Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai Glycine max L. Pada Pemberian Kombinasi Arang Sekam Dengan Pupuk Kandang Ayam Palumpun, Stefanus Silalong; Muhibudin , Andi; Maulana, Zulkifli
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.4815

Abstract

This research aims to determine the effect of a combination of husk charcoal and chicken manure on the growth of soybean plants (Glycine max L.). This research was carried out at the Integrated Farming System Education Garden, Faculty of Agriculture, Bosowa University, on JL. Raya Poros Sapayya, Bontoramba Village, Palangga District, Gowa Regency, South Sulawesi. This research started from May to July 2024. This research used a Randomized Block Design (RAK) with 5 treatments, namely without husk charcoal and chicken manure as a control, 500 g husk charcoal + 50 g chicken manure, 600 g husk charcoal + 60 g chicken manure, 700 g husk charcoal + 70 g chicken manure and 800 g husk charcoal + 80 g chicken manure and 3 repetitions. The results of the research showed that the best growth and production was with a combined dose of 800 g of husk charcoal and 80 g of chicken manure which was able to provide growth and production in terms of plant height, stem diameter, number of pods, weight of the pods contained, seed weight of 100 g/plot, weight of the seed planting. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi takaran arang sekam dan pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan tanaman kedelai (Glycine max L.). Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Pendidikan Integrated Farming System Fakultas Pertanian Universitas Bosowa, di JL. Raya Poros Sapayya, Desa Bontoramba, Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Penelitian ini dimulai pada bulan Mei sampai Juli 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yaitu tanpa arang sekam dan pupuk kandang ayam sebagai kontrol, 500 g arang sekam + 50 g pupuk kandang ayam, 600 g arang sekam + 60 g pupuk kandang ayam, 700 g arang sekam + 70 g pupuk kandang ayam dan 800 g arang sekam + 80 g pupuk kandang ayam serta 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukan pertumbuhan dan produksi terbaik yaitu dengan dosis kombinasi 800 g arang sekam dan 80 g pupuk kandang ayam yang mampu memberikan pertumbuhan dan produksi pada tinggi tanaman, diameter batang, jumlah polong, berat polong berisi, berat biji 100 g/ plot, berat biji pertanaman.
Pendugaan Parameter Genetik Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Cabai Katokkon Capsicum chinense Jacq Febrianty, Ine; Muhibuddin, Andi; Maulana, Zulkifli
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 2 No. 1 (2024): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v2i1.3008

Abstract

Katokkon chili or commonly known as "lada katokkon" is a typical Tana Toraja chili that has a shape like peppers but has a smaller size and a distinctive aroma, as well as a spicy taste that is higher than other types of chili. The research was carried out in the form of experiments and arranged according to a Randomized Block Design (RBD) with 4 treatments 3 replications so as to obtain 15 experimental units, this study without using. The purpose of this study was to determine the estimation of genetic parameters of several growth and production characters of katokkon chili plants. This research was conducted at BTP Tamalanrea, Tamalanrea District, Makassar City, South Sulawesi and at the Green House of the Integrated Farming System Educational Garden, located at Raya poros Sapayya street, Bontoramba Village, Palangga District, Gowa Regency.  Based on the results of the study, it can be concluded that the heritability value of plant height, leaf number, stem diameter, flowering age, fruit diameter, and fruit weight per plant has a high heritability value. Medium heritability is found in the character of fruit length and harvest age. Low heritability value is found in the character of fruit stalk length. Cabai katokkon atau biasa di kenal dengan “lada katokkon” merupakan cabai khas Tana Toraja yang memiliki bentuk seperti paprika tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil dan aroma yang khas, serta rasa pedasnya yang lebih tinggi dari jenis cabai lainnya. Penelitian dilaksanakan dalam bentuk percobaan dan disusun menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan 3 ulangan sehingga diperoleh 15 unit percobaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pendugaan parameter genetik dari beberapa karakter pertumbuhan dan produksi tanaman cabai katokkon. Penelitian ini dilaksanakan di BTP Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan dan di Green House kebun pendidikan Integrated Farming System di Jalan Raya poros Sapayya, Desa Bontoramba, Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa yang memiliki nilai heritabilitas tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, umur berbunga, diameter buah, dan berat buah per tanaman mempunyai nilai heritabilitas yang tinggi. Untuk heritabilitas sedang terdapat pada karakter panjang buah dan umur panen. Nilai heritabilitas rendah terdapat pada karakter panjang tangkai buah.
Pertumbuhan Tanaman Jagung Zea Mays L. Dalam Sistem Tumpangsari Dengan Kedelai Glyciline Max L. Dengan Kombinasi Pupuk Organik Dan Anorganik Bembe, Imanuel Iwan; Amiruddin, Amiruddin; Maulana, Zulkifli; Burhan, Baharuddin
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 2 No. 2 (2024): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v2i2.4350

Abstract

This research aims to determine the growth of corn plants in soybean intercropping with a combination of organic and inorganic fertilizers. The purpose of this research is to increase knowledge and insight and it is hoped that readers will be able to provide information about how to grow crops, especially intercropping corn with soybeans by providing several types and doses of organic and inorganic fertilizers. This research was conducted in June in Bontorambak Village, Pallangga District, Gowa Regency, South Sulawesi. This research was carried out using a randomized block design (RAK) with a combination method between organic fertilizer doses and inorganic doses as follows: P0: 0 g organic + 0 g Urea/plant (control), P1: 6 kg compost + 10 g Urea/plant, P2: 12 kg compost + 15 g Urea/plant, P3: 18 kg compost + 20 g Urea/plant. Each treatment was repeated three times to obtain 12 experimental plots, each experimental plot contained 15 corn plants + 18 soybean plants so that the total number was 396 plants and three plants were taken as samples. Providing fertilizer doses to corn and soybean plants 14 days later. The experimental results showed that the P3 treatment with a dose of 18 kg organic + 20 g inorganic (Urea)/plant was able to provide the best results for plant height, number of leaves and stem diameter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman jagung dalam tumpangsari kedelai dengan kombinasi pupuk organik dan anorganik. Kegunaan dari penelitian ini untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta diharapkan mampu memberikan informasi mengenai cara bercocok tanam khususnya pada tanaman tumpangsari jagung dengan kedelai dengan pemberian beberapa jenis dan dosis pupuk organik dan anorganik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni di Desa Bontoramba, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan metode kombinasi antara dosis pupuk organik dan dosis anorganik sebagai berikut: P0: 0 g organik + 0 g Urea/tanaman (kontrol), P1:  6 kg kompos + 10 g Urea/tanaman, P2: 12 kg kompos + 15 g Urea/tanaman, P3: 18 kg kompos + 20 g Urea /tanaman. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali ulangan sehingga diperoleh 12 petak percobaan. Setiap petak percobaan terdapat 15 tanaman jagung + 18 tanaman kedelai sehingga jumlah keseluruhan 396 tanaman dan yang diambil menjadi sampel adalah tiga tanaman. Pemberian dosis pupuk pada tanaman jagung dan kedelai 14 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan P3 dengan dosis 18 kg organik + 20 g anorganik (Urea)/tanaman mampu memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang.