Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

STUDI POTENSI PENGEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN TEPIAN SUNGAI KAPUAS, SINTANG, KALIMANTAN BARAT Situmorang, Yosua Teguh; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30937

Abstract

One of the regencies in the province of West Kalimantan is Sintang Regency. Within Sintang Regency, there are two major rivers that cross over: the Kapuas River and the Melawi River The local community refers to the point where these two large rivers meet as “Saka Tiga.” One of the green open spaces in Sintang Regency is Taman Bungur (Bungur Park). Taman Bungur is a green open space located along the Kapuas River, covering an area of 1.3 hectares with a length of 336 meters and a width of 40 meters. Since the COVID-19 pandemic until now, visitor activities in Taman Bungur remain sparse due to neglected facilities within the park area. Additionally, culinary activities, which used to be an attraction for visitors, are no longer available. As a result, Taman Bungur has become somewhat neglected, contributing to the decline in visitors. Recognizing the potential of Taman Bungur as the only riverside park in Sintang, it becomes an attraction for visitors. Therefore, a study is needed to explore the development potential of green open space along riverbanks, considering ecological, economic, and aesthetic aspects to maximize its potential. This qualitative study employs descriptive analysis, including site analysis, location assessment, benchmarking, SWOT, and spatial potential analysis, aiming to optimize the riverbank green open space. The study’s findings will serve as a reference for the Sintang Regency government in conceptualizing riverbank development. Keywords: city park; development; green open space; kapuas river; river side Abstrak Kabupaten Sintang merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Barat, yang dilewati oleh dua sungai besar yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Masyarakat sekitar menyebut titik bertemunya dua sungai besar tersebut dengan sebutan "Saka Tiga". Salah satu ruang terbuka hijau yang berada di Kabupaten Sintang adalah Taman Bungur. Taman Bungur merupakan ruang terbuka hijau yang berada di tepian sungai Kapuas yang memiliki Luas sebesar 1,3 Hektar dengan panjang sebesar 336 meter dan lebar sebesar 40 meter. Semenjak covid-19 sampai saat ini, aktivitas pengunjung di Taman Bungur masih terlihat sepi dikarenakan fasilitas yang ada pada kawasan Taman Bungur rusak kurang diperhatikan dan aktivitas kuliner yang merupakan salah satu atraksi bagi pengunjung kini tidak ditemui lagi, hal tersebut menyebabkan kawasan Taman Bungur menjadi kumuh, sehingga hal tersebut menjadi salah satu faktor menurunnya pengunjung. Melihat potensi dari Taman Bungur yang merupakan satu satunya taman di Kota Sintang yang berada di tepian sungai, sehingga hal tersebut menjadi sebuah atraksi bagi para pengunjung. Oleh karena itu perlu dilakukannya studi potensi pengembangan pada ruang terbuka hijau yang berada kawasan tepian sungai dengan memperhatikan aspek ekologis, ekonomi, dan estetika untuk memaksimalkan potensi. Selain itu penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Beberapa analisis seperti analisis tapak, lokasi, benchmarking, SWOT, dan potensi ruang akan digunakan sebagai sebuah usulan pengembangan untuk memaksimalkan potensi RTH pada kawasan tepian sungai. Hasil dari studi ini akan diberikan kepada pemerintah Kabupaten Sintang sebagai referensi konsep pengembangan pada  kawasan tepian sungai.
ANALISA KEBUTUHAN RUANG PADA KAWASAN PERBELANJAAN CITRA NIAGA SAMARINDA Ramadhan, Muhammad Akmal Alfaridzi; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30938

