Regina Suryadjaja
Program Studi S1 PWK, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

RENCANA PENATAAN ZONA SEMPADAN SUNGAI STUDI KASUS ZONA SEMPADAN SUNGAI CISADANE KOTA TANGERANG Robby Alghi Fary; Regina Suryadjaja; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24352

Abstract

The Tangerang City Block on the Cisadane River is one of the areas of Tangerang City with great development potential and one of the areas of Tangerang City with inherent potential for urban beauty. It is separated by the Cisadane River. But not all riverside blocks in Tangerang city are well maintained and not all riversides have good infrastructure and banks. When constructing the river bank block attention should be paid to the disaster factors of the river bank block. The flood affected areas of the Cisadane River Block in Tangerang City are still affected by the flood disaster. . Floods are occurring in areas that have not yet been managed. The main objective of this study is to find out the current situation of Tangerang City West Cisadane Riverside area from several aspects at macro meso and micro levels to provide context for the analysis process and make recommendations for compromise. The western plains border the inland riverine area but still manage to identify the coastal city by integrating the main features of the urban area through the use of infrastructural space and support facilities. The study obtained data through field surveys and stakeholder interviews. The results of this study came in the form of a planning master plan concept which includes flood risk adaptation mechanisms and infrastructure locations and utilization of ancillary facilities for urban activities in the West Cisadane River Block of Tangerang City. Keywords: zone planning; riverfront; disaster adaptation; waterfront development Abstrak Zona Sempadan sungai Cisadane Kota Tangerang merupakan salah satu area pada Kota Tangerang yang memiliki potensi yang besar untuk pembangunan Kota Tangerang, serta potensi pada keindahan kota yang dimana pada dasarnya Kota Tangerang Sendiri yang letaknya terbelah oleh Sungai Cisadane. Tetapi tidak semua Zona Sempadan Sungai pada Kota Tangerang sudah tertata dan belum semua zona sempadan memiliki infrastruktur dan tepian sungai yang baik. Pada penataan zona sempadan sungai jua harus memperhatikan faktor bencana yang ada pada zona sempadan sungai, yang dimana pada zona sempadan Sungai Cisadane Kota Tangerang masih ada yang terdampak bencana banjir, dan kebanykan yang masih terdampak banjir yaitu pada area yang belum tertata. Tujuan utama dari penelitian yang penulis lakukan yaitu untuk dapat mengidentifikasi pada kondisi  eksisting kawasan zona sempadan Sungai Cisadane di Kota Tangerang dalam wilayah makro, mezzo, serta mikro dalam beberapa aspek yang menjadi suatu acuan dalam melakukan analisis, serta membuat suatu usulan dari konsep penataan kawasan sempadan Sungai Cisadane namun tetap mengaplikasikan karakter utama yang sudah ada pada daerah perkotaan dari memanfaatkan tata ruang yang ada, ketersediaan infrastruktur, serta adanya fasilitas pendukung untuk merealisasikan waterfront city. Data yang diperoleh pada penelitian yag dilakukan oleh penulis yaitu dengan melakukan survey lapangan ke lokasi objek studi dan melakukan wawancara dengan stakeholder yang memang wewenang dari kawasan zona sempadan Sungai Cisadane Kota Tangerang. Dari penelitian yang dilakukan oleh penulis terdapat output berupa suatu konsep dari masterplan perencanaan dengan pendekatan adaptasi bencana banjir pada Zona Sempadan Sungai Cisadane Kota Tangerang.
PEMANFAATAN SEMPADAN SUNGAI SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU DENGAN KONSEP WATERFRONT DEVELOPMENT Fergia Wisudha; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24353

