah ars moriendi, meninggal dengan baik.
Pentingnya Teologi Dialog dalam Menghadapi Intoleransi dan Diskriminasi Agama di Indonesia (Perspektif Teologi Dialog Interreligius Armada Riyanto) Gole, Hendrikus; I Made Sudhiarsa, Raymundus
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 2 No. 8 (2024): Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v2i8.236

Abstract

Peran teologi dialogis dalam konteks keberagaman agama di Indonesia sangatlah penting. Dialog merupakan salah satu cara untuk menyatukan agama yang berbeda. Hanya melalui dialog dan proses saling belajar dapat membuka jalan bagi agama-agama untuk hidup berdampingan dalam keberagaman, dimana masyarakat dapat saling mengenal dan memahami perbedaan yang ada. Fokus kajian ini adalah Teologi Dialogis Antaragama karya Armada Riyanto yang menekankan pada keharmonisan umat beragama, keserasian, dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa. Armada Riyanto menyatakan, melalui dialog antaragama, situasi yang dapat menimbulkan kecurigaan berkepanjangan dan kekacauan dapat diredakan. Oleh karena itu, untuk menyikapi fenomena tersebut, diperlukan dialog yang sehat untuk menumbuhkan pemahaman dan rasa hormat dalam kehidupan beragama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi peran penting teologi dialogis dalam mengatasi konflik antar umat beragama di Indonesia. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kajian pustaka berdasarkan buku-buku dan artikel ilmiah yang relevan dengan wacana tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa setiap pemuka agama berkolaborasi dan mengajarkan nilai-nilai etika dalam kehidupan beragama untuk menciptakan perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.
IMPLEMENTASI ADAT JALATN LOME JAIH DAYAK KRIO TERHADAP BUDAYA DAN MISI GEREJA: KAJIAN ANTROPOLOGIS CASSIRER Hilarion Gerri Parto; Yulita Nadila; Raymundus I Made Sudhiarsa
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v5i2.369

Abstract

Adat Jalatn Lome Jaih merupakan warisan budaya masyarakat Dayak Krio di Kalimantan Barat yang berfungsi sebagai pedoman dalam mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan identitas budaya lokal tetapi juga memiliki potensi untuk diintegrasikan ke dalam misi Gereja Katolik. Perspektif Ernst Cassirer tentang manusia sebagai Animal Symbolicum memberikan kerangka filosofis untuk memahami peran simbol dalam membangun hubungan antara adat, budaya, dan agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi adat Jalatn Lome Jaih dalam misi Gereja Katolik serta mengungkap kontribusinya terhadap harmoni antara nilai-nilai lokal dan ajaran Gereja. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan menganalisis data dari literatur terkait adat Jalatn Lome Jaih, teori simbolisme Cassirer, dan inkulturasi dalam Gereja Katolik. Lokasi kajian ini adalah wilayah suku Dayak Krio di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Subyek penelitian mencakup masyarakat adat Dayak Krio yang masih mempraktikkan tradisi Jalatn Lome Jaih dan umat Katolik di wilayah tersebut. Teknik pengumpulan data melibatkan studi literatur, analisis teks, dan interpretasi simbol-simbol budaya serta religius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat Jalatn Lome Jaih memiliki simbolisme yang kaya dan relevan dengan ajaran Gereja Katolik, terutama dalam menciptakan ruang dialog budaya dan spiritualitas. Simbol-simbol adat seperti ritual agraris dan kepercayaan terhadap Dowata dapat diadaptasi ke dalam liturgi dan pastoral Gereja, memberikan makna baru bagi umat Katolik tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal. Dengan demikian, integrasi adat Jalatn Lome Jaih ke dalam misi Gereja tidak hanya memperkuat identitas budaya masyarakat Dayak Krio tetapi juga memperkaya spiritualitas umat dalam konteks yang inklusif dan universal.
Pentingnya Teologi Dialog dalam Menghadapi Intoleransi dan Diskriminasi Agama di Indonesia (Perspektif Teologi Dialog Interreligius Armada Riyanto) Gole, Hendrikus; I Made Sudhiarsa, Raymundus
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 2 No. 8 (2024): Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v2i8.236

Abstract

Peran teologi dialogis dalam konteks keberagaman agama di Indonesia sangatlah penting. Dialog merupakan salah satu cara untuk menyatukan agama yang berbeda. Hanya melalui dialog dan proses saling belajar dapat membuka jalan bagi agama-agama untuk hidup berdampingan dalam keberagaman, dimana masyarakat dapat saling mengenal dan memahami perbedaan yang ada. Fokus kajian ini adalah Teologi Dialogis Antaragama karya Armada Riyanto yang menekankan pada keharmonisan umat beragama, keserasian, dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa. Armada Riyanto menyatakan, melalui dialog antaragama, situasi yang dapat menimbulkan kecurigaan berkepanjangan dan kekacauan dapat diredakan. Oleh karena itu, untuk menyikapi fenomena tersebut, diperlukan dialog yang sehat untuk menumbuhkan pemahaman dan rasa hormat dalam kehidupan beragama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi peran penting teologi dialogis dalam mengatasi konflik antar umat beragama di Indonesia. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kajian pustaka berdasarkan buku-buku dan artikel ilmiah yang relevan dengan wacana tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa setiap pemuka agama berkolaborasi dan mengajarkan nilai-nilai etika dalam kehidupan beragama untuk menciptakan perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.
Spiritualitas Kaum Muda di Tengah Perkotaan dalam Era Digital Manik, Robert Pius; I Made Sudhiarsa, Raymundus; B. Anggur, Evander; Oinik, Leni M.; Paleng, Marto Pusius
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.286

Abstract

Spiritualitas kaum muda di era digital sangatlah penting. Apalagi di tengah kemajuan teknologi yang mempermudah kaum muda dalam mencari berbagi informasi yang mereka perlukan. Melihat kemudahan seperti ini kaum muda mulai kurang menyadari spiritualitas yang mereka miliki. Hal ini membuat mereka terjebak di era digital dan terlihat dari sikap mereka yang individualis. Sikap seperti ini menjadi sebuah persoalan dalam mewujudkan spiritualitas dalam kehidupan di era digital. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka. Tujuan dari penulisan ini adalah melihat problem yang dialami oleh kaum muda tentang spiritualitas di era digital ini. Sebab mereka mulai kurang menyadari betapa pentingnya spiritualitas. Dalam penulisan ini penulis juga menemukan bahwa kaum muda masih memiliki sikap individualis. Maka perziarahan spiritualitas ini harus memiliki relasi, kerendahan hati dan kesadaran dari kaum muda di era digital