Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Cooperation the Governments of Indonesia and Australia Improves the Quality of Human Resources Through the Australia Awards Scholarship Program 2017-2022 Agung Yudhistira Nugroho; Natalia Esther
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 3 (2022): Budapest International Research and Critics Institute August
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i3.5990

Abstract

Globalization encourages mobility and human reach. New challenges emerge to test the community's readiness. Based on the Global Talent Competitiveness Index, Indonesia is ranked 65th out of 132 countries. Research International Labor Organization indicates that nearly 20% of the Indonesian workforce does not qualify for the work they are doing. This data shows the low quality of education in Indonesia, especially the level of higher education. This journal examines Australia-Indonesia's efforts to meet the need to improve the quality of human resources through the Australian Awards program. Based on data from the final report of the AAI program, although 26% of scholarship participants came from Indonesia, it did not adequately represent the entire population of undergraduate graduates. This has been constrained by budget cuts, a change in Australian policy direction and successful promotions. This scholarship is known to be prestigious, but unfortunately the impact is not so significant on the development of the quality of human resources in Indonesia.
Studi Komparatif Industri Musik Di Indonesia, Korea Selatan Dan Jepang Sebagai Inovasi Ekonomi Kreatif Desra Yanti Gea; Agung Yudhistira Nugroho
GLOBAL INSIGHT JOURNAL Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/gij.v7i2.6585

Abstract

 ABSTRAKIndustri musik merupakan salah satu sektor dari ekonomi kreatif Indonesia sebagai inovasi baru pengembangan perekonomian negara. Bagi Indonesia, industri musik dinyatakan sebagai sektor prioritas atau jiwa ekonomi kreatif. Seperti produk industri pada umumnya, musik juga memiliki nilai jual yang bisa berdampak pada peningkatan popularitas suatu negara hingga pada pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan baik. Menjadikan industri musik sebagai sumber ekonomi negara bukan hal baru dimana bertahun-tahun lalu beberapa negara telah mempraktekannya termasuk Korea Selatan dan Jepang yang memasarkan K-Pop dan J-Pop sebagai produk ekonomi kreatif yang diorientasikan untuk kepentingan nasional. Hal tersebut dicetuskan oleh pemerintah masing-masing negara sebagai cara untuk menambah pemasukan negara. Berkaca dari popularitas K-Pop sebagai produk industri musik Korea Selatan dan J-Pop sebagai produk industri musik Jepang yang pernah populer melampaui batas negaranya sehingga strategi pemerintah dari kedua negara ini dijadikan perbandingan bagi tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Perbandingan yang bersifat deskriptif dengan menggunakan teori komparatif yang bertujuan untuk mendorong pengelolaan industri musik Indonesia melalui pengembangan ekonomi kreatif. Penelitian ini menggunakan teori ekonomi kreatif untuk melihat bagaimana negara berdaptasi di era transformasi ekonomi yakni ekonomi kreatif dan dampaknya terhadap pencapaian kepentingan nasional terutama dalam hal pengelolaan dan pengembangan industri musik.Kata kunci : Ekonomi kreatif, industri musik, kebijakan pemerintah.ABSTRACTThe music industry is one of the sectors of Indonesia's creative economy as an innovation in developing the country's economy. For Indonesia, the music industry is stated as a priority sector or the spirit of the creative economy. Like industrial products in general, music also has a selling value that can have an impact on increasing a country's popularity to economic growth if managed properly. Making the music industry the source of the country's economy is not new, which in the past years several countries have practiced it, including South Korea and Japan, which market K-Pop and J-Pop as creative economic products oriented towards national interests. The governments of each country as a way to increase state income initiated this. Reflecting on the popularity of K-Pop as a product of the South Korean music industry and J-Pop as a product of the Japanese music industry which was once popular beyond its borders, the strategies of the governments of these two countries are used as a comparison for the actions taken by the Indonesian government. A descriptive comparison using comparative theory, which aims to encourage the management of the Indonesian music industry through the development of the creative economy. This study used creative economic theory to see how the country adapts in the era of economic transformation, namely the creative economy and its impact on the achievement of national interests, especially in terms of management and development of the music industry. Keywords: Creative economy, music industry, government policy.
PERANAN DAN PENGARUH FRIEDRICH VON HAYEK DAN KOMUNITAS EPISTEMIK DALAM PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN NEO-LIBERAL Agung Yudhistira Nugroho
GLOBAL INSIGHT JOURNAL Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/gij.v7i2.3729