Abstract

Mookervart is a canal that crosses the capital city of DKI Jakarta and Tangerang. Mookervart itself was made by the Dutch colonial Vincent Van Mookin 1681 and completed in 1687. Initially, this canal was made with the aim of being a river toll road connecting Batavia to Tangerang to facilitate the delivery of accommodation in the form of food and handicraft materials such as wood and bamboo. The construction of this river toll road can shorten shipping travel time and be safer.  This river toll quotes a levy fee for each boat that crosses. In addition, the canal has a function as a link between the Angke River and the Cisadane River. However, today the function of Mookervart as a water toll has disappeared only to separate the historical side. The existing condition is fairly disorganized and messy with many piles of garbage on the boundaries of the channel and landslides and poor water quality that causes silting of the water surface. With that, a good arrangement is needed to create the river and the river border in accordance with its basic function. For this reason, researchers aim to make a proposal for the arrangement and utilization of the Mookervart canal boundary as a green open space with the concept of waterfront development. In addition, the author uses a qualitative approach as well as a descriptive method that uses description in the arrangement of the boundaries of the Mookervart channel as a green open space. And the arrangement of Mookervart is analyzed based on applicable policies, the availability of green open space around, and population. Where the analysis aims to get a concept that will be planned on the edge of Mookervart. Keywords:  regional planning; riverfront; prehistory; waterfront development; green open space Abstrak Mookervart merupakan sebuah saluran atau terusan yang melintasi wilayah Ibu Kota DKI Jakarta dan Kota Tangerang. Mookervart sendiri dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1681 oleh Vincent Van Mook dan selesai dibangun pada tahun 1687. Pada awalnya saluran ini dibuat dengan tujuan sebagai tol sungai yang menghubungkan Batavia menuju ke Tangerang guna memudahkan pengiriman akomodasi berupa bahan makanan maupun bahan-bahan kerajinan seperti kayu maupun bambu. Pembangunan tol sungai ini dapat memperpendek waktu tempuh pelayaran dan lebih aman.  Tol sungai ini mengutip biaya retribusi bagi setiap kapal atau perahu yang melintasi. Selain itu, saluran tersebut memiliki fungsi sebagai penghubung antara Kali Angke dengan Sungai Cisadane. Namun, saat ini fungsi Mookervart sebagai tol air sudah hilang hanya menyisahkan sisi sejarah. Kondisi eksistingnya pun terbilang tidak tertata dan berantakan dengan terdapatnya banyak tumpukan sampah pada sempadan saluran tersebut dan tepian yang longsor serta kualitas air yang buruk hingga menyebabkan pendangkalan permukaan air. Dengan itu maka perlu sebuah penataan yang baik guna menciptakan sungai maupun sempadan sungai tersebut sesuai dengan fungsi dasarnya. Untuk itu peneliti bertujuan untuk membuat usulan rencana penataan dan pemanfaatan sempadan saluran Mookervart sebagai ruang terbuka hijau dengan konsep waterfront development. Selain itu penulis menggunakan pendekatan kualitatif serta metode deskriptif yang menggunakan pendeskripsian dalam penataan sempadan saluran Mookervart sebagai ruang terbuka hijau. Serta penataan Mookervart ini dianalisis berdasarkan kebijakan yang berlaku, ketersediaan ruang terbuka hijau yang ada disekitar, dan kependudukan. Dimana analisis tersebut bertujuan untuk mendapatkan konsep yang akan direncanakan pada tepian Mookervart.
STUDI KONEKTIVITAS ANTAR MODA ANGKUTAN UMUM DI KAWASAN INTERMODA BSD CITY, KABUPATEN TANGERANG Sonia Azmy; Regina Suryadjaja; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24354

Abstract

Cities continue to experience unavoidable developments, both from an economic, social and cultural perspective as reflected in an increase in population and activity in urban areas. One example of activities in urban areas is people who want to do mobility from one place to another in order to fulfill their activity objectives. It's the same with the people in Tangerang Regency who live in Cisauk District and Pagedangan District. To meet this need, an area called "Intermoda BSD City" was built, where in the area there are two modes of transportation that are integrated with each other, namely trains and shuttle buses. Based on the guidelines of the Institute for Transportation and Development, intermodal integration has connectivity aspects where each mode must be integrated efficiently with each other and be able to reach the surrounding area. In the Intermodal BSD City case, Cisauk Station is integrated with the BSD Link shuttle bus terminal mode of transportation which only serves the BSD City Area route, even in its existing conditions there are still very few users of the Shuttle Bus and people prefer to use private transportation as a secondary mode. This is certainly not in accordance with the concept of good intermodal integration. Therefore, this study aims to determine the condition of the regional transportation system, especially in the intermodal connectivity of public transportation served by Intermodal BSD City. The results of this study are to provide suggestions and recommendations regarding the problems that have been identified. Keywords:  facilities and infrastructure; integration; intermodal; public transport Abstrak Kota terus mengalami perkembangan yang tidak dapat dihindari, baik dari segi ekonomi, sosial dan juga budaya yang tercermin dari peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pada perkotaan. Salah satu contoh kegiatan aktivitas pada perkotaan adalah masyarakat yang ingin melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya guna memenuhi tujuan aktivitasnya. Sama halnya dengan masyarakat pada Kabupaten Tangerang yang bertempat tinggal di Kecamatan Cisauk dan Kecamatan Pagedangan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibangunlah sebuah kawasan bernama “Intermoda BSD City”, dimana dalam kawasan tersebut terdapat dua moda transportasi yang saling terintegrasi, yaitu kereta api dan shuttle bus. Berdasarkan panduan Insitute for Transportation and Development, integrasi antar moda memiliki aspek konektivitas dimana setiap antar moda harus saling terintegrasi dengan efisien dan mampu menjangkau daerah sekitarnya. Pada kasus Intermoda BSD City, Stasiun Cisauk terintegrasi dengan moda transportasi terminal shuttle bus BSD Link yang hanya melayani rute Kawasan BSD City saja, pada kondisi eksistingnya pun pengguna dari shuttle bus tersebut masih sangat sedikit dan pengguna lebih memilih menggunakan transportasi pribadi sebagai moda lanjutan. Hal tersebut tentunya tidak sesuai dengan konsep dari integrasi antar moda yang baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sistem transportasi kawasan khususnya pada konektivitas antar moda transportasi umum yang dilayani oleh Intermoda BSD City. Hasil dari studi ini ialah memberikan saran serta rekomendasi mengenai permasalahan yang telah diidentifikasi.
STRATEGI REPOSISI PASARAYA BLOK M DALAM RANGKA MENINGKATKAN DAYA TARIK Ghaby Sava Aulanda; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24355

Abstract

Repositioning a shopping mall is a strategic approach aimed at revitalizing and defining its image and tenant offerings to adapt to market dynamics. The competitive retail industry, particularly shopping malls, faces various challenges, including changing consumer behavior or lifestyles and the emergence of online shopping systems, all of which have been impacted by the global COVID-19 pandemic. To remain relevant and attract customers, shopping malls need to undergo a repositioning process, which involves realigning target market segmentation, brand identity, tenant mix, and overall positioning in the market. In more detail, the repositioning process generally involves several key steps, including market research, brand evaluation, and the implementation of new marketing concepts. This includes introducing new retail concepts, enhancing the ambiance and design of the shopping mall, integrating entertainment elements and unique experiences, and creating a diverse mix of tenants that appeal to the target market. By understanding the changing demands, shopping malls can adjust their offerings and shopping experiences to better cater to the target audience.This study utilizes a descriptive method to describe the market conditions and the physical environment surrounding Pasaraya Blok M. The research results in the identification of Pasaraya Blok M's position and the development of repositioning strategies considering various factors such as supply-demand, trade area, catchment area, and potential competitors. Keywords: market analyze; reposition; shopping mall; ; trade area; STP Abstrak Reposisi pusat perbelanjaan adalah pendekatan strategis yang bertujuan untuk menghidupkan kembali dan mendefinisikan citra dan penawaran penyewanya agar dapat beradaptasi dengan dinamika pasar.  Sektor industri ritel yang kompetitif saat ini, khususnya pusat perbelanjaan menghadapi berbagai tantangan, termasuk perilaku konsumen atau gaya hidup yang berubah, sistem atau cara belanja online yang muncul, itu semua merupakan salah satu dari dampak peristiwa global pandemi COVID-19. Untuk tetap relevan dan menarik pelanggan, pusat perbelanjaan perlu menjalani proses reposisi, dimana proses reposisi pusat perbelanjaan melibatkan pengaturan ulang segmentasi target pasar, identitas merek, bauran penyewa, dan reposisi secara keseluruhan di pasar. Untuk lebih rinci reposisi umumnya melibatkan beberapa langkah kunci, termasuk riset pasar, evaluasi merek, dengan demikian diperlukan implementasi konsep pemasaran baru. Hal ini mencakup pengenalan konsep ritel baru, peningkatan suasana dan desain pusat perbelanjaan, integrasi elemen hiburan dan pengalaman yang unik serta kombinasi penyewa yang beragam yang menarik bagi target pasar. Dengan memahami perubahan permintaan pusat perbelanjaan dapat menyesuaikan penawarannya dan pengalaman berbelanja agar lebih sesuai dengan audiens target.  Penelitian ini memakai metode deskriptif untuk menjelaskan kondisi pasar dan kondisi fisik lingkungan sekitar Pasaraya Blok M. Dalam penelitian ini menghasilkan identifikasi dari posisi Pasaraya Blok M, serta menghasilkan strategi reposisi dengan mempertimbangkan banyak faktor seperti supply-demand, trade area and catchment area, dan potential competitor.
PENGEMBANGAN PROPERTI SKALA BESAR DI KAWASAN PESISIR METROPOLITAN JAKARTA: POTENSI PASAR DAN TANTANGAN KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN Suryadjaja, Regina; Lestari, Nadia Ayu Rahma; Herlambang, Suryono
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v8i2.33496

Abstract

Pengembangan skala besar di Jabodebatek diawali dengan Bumi Serpong Damai pada tahun 1985 dan terus berkembang hingga kini dimana jumlah pengembangan skala besar di Jabodetabek saat ini mencapai 32 proyek dengan total luas lebih dari 85.000 Ha. Adapun pengembangan skala besar yang paling baru adalah Pantai Indah Kapuk. Dimulai dengan pengembangan di PIK 1 dengan luas 602 Ha pada awal 2000 dengan pengembangan pergudangan, PIK kini berkembang dengan luas total pengembangan lebih dari 8.000 Ha yang terdiri dari pengembangan di DKI Jakarta, 2 pulau reklamasi, dan pengembangan di Kabupaten Tangerang. Luas pengembangan tersebut membuat banyak peluang untuk pengembangan yang dapat dilakukan di Pantai Indah Kapuk. Namun lokasinya yang berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta dan kedekatan dengan Kepulauan Seribu, membuat tantangan tersendiri terutama di bidang keberlanjutan lingkungan. Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai peluang dan tantangan dari pengembangan skala besar di tepi pantai. Adapun studi dilakukan dengan metode spatial mapping dan analisis deskriptif yang dapat menggambarkan perkembangan dari Pantai Indah Kapuk secara spasial untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh. Studi ini merupakan bagian dari studi besar mengenai Transformasi Pengembangan Skala Besar di Jabodetabek yang dilakukan oleh tim dosen di Program Studi Perencanaan Kota dan Real Estat Universitas Tarumanagara. Hasil dari studi ini adalah profil awal dari Pantai Indah Kapuk sebagai bagian dari transformasi pengembangan skala besar di Jabodetabek yang saat ini sedang berlangsung.
PENGELOLAAN POS BLOC DALAM MEMANFAATKAN BANGUNAN BERSEJARAH MELALUI KONSEP ADAPTIVE REUSE Lego, Viando Insan Niscaya; Suryadjaja, Regina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27512