Abstract

The Citra Niaga sector of Samarinda City is a commerce area that has grown to be one of the popular tourist spots for East Kalimantan suvenir buying. The Citra Niaga area, which competes with Soekarno Hatta Airport, was granted the Aga Khan Award for Architecture (AKAA) in 1989. It is a market area designed to serve small to large traders that offer suvenirs and other trade items. However, the Citra Niaga neighborhood started to become deserted in the late 1990s due to the construction of more contemporary commercial malls, which caused traders and tourists who had previously frequented the area to gradually move elsewhere. Because of this, Citra Niaga Samarinda had experienced its dark period, where visitors who came there were drastically reduced and the government's attention at that time, so that many problems then arose in the area, for example, the decline in building functions, inadequate supporting facilities, the emergence of illegal parking pockets, and so on. For this reason, this research aims to provide recommendations for the concept of utilization of space requirements which can then be proposed for the preparation of the concept of structuring the area to revive the Samarida Commercial Image area so that it can become a shopping tourist destination area for suvenirs typical of East Kalimantan. This research uses standard space requirements guidelines issued by the government and recognized institutions. The analysis used by the author is a descriptive analysis of the existing conditions in the Citra Niaga area. Keywords:  commercial area; shopping tourism; souvenirs Abstrak Kota Samarinda memiliki sebuah kawasan perdagangan yang menjadi salah satu kawasan destinasi wisata perbelanjaan cenderamata khas Kalimantan Timur, kawasan tersebut adalah kawasan Citra Niaga. Citra Niaga merupakan kawasan perdagangan yang dimana diperuntukkan sebagai tempat usaha pedagang kecil hingga besar yang berjualan cenderamata dan barang dagang  lainnya, kawasan Citra Niaga pernah memperoleh penghargaan Aga Khan Award for Architecture (AKAA) pada tahun 1989 yang bersaing dengan Bandara Soekarno Hatta. Namun sejak akhir dekade 90an kawasan Citra Niaga mulai ditinggalkan, dimana hadirnya pusat perbelanjaan yang lebih modern sehingga para pedagang dan pengunjung yang pada awalnya mengunjungi kawasan Citra Niaga mulai perlahan meninggalkan kawasan Citra Niaga. Dikarenakan hal itu Citra Niaga Samarinda sempat mengalami masa kelamnya, dimana para pengunjung yang datang kesana berkurang drastis dan perhatian pemerintah pada saat itu, sehingga banyak permasalahan yang kemudian muncul di kawasan tersebut contohnya saja adalah penurunan fungsi bangunan, fasilitas pendukung yang kurang memadai, munculnya kantong parkir liar, dan lain sebagainya. Atas hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi konsep pemanfaatan kebutuhan ruang yang kemudian dapat usulan penyusunan konsep penataan kawasan untuk  menghidupkan kembali kawasan Citra Niaga Samarinda sehingga dapat menjadi kawasan destinasi wisata perbelanjaan cenderamata khas Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan standar pedoman kebutuhan ruang yang dikeluarkan oleh pemerintah dan lembaga yang diakui. Adapun analisis yang digunakan oleh penulis adalah analisis deskriptif kualitatif mengenai kondisi eksisting pada Kawasan Citra Niaga.
IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN PERMUKIMAN DI SEKITAR MUARA KALI MARO KAWASAN KONDAP-CIKOMBONG, KELAPA LIMA, KOTA MERAUKE Balagaize, Elisabeth Ella S.; Herlambang, Suryono; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33940

