Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Transformasi Nilai Budaya Akibat Media Sosial di Komunitas Rural Saputra, Rafiq Ilham; Sabda, Achmad Giri; Vitaloka, Evi Rahma; Ulyanah; Fadhillah, Muhammad Rizky; Purwanto, Eko
Journal of Technology and System Information Vol. 2 No. 3 (2025): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jtsi.v2i3.4398

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi perubahan nilai budaya yang disebabkan oleh pengaruh media sosial di komunitas rural dengan menerapkan pendekatan kualitatif melalui studi literatur. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana media sosial digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat rural, mengidentifikasi perubahan pada nilai-nilai budaya tradisional, serta menganalisis proses transformasi nilai dan dampaknya terhadap identitas serta pola interaksi sosial. Tinjauan terhadap berbagai sumber literatur terbaru menunjukkan bahwa media sosial berfungsi sebagai agen perubahan yang mempercepat akses terhadap nilai-nilai budaya baru, mengakibatkan pergeseran dari nilai-nilai kolektif menuju individualisme, dan memicu fragmentasi identitas budaya, terutama di kalangan generasi muda. Namun, media sosial juga memberikan peluang untuk pelestarian dan promosi budaya lokal dengan cara yang inovatif. Penelitian ini menekankan pentingnya strategi adaptif yang menggabungkan pemanfaatan media sosial dengan upaya pelestarian budaya tradisional, sehingga komunitas rural dapat menjaga identitas budaya mereka sambil beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi untuk meningkatkan literasi digital dan pelestarian budaya di tengah transformasi sosial yang terjadi akibat digitalisasi.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN HYBRID DALAM MENINGKATKAN LITERASI DIGITAL SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Rosfiani, Okta; Aini, Mutia Nur; Wafi, Muhammad Zaim; Fadhillah, Muhammad Rizky; Husain, Fajar Nur
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i2.5918

Abstract

ABSTRACT This research is motivated by the limited studies on the effectiveness of hybrid learning in improving the digital literacy of students at State Islamic Senior High School (MAN) 11 Jakarta. In fact, this phenomenon has a significant impact on the readiness of the younger generation to face the digital era. The purpose of this study is to analyse the extent to which hybrid learning can improve the digital literacy of MAN 11 students and identify supporting and inhibiting factors in implementing it. The method used is qualitative with a case study approach. Students in grades 10 and 11, Islamic Religious Education teachers, and the principal of MAN 11 Jakarta were involved in the research process and data collection through interviews, observations, and document analysis. The results of the study showed that hybrid learning was considered effective by some students and ineffective by some other students due to a lack of in-depth understanding and less than optimal development of critical thinking skills and digital ethics. Hybrid learning needs to be supported by a pedagogical approach that explicitly targets critical digital literacy, as well as equitable infrastructure. The findings of this study suggest that there are important ideas to consider, like improving the hybrid learning model by adding elements of critical digital literacy, and practical suggestions for schools and governments to offer teacher training, create a connected curriculum, and address the digital divide. This study also opens up opportunities for further studies on the effectiveness of hybrid learning in cities and the influence of family support on students' digital literacy. ABSTRAK Penelitian ini di latarbelakangi oleh masih terbatasnya studi mengenai efektifitas pembelajaran hybrid dalam meningkatkan literasi digital siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 11 Jakarta. Padahal fenomena ini memiliki dampak signifikan terhadap kesiapan generasi muda menghadapi era digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana pembelajaran hybrid dapat meningkatkan literasi digital siswa MAN 11 serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam mengimplementasinya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Siswa kelas 10 dan 11, guru PAI, dan kepala MAN 11 Jakarta terlibat dalam proses penelitian, dan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran hybrid dianggap efektif oleh sebagian siswa, dan tidak efektif oleh sebagian siswa lainnya di karenakan kurang nya pemahaman yang mendalam, kurang optimal dalam mengembangakan keterampilan berpikir kritis dan etika digital. Pembelajaran hybrid perlu di dukung oleh pendekatan pedagogis yang eksplisit menargetkan literasi digital kritis, serta infrastruktur yang merata. Implikasi penelitian ini meliputi aspek teoretis, seperti pengayaan model hybrid learning dengan memasukan dimensi literasi digital kritis, serta aspek praktis berupa rekomendasi bagi sekolah dan pemerintah untuk menyediakan pelatihan guru, kurikulum terintegrasi, dan solusi mengatasi kesenjangan digital. Penelitian ini juga membuka peluang studi lanjutan tentang efektifitas hybrid learning di kota serta pengaruh dukungan keluarga terhadap literasi digital siswa.
Efektivitas Judicial Review dalam Menjamin Kepastian Hukum di Indonesia: Studi Atas Putusan MK dalam Perkara Hak Konstitusional Warga Negara Fadhillah, Muhammad Rizky; Rivai, Siraz Radenmas; Ruhiyat, Aisyah Ghaziyah
Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains Vol 4 No 03 (2025): Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jhhws.v4i03.2411