Abstract

Pos Bloc is a public space that has a commercial area inside which is located in Central Jakarata, before becoming Pos Bloc it used to be the Filateli Building where the post office was located during the Dutch colonial era, this Filateli Building also served philatelic services, until later this building was designated as a historical building and entered into part of the DKI Jakarta cultural heritage. Over time the Filateli Building then changed functions and experienced the unproductivity of a historic building. Until PT Ruang Kreatif Pos which is a private company in collaboration with PT Pos Indonesia by converting the Filateli Building into a productive building again with the use of the Adaptive Reuse concept. According to Austin (1988) adaptive reuse is an alternative to protecting and preserving historic buildings with steps to convert them to benefit the community and the area itself. That way unproductive historic buildings can be reused and see how utility management efforts in using the adaptive reuse concept. After the development through the adaptive reuse concept, Filateli Building is again productive and well utilized. The results of this study aim to determine the results of the use of the adaptive reuse concept on historic buildings and see what changes and what does not change from the Filateli Building when using Adaptive reuse, this study also looks at how successful the use of the adaptive reuse concept on historic buildings, success is seen from all indicators of the Filateli Building which has changed into Pos Bloc. Keywords: adaptive reuse; commercial; management; Pos Bloc Abstrak Pos Bloc merupakan sebuah ruang publik yang terdapat area komersial didalamnya yang berada di Jakarata Pusat, sebelum menjadi Pos Bloc dulunya adalah Gedung Filateli tempat kantor pos pada zaman penjajahan Belanda, Gedung Filateli ini juga melayani pelayanan filateli, sampai kemudian bangunan ini ditetapkan sebagai bangunan sejarah dan masuk kedalam bagian dari cagar budaya DKI Jakarta. Seiring waktu Gedung Filateli kemudian berganti-ganti fungsi dan mengalami ketidakproduktifan sebuah bangunan bersejarah. Hingga PT Ruang Kreatif Pos yang merupakan perusahaan swasta berkerja sama dengan PT Pos Indonesia dengan mengalihfungsikan Gedung Filateli tersebut menjadi produktif kembali dengan penggunaan konsep adaptive reuse. Menurut Austin (1988), adaptive reuse merupakan alternatif untuk melindungi dan menjaga bangunan bersejarah dengan langkah mengalihfungsikan yang bermanfaat bagi masyarakat dan kawasan itu sendiri. Dengan begitu bangunan-bangunan bersejarah yang tidak produktif dapat dimanfaatkan kembali dan melihat bagaimana upaya pengelolaan utilitas dalam menggunakan konsep adaptive reuse. Setelah dilakukannya pengembangan melalui konsep adaptive reuse, Gedung Filateli kembali produktif dan termanfaatkan dengan baik. Hasil studi ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari penggunaan konsep adaptive reuse terhadap bangunan bersejarah dan melihat perubahan apa saja dan yang tidak berubah dari Gedung Filateli tersebut saat penggunaan adaptive reuse, studi ini juga melihat bagaimana keberhasilan dari penggunaan konsep adaptive reuse terhadap bangunan bersejarah, keberhasilan dilihat dari segala indikator terhadap Gedung Filateli yang telah beruabah menjadi Pos Bloc.
STUDI TINGKAT KEPUASAN TERHADAP FASILITAS PEJALAN KAKI DI LOW EMISSION ZONE KOTA TUA Wiyono, Winston; Suryadjaja, Regina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27513