Abstract

Merauke City is the capital of South Papua Province which is located in the easternmost part of Indonesia and was inaugurated by President Joko Widodo in 2022. The area of ​​Merauke City is 45,013.35 km2 and borders directly with the State of Papua New Guinea. In line with its status as the Provincial Capital, the Merauke City Region is the center of economic activities, education, and more adequate living facilities, making it an attraction for people to migrate and can lead to an increase in population. One of the essences is that the need for organizational infrastructure and facilities continues to increase, resulting in a decrease in the carrying capacity of organizational environmental infrastructure and facilities in the Merauke City area. The plains of the city of Merauke are areas bordered by water areas in the form of swamps, the sea, and the Maro River Estuary, which are the icons of Merauke City. The aim of this research is to determine the level of slums and directions for structuring settlements around Muara Kali Maro in the Kondap - Cikombong area, Kelapa Lima Village, Merauke City. There are four analyses used in this research, namely Policy Analysis, River Border Line Analysis, Land Status Analysis, and Slum Level Analysis with Scoring calculations to determine the level of slums and recommend structuring directions at the location of the study object. Based on the results of the analysis of the location of the Kondap-Cikombong slum organization in Merauke City, which is located on a land area of ​​9.12 hectares, it is in the level of heavy slum with a score of 73, so there is a need for improvements and arrangements in housing conditions and infrastructure as an effort to increase the level of quality of life of the community in inside it. Keywords: Area; City; Merauke; Settlement; Slum; Structuring Abstrak Kota Merauke merupakan Ibu Kota Provinsi Papua Selatan yang terletak di bagian Paling Timur Indonesia dan baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2022 silam. Luas Wilayah Kota Merauke adalah  45.013,35 km2  serta berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea. Sejalan dengan statusnya sebagai Ibu Kota Provinsi Kawasan Kota Merauke merupakan pusat dari kegiatan ekonomi, pendidikan, serta fasilitas kehidupan yang lebih memadai, sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk melakukan migrasi dan dapat menyebabkan peningkatan jumlah penduduk. Salah satu implikasinya adalah kebutuhan prasarana dan sarana permukiman terus meningkat,  sehingga mengakibatkan penurunan daya dukung prasarana dan sarana lingkungan permukiman pada daerah Kota Merauke. Dataran kota merauke merupakan daerah yang dibatasi dengan daerah perairan berupa rawa, Laut dan Muara Kali Maro yang menjadi iconic Kota Merauke. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kekumuhan dan arahan penataan Permukiman di Sekitar Muara Kali Maro, Kawasan Kondap - Cikombong, Kelurahan Kelapa Lima, Kota Merauke. Terdapat empat analisis yang digunakan pada penelitian ini, yaitu Analisis Kebijakan, Analisis Garis Sempadan Sungai, Analisis Status Lahan dan Analisis Tingkat Kekumuhan dengan menghitung Scoring untuk mengetahui tingkat kekumuhan dan merekomendasikan arahan penataan pada lokasi objek studi. Berdasarkan hasil analisis lokasi permukiman kumuh Kondap-Cikombong kota Merauke yang berdiri di tanah seluas 9,12 ha ini ada dalam tingkat kekumuhan berat dengan skor 73, sehingga perlu adanya perbaikan dan penataan pada kondisi perumahan dan infrastruktur sebagai upaya untuk meningkatkan tingkat kualitas hidup masyarakat di dalamnya.
ANALISIS KONEKTIVITAS SIMPANG TEMU LEBAK BULUS DALAM MENGHUBUNGKAN STASIUN MRT LEBAK BULUS TERHADAP JUMLAH PENGUNJUNG MALL POINS Putri, Michelle; Bella, Priyendiswara Agustina; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33942

Abstract

Jakarta, as one of the largest metropolitan cities in Indonesia, continues to improve its public transportation system to support the growing mobility needs of its population. One of the key initiatives in this effort is the construction of Simpang Temu Lebak Bulus, which serves as a connector between Lebak Bulus MRT Station and Poins Mall. This project is a collaboration between PT MRT Jakarta, as the MRT operator, and PT Menara Prambanan, the developer of Poins Mall. The strategic location of Poins Mall, near the transit-oriented area of Lebak Bulus, makes it a vital point in the existing public transportation network. Simpang Temu Lebak Bulus is designed to provide convenient pedestrian access, featuring a safe and comfortable pedestrian bridge. This infrastructure is expected not only to enhance the convenience of public transportation users but also to drive local economic growth by attracting more visitors to Poins Mall. This research aims to analyze the impact of Simpang Temu Lebak Bulus on the number of visitors to Poins Mall. Traffic flow analysis methods will be used to measure the percentage of pedestrians passing through and their destinations, as well as to evaluate the effectiveness of the built infrastructure. The results of this study are expected to provide valuable recommendations for stakeholders, including the government and developers, in efforts to increase the number of visitors to Poins Mall and improve public transportation infrastructure in Jakarta. Therefore, Simpang Temu Lebak Bulus can significantly contribute to improving the quality of life of the community and the development of the surrounding area. Keywords:  Connectivity; Lebak Bulus MRT Station; Pedestrian Flow; Poins Mall; Simpang Temu Lebak Bulus Abstrak Jakarta sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia, terus berupaya meningkatkan sistem transportasi publiknya untuk mendukung mobilitas masyarakat yang semakin meningkat. Salah satu inisiatif penting dalam hal ini adalah pembangunan Simpang Temu Lebak Bulus, yang berfungsi sebagai penghubung antara Stasiun MRT Lebak Bulus dan Mal Poins. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara PT MRT Jakarta, sebagai pengelola MRT, dan PT Menara Prambanan, yang bertindak sebagai pengembang Mal Poins. Lokasi Mal Poins yang strategis, dekat dengan kawasan berorientasi transit Lebak Bulus, menjadikannya titik penting dalam jaringan transportasi publik yang ada. Simpang Temu Lebak Bulus dirancang untuk memberikan kemudahan akses bagi pejalan kaki, dengan menyediakan jembatan penyeberangan yang aman dan nyaman. Infrastruktur ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi publik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan menarik lebih banyak pengunjung ke Mal Poins. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seberapa besar pengaruh Simpang Temu Lebak Bulus terhadap jumlah pengunjung Mal Poins. Metode penghitungan arus lalu lintas akan digunakan untuk mengukur persentase pejalan kaki yang melintas dan tujuan mereka, serta untuk mengevaluasi efektivitas infrastruktur yang telah dibangun. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang berguna bagi pihak terkait, termasuk pemerintah dan pengembang, dalam upaya meningkatkan jumlah pengunjung Mal Poins dan memperbaiki infrastruktur transportasi publik di Jakarta. Dengan demikian, Simpang Temu Lebak Bulus dapat berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pengembangan kawasan sekitarnya.
IDENTIFIKASI KONDISI PASCA PENATAAN KAWASAN KULINER PASAR LAMA TANGERANG Tannuwijaya, Wilsen; Suryadjaja, Regina; Herlambang, Suryono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33943

