Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Herpes Zoster: Clinical Manifestation, Treatment, and Prevention Muhammad Izazi Hari Purwoko; Hari Darmawan
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 4 No. 3 (2020): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v4i3.129

Abstract

Herpes zoster (HZ, shingles, zoster) is a disease due to reactivation and multiplication of persistent varicella zoster virus (VVZ) after suffering from previous varicella with characteristics of dermatomal rashes, pain, and unilateral. Dermatoms most often involved in HZ lesions are thoracal, trigeminal, lumbal, and cervical. The first lesion is usually erythematous macule or papule, which then turns into vesicle, then to pustule and to become crust, and persists for 2-3 weeks. The main goal of antiviral therapy in HZ patients is to reduce the expansion, duration, and severity of rashes and pain in primary dermatomes; prevent the spread of HZ to other places; and prevent post-herpes neuralgia. One of the prevention strategies for HZ in the elderly and high-risk individuals is vaccination using the varicella zoster virus vaccine that is live zoster vaccine or recombinant zoster vaccine.
HUBUNGAN LAMA PAPARAN SINAR MATAHARI DENGAN TERJADINYA MELASMA PADA PETANI DI KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG Lynea Salsabila Santoso; Hari Darmawan
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 1 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v31i1.34837

Abstract

Melasma merupakan kelainan pigmentasi pada kulit. Gangguan ini sering terjadi pada wanita, meskipun pria juga dapat mengalaminya. Melasma seringkali muncul sebagai bercak-bercak berwarna gelap pada wajah, terutama pada area pipi, dahi, hidung, bibir atas, dan dagu. Faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan melasma meliputi paparan sinar matahari berlebihan, perubahan hormonal, faktor genetik, penggunaan obat-obatan tertentu, serta faktor inflamasi dan oksidatif. Paparan sinar matahari dan sinar UV merupakan salah satu penyebab utama melasma, dan kondisi ini sering kali memburuk pada musim panas ketika paparan sinar matahari paling tinggi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasi analitik cross sectional dengan sampel sebanyak 120 perempuan petani di Kabupaten Pringsewu Lampung. Berdasarkan hasil uji statistik yang didapat dari 120 responden penelitian nilai signifikansi yang didapat adalah p-value = 0,001 (p < 0,05). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan antara lamanya paparan sinar matahari dengan terjadinya melasma pada petani di Kabupaten Pringsewu Lampung.
MANIFESTASI KULIT SETELAH VAKSIN COVID-19: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS DAN METAANALISIS Monica Trifitriana; Rido Mulawarman; Hari Darmawan
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 2 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i2.450

Abstract

Pendahuluan: Penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) yang telah terjadi hingga saat ini mendorong pemerintah dan berbagai negara untuk melakukan vaksinasi sebagai cara untuk melawan virus COVID-19. Hingga akhir Mei 2021, lebih dari 1,5 miliar dosis vaksin telah diberikan di seluruh dunia diikuti dengan bukti nyata adanya efek samping pada kulit terkait dengan penggunaan vaksin COVID-19. Tujuan: Mengetahui bukti terbaru dan pengetahuan dari manifestasi kulit yang terkait dengan kejadian setelah vaksinasi COVID-19 selama vaksinasi massal dapat membantu tenaga kesehatan dalam edukasi pasien. Metode: Pencarian dilakukan secara komprehensif pada topik yang menilai manifestasi kulit setelah vaksinasi covid-19 dari awal hingga mei 2022. Hasil: Terdapat 15 penelitian dari total 917 pasien yang menunjukan reaksi kulit yang paling sering terjadi setelah vaksin covid-19 adalah COVID-ARM (58,2%), urtika (22,3%), morbilliform eruption (10,6%), pitiriasis like rosea (6,1%), dan VZV Reactivation (2,6%). Dari hasil systematic review dan metaanalisis juga menunjukkan reaksi kulit yang dialami paling banyak terjadi pada wanita, middle-aged, setelah vaksin pertama (vaccine based mRNA)  dengan onset 1-21 hari setelah vaksinasi. Kesimpulan: Manifestasi kulit yang didapat setelah vaksin covid-19 terutama vaksin berbasis mRNA hampir sebagian besar hanya terbatas pada area tempat suntikan (COVID-ARM), dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, dan tidak ada gejala sistemik yang berbahaya.
Fenomena Knowledge-Behavior Gap Antara Tingkat Pengetahuan Bahaya Paparan Sinar Matahari dan Kepatuhan Penggunaan Sunscreen pada Siswa-Siswi SMA Santo Yoseph Jakarta Catharina Sagita Moniaga; Yohanes Firmansyah; Irene Dorthy Santoso; Hari Darmawan; Linda Yulianti W; Sukmawati Tansil Tan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 10 (2026): Volume 8 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i10.26105

Abstract

ABSTRAK Radiasi ultraviolet (UV) sinar matahari berisiko memicu penuaan dini dan kanker kulit. Masa remaja merupakan periode penting pembentukan kebiasaan fotoproteksi karena tingginya akumulasi paparan matahari pada usia ini, antara lain penggunaan sunscreen. Mengetahui tingkat dan hubungan antara pengetahuan bahaya paparan sinar matahari dan kepatuhan menggunakan sunscreen pada siswa-siswi SMA Santo Yoseph Jakarta. Studi cross-sectionaldilakukan pada 170 siswa-siswi SMA Santo Yoseph Jakarta untuk mengevaluasi hubungan tingkat pengetahuan mengenai bahaya paparan sinar matahari dan kepatuhan penggunaan sunscreen sehari-hari dengan menggunakan kuesioner untuk tiap parameter penelitian. Jawaban kuesioner dinilai benar dan salah dengan numerik dan dihitung jumlah total nilai per subjek. Hasil akhir dikategorikan menjadi pengetahuan dan kepatuhan baik dan tidak baik. Mayoritas siswa (61,7%) memiliki pengetahuan baik tentang bahaya paparan sinar matahari, namun kepatuhan penggunaan sunscreen harian lebih rendah (50,6% tidak patuh), mengonfirmasi fenomena knowledge-behavior gap. Analisis gender menunjukkan remaja perempuan dengan pengetahuan baik berpeluang 3,063 kali lebih patuh menggunakan sunscreen. Sebaliknya, pada laki-laki tidak ditemukan hubungan signifikan. Fenomena knowledge-behavior gap antara pengetahuan bahaya paparan sinar matahari dan kepatuhan penggunaan sunscreen ditemukan terutama pada siswa laki-laki SMA Santa Yoseph Jakarta. Sedangkan pengetahuan merupakan prediktor kepatuhan yang kuat hanya pada remaja perempuan. Edukasi kesehatan di sekolah harus dibedakan berdasarkan gender, yaitu fokus pada risiko medis jangka panjang untuk perempuan, serta penghapusan stigma sosial dan rekomendasi produk yang nyaman bagi laki-laki. Kata Kunci: Sunscreen, Pengetahuan, Kepatuhan, Remaja, Gender.  ABSTRACT Ultraviolet (UV) radiation from sunlight poses a risk of triggering premature aging and skin cancer. Adolescence is a critical period for establishing photoprotection habits due to the high accumulation of sun exposure at this age, including the use of sunscreen. To determine the level and relationship between knowledge regarding the dangers of sun exposure and compliance with sunscreen use among students at Santo Yoseph High School, Jakarta. A cross-sectional study was conducted on 170 students at Santo Yoseph High School, Jakarta, to evaluate the correlation between the level of knowledge regarding the dangers of sun exposure and compliance with daily sunscreen use using questionnaires for each research parameter. Questionnaire responses were scored as correct or incorrect numerically, and the total score per subject was calculated. The final results were categorized into good and poor knowledge and compliance. The majority of students (61.7%) demonstrated good knowledge about the dangers of sun exposure; however, compliance with daily sunscreen use was lower (50.6% non-compliant), confirming a knowledge-behavior gap phenomenon. Gender analysis indicated that female adolescents with good knowledge were 3.063 times more likely to be compliant with sunscreen use. Conversely, no significant correlation was found among male students. A knowledge-behavior gap phenomenon between knowledge of the dangers of sun exposure and compliance with sunscreen use was observed, particularly among male students at Santo Yoseph High School, Jakarta. Meanwhile, knowledge served as a strong predictor of compliance only in female adolescents. School-based health education should be tailored by gender, focusing on long-term medical risks for females, and addressing the elimination of social stigma along with recommending comfortable product formulations for males. Keywords: Sunscreen, Knowledge, Compliance, Adolescents, Gender.