Abstract

Jakarta Old Town is a cultural heritage area that has a long history with several revitalizations and has become a destination for local and foreign tourists. There are many cities around the world that have combined walkability with tourist destinations that prioritize pedestrians, a good level of walkability can increase comfort and safety for pedestrians using pedestrian facilities. However, there has been little research done in terms of the pedestrian expectations and satisfaction that addresses walking-related indicators in the low-emission zone of Old Town, a cultural heritage area. The main objective of this study is to identify the expectations and satisfaction levels of visitors walking in the Old Town Low Emission Zone with questionnaire questions using the Likert scale method in the respondent's perspective section using indicators related to pedestrian facilities ranging from accessibility, connectivity, continuity, safety, facilities, social benefits, economic benefits, and environmental benefits. Data from this research was collected through observation, government agencies, and 90 questionnaires that have been distributed to visitors who have experienced walking in the study area, namely the Old Town Low Emission Zone. After the analysis, the results show that visitors or pedestrians in the Old Town Low Emission Zone are overall satisfied with the pedestrian facilities in the Old Town Low Emission Zone but there are several variables that need to be improved so that visitors can feel even more satisfied in the future. Keywords:  low emission zone; old town; pedestrian; satisfaction Abstrak Kota Tua Jakarta merupakan kawasan cagar budaya yang memiliki sejarah yang panjang dengan melewati beberapa kali revitalisasi dan sudah menjadi tujuan destinasi bagi wisatawan lokal maupun wisatawan luar negeri. Terdapat banyak kota-kota di dunia yang telah menggabungkan kemampuan berjalan kaki dengan tujuan wisata yang memprioritaskan pejalan Kaki. Tingkat kemampuan berjalan kaki yang baik dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki yang menggunakan fasilitas pejalan kaki. Meskipun demikian, tidak terdapat banyak penelitian yang dilakukan mengenai tingkat kepuasan pejalan kaki yang membahas indikator yang berhubungan dengan berjalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua, yang merupakan kawasan cagar budaya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kepuasan pengunjung yang berjalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua dengan pertanyaan kuesioner yang menggunakan Skala Likert pada bagian perspektif responden yang menggunakan indikator yang berhubungan dengan fasilitas pejalan kaki mulai dari aksesibilitas, konektivitas, kontinuitas, keamanan, fasilitas, manfaat sosial, manfaat ekonomi, dan manfaat lingkungan. Data dari penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, instansi pemerintah, dan 90 kuesioner yang telah dibagikan kepada pengunjung yang sudah mengalami berjalan kaki di area studi yaitu Zona Rendah Emisi Kota Tua. Setelah dilakukan analisis, hasil menunjukkan bahwa pengunjung atau pejalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua secara keseluruhan sudah merasa puas terhadap fasilitas pejalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua akan tetapi terdapat beberapa variabel yang perlu ditingkatkan agar pengunjung dapat merasa lebih puas lagi kedepannya.
KAJIAN KARATERISTIK KORIDOR JALAN KEMANG RAYA SEBAGAI KORIDOR KOMERSIAL Hani, Eveline Alifah; Suryadjaja, Regina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27514

Abstract

Kemang Raya Street corridor located in Mampang Prapatan District, South Jakarta, is one of the main corridors that supports activities in the Mampang Prapatan area. This road corridor is one of the connecting accesses because there are commercial activities, residences and public facilities so that the role of the corridor is very important for the sustainability of activities there. Land use in this corridor is dominated by retail and restaurants, so commercial activities in this corridor are crowded with people for work or just sightseeing. However, based on the results of observations, there are several problems with the physical condition of the corridor that need to be improved for the sustainability of commercial activities in this corridor, problems that exist in the corridor include several pedestrian points that are less well maintained and disturbed by street vendors and parking, the absence of cycling lanes, limited parking spaces in several shops and lack of public open space. This research is to improve corridor conditions on  Kemang Raya Street based on the Commercial Corridor Strategy theory which consists of several characteristic factors that can be applied, namely (land use, mobility, parking, urban design and economic growth). Research uses an analysis method of qualitative descriptive, which will provide an explanation of the existing conditions of the Kemang Raya Street corridor and a comparative analysis that compares the characteristics of the existing conditions in this corridor. Keywords:  commercial; corridor; Kemang Raya Street Abstrak Koridor Jalan Kemang Raya berlokasi di Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, yang mana merupakan salah satu koridor utama yang menopang kegiatan di kawasan Mampang Prapatan. Koridor jalan ini menjadi salah satu akses penghubung karena terdapat aktivitas komersial, hunian dan fasilitas umum sehingga peran koridor sangat penting untuk keberlangsung aktivitas disana. Penggunaan lahan di koridor ini didominasi jenis oleh retail dan restoran, sehingga kegiatan komersial di koridor ini ramai didatangi masyarakat untuk keperluan bekerja maupun sekedar jalan-jalan. Namun, berdasarkan hasil observasi, terdapat beberapa permasalahan pada kondisi fisik koridor yang perlu ditingkatkan untuk keberlangsungan aktivitas komersial di koridor ini, permasalahan yang ada pada koridor diantaranya beberapa titik pedestrian yang kurang terawat dan terganggu PKL dan parkir, tidak adanya jalur pesepeda, ruang parkir yang terbatas dibeberapa toko dan kurangnya ruang terbuka publik. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kondisi koridor di Jalan Kemang Raya berdasarkan teori Commercial Corridor Strategy yang mana terdiri dari beberapa faktor karakteristik yang dapat diterapkan, yaitu (penggunaan lahan, mobilitas, parkir, urban design dan pertumbuhan ekonomi). Lalu penelitian menggunakan metode analisis jenis deskriptif kualitatif, dengan memberikan penjelasan tentang kondisi eksisting koridor Jalan Kemang Raya dan analisis komparatif yang membandingkan karateristik kondisi eksisting pada koridor ini menggunakan panduan Commercial Coridor Strategy, dan berdasarkan analisis dari panduan tersebut bahwa koridor Jalan Kemang Raya perlu dilakukan perbaikan di sejumlah titik pedestrian dan penambahan jalur pesepeda, penambahan lahan parkir, dan penambahan ruang untuk usaha informal PKL dan juga penambahan ruang terbuka publik di koridor Jalan Kemang Raya.
PELUANG APARTEMEN FATMAWATI CITY CENTER SEBAGAI APARTEMEN BERKONSEP TOD Putri, Sarina Ika; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30933

Abstract

Housing is a primary need after food and clothing. Rapid population growth leads to rising land prices, making landed houses increasingly difficult to access. Therefore, apartments as vertical housing are an alternative, especially in Transit Oriented Development (TOD) areas. TOD is a land use concept that emphasizes a mix of activity, mobility, connectivity, density, and high intensity and is pedestrian-friendly. TOD areas have a distance of 400-800 meters that can be reached within 5-10 minutes walk from the transit point. The concept has three types: city, sub-city, and neighborhood transit-oriented areas. Sub-city transit-oriented apartment types are preferred because of their more affordable prices. The Fatmawati area is an example of a strategic sub-city TOD, located in South Jakarta near TB Simatupang, and has Fatmawati City Center Apartment adjacent to the MRT station. The main purpose of this study is to determine the opportunities and threats of Fatmawati City Center Apartment located in TOD. This data is collected through surveys, observations, journals, magazine articles, and 98 questionnaires that have been distributed to Fatmawati MRT users. The results of this study indicate that the majority of respondents are interested in buying apartments in TOD because of the factors that are taken into consideration, namely the ease of accessing public transportation, workplaces, other destinations, and traffic congestion that tends to be smooth, but financial limitations are a factor in their consideration in buying apartments in TOD. The majority are interested in the 2-bedroom type with a size of 42-71 m2 and in the price range of 500-750 million. It is hoped that the results of this study can provide input to developers who want to develop apartments in TOD. Keywords: apartment; fatmawati; transit oriented development Abstrak Kebutuhan rumah adalah kebutuhan primer setelah pangan dan sandang. Pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan kenaikan harga tanah, membuat rumah (landed houses) semakin sulit diakses. Oleh karena itu, apartemen sebagai hunian vertikal menjadi alternatif terutama di area Transit Oriented Development (TOD). TOD adalah konsep penggunaan lahan yang menekankan pada campuran aktivitas, mobilitas, konektivitas, kepadatan, dan intensitas tinggi serta ramah terhadap pejalan kaki. Area TOD memiliki jarak 400–800 meter yang bisa ditempuh dalam 5-10 menit berjalan kaki dari tempat transit. Konsep ini memiliki tiga tipe: kawasan berorientasi transit kota, sub-kota, dan lingkungan. Tipe apartemen yang berada di transit sub-kota menjadi pilihan karena harga apartemennya lebih terjangkau. Kawasan Fatmawati adalah contoh TOD sub-kota yang strategis, terletak di Jakarta Selatan dekat TB Simatupang, dan memiliki Apartemen Fatmawati City Center yang berdekatan dengan stasiun MRT. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peluang dan ancaman dari Apartemen Fatmawati City Center yang berada di TOD. Data ini dikumpulkan melalui survei, observasi, jurnal, artikel majalah, dan 98 kuesioner yang telah disebarkan kepada pengguna MRT Fatmawati. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berminat membeli apartemen di TOD karena faktor yang menjadi pertimbangan yaitu kemudahan dalam mengakses transportasi umum,tempat kerja, tempat destinasi lain, dan kemacetan lalu lintas yang cenderung lancar, namun keterbatasan finansial menjadi faktor pertimbangan mereka dalam membeli apartemen di TOD. Mayoritas tertarik pada tipe 2 kamar tidur dengan ukuran 42-71m2 dan di kisaran harga 500-750 juta. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberi masukan kepada para pengembang yang hendak mengembangkan apartemen di TOD.
IDENTIFIKASI MASALAH KEKUMUHAN KAMPUNG TEPIAN SUNGAI STUDI KASUS KELURAHAN BANSIR LAUT, SUNGAI KAPUAS, KOTA PONTIANAK Bianca, Yovi; Herlambang, Suryono; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30934

