Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PEMERIKSAAN JUMLAH KOLONI MIKROORGANISME DI UDARA PADA PEMUKIMAN WARGA DI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH TERJUN Suharti, Nin; P., Halimah Fitrian
Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist) Vol 13 No 2 (2018): Jurnal Ilmiah PANNMED Periode September-Desember 2018
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemetrian Kesehatan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.556 KB)

Abstract

Keterbatasan tempat tinggal di daerah perkotaan semakin bertambah dari waktu ke waktu, karenapertumbuhan penduduk lebih cepat dibandingkan dengan ketersediaan lahan. Kondisi inimengakibatkan munculnya permasalahan perumahan yang semakin sulit di perkotaan.Untukmengatasi kebutuhan perumahan mereka cenderung tinggal di daerah pinggiran, termasuk masyarakatumum dan pemulung yang bermukim di sekitar lokasi tempat pembuangan akhir sampah (TPAS).Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiJumlah koloni mikroorganisme di udara padapemukiman warga sekitar TPAS Terjun. Kegiatan dilakukan di TPAS dan sekitarnya. Jumlahmikroorganisme yang direkomendasikan oleh Menteri Kesehatan RI No:1077/MENKES/PER/V/2011mengenai udara yang sehat adalah jumlah mikroorganisme < 700 CFU / m3 udara. Penelitian inidilaksanakan pada bulan Juli s/d Agustus 2018 bertujuan untuk mengetahui jumlah mikroorganismeudara pada lokasi tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) Terjun Medan dan tempat tinggalmasyarakat di sekitarnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Experimen menggunakanCulture pada media Plate Cout Agar (PCA) dan alat Air Exampler Mas 100. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pada titik pusat TPAS (0 meter) jumlah mikroorganisme udara sebanyak 2874cfu/m3, 100 m dari titik pusat TPAS Jumlah Mikroorganisme 2294 cfu/m3,250 m dari titik pusatTPAS Jumlah Mikroorganisme 1913 cfu/m3, 500 m dari titik pusat TPAS Jumlah Mikroorganisme966 cfu/m3,750 m dari titik pusat TPAS Jumlah Mikroorganisme 662 cfu/m3, 1000 m dari titik pusatTPAS Jumlah Mikroorganisme 517 cfu/m3 Semakin jauh dari titik pusat jumlah mikroorganismeudara semakin menurun dengan angka korelasi 95,7% dan jarak yang aman bagi masyarakatadalah ≥750 meter, karena populasi mikroorganisme udara sudah dibawah standar baku mutu yangditetapkan (<700 cfu/m3).
ANALISA KADAR BESI (Fe) PADA AIR SUMUR GALI DI DAERAH TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH DI DESA NAMO BINTANG KECAMATAN PANCUR BATU KABUPATEN DELI SERDANG Halimah Fitriani Pane; Halimah fitriani pane
Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik Vol 4 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52071/jstlm.v4i1.40

Abstract

Air sangat penting bagi kehidupan mahkluk hidup. Air yang dibutuhkan adalah yang memenuhi standart kualitas air minum yang telah ditetapkan oleh Permenkes baik secara fisik, kimia, bakteriologi dan radioaktif. Penurunan kualitas air sumur ditandai dengan kehadiran beberapa polutan diantaranya logam-logam berat, zat organik, yang berhubungan dengan kegiatan manusia seperti pembuangan sampah, limbah, penggunaan pupuk yang berlebihan, kontaminasi dengan kotoran-kotoran hewan. Kadar Fe yang melebihi batas dapat menimbulkan rasa mual, muntah, diare, iritasi pada kulit, denyut jantung meningkat, sakit kepala. Adapun tujuan penelitian ini untuk menentukan kadar Fe pada air sumur gali di sekitar TPA.Jenis penelitian observasi dan bersifat deskriptif. Sampel yang digunakan Total populasi yang berjumlah 10 sumur gali. pengukuran jarak sumur gali ke TPA yaitu 70-500 meter. Sampel air tersebut di periksa di Laboratorium dengan menggunakan alat spectroquant nova 60A. Hasil pemeriksaan menunjukkan dari 10 sampel yang di analisa hanya satu sampel memiliki kadar Fe 0,222 mg/l yang memenuhi syarat Permenkes. Sedangkan 9 sampel diperoleh kadar Fe 0,409 mg/l - 5,78 mg/l melebihi standart Permenkes RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 yaitu 0,3 mg/l. Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini adalah semakin jauh jarak sumur dari sumber TPA, Septic Tank, kandang ternak maka kandungan Fe dalam air sumur akan semakin kecil.
ANALISA KADAR BESI (Fe) PADA AIR SUMUR GALI DI DAERAH TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH DI DESA NAMO BINTANG KECAMATAN PANCUR BATU KABUPATEN DELI SERDANG Halimah Fitriani Pane; Halimah fitriani pane
Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik Vol 4 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52071/jstlm.v4i1.40

Abstract

Air sangat penting bagi kehidupan mahkluk hidup. Air yang dibutuhkan adalah yang memenuhi standart kualitas air minum yang telah ditetapkan oleh Permenkes baik secara fisik, kimia, bakteriologi dan radioaktif. Penurunan kualitas air sumur ditandai dengan kehadiran beberapa polutan diantaranya logam-logam berat, zat organik, yang berhubungan dengan kegiatan manusia seperti pembuangan sampah, limbah, penggunaan pupuk yang berlebihan, kontaminasi dengan kotoran-kotoran hewan. Kadar Fe yang melebihi batas dapat menimbulkan rasa mual, muntah, diare, iritasi pada kulit, denyut jantung meningkat, sakit kepala. Adapun tujuan penelitian ini untuk menentukan kadar Fe pada air sumur gali di sekitar TPA.Jenis penelitian observasi dan bersifat deskriptif. Sampel yang digunakan Total populasi yang berjumlah 10 sumur gali. pengukuran jarak sumur gali ke TPA yaitu 70-500 meter. Sampel air tersebut di periksa di Laboratorium dengan menggunakan alat spectroquant nova 60A. Hasil pemeriksaan menunjukkan dari 10 sampel yang di analisa hanya satu sampel memiliki kadar Fe 0,222 mg/l yang memenuhi syarat Permenkes. Sedangkan 9 sampel diperoleh kadar Fe 0,409 mg/l - 5,78 mg/l melebihi standart Permenkes RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 yaitu 0,3 mg/l. Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini adalah semakin jauh jarak sumur dari sumber TPA, Septic Tank, kandang ternak maka kandungan Fe dalam air sumur akan semakin kecil.
ANALISA KANDUNGAN TIMBAL (Pb) PADA SAYURAN HIJAU YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL KAMPUNG LALANG MEDAN Halimah Fitriani Pane
Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik Vol 5 No 1 (2020): April (2020)
Publisher : Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52071/jstlm.v5i1.46

Abstract

ABSTRAK Sayuran merupakan sumber vitamin dan mineral yang dibutuhkan manusia. Namun, banyak jenis sayuran yang beredar dijual di pasar pinggir jalan tidak aman untuk dikonsumsi karena berbahaya bagi kesehatan manusia, diduga sayuran tersebut terkontaminasi logam berat seperti timbal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan timbal dalam sayuran hijau yang dijual di pasar tradisional Kampung Lalang Medan. Jenis penelitian ini merupakan observasi dan bersifat deskriptif. Sampel yang digunakan merupakan total populasi yang berjumlah 7 jenis sayuran yaitu bayam hijau, kangkung, genjer, sawi hijau, daun singkong, pakchoi, brokoli. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Medan. Persiapan sampel dilakukan dengan penghancuran kering. Analisis kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri serapan atom (AAS) dengan nyala udara-asetilena pada panjang gelombang untuk timbal adalah 283,3 nm. Hasil penelitian ini menunjukkan kadar logam timbal pada sayuran yang telah dicuci, bayam hijau 0,9816 mg / kg, kale 1,0246 mg / kg, genjer 0,8654 mg / kg, sawi hijau 0,9681 mg / kg , daun singkong0.7355 mg / kg, pakchoi 1.0521 mg / kg, brokoli 0,7502 mg / kg. Semua sampel nabati di atas nilai maksimum pencemaran timbal yang diizinkan oleh SNI 7387 tahun 2009 yaitu 0,5 mg / kg. Kata kunci: Sayuran hijau, Timbal, Kesehatan, Spektrofotometri, Nabati
ANALISIS KADAR KALSIUM DAN MAGNESIUM TERHADAP KEJADIAN STUNTING BALITA DI PUSKESMAS TITIPAPAN MEDAN DELI Ice Ratnalela Srg; Sri Bulan Nasution; Endang Sofia; Halimah Fitriani Pane
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 13 No 2 (2021): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.704 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v13i2.1938

Abstract

Stunting is a growth disorder as an indicator of chronic malnutrition. One of the factors that affect stunting is the low intake of bone-forming nutrients such as calcium and magnesium which is consumed, causing the calcium content in the blood to decrease. The minerals calcium and magnesium work synergistically where magnesium helps accelerate the absorption of calcium. This study aims to analyze the difference between calcium and magnesium in stunted and non-stunted toddlers at the Titi Papan Health Center, Medan Deli District. This research was conducted in August 2020 at the Titi Papan Public Health Center, Medan Deli District, using an analytical observational research design with a cross sectional research design conducted on 35 stunted toddlers and 35 non-stunted toddlers. Sample selection using Simple Random Sampling technique. Data analysis used statistical test with T-Independent test technique. The results showed that there was a significant difference in the average calcium levels between stunted and non-stunted toddlers with a value (p=0.0001), there was no significant difference in the average magnesium levels of stunting and non-stunted toddlers with a value (p=0.176).
KEBIASAAN MINUM KOPI HITAM DENGAN KOLESTEROL DARAH DAN TEKANAN DARAH LELAKI DEWASA Halimah Fitriani Pane; Liza Mutia
Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist) Vol. 17 No. 3 (2022): Jurnal Ilmiah PANNMED Periode September- Desember 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.946 KB) | DOI: 10.36911/pannmed.v17i3.1503

Abstract

The proliferation of cafes that sell drinks and coffee packaging can increase consumption of processed national coffee beans. In addition to increasing the sale value, the emergence of these shops will also encourage the growth of the creative economy of the coffee commodity, both for the domestic and export markets. This study aims to determine the relationship of black coffee drinking habits with blood pressure and cholesterol levels. This research method uses analytic survey with cross sectional research design. The population in this study were adult men who had the habit of drinking black coffee with a sample size of 84 people, obtained by purposive sampling. Spearman Rank correlation test results show age variables (p = 0,000), education (p = 0.005), genetic history (p = 0,000), frequency of drinking coffee (p = 0,000), smoking activity (p = 0.019), have something to do with pressure blood. It is known that the age variable (p = 0,000), the frequency of drinking coffee (p = 0,000), smoking activity (p = 0.019), have something to do with cholesterol levels. The results of this study differ from many other studies which state there is no relationship between coffee drinking habits with high blood pressure or cholesterol. But, other factors that may have an influence on high blood pressure and cholesterol. The caffeine in coffee is in the form of potassium chlorogenate bonds that can reduce blood pressure. This bond will be released if the coffee is watered with hot water. The content of terpenes in coffee can trigger increased cholesterol levels in the body. The content of the terpenes can actually be removed by filtering the coffee before serving. Menjamurnya kafe-kafe yang menjajakan minuman maupun kemasan kopi dapat meningkatkan konsumsi minuman hasil olahan biji kopi nasional. Selain menaikkan nilai jual, munculnya kedai-kedai tersebut juga bakal mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif dari komoditas kopi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan minum kopi hitam dengan tekanan darah dan kadar kolesterol. Metode penelitian ini menggunakan survei analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah lelaki dewasa yang memiliki kebiasaan meminum kopi hitam dengan jumlah sampel sebanyak 84 orang, yang didapat dengan cara purposive sampling. Hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan variabel umur (p = 0,000), pendidikan (p = 0,005), riwayat genetik (p = 0,000), frekwensi minum kopi (p = 0,000), aktifitas merokok (p = 0,019), dengan demikian semua variabel ada hubungannya dengan tekanan darah. Diketahui pula bahwa variabel umur (p = 0,000), frekwensi minum kopi (p = 0,000), aktifitas merokok (p = 0,019), ada hubungannya dengan kadar kolesterol, ketiga variabel tesebut ada hubungannya dengan kadar kolesterol. Hasil penelitian ini berbeda dengan banyak penelitian lain yang menyatakan tidak ada hubungan kebiasaan minum kopi dengan tekanan darah tinggi maupun kolesterol. Tapi, faktor lain yang kemungkinan memiliki pengaruh terhadap tingginya tekanan darah dan kolesterol. Kafein dalam kopi terdapat dalam bentuk ikatan kalium kafein klorogenat yang dapat mengurangi tekanan darah. Ikatan ini akan terlepas jika kopi disiram dengan air panas. Kandungan terpen dalam kopi dapat memicu meningkatnya kadar kolesterol dalam tubuh. Kandungan terpen tersebut sebenarnya bisa dihilangkan dengan cara melakukan penyaringan kopi sebelum disajikan.
GAMBARAN BASIL TAHAN ASAM PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU Ice Ratnalela Siregar; Mardan Ginting; Halimah Fitriani Pane
Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist) Vol. 16 No. 1 (2021): Jurnal Ilmiah PANNMED Periode Januari - April 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.417 KB) | DOI: 10.36911/pannmed.v16i1.985

Abstract

ABCTRACT Tuberculosis is an acute and chronic infections disease that mainly attacks the lungs caused by acid-resistant bacteria (BTA) which are gram positive rods (Mycobacterium tuberculose). Tuberculosis can attack various organs, especially the lungs. This disease if not treated or treatment is incomplete can cause complications until death. The purpose of this study was to determine the description of Acid Resistant Basil in lung TB patients who have been diagnosed by Doctors at Puskesmas Pancurbatu Deli Serdang Regency. This research is descriptive with total population. The sample size in this study was 28 samples. Sputum speech from the study sample was examined by the Zhiel Neelsen staining method. The study was conducted at the Puskesmas Laboratory, Puskesmas Pancur Batu, Deli Serdang Regency. Data were analyzed descriptively. Based on the results of research conducted on Overview of acid-resistant bacilli (BTA) in Patients With Clinical Diagnosis OF Pulmonary Tuberculosis In Pancur Batu Public Health Center Deli Serdang District., apparently 20 samples (71%) were negative and 8 samples (29%) were positive. With the most positive results seen from the age of 17-48 years as many as 5 samples (62%) and those seen from the male Gender as many as 5 samples (62 %). Therefore it is suggested further research is needed by conducting sputum culture in patients with suspected pulmonary tuberculosis but the results of sputum smear examination are negative. Keywords : Tuberculosis, Acid Resistant Bacilli (BTA) ABSTRAK Tuberkulosis adalah penyakit menular akut maupun kronis yang terutama menyerang paru yang disebabkan oleh bakteri tahan asam (BTA) yang bersifat batang gram positif (Mycobacterium tuberculose). Tuberkulosis dapat menyerang berbagai organ terutama paru-paru. Penyakit ini jika tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi hingga kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Basil Tahan Asam Pada Penderita TB Paru yang telah di Diagnosa Dokter di Puskesmas Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini merupakan deskriptif dengan total populasi. Besar sampel pada penelitian ini adalah 28 sampel. SpeSimen sputum dari sampel penelitian diperiksa dengan metode Pewarnaan Zhiel Neelsen. Penelitian di lakukan di Laboratorium Puskesmas Puskesmas Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Berdasrkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan tentang Gambaran Basil Tahan Asam (BTA) Pada Penderita Diagnosa Klinis Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang, ternyata 20 sampel (71%) negatif dan 8 sampel (29%) positif. Dengan hasil positif terbanyak dilihat dari umur 17-48 tahun sebanyak 5 sampel (62%) dan yang dilihat dari Jenis Kelamin laki-laki sebanyak 5 sampel (62%). Denga demikian disarankan Perlu dilakukan penelitian lanjut dengan melakukan kultur sputum pada penderita terduga tuberkulosis paru namun hasil pemeriksaan sputum BTA negatif. Kata Kunci : Tuberkulosis, Bakteri Tahan Asam (BTA)
Analysis of Vitamin C Levels in Kombucha Tea From Rujak Fruit Skin Waste Using Iodimetric Titration Method Sri Bulan Nasution; Halimah Fitriani Pane; Melika Ostina Purba; Riri Indriyani; Rabiha Al Husna Rambe
International Journal of Health and Medicine Vol. 2 No. 1 (2025): January : International Journal of Health and Medicine
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijhm.v2i1.202

Abstract

Kombucha tea is a drink produced through a fermentation process of a mixture of tea and sugar using kombucha culture or also called SCOOBY ( Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) . The basic ingredients for making kombucha tea are granulated sugar solution and tea bags, in this study it was varied using fruit skin. Vitamin C is known as an important antioxidant found in many fruits, including in rujak fruit skin which is often considered waste. The purpose of this study was to determine the levels of vitamin C in kombucha tea fermented from fruit skin waste. This study used qualitative and quantitative methods. The qualitative method uses the Benedict test and the quantitative method uses the calculation of the percentage of vitamin C content using the iodimetric titration method. The results of the qualitative analysis of the Benedict test were positive for vitamin C with a change in the color of the sample solution to green-yellowish and the analysis of the percentage of vitamin C content obtained a result of 2.3124% or equal to 0.23124 mg / 10 mL of sample solution. The vitamin C content of kombucha tea can vary depending on the base ingredients used, fermentation time, and storage temperature.
PENYULUHAN TB PARU DI KELURAHAN SIMALINGKARPULMONARY TB COUNSELING IN SIMALINGKAR VILLAGE Pane, Halimah Fitriani; Ginting, Mardan; Siregar, Siti Main; angin, Susanti Perangin
BESIRU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 12 (2024): BESIRU : Jurnal Pengabdian Masyarakat, Desember 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/f5v3gt38

Abstract

Tuberculosis (TB) is one of the top 10 causes of death and the leading cause of a single infectious agent. In 2019, an estimated 10 million people were infected with TB worldwide. 5.6 million men, 3.2 million women and 1.2 million children. The percentage of pulmonary TB of all types in male people is greater than in female people because men pay less attention to maintaining their own health and men often come into contact with risk factors compared to women. Several risk factors that cause the occurrence of tuberculosis are sociodemographic factors, environmental factors, and comorbid factors. Based on a survey conducted by TIM, it is known that the number of people suffering from pulmonary TB in the Simalingkar National Housing Complex, Medan Tuntungan District is currently increasing. Trigger factors are smoking habits, contact history, or the presence of comorbid factors. The aim of this community service activity is to provide education about the prevention and control of Tuberculosis infection in the community. The methods used are counseling and conducting sputum examinations. The results of the sputum examination carried out in the laboratory showed that of the 110 people examined, 1 person (0.9%) was positive for BTA. Meanwhile, 109 people had negative BTA results (99.1%).
ANALISIS KADAR SERUM GLUTAMIC PIRUVIC TRANSAMINASE DAN SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE PADA PASIEN TUBERKULOSIS YANG MENJALANI PENGOBATAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS Salbiah, Salbiah; Diah Lestari; Dina Indarsita; Halimah Fitriani Pane; Yasmine Amira Fadila
Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist) Vol. 19 No. 1 (2024): Vol. 19 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah PANNMED Periode Januari - April 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36911/pannmed.v19i1.2120

Abstract

Introduction: Since 1995, Indonesia began to adopt the Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy (DOTS) system in controlling tuberculosis. The main drugs recommended in this system are Antituberculosis Drugs (OAT) consisting of Isoniazid (H), Rifampicin (R), Pyrazinamide (Z), and Ethambutol (E). The use of Anti-Tuberculosis Drugs can cause side effects which are still other problems, such as liver damage which is characterized by an increase in transaminase enzymes. Therefore, monitoring liver function is very important. The routine examination carried out is a serum transaminase examination, namely SGOT (AST) and SGPT (ALT). Therefore, monitoring liver function is very important. The routine examination carried out is a serum transaminase examination, namely SGOT (AST) and SGPT (ALT). Objective: the aim of this study is to determine whether there is a difference between SGOT and SGPT levels before and after treatment with Antituberculosis Drugs . Method: The research design was cross-sectional analytic using secondary data from examination results of SGOT and SGPT levels from adult tuberculosis sufferers who were undergoing treatment at Cileungsi Regional Hospital, totaling 70 people. The research was conducted from January to August 2023. Results: There was an increase in SGOT levels by 104%, namely from 21.61 IU/L before treatment to 43.47 IU/L and SGPT levels increased by 107%, namely from 16.41 IU/L before treatment to 34.47 IU /L.. The Wilcoxon test showed a significant difference of 0.000 (p <0.05) for SGOT and SGPT levels before and after treatment.. Conclusion: there is a significant difference between SGOT and SGPT levels before and after treatment with antituberculosis drugs.