Abstract

Pasar Lama Culinary Area is one of the famous and historical icons in Tangerang City that reflects, especially, the development of social, economic, and cultural aspects. Pasar Lama Culinary Area is now a culinary destination that offers authentic traditional snacks, so that many visitors come, including from outside Tangerang City. At the end of 2022, Pasar Lama Culinary Area was reorganized to overcome various problems that appeared. Realignment is defined as an effort to increase the value of land/area through redevelopment in an area that can improve the function of the previous area. Reorganization is not something that is only oriented towards completing physical beauty, but must also be complemented by improving the community’s economy and recognizing existing culture. This research aims to identify the condition of Pasar Lama Culinary Area after the realignment. This research uses descriptive methods, namely by describing conditions related to data related to Pasar Lama Culinary Area and comparisons, namely by describing conditions before and after structuring. The data collection techniques used were observation, interview, and documentation. The results of the study showed a positive impact after the arrangement of the Pasar Lama Culinary Area. This finding indicates that the arrangement carried out has had a good impact and added to the tourist attraction in Pasar Lama Culinary Area. Keywords:  Culinary Destinations; Icon;  Realignment Abstrak Kawasan Kuliner Pasar Lama merupakan salah satu ikon terkenal dan bersejarah yang berada di Kota Tangerang yang mencerminkan khususnya perkembangan dari segi sosial, ekonomi, dan budaya. Kawasan Kuliner Pasar Lama kini merupakan destinasi kuliner yang menawarkan jajanan tradisional yang otentik sehingga banyak pengunjung yang datang termasuk dari luar Kota Tangerang. Pada akhir tahun 2022, Kawasan Kuliner Pasar Lama dilakukan penataan ulang untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul. Penataan kembali diartikan sebagai upaya untuk meningkatkan nilai lahan/kawasan melalui pembangunan kembali dalam suatu kawasan yang dapat meningkatkan fungsi kawasan sebelumnya. Penataan kembali bukan sesuatu yang hanya berorientasi pada penyelesaian keindahan fisik saja, tetapi juga harus dilengkapi dengan peningkatan ekonomi masyarakat serta pengenalan budaya yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi Kawasan Kuliner Pasar Lama Tangerang pasca dilakukannya penataan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu dengan menggambarkan kondisi yang berhubungan dengan data terkait Kawasan Kuliner Pasar Lama dan komparasi yaitu dengan menggambarkan kondisi sebelum dan sesudah dilakukannya penataan ulang. Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah dengan melalui pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya dampak positif setelah dilakukannya penataan pada Kawasan Kuliner Pasar Lama. Temuan ini mengindikasikan bahwa penataan yang dilakukan sudah berdampak baik dan menambah daya tarik wisata pada Kawasan Kuliner Pasar Lama.
PEMETAAN KATALOG KERUANGAN “RUANG BERSAMA INDONESIA”, KELURAHAN KENDRAN, BULELENG, BALI Suryadjaja, Regina; Suryono Herlambang
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 3 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i3.36756

Abstract

Ruang Bersama Indonesia (RBI) is a new program initiated by the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection (Kemen P3A) in January 2025 in Bali. Meanwhile, Kendran Village is one of 11 villages/villages that are the focus of the RBI program development. The RBI program is expected to be a friendly space for women, mothers and children so that there needs to be a minimum standard that is met regarding child-friendly spaces. Basically, RBI carries 24 basic indicators that have been initiated in the Child-Friendly Regency/City Program (KLA) in 2005. For this reason, this study conducted a mapping of the existing spatial catalog in Kendran Village which is seen from the physical space and socio-economic space. The methods used for mapping the RBI Spatial Catalog in Kendran Village are using drone mapping, field surveys, field observations, and interviews. The results obtained from the RBI Spatial Catalog mapping will be used by the next team as a basis for making RBI proposals in Kendran Village.   ABSTRAK Ruang Bersama Indonesia (RBI) merupakan program baru yang diinisiasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen P3A) pada Januari 2025 di Bali. Adapun, Kelurahan Kendran menjadi salah satu dari 11 kelurahan/desa yang menjadi fokus pengembangan program RBI. Program RBI diharapkan dapat menjadi ruang yang ramah bagi Perempuan, ibu dan anak sehingga perlu ada standar minimal yang dipenuhi terkait ruang ramah anak. Pada dasarnya, RBI mengusung 24 indikator dasar yang telah dicanangkan di Program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) pada tahun 2005. Untuk itu, studi ini melakukan pemetaan katalog keruangan eksisting di Kelurahan Kendran yang dilihat dari keruangan fisik dan keruangan social-ekonomi. Adapun metode yang digunakan untuk pemetaan Katalog Keruangan RBI di Kelurahan Kendran adalah menggunakan drone mapping, survei lapangan, observasi lapangan, dan wawancara. Hasil yang diperoleh dari pemetaan Katalog Keruangan RBI akan digunakan oleh tim selanjutnya sebagai dasar untuk membuat usulan RBI di Kelurahan Kendran ini.
PENATAAN KAWASAN POLDER AIR HITAM UNTUK PENGUATAN FUNGSI PENGENDALI BANJIR DAN RUANG PUBLIK DI KOTA SAMARINDA Inuq, Noviana Chrisnadytia; Widiastuti, Susanti; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37074

Abstract

Samarinda City is one of the urban areas in East Kalimantan thet experiences a high level of flood vulnerability due to lowlad topography, inadequate drainage systems, and pressures from urban development. The Air Hitam Polder was constructed as a flood control infrasructure; however, over time it has also demonstrated potential as an urban public space. This study aims to formulate a spatial planning concept for the Air Hitam Polder area that strengthens its hydrological function while simultaneously enhancing the quality of public space. The research employs a qualitative-descriptive method with a spatial approach, utilizing field observations, interviews with relevant stakeholders, andanalysis of planning and policy documents. The analysis was conducted through several stages, including identification of existing conditions, evaluation of hydrological and social functions, and formulation of a zoning-based planning concept. The result indicate that the main issues of the Air Hitam Polder area include limited public facilities, weak integration between the technical functions of the polder and social activities, and low quality of open spaces. The proposed spatial arrangement consist of a hydrogical core zone, a passive recreation zone, and public activity zone integrated with pedestrian pathways and supporting vegetation. This study demonstrates that strengthening flood control function can be achieved in parallel with improving public space quality through integrated spatial planning and sustainable management. Keywords: Flood Control; Polder; Public Space; Samarinda City; Spatial Planning Abstrak Kota Samarinda merupakan salah satu kota di Kalimantan Timur yang memiliki tingkat kerawanan banjir cukup tinggi akibat kondisi topografi dataran rendah, sistem drainase yang belum optimal, serta tekanan perkembangan kawasan perkotaan. Polder Air Hitam dibangun sebagai infrastruktur pengendali banjir, namun dalam perkembangannya juga memiliki potensi sebagai ruang publik perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep penataan kawasan Polder Air Hitam mampu memperkuat fungsi hidrologis sekaligus meningkatkan kualitas ruang publik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan spasial, melalui observasi lapangan, wawancara dengan pemangku kepentingan terkait, serta analisis dokumen perencanaan dan kebijakan. Analisis dilakukan melalui tahapan identifikasi kondisi eksisting, evaluasi fungsi hidrologi dan sosial, serta perumusan konsep zonasi kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Polder Air Hitam memiliki permasalahan utama berupa keterbatasan fasilitas publik, kurangnya integrasi antara fungsi teknis polder dan aktivitas sosial, serta rendahnya kualitas ruang terbuka. Penataan kawasan diusulkan melalui pembagian zona inti hidrologi, zona rekreasi pasif, dan zona aktivitas publik yang terintegrasi dengan jalur pedestrian dan vegetasi penunjang. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan fungsi pengendali banjir dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas ruang publik apabila didukung oleh konsep penataan terpadu dan pengelolaan berkelanjutan.
EVALUASI KETERSEDIAAN, KETERCUKUPAN, DAN PERSEBARAN FASILITAS SOSIAL DI KAWASAN APARTEMEN TOKYO RIVERSIDE PIK 2, KABUPATEN TANGERANG Owen, Jason; Suryadjaja, Regina; Widiastuti, Susanti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37075

Abstract

The growth of Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) as a new residential area in Tangerang Regency demands the provision of adequate social facilities to support the quality of life and welfare of residents. Tokyo Riverside Apartment as one of the main vertical residential areas in PIK 2 has experienced a significant increase in population, thus directly impacting the need for social facilities, especially educational, health, and religious facilities. This study aims to evaluate the availability, adequacy, and distribution of social facilities around Tokyo Riverside Apartment based on existing conditions, and compare them with the applicable population needs standards in accordance with urban planning provisions. The research method used is a quantitative and qualitative descriptive approach through an analysis of facility adequacy based on the Indonesian National Standard (SNI), supported by field observations, spatial accessibility analysis, and a study of facility utilization patterns by residents. The results show that educational facilities and religious facilities, especially Christian churches, are still limited and not evenly distributed to meet the needs of the area's residents, especially in the projected population in 2030. Meanwhile, health facilities are relatively sufficient in quantity, but the capacity of clinical services is estimated to be unable to keep up with the rate of population growth in the future. Overall, this study emphasizes the need to increase the number, capacity, and distribution of social facilities to support the development of a sustainable, inclusive, and livable PIK 2 area. Keywords: Availability Evaluation; PIK 2;  Social Facilities; Tokyo Riverside Apartments Abstrak Pertumbuhan Kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) sebagai kawasan hunian baru di wilayah Kabupaten Tangerang menuntut penyediaan fasilitas sosial yang memadai guna menunjang kualitas hidup dan kesejahteraan penghuni. Apartemen Tokyo Riverside sebagai salah satu kawasan hunian vertikal utama di PIK 2 mengalami peningkatan jumlah penduduk yang signifikan, sehingga berdampak langsung terhadap kebutuhan fasilitas sosial, khususnya fasilitas pendidikan, kesehatan, dan peribadatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan, ketercukupan, dan persebaran fasilitas sosial di sekitar Apartemen Tokyo Riverside berdasarkan kondisi eksisting, serta membandingkannya dengan standar kebutuhan penduduk yang berlaku sesuai dengan ketentuan perencanaan kawasan perkotaan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif melalui analisis ketercukupan fasilitas berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), didukung dengan observasi lapangan, analisis aksesibilitas spasial, serta kajian terhadap pola pemanfaatan fasilitas oleh penghuni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan dan fasilitas peribadatan, khususnya gereja Kristen, masih terbatas dan belum tersebar secara merata untuk memenuhi kebutuhan penduduk kawasan, terutama pada proyeksi jumlah penduduk tahun 2030. Sementara itu, fasilitas kesehatan secara kuantitas relatif telah mencukupi, namun kapasitas pelayanan klinik diperkirakan belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk di masa mendatang. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan jumlah, kapasitas, serta pemerataan fasilitas sosial guna mendukung pengembangan kawasan PIK 2 yang berkelanjutan, inklusif, dan layak huni.
EVALUASI HIERARKI PUSAT PELAYANAN PERKOTAAN MENGGUNAKAN ANALISIS SKALOGRAM DAN AKSESIBILITAS DI KOTA TANGERANG: KECAMATAN TANGERANG, KARAWACI DAN CIBODAS Amelia, Shalsadilla; Widiastuti, Susanti; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37076

Abstract

Abstract Tangerang City faces increasing demand for urban service centers that can provide equitable services in line with urban growth. This study evaluates the hierarchy of urban service centers by integrating scalogram analysis and transportation accessibility in Sub-Planning Area (SWP) A (Tangerang District) and SWP B (Karawaci and Cibodas Districts). The scalogram method and Centrality Index are used to assess facility completeness, while the Rank–Size Rule analyzes population distribution. The results indicate that Tangerang District has the highest level of facility completeness and is classified as an urban service center (order I), whereas Karawaci and Cibodas Districts are categorized as neighborhood-level service centers (order III). The integration of scalogram and transportation accessibility analyses shows that areas with more complete facilities tend to have better accessibility, while areas with limited accessibility exhibit lower and less evenly distributed service levels. These findings highlight the critical role of transportation accessibility in strengthening service center functions and promoting more balanced urban service provision in Tangerang City. Keywords: Centrality Index; Rank-Size Rule; Road Network; Scalogram; Service Center Hierarchy; Tangerang City; Transportation Accessibility Abstrak Kota Tangerang menghadapi peningkatan kebutuhan pusat pelayanan perkotaan yang mampu melayani masyarakat secara merata seiring pertumbuhan kawasan perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hierarki pusat pelayanan perkotaan melalui integrasi analisis skalogram dan aksesibilitas transportasi. Analisis dilakukan pada Sub Wilayah Perencanaan (SWP) A, yaitu Kecamatan Tangerang, serta SWP B yang meliputi Kecamatan Karawaci dan Cibodas. Metode skalogram dan Indeks Sentralitas digunakan untuk menilai kelengkapan fasilitas pelayanan, sedangkan Rank–Size Rule digunakan untuk menganalisis distribusi populasi wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Tangerang memiliki tingkat kelengkapan fasilitas tertinggi dan dikategorikan sebagai pusat pelayanan perkotaan (orde I), sementara Kecamatan Karawaci dan Cibodas berada pada tingkat pusat pelayanan lingkungan (orde III). Integrasi hasil skalogram dan analisis aksesibilitas transportasi menunjukkan bahwa wilayah dengan fasilitas yang lebih lengkap cenderung memiliki aksesibilitas transportasi yang lebih baik, sedangkan wilayah dengan aksesibilitas transportasi terbatas menunjukkan tingkat pelayanan yang lebih rendah dan belum merata. Temuan ini menegaskan pentingnya peran aksesibilitas transportasi dalam memperkuat fungsi pusat pelayanan dan mendorong pemerataan pelayanan perkotaan di Kota Tangerang.
DINAMIKA PERUBAHAN KAWASAN BLOK M: STUDI KASUS PASARAYA GANG VIRAL Riza, Febi Amanda; Suryadjaja, Regina; Widiastuti, Susanti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37077

Abstract

Blok M in South Jakarta is an urban activity center that has undergone significant transformation in recent years. The area has changed not only through improved accessibility and mobility but also through the emergence of social interaction spaces that support youth expression and activities. This study analyzes the revitalization process with a focus on Pasar Raya Gang Viral, a corridor transformed from a formal trading space into a culinary, social, and creative hub. A qualitative descriptive method with a case study approach was employed, including field observation, interviews with managers, tenants, and visitors, as well as visual documentation. Findings indicate that Gang Viral acts as a catalyst for area activity, enhances social interaction, and strengthens Blok M’s appeal as an urban mobility and interaction hub. The presence of M Bloc Space is identified as a key factor driving revitalization and collaboration among stakeholders. These findings may serve as a reference for managing other urban areas to develop creative and sustainable interaction spaces. Keywords: Blok M; Gang Viral; Revitalization; Transformation Abstrak Blok M di Jakarta Selatan merupakan pusat aktivitas perkotaan yang mengalami transformasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan ini berubah tidak hanya melalui peningkatan aksesibilitas dan mobilitas, tetapi juga melalui munculnya ruang interaksi sosial yang mendukung ekspresi dan aktivitas generasi muda. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses revitalisasi kawasan dengan fokus pada Pasar Raya Gang Viral, lorong yang berkembang dari ruang perdagangan formal menjadi pusat kuliner, sosial, dan kreatif. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dengan pengelola, tenant, dan pengunjung, serta pendokumentasian visual. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa Gang Viral berperan sebagai pemantik aktivitas kawasan, meningkatkan interaksi sosial, dan memperkuat daya tarik Blok M sebagai pusat mobilitas dan interaksi perkotaan. Kehadiran M Bloc Space juga terbukti menjadi faktor kunci yang mendorong revitalisasi dan kolaborasi antar-pelaku kawasan. Temuan ini dapat menjadi referensi bagi pengelolaan kawasan perkotaan lain dalam mengembangkan ruang interaksi yang kreatif dan berkelanjutan.