Abstract

Setelah perang dunia kedua, kebijakan ekonomi internasional banyak berdasarkan pada pemikiran Keynesian yang mengembangkan teori-teori dari Keynes dimana pemerintah harus ikut serta secara aktif dan sadar mengendalikan perekonomian ke arah posisi Full Employment, sebab mekanisme ke arah posisi tersebut tidak bisa diandalkan secara otomatis, Namun pada tahun 1970an kebijakan ekonomi internasional banyak didasari oleh kebijakan-kebijakan neo-liberal dan juga oleh rejim internasional seperti WTO dan IMF. Pemikir-pemikir seperti Friederich von Hayek, Milton Friedman, dan John Rawl banyak membawa perubahan-perubahan pola ekonomi internasional yang dahulunya orentiasi pada pemikiran Keynesian semata.  Makalah ini akan menguraikan tentang pemikiran Friederich von Hayek dan peneliti-peneliti lain yang sejalan seperti James Buchanan, Milton Friedman, dan George Stidler dalam kerangka komunitas epistemik dan dapat membawa pengaruh pada pembuatan kebijakan dalam rejim internasional dan seberapa siknifikan pengaruh tersebut dalam aplikasinya di masa mendatang.Kata Kunci: ekonomi internasional, Keynesian, neo-liberal, Friederich von Hayek
Analysis of Lobbying and Negotiations of Sri Lanka With China Regarding The Acquisition of Hambantota Port In 2017 Tessalonica Manuputty; Agung Yudhistira Nugroho
Journal Research of Social Science, Economics, and Management Vol. 2 No. 8 (2023): Journal Research of Social Science, Economics, and Management
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jrssem.v2i08.405

Abstract

This study aims to analyze Sri Lanka's lobbying and negotiations with China through offering debt for equity swaps, i.e. exchanging debt into assets. The situation at that time was that Sri Lanka wanted to build a port on the Hambantota route, or now known as Hambantota Port. But Sri Lanka lacks funds for development and needs help from a large economy. China, which has good bilateral relations with Sri Lanka, is willing to provide assistance to Sri Lanka in the form of loans. Behind the loan lies China's national interest, which is to expand the trade route of the Belt and Road Initiative. But after the port operated, the output of the port was not optimal and even suffered losses. Gradually Sri Lanka's foreign debt is getting bigger, and it is in a cornered condition of difficulty paying debts to China, but on the other hand Sri Lanka also needs funds, namely port operational costs to continue operating. Until finally Sri Lanka nogision to China by doing debt for equity swaps with the result that China agreed to acquire the Hambantota port.
Peran Kebudayaan Nasional Dalam Membentuk Kebijakan Luar Negeri: Studi Komparatif Pengaruh Kelompok Ideologis, Dinamika Sosial Dan Budaya Di Swedia Dan Indonesia Dalam Konteks Hak Asasi Manusia Dan Pengaruhnya Terhadap Kebijakan Luar Negeri Agung Yudhistira Nugroho
GLOBAL INSIGHT JOURNAL Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/gij.v8i1.7035

Abstract

AbstractThis research explores how culture, social behavior, and ideology shape the foreign policies of the two countries and examines their impact on the promotion and protection of human rights in the international dynamics of each country. The theoretical framework emphasizes the importance of national culture in foreign policy formulation and its interaction with human rights considerations. Adopting a comparative approach, this study aims to identify similarities and differences between Sweden and Indonesia in terms of how cultural factors influence foreign policy decisions related to human rights. This case study provides a deeper understanding of the factors driving foreign policy choices and how national culture interacts with human rights considerations in shaping those decisions. The implications of this research highlight the importance of understanding the role of national culture in shaping foreign policy and its influence on human rights issues. Overall, this research contributes to the field of international relations by providing valuable insights into the intersections of national culture, human rights, and foreign policy, thereby fostering a deeper understanding of the complexities involved in addressing global challenges in culturally diverse contexts. Keywords: cultural, religious, and ideological groups; foreign policy; human rights; Sweden; Indonesia AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi bagaimana budaya, perilaku sosial, dan ideologis membentuk kebijakan luar negeri kedua negara dan mengkaji dampaknya terhadap pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia dalam dinamika internasional masing-masing negara. Kerangka teoritis menekankan pentingnya budaya nasional dalam perumusan kebijakan luar negeri dan interaksinya dengan pertimbangan hak asasi manusia. Dengan mengadopsi pendekatan komparatif, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan antara Swedia dan Indonesia dalam hal bagaimana faktor budaya mempengaruhi keputusan kebijakan luar negeri terkait dengan hak asasi manusia. Studi kasus ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang faktor-faktor yang mendorong pilihan kebijakan luar negeri dan bagaimana budaya nasional berinteraksi dengan pertimbangan hak asasi manusia dalam membentuk keputusan tersebut. Implikasi dari penelitian ini menyoroti pentingnya memahami peran budaya nasional dalam membentuk kebijakan luar negeri dan pengaruhnya terhadap isu-isu hak asasi manusia. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi pada bidang hubungan internasional dengan memberikan wawasan yang berharga kepada persimpangan budaya nasional, hak asasi manusia, dan kebijakan luar negeri, sehingga mendorong pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas yang terlibat dalam mengatasi tantangan global dalam konteks keragaman budaya. Kata kunci: kelompok budaya, agama, dan ideologi, kebijakan luar negeri, hak asasi manusia, Swedia, Indonesia
Enhancing lecturers' productivity through AI in Universitas Slamet Riyadi, Surakarta Lukas Maserona Sarungu; Riska Wirawan; Agung Yudhistira Nugroho
Community Empowerment Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.10436

Abstract

One of the challenges in enhancing the productivity of FISIP UNISRI lecturers is the suboptimal utilization of Artificial Intelligence (AI) to support their work, along with inefficient implementation of AI. This service has dual objectives: introducing AI to those unfamiliar with it and providing education on crafting effective prompts to ensure AI-generated responses meet expectations. To achieve these goals, the method involves delivering focused material on AI introduction and prompt creation effectiveness. Results from this program indicate that all 8 lecturers who had not used AI before are now proficient and frequently utilize AI (100%). Additionally, among the 10 lecturers with prior AI experience, 8 individuals (80%) reported the training's benefits in enhancing prompt creation effectiveness, leading to more elaborate and expectation-aligned AI outputs.
HIDUP SEHAT TANPA HOAX DI MASA PANDEMI COVID-19 Dewi Maria Herawati; Danang Trijayanto; Agung Yudhistira Nugroho; Indrawati Indrawati; Yansen Marajohan Tambun
PANDAWA : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2022): PANDAWA : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/pandawa.v1i1.5679

Abstract

ABSTRAK Penyebaran hoax di masa pandemi Covid-19 menjadi persoalan yang besar dikarenakan banyak orang yang percaya pada hoax sehingga menyebabkan penanganan Covid-19 lambat dan banyak memakan korban jiwa. Hoax sendiri merupakan salah satu kejahatan yang paling massif di dunia maya saat ini. Penyebaran hoax yang beredar di masyarakat melibatkan banyak media, baik mulai dari media sosial hingga media massa online. Sedangkan berdasarkan penggunanya, usia 18-24 tahun merupakan pengguna media sosial tertinggi kedua di Indonesia. Sosialisasi dan pengetahuan terhadap tanggap hoax diperlukan dalam masyarakat agar masyarakat dapat memilah informasi yang didapat dan dapat menimbulkan optimisme baru terhadap upaya pencegahan virus ini. Oleh sebab itu, sosialisasi terhadap hoax di masa pandemi ini sangat diperlukan untuk segala lapisan masyarakat. Melihat dari data yang dijabarkan dalam latar belakang diatas, maka pemilihan mitra yang berasal dari usia remaja merupakan prioritas kegiatan ini. Metode kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan beberapa cara, yaitu observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi, serta sosialisasi. Kegiatan pengabdian masyarakat yang berjudul Hidup Sehat Tanpa Hoax di Masa Pandemi ini diadakan selama dua hari yakni hari Kamis dan Minggu tanggal 29 Juli dan 1 Agustus 2021. Rangkaian kegiatan abdimas ini dilakukan dalam beberapa tahapan dan koordinasi dari empat orang dosen FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta dengan tugas pokok masing-masing. Hasil dari kegiatan ini adalah Selama ini mereka hanya mengetahui tanpa tahu harus berbuat apa namun setelah sosialisasi ini dilakukan mereka antusias. Oleh karena itu, mereka semangat dalam menggunakan tools seperti fact-checker yang ada di laman Mafindo dan sejenisnya. Setelah acara tanya jawab dilakukan, maka kegiatan berikutnya adalah serah terima piagam penghargaan untuk pembicara dan foto bersama. Berdasarkan hasil analisa dari post-test yang diambil paska acara tersebut, sebanyak 93,8% sudah mengetahui cara melawan dan mencegah penyebaran hoax. Kata Kunci: Hoax, Covid-19 , Media sosial
Digital Nomad Visa as a Development Instrument for Indonesian Tourism Diplomacy Damayanti, Christy; Nugroho, Agung Yudhistira; Rohmadiena, Qonitah
GLOBAL INSIGHT JOURNAL Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/gij.v9i2.7762