Abstract

Development in Pontianak City tends to focus on land areas  neglecting riverside communities in terms of proper water resource management. The living conditions in these communities, particularly those along the Kapuas River banks, are concerning. These villages are considered uninhabitable due to the emergence of slum organizational problems such as building irregularities, high levels of building density, the quality of building structures, environmental facilities and infrastructure that do not meet technical requirements and do not serve the organization, as well as public facilities and social facilities that do not affordable for its residents. One of them is Caping Village and Tudong Village. Even though there have been efforts to organize slum areas that have been realized by government programs, apart from the image of the organization area on the banks of the river in Kampung Caping and Kampung Tudong which has not been able to provide beauty and sustainable greening to its physical environment, the organization area also does not have the capability to providing the need for environmental infrastructure to support the activities of people living in villages on the banks of the Kapuas River. Therefore, this research was carried out with the hope of identifying the existing slum problems that occur in Kampung Caping and Kampung Tudong. This research will be carried out using descriptive methods, analysis of existing conditions, and analysis of regulatory standards in accordance with the provisions of ministerial regulations and national standards. Keywords: kapuas river; riverside; slum area Abstrak Orientasi kehidupan dan permukiman masyarakat kota Pontianak cenderung berkembang di daerah daratan sehingga permukiman yang ada pada tepian dan badan air Sungai Kapuas tidak mendapatkan perhatian pengelolaan sumber daya air yang baik. Secara eksisting, kondisi permukiman di tepian Sungai Kapuas sangatlah memprihatinkan. Terdapat banyak kampung yang tumbuh ditepian Sungai Kapuas. Kampung – kampung tersebut dinilai tidak layak huni karena munculnya masalah permukiman kumuh seperti ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, kualitas struktur bangunan gedung, sarana dan prasarana lingkungan yang tidak memenuhi syarat teknis dan tidak melayani permukiman, serta fasilitas umum dan fasilitas sosial yang tidak memadai bagi penduduknya. Salah satunya adalah Kampung Caping dan Kampung Tudong. Walaupun sudah ada upaya - upaya penataan kawasan kumuh telah direalisasikan oleh program-program pemerintah, namun secara eksisting selain citra kawasan permukiman tepian sungai Kampung Caping dan Kampung Tudong yang belum bisa memberikan keindahan dan penghijauan yang lestari pada fisik lingkungannya, kawasan permukiman juga belum berkapabilitas dalam pemenuhan kebutuhan akan sarana prasarana lingkungan untuk mendukung aktivitas masyarakat yang tinggal di dalam kampung tepian Sungai Kapuas. Maka, penelitian ini dilaksanakan dengan harapan dapat mengidentifikasi masalah kekumuhan yang terjadi di Kampung Caping dan Kampung Tudong secara eksisting. Penelitian ini akan dilakukan menggunakan metode analisis deskriptif, analisis kondisi eksisting, dan analisis standar regulasi sesuai ketentuan dari peraturan menteri dan standar nasional.