Abstract

Dalam beberapa kasus, Mahkamah Konstitusi terlihat tidak konsisten saat memutus perkara yang berkaitan dengan pembentukan undang-undang. Salah satu contohnya adalah Putusan No. 91/PUU-XVIII/2020, di mana undang-undang yang dianggap bermasalah dalam proses pembentukannya tetap diberlakukan untuk sementara waktu. Keputusan seperti ini menimbulkan kebingungan di masyarakat dan membuat kepastian hukum menjadi kabur. Kondisi ini bisa berdampak pada menurunnya kepercayaan terhadap lembaga peradilan, terutama ketika keputusan yang diambil bersentuhan langsung dengan hak-hak warga negara. Penelitian ini mencoba membaca pola yang muncul dari beberapa putusan Mahkamah Konstitusi dan melihat bagaimana sikap yang tidak konsisten bisa memengaruhi masa depan hukum di Indonesia. Untuk mendorong perubahan, penelitian ini mengusulkan dua langkah kelembagaan agar arah putusan bisa lebih terarah. Pertama adalah pembentukan sistem internal yang menjaga konsistensi putusan. Kedua adalah unit kerja khusus yang bertugas mengawasi pola preseden. Kedua gagasan ini ditawarkan agar logika hukum dalam setiap putusan bisa lebih kuat dan mudah dipahami, serta memberi rasa aman bagi masyarakat.
A Normative Study on Human Rights Protection in Armed Conflicts in Papua During the Prabowo Era Fadhillah, Muhammad Rizky
Journal of Social Research Vol. 5 No. 1 (2025): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v5i1.2932

Abstract

This study examines the protection of human rights during the armed conflict in Papua during the Prabowo Subianto administration by examining the alignment between security policy and the state's constitutional obligations. The escalation of security operations at the beginning of the new administration has resulted in increasing impacts on civilians, such as displacement, disruption of basic services, and disruption of social stability. This situation raises questions about the extent to which security policy complies with constitutional principles and international humanitarian law, particularly the state's obligation to protect non-derogable rights. This study aims to analyze the normative basis for human rights protection, assess the implementation of security policy, and propose a constitutional alignment mechanism as a model for policy reform in Papua. The method used is normative juridical with a statutory, conceptual, and case-based approach. Primary, secondary, and tertiary legal materials are analyzed qualitatively through systematic interpretation and synchronization of norms. The research findings reveal a significant gap between legal norms and operational implementation, particularly regarding civilian protection, proportionality in the use of force, and accountability for violations. This research offers a novel approach through the constitutional-humanitarian alignment model, a mechanism that integrates constitutional norms and humanitarian law into operational instructions, civilian protection protocols, and a multi-level oversight system. This mechanism is designed to ensure security policies are more aligned with national and international legal standards. The study concludes that constitutional alignment is a strategic step to strengthen state legitimacy, minimize the impact of the conflict on civilians, and increase the effectiveness of handling the armed conflict in Papua.
PERSEPSI GENERASI Z TERHADAP NILA-NILAI MODERASI BERAGAMA DARI DAKWAH MEDIA SOSIAL TIKTOK Rosfiani, Okta; Aulia, Vina; Fadhillah, Muhammad Rizky; A'zizah, Hikmatussalmah Nur; Maulana, Rijal; Islami, Muhammad Ridwan Al; Zamany, Alfia Zahra
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8861

Abstract

ABSTRACT The social media platform TikTok has become a significant medium for Islamic  preaching (dakwah), particularly among Generation Z. This quantitative study aims to analyze Generation Z's perceptions of religious moderation values conveyed through dakwah content on TikTok. Religious moderation in this study is understood as an attitude emphasizing balance, tolerance, non-violence, and harmony in religious life. The research uses a descriptive quantitative approach with a survey method. Data was collected through an online questionnaire distributed to 100 Generation Z respondents (born 1997-2012) who actively use TikTok and have been exposed to dakwah content on the platform. The results show that, in general, Generation Z's perceptions of the religious moderation values conveyed through TikTok dakwah tend to be positive. Most respondents view that the dakwah content they encounter emphasizes values of compassion, interfaith tolerance, and the rejection of radicalism. However, the findings also reveal variations in perception. On one hand, dakwah content presented creatively and in an accessible manner is considered effective in conveying messages of moderation. On the other hand, some respondents expressed skepticism regarding the depth of the material and concerns about the potential for oversimplified delivery or even the existence of dakwah content with exclusive nuances. The implication of this research is the importance for digital religious communicators to pay more attention to source credibility, depth of substance, and communication strategies that are creative yet comprehensive in spreading religious moderation values, so that the messages conveyed are not only viral but also foster a complete and balanced understanding for Generation Z. ABSTRAK Media sosial TikTok telah menjadi platform dakwah yang signifikan, terutama di kalangan Generasi Z. Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menganalisis persepsi Generasi Z terhadap nilai-nilai moderasi beragama yang disampaikan melalui konten dakwah di TikTok. Moderasi beragama dalam studi ini dipahami sebagai sikap yang menekankan keseimbangan, toleransi, anti-kekerasan, dan keselarasan dalam kehidupan beragama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner online yang disebarkan kepada 100 responden Generasi Z (kelahiran 1997-2012) yang aktif menggunakan TikTok dan pernah terpapar konten dakwah di platform tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, persepsi Generasi Z terhadap nilai moderasi beragama dari dakwah TikTok cenderung positif. Sebagian besar responden memandang bahwa konten dakwah yang mereka temui lebih banyak menekankan pada nilai-nilai kerahmatan, toleransi antarumat beragama, dan penolakan terhadap radikalisme. Namun, temuan juga mengungkap adanya variasi persepsi. Di satu sisi, konten dakwah yang disajikan secara kreatif dan ringan dinilai efektif dalam menyampaikan pesan moderasi. Di sisi lain, sebagian responden menyatakan skeptisisme terhadap kedalaman materi dan kekhawatiran terhadap potensi penyampaian yang terlalu simplistik atau bahkan adanya konten dakwah yang justru bernuansa eksklusif. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya para pendakwah digital untuk lebih memperhatikan kredibilitas sumber, kedalaman substansi, dan strategi komunikasi yang kreatif namun tetap menyeluruh dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama.