Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Penyuluhan kesehatan tentang penyakit demam berdarah Saraswati, Ika; Wulan, Sarinah Sri
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v1i2.46

Abstract

Pendahuluan: Virus Dengue ditemukan di daerah tropik dan sub tropik kebanyakan di wilayah perkotaan dan pinggiran kota di dunia ini Penyakit DBD pertama kali dikenal di Filipina pada tahun 1953. Sedangkan kasus DBD di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1968 dengan jumlah kasus sebanyak 58 penduduk. Hingga pada tahun 2009 terjadi peningkatan jumlah provinsi dan kota yang endemis DBD, dari dua provinsi dan dua kota menjadi 32 provinsi dan 382 kota dengan jumlah kasus 158.912 penduduk. Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim dan rendahnya kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi di Indonesia dengan jumlah kasus 68.407 tahun 2017 mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2016 sebanyak 204.171 kasus. Sedangkan perbandingan kasus kematian pada tahun 2017  berjumlah 493 kasus jika dibandingkan tahun 2016 berjumlah 1.598 kasus, kasus ini mengalami penurunan hampir 3 kali lipat. Tujuan: Agar masyrakat menegetahui tentang penyakit demam berdarah. Metode: Pembuatan pre planing, persiapan leaflet dan lembar balik untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan kesehatan ini menggunakan media lembar balik yang digunakan sebagai sarana dalam mempresentasikan materi dan leaflet yang dapat dibaca dan dibawa pulang untuk oleh peserta penyuluhan. Sigmomanometer untuk mengukur tekanan darah peserta, masker dan hand sainitaizer. Hasil: Setelah diberikan penyuluhan kesehatan, lalu dilakukan evaluasi melalui sesi Tanya jawab dengan peserta. Terdapat 3 peserta yang bertanya pada penyuluhan tersebut dan 2 peserta lainnya diberikan pertanyaan oleh penyuluh. Semua peserta dapat memahami, dan menjelaskan sesuai yang telah disampaikan pada saat penyampaian materi.
Pendidikan kesehatan perawatan tali pusat di posyandu wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Bandar Lampung Nurhayati, Nurhayati; Suharti, Sri; Wulan, Sarinah Sri; Ikhwanudin, Ikhwanudin
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i2.455

Abstract

Background: The highest cause of neonatal death is neonatal tetanus infection, one of which is caused by improper umbilical cord care. By conducting health education on umbilical cord wound care, it will reduce the risk of umbilical cord infection cases in newborns. The incidence of umbilical cord infection is around 23% to 91% of umbilical cords that are not properly cared for will be infected by staphylococcus Aureus bacteria in the first 72 hours after birth. Purpose: To determine the knowledge of mothers about the implementation of umbilical cord care at the Integrated Health Service Post (Posyandu) in the working area of ​​the Gedong Air Health Center, Bandar Lampung. The target of this health education is mothers who have newborns in the working area of ​​the Gedong Air Health Center, Bandar Lampung City. Method: Health education is carried out using the lecture method and demonstration of how to care for umbilical cord wounds to prevent infection. A total of 40 participants took part in this activity. Apart from the participants, it was also attended by students, supervising lecturers, and the Gedong Air Health Center. Results: From the questionnaire data, it was found that the mothers' knowledge about umbilical cord care was mostly good, namely 26 (65.0%) and less good, namely 14 (35.0%). Conclusion: Community service in the form of health education can increase mothers' knowledge about umbilical cord care to prevent infection and is more effective for mothers who are about to/are facing childbirth. Keywords: Health Education; Health Knowledge; Umbilical Cord Care Pendahuluan: Penyebab kematian neonatal yang tertinggi adalah infeksi tetanus neonaturum, yang salah satunya disebabkan karena perawatan tali pusat yang tidak benar. Dengan dilakuakn pendidikan kesehatan tentang perawatan luka tali pusat akan mengurangi resiko terjadinya kasus infeksi tali pusat pada bayi baru lahir. Kejadian infeksi tali pusat yaitu sekitar 23% sampai 91% tali pusat yang tidak dirawat dengan baik akan terinfeksi oleh kuman staphylococcus Aureus pada 72 jam pertama setelah kelahiran.    Tujuan: Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang pelaksanaan perawatan tali pusat di Posyandu wilayah kerja puskesmas Gedong Air Bandar Lampung. Sasaran pendidikan kesehatan ini adalah ibu yang memiliki bayi baru lahir di wilayah kerja puskesmas Gedong air, Kota Bandar Lampung. Metode: Pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan metode ceramah dan demonstrasi cara perawatan luka tali pusat agar tidak terjadi infeksi. Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan ini. Selain dari peserta juga dihadiri oleh mahasiswa, dosen pembimbing, dan pihak Puskesmas Gedong Air.  Hasil: Dari data kuesioner mendapatkan gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat sebagian besar pengetahuan ibu adalah baik yakni sebesar 26 (65.0%) dan kurang baik yakni sebesar 14(35.0%). Simpulan: Pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat agar tidak terjadi infeksi dan lebih efektif kepada ibu-ibu yang akan/sedang menghadapi persalinan.
Gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Kota Bandar Lampung Nurhayati, Nurhayati; Fitri, Feni Elda; Wulan, Sarinah Sri; Rahayu, Ajeng
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.469

Abstract

Background: 3-month birth control injection is a contraceptive device containing hormones such as DMPA (Depo medroxyprogesterone acetate) and NET-EN which are injected intramuscularly (IM) into the buttocks area of ​​women once every 3 months. The most common side effect felt by users of 3-month birth control injections is weight changes. Weight changes can be influenced by the presence of the hormone Depo Medroxyprogesterone acetate (DMPA) which can stimulate the appetite control center in the hypothalamus, causing acceptors to experience an increase in appetite from usual. Purpose: To determine the description of weight changes in acceptors of 3-month birth control injections. Method: Descriptive research to see the description of weight changes for users of 3-month birth control injections. The description of weight changes is not by comparing or connecting the independent variables with other factors. The population is users of 3-month birth control injections at the Kemiling Inpatient Health Center, Bandar Lampung and using the total sampling technique, 30 people were selected as respondents. The inclusion criteria were willingness to be a respondent, using 3-monthly contraceptive injections, and duration of contraceptive injection use ≥1 year. Results: Most of the respondents' employment status was as housewives, namely 28 (93.4%). All respondents had a regular diet, namely 30 (100.0%). The majority of respondents' blood pressure was in Pre-hypertension 120-139 mmHg, namely 14 (46.7%). Most respondents experienced changes in weight gain, namely 29 (96.7%). The majority of respondents had used contraceptive injections for 4-6 years, namely 15 (50.0%) and the history of the type of contraception used by respondents previously was mostly contraceptive injections, namely 26 (86.6%). Conclusion: Weight gain for users of 3-month contraceptive injections is influenced by age, employment status, duration of contraceptive injection use, and regularity of diet. The more dominant factors influencing weight gain for users of 3-month contraceptive injections are employment status and regularity of diet. Suggestion: To be an additional reference for the development of knowledge and increasing public understanding about the relationship between types of contraception and the description of weight changes in 3-month injectable contraceptive acceptors so that they can maintain a healthy quality of life by doing physical activities, improving diet, and choosing the right contraception. Keywords: 3-month injectable contraceptives; KB acceptors; Weight changes Pendahuluan: Suntik KB 3 bulan yaitu alat kontrasepsi yang berisikan hormonal seperti DMPA (Depo medroxyprogesterone acetat) dan NET-EN yang disuntikan secara intramuscular (IM) pada area bokong wanita dalam 3 bulan sekali. Efek samping terbanyak yang dirasakan dari akseptor KB suntik 3 bulan yaitu, perubahan berat badan. Perubahan berat badan dapat dipengaruhi karena adanya hormon Depo Medroxyprogesterone acetat (DMPA) yang dapat merangsang pusat pengendalian nafsu makan di hipothalamus sehingga menyebabkan akseptor mengalami peningkatan nafsu makan dari biasanya. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB suntuk 3 bulan. Metode: Penelitian deskriptif untuk melihat gambaran perubahan berat badan bagi pengguna KB suntik 3 bulan. Gambaran perubahan berat badan tidak dengan membandingkan atau menghubungkan variable independennya dengan faktor lain. Populasinya adalah pengguna KB suntik 3 bulan di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Bandar Lampung dan dengan teknik total sampling mendapatkan sebanyak 30 orang menjadi responden. Kriteria inklusinya adalah bersedia menjadi responden, menggunakan KB suntik 3 bulan, dan lama pemakaian KB suntik ≥1 tahun Hasil: Sebagian besar status pekerjaan responden adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 28 (93.4%). Seluruh responden memiliki pola makan yang teratur yaitu sebanyak 30 (100.0%)  Mayoritas tekanan darah responden pada Pre-hipertensi 120-139 mmHg yaitu sebanyak 14 (46.7%). Sebagian besar responden mengalami perubahan kenaikan berat badan yaitu sebanyak 29 (96.7%). Mayoritas responden sudah menggunakan KB suntik selama 4-6 tahun yaitu sebanyak 15 (50.0%) dan riwayat jenis KB yang digunakan responden sebelumnya adalah sebagian besar adalah KB suntik yaitu sebanyak 26 (86.6%). Simpulan: Kenaikan berat badan bagi pengguna KB suntik 3 bulan dipengaruhi oleh faktor usia, status pekerjaan, lamanya penggunaan KB suntik, dan keteraturan pola makan. Faktor yang lebih dominan mempengaruhi kenaikan berat badan bagi akseptor KB suntik 3 bulan adalah status pekerjaan dan keteraturan pola makan. Saran: Menjadi referensi tambahan untuk pengembangan pengetahuan dan peningkatan pemahaman kepada masyarakat tentang hubungan jenis kontrasepsi dan gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan sehingga dapat menjaga kualitas hidup sehat dengan melakukan aktifitas fisik, memperbaiki pola makan, dan memilih kontrasepsi yang tepat.