Abstract

Visa Digital Nomad di Indonesia muncul seiring berkembangnya teknologi   informasi dan komunikasi. Terminologi digital nomad berasal dari para remote workers yang kebanyakan bekerja dalam sektor digital, di mana para pelaku remote workers dapat mengerjakan pekerjaan mereka dari mana saja, tanpa terikat ruang, sejauh tersedia jaringan digital. Para remote workers yang menyebut diri mereka sebagai digital nomad ini, biasanya akan tinggal di suatu wilayah yang memiliki daya tarik wisata. Hal ini didorong oleh kemampuan mereka untuk bekerja di mana saja, sehingga mereka bisa memilih tempat yang nyaman untuk bekerja sekaligus mengusung ide work-life balance. Tren pekerja digital nomad ini semakin menjamur di berbagai wilayah, termasuk Indonesia, saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Pemerintah Indonesia, dalam hal in Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), melihat fenomena ini sebagai peluang bagi pengembangan pariwisata Indonesia dalam mengusung digital nomad tourism. Penelitian ini bertujuan meneliti bagaimana peran kebijakan Visa Digital Nomad sebagai instrumen pengembangan diplomasi pariwisata Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data-data yang telah telah dikumpulkan dan dipilih ini lalu akan diproses untuk diolah dalam tahap pengolahan data. Data yang paling relevan serta mampu mendukung penelitian akan diproses untuk dilakukan analisis sehingga didapatkan hasil penelitian yang paling sesuai. Data-data tersebut dianalisis dengan interpretasi menggunakan landasan teori yang dari landasan konseptual. Analisis data yang diperoleh lalu disajikan dengan disesuaikan pada tujuan dan perumusan masalah yang telah ditentukan dalam penelitian.Kata Kunci : Visa Digital Nomad, pariwisata, remote worker, diplomasi pariwisataAbstract The Digital Nomad Visa in Indonesia emerged along with the development of information and communication technology. The term digital nomad comes from remote workers who mostly work in the digital sector, where remote workers can do their work from anywhere without being bound by space, as long as a digital network is available. These remote workers, who call themselves digital nomads, will usually live in an area that has tourist attractions. This is driven by their ability to work anywhere, so they can choose a comfortable place to work while promoting the idea of work-life balance. This trend of digital nomad workers is increasingly mushrooming in various regions, including Indonesia, as the COVID-19 pandemic hits the world. The Indonesian government, in this case the Ministry of Tourism and Creative Economy (Kemenparekraf), sees this phenomenon as an opportunity for the development of Indonesian tourism by promoting digital nomad tourism. This research aims to examine the role of the Digital Nomad Visa policy as an instrument for developing Indonesian tourism diplomacy. This research is qualitative. The data that has been collected and selected will then be processed in the data processing stage. The data that is most relevant and able to support research will be processed for analysis so that the most appropriate research results are obtained. These data were analyzed by interpretation using a theoretical basis based on a conceptual basis. The analysis of the data obtained is then presented in accordance with the objectives and problem formulation that have been determined in the research. Keywords: Digital Nomad Visa, tourism, remote workers, tourism diplomacy 
Partisipasi Politik Melalui Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan Kepada Perangkat Desa Se Kabupaten Boyolali Farco Siswiyanto Raharjo; Riska Wirawan; Agung Yudhistira Nugroho
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1: November 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joongki.v4i1.6535

Abstract

Progam sosialisasi 4 pilar kebangsaan menjadi prioritas dalam rangka meningkatkan partisipasi politik masyarakat. Salah satunya adalah kepada perangkat desa, mengingat perangkat desa berinteraksi langsung kepada masyarakat desa setiap hari. Beragam dinamika terjadi ditengah masyarakat. Perlu pemahaman Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika. Perangkat desa menggunakan instrumen 4 pilar kebangsaan untuk mejalankan tugas pembinaan kerukunan masyarakat desa.
Peningkatan Kapasitas Dosen Fisip Unisri Dengan Implementasi Kecerdasan Buatan Untuk Produktivitas Kerja Sarungu, Lukas; Nugroho, Agung Yudhistira; Wirawan, Riska
Bengawan : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): June
Publisher : Politeknik Indonusa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jurnal_bengawan.v5i1.187

Abstract

he use of artificial intelligence (AI) by university lecturers to support their professional duties remains largely ineffective. There is a need for refresher training programs to reintroduce AI and its applications, particularly for lecturers who rarely or have never utilized AI in fulfilling their responsibilities related to the Tri Dharma of Higher Education. This community service initiative aimed to introduce AI and demonstrate its practical applications to such lecturers. To achieve this goal, an AI training program was developed, focusing on foundational AI concepts and the development of effective prompts. The outcomes of the program indicate a notable improvement in participants' understanding, as evidenced by an increase in post-test scores. The average score rose from 56.5% on the pre-test to 68.3% on the post-test, marking a 20.89% improvement following the AI refresher training provided to FISIP UNISRI lecturers. Keywords: Training; Artificial-intellegence; lecturer; ChatGPT.