Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Sosialisasi Suplementasi Pakan Ikan Nila Di Area Pertambakan Desa Weduni, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan Nur Maulida Safitri; Andi Rahmad Rahim; Aminin Aminin; Farikhah Farikhah; Ummul Firmani; Teguh Budi Santoso; Nur Sa'diyah
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol 3 No 3 (2021): DedikasiMU (Journal of Community Service), September 2021, ISSN: 2716-5140, E-ISS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v3i3.2796

Abstract

Kabupaten Lamongan merupakan salah satu sentra kegiatan budidaya ikan di Propinsi Jawa Timur. Kegiatan budidaya ikan umumnya terfokus pada usaha pembesaran ikan, baik dalam areal pertambakan maupun perkolaman, baik tawar hingga bersalinitas. Salah satu komoditas perikanan dari perairan tambak Kabupaten Lamongan adalah ikan nila. Selama tiga tahun terakhir, produktivitas hasil panen ikan nila di tambak Desa Weduni semakin hari semakin turun dikarenakan mutu ikan nila yang kurang baik. Disisi lain, pembudidayaan kerang hijau memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi namun usaha ini meninggalkan limbah cangkang kerang yang menumpuk dan tidak termanfaatkan. Salah satu terobosan yang dapat dilakukan adalah dengan mengekstrak kitosan dari limbah cangkang kerang hijau yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pengaya (suplemen) pakan ikan. Pelaku usaha budidaya ikan nila umumnya merupakan masyarakat asli setempat yang mengedepankan kearifan lokal. Umumnya, keberhasilan panen bergantung pada kualitas pakan dan kondisi cuaca. Sehingga, pola budidaya ikan yang konvensional seperti ini cukup beresiko mengalami gagal panen. Pengayaan kandungan pakan ikan dapat menjadi jalan alternatif untuk meningkatkan keberhasilan usaha budidaya ikan nila. Penambahan kitosan pada pakan ikan diharapkan mampu meningkatkan imunitas, nafsu makan, serta kualitas hidup ikan sehingga dapat meningkatkan keberhasilan panen dan nilai jual ikan nila.
Perbandingan Panjang-berat dan Faktor Kondisi Antara Kerang hijau (Perna viridis) dengan Spesies Kompetitor Limnoperna fortunei di Perairan Banyuurip Ujungpangkah, Gresik Aminin; Muhammad Zainul muttaqin; Muh. Sulaiman Dadiono
Journal of Aquaculture Science Vol 7 No 1 (2022): Journal of Aquaculture Science
Publisher : Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31093/joas.v7i1.200

Abstract

Munculnya spesies kerang kompetitor di tempat kegiatan pembudidayaan kerang hijau di Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, yakni kerang Emas (Limnoperna fortunei) perlu mendapatkan perhatian. Spesies tersebut dikenal memiliki kemampuan dalam beradapatasi dan hidup bersama dengan kerang hijau dan kerang lainya. Interaksi dengan kerang ini cenderung negatif dan mempengaruhi produktivitas kerang hijau yang dibudidaya. Panjang dan berat merupakan beberapa parameter yang digunakan untuk memberikan gambaran terhadap kesehatan dan kesesuaian lingkungan suatu populasi, Analisa hubungan panjang – berat dimaksudkan untuk mengukur variasi panjang dan berat dari spesies tertentu secara individual atau kelompok, serta menjadi petunjuk tentang kegemukan, kesehatan dan perkembangan gonad. Hubungan panjang-berat (Perna viridis dan Limnoperna fortune) di perairan Banyuurib memiliki pola allometrik negatif, artinya pertumbuhan panjangnya lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan beratnya. Faktor kondisi relatif kedua jenis kerang yang diperoleh yakni kondisi lingkungan mendukung pertumbuhan yang dengan pola interaksi kompetitif, sehingga keberadaan L. fortunei di wilayah perairan Ujungpangkah, Gresik berpotensi mengganggu pertumbuhan kerang hijau.
GROWTH ANALYSIS OF THREE AQUATIC COMMODITIES CULTIVATED WITH POLYCULTURE SYSTEMS AT DIFFERENT DENSITIES Gawest Bagus Permana; Andi Rahmad Rahim; Aminin Aminin
Kontribusia : Research Dissemination for Community Development Vol 4 No 2 (2021): Kontribusia (Research Dissemination for Community Development)
Publisher : OJS Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.775 KB) | DOI: 10.30587/kontribusia.v4i2.2662

Abstract

Vanamei shrimp and milkfish (Chanos chanos) are now being cultivated in ponds using a polyculture system that is maintained simultaneously in one container. The development of cultivation technology shows that seaweed can be cultivated along with shrimp and milkfish in ponds. With the addition of seaweed is expected to increase production and improve the environmental conditions of cultivation. This polycultural cultivation system can increase the efficiency of land use can also increase the productivity of ponds. This research was conducted in the pond of Glagah Lamongan village for 42 days. This study used milkfish, shrimp vaname and seaweed Gracilaria verrucosa. The research method uses Complete RandomIzed Design (RAL) method with 3 treatments and 3 repeats so that it gets 9 experimental units, the data in the analysis using ANOVA is conducted tukey further tests. Treatment A (density of milkfish and shrimp 10 tails/m2, seaweed 250g/m2), treatment B (density of milkfish and shrimp 20 tails/m2, seaweed 500g/m2), treatment C (density of milkfish and shrimp 30 tails/m2, seaweed 1000g/m2). Variables taken are Absolute Length of milkfish, shrimp vaname and seaweed. The results obtained the absolute length of milkfish, shrimp vaname and seaweed highest in treatment A (7.67 ± 0.54a). Water quality during maintenance, temperature ranges from 29.2 – 32.8oC; DO 1.1-3.4mg/l; Salinity 1-3ppt; brightness range 24 – 50 cm and ground redox obtain a range value of -42-(-328)mV.
Histological digestive tract of milkfish’s (Chanos chanos Forskal.) from District Ujung Pangkah, Gresik Ummul Firmani; Aminin Aminin
Kontribusia : Research Dissemination for Community Development Vol 5 No 1 (2022): KONTRIBUSIA
Publisher : OJS Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.135 KB) | DOI: 10.30587/kontribusia.v5i1.2966

Abstract

Milkfish is a commodity with a high production rate. From the milkfish commodity, Gresik is the center of fishery production in East Java. Milkfish belongs to the herbivore group with the type of food from the plant group. Milkfish cultivation in traditional ponds still uses natural food as the main food for the cultivated commodities. Fish food affects the structure of the digestive tract, especially the intestines of fish. herbivorous fish have very long intestines even many times the body length, compared to omnivorous and carnivorous fish. Thus, this study aims to find out more clearly about the structure of the milkfish gut tissue. The digestive tract is related to the process of digestion, absorption and disposal of food waste, so it has an important role in the growth of fish. The research method used was descriptive experimental by making preparations of fish intestinal tissue and staining with Hematoxylin Eosin. The intestines of the fish observed were the front, middle and back. Observation of the preparations using a microscope with a dot slide scan photo. From the results of the study obtained an overview of the intestinal tissue structure of the upper (proximal), middle (middle) and lower (distal) fish. The structure of the front, middle and back of the milkfish gut tissue is similar, the difference lies in the number and thickness of the villi.
GREEN MUSSEL (Perna viridis) AND SILKWORM (Tubifex sp.) FEEDING TRIAL AS AN ALTERNATIVE FEED FOR CRAYFISH SEEDS (Cherax quadricarinatus) Andrean Fajar Kusuma; Farikhah Farikhah; Aminin Aminin
Kontribusia : Research Dissemination for Community Development Vol 4 No 2 (2021): Kontribusia (Research Dissemination for Community Development)
Publisher : OJS Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.799 KB) | DOI: 10.30587/kontribusia.v4i2.2661

Abstract

The high cost of shrimp or lobster feed is also a problem in the sustainability of aquaculture, even though freshwater crayfish, including eaters, require proper and relatively cheap feed selection. One source of feed that can be used as an alternative is green clams and silk worms. This study aims to determine which feed is better and more affordable for freshwater lobster seeds, so that the sustainability of cultivation can be well maintained in terms of economy, quality and quantity. The method used was descriptive comparing between the two feeds given a dose of each treatment, namely 10% of the lobster seed biomass, then analyzed using a 95% confidence level t-test. The results showed a significant effect (P <0.05), on the absolute length growth and absolute weight of freshwater lobster seeds. The absolute length of the seeds given green shellfish feed is 0.94 ± 0.38 cm and silkworm feed is 0.66 ± 0.27 cm, for the absolute weight of green shellfish feed is 5.11 ± 0.38 gr and silk worm feed 2.68 ± 0.18 gr. The best results from the two feeding treatments for freshwater lobster seeds were using green shellfish feed with an absolute weight value of 5.11 ± 0.38 gr and the absolute length is 0.94 ± 0.38 cm. So that green shellfish feed can be used as a better alternative feed for the cultivation of freshwater lobster seed enlargement.
EVALUASI KARAKTER SIRIP PEKTORAL HILANG (SPH) PADA IKAN LELE Clarias gariepinus STRAIN DUMBO DITINJAU DARI ASPEK PERTUMBUHAN Farikhah Farikhah; Aminin Aminin; Triana Retno Palupi; Khudori Khudori
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 19, No 2 (2020): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v19i2.1178

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang profil daya tumbuh ikan lele Clarias gariepinus strain dumbo yang membawa karakter sirip pektoral hilang (SPH). Penelitian menggunakan metoe deskriptif untuk mendapatkan variabel-variabel yang telah ditetapkan yaitu capaian bobot (g), capaian Total Length(cm), laju pertumbuhan spesifik baik bobot dan panjang (SGRBB, SGRTL), dan faktor kondisi (K) antara dua kelompok yang dibandingkan yaitu populasi ikan SPH dan ikan SPL. Seluruh karakter pertumbuhan dianalisis secara kuantitatif dan penarikan kesimpulan menggunakan t-test (α=0,05). Dua variabel lainnya, yaitu kematian (%) dan rasio konversi pakan (Food Conversion Ratio) dari kedua kelompok dibandingkan dan dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan analisis t-test (selang kepercayaan 95%) disimpulkan bahwa ikan yang membawa karakter sirip pektoral hilang  (SPH) memiliki daya tumbuh yang sama dengan ikan yang memiliki sirip pektoral lengkap atau lestari (SPL) dengan mengevaluasi beberapa variabel pertumbuhan yaitu capaian bobot (g) dan panjang (cm), SGRBB (%BB/hari), SGRL (%TL/hari), faktor kondisi (K), dalam satu periode pemeliharaan yang memadai (35hari). Adapun variabel mortalitas dan rasio konversi pakan, menunjukkan bahwa  ikan  yang membawa karakter SPH mengandung kerentanan pada kematian dan memiliki rasio konversi lebih tinggi dari ikanSPL.Kata kunci: faktor kondisi, mortalitas, rasio konversi pakan, variasi adaptif, kolam AbstractThis study aims to obtain information about the growth profile of Clarias gariepinus catfish strain dumbo strains that carry missing pectoral fin (SPH) characters. The study uses descriptive methods to obtain predetermined variables namely weight gain (g),Total Length (cm), specific growth rates both weight and length (SGRBB, SGRTL), and condition factor (K) between the two groups compared namely SPH fish population and SPL fish. All growth characters were analyzed quantitatively and conclusions were drawn using t-tests (α = 0.05). Two other variables, namely mortality (%) and feed conversion ratio (Food Conversion Ratio) of the two groups were compared and analyzed qualitatively. Based on t-test analysis (95% confidence interval), it was concluded that fish carrying missing pectoral fin character (SPH) had the same growth power as fish that had complete or sustainable pectoral fins (SPL) by evaluating several growth variables, namely weight gain (g ) and length (cm), SGRBB (% BB / day), SGRL (% TL / day), condition factor (K), within an adequate maintenance period (35 days). The mortality variable and feed conversion ratio, shows that fish carrying SPH characters contain vulnerability to death and have a higher conversion ratio than SPL fish.Keywords: condition factor, mortality, food conversion ratio, adaptable variation, pond
MINA PADI PLUS DI LAHAN TADAH HUJAN KABUPATEN GRESIK DI DESA DAHANREJO KABUPATEN GRESIK Suhaili Suhaili; Rohmatin Agustina; Aminin Aminin
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v3i1.1397

Abstract

Lahan tadah hujan berpotensi digunakan sebagai areal peningkatan produksi padi. Provinsi Jawa Timur memiliki lahan tadah hujan seluas 240.273 ha. Khususnya di Kabupaten Gresik lahan sawah didominasi oleh lahan tadah hujan, dengan luasan mencapai 29.609 ha, lebih luas dari lahan irigasi yang hanya seluas 8.177 Ha (Badan Pusat Statistik Provinsi, 2014).Kendala utama pada lahan tadah hujan adalah produktivitas lahan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan lahan irigasi, Rata-rata hasil bobot gabah kering panen padi di lahan tadah hujan Kabupaten Gresik hanya mencapai 4 ton/ha,. Oleh sebab itu perlu penerapan inovasi pertanian guna meningkatkan produksi padi. Hasil penelitian Khumairoh (2012) menunjukkan bahwa model integrasi padi, bebek, ikan, kompos dan azolla dapat menngkatkan hasil padi mencapai 10,5 ton/ha gabah kering panen. Dalam penelitian Nafisah, Suhaili dan Agustina (2017) menunjukkan bahwa kenaikan rata-rata berat GKG dengan model budidaya integrasi padi-bebek mencapai 20%, dibanding dengan budidaya monokultur. Model pertanian terpadu mina padi plus dapat meningkatkan produktivitas lahan, melalui pengelolaam aneka ragam agro-ekosistem sawah. Dalam pengabdian ini diterapkan model pertanian integrasi padi, bebek, ikan, udang vaname, kompos dan azolla dengan pembanding model pertanian monokultur yang biasa diterapkan petani.
CATATAN PERTAMA INFEKSI ANISAKID (NEMATODA) PADA IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus malabaricus) DAN KERAPU (Epinephelus sexfasciatus) DI KABUPATEN GRESIK, INDONESIA Muhammad Zainul Muttaqin; Anfa'u Mazida; Aminin Aminin
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 4 No 1 (2021): MARET 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v4i2.2435

Abstract

Anisakiasis is a human disease caused by infection of Anisakid (nematodes) from the Anisakidae family (genus: Anisakis, Pseudoterranova, and Contracaecum). Anisakid requires several hosts to complete its life cycle: paratenic host (crustacea, cephalopods, shellfish), intermediate host (fish) and a final host (marine mammals). However, humans can be infected by Anisakid by consuming the raw or undercooked host carrying the parasite. The aim of this study is to identify Anisakid in two species of marine fish; red snapper (Lutjanus malabaricus) and grouper (Epinephelus sexfasciatus) obtained from Gresik traditional markets. Anisakid identification was performed by characterization of morphological features using light microscopy. As the results, we found red snapper and grouper fish were infected by the larvae (L3) of Anisakis Type II with infection intensity and prevalence of 3.17 parasites/fish and 60%, 12.75 parasites/fish and 80%, respectively. This finding confirms the presence of Anisakid in fish for human consumption in the Gresik region and justifies further investigation.
JENIS SHELTER YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LOBSTER AIR TAWAR RED CLAW (Cherax quadricarinatus) Khoiru Achmad Zaky; Andi Rahmad Rahim; Aminin Aminin
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v3i1.1403

Abstract

Komoditas lobster air tawar mulai masuk Indonesia pada tahun 2000 dan dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pasar udang hias, pada tahun 2003, untuk memenuhi pasar udang hias mulai beralih trend menjadi salah satu jenis udang konsumsi. Jenis Red claw ini mampu bertahan pada kisaran suhu 23-37°C. Suhu diwilayah Indonesia yang berkisar 27-32°C menyebabkan pertumbuhan lobster air tawar yang lebih baik, sehingga lebih berpotensi untuk dibudidayakan. Sifat kanibal adalah penyebab utama mortalitas pada budidaya dan sering terjadi ketika lobster lain mengalami moulting. Pada habitat aslinya lobster menempati sela-sela bebatuan dan membuat lubang pada dasar perairan yang berlumpur untuk bersembunyi. Dalam budidaya diperlukan lubang atau liang persembunyian buatan dengan tujuan yang sama. Penempatan shelter atau liang perlindungan berguna sebagai tempat persembunyian. Pada awal segmen pembesaran, lobster air tawar memiliki frekuensi moulting yang masih tinggi sehingga perlu adanya shelter sebagai tempat berlindung setelah moulting. Ada beberapa liang perlindungan yang berasal dari bahan yang berbeda misalnya roster dari semen, roster dari tanah liat, tumpukan genteng, daun kelapa yang ditumpuk, serta potongan pipa paralon. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan menggunakan rancangan percobaan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Setiap wadah ditebar benih lobster ukuran 2 inch dengan kepadatan 10 ekor/wadah. Aplikasi shelter pada setiap perlakuan yaitu: A= eceng gondok, B= pipa paralon, C= batu roster, dan D= botol plastik. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perlakuan shelter yang berbeda hanya menunjukkan perbedaan nyata pada variabel pertumbuhan panjang total , dengan angka tertinggi 0,36 cm pada perlakuan C (Batu roster) dan terendah dengan angka 0,23 cm pada perlakuan D (Botol plastik). Sedangkan variabel bobot mutlak, laju pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup tidak memperlihatkan perbedaan nyata pada semua perlakuan.
PRODUKTIVITAS CACING SUTRA ( Tubifex sp ) DALAM SUBSTRAT YANG BERBEDA Abdul Fatah; Andi Rahmad Rahim; Aminin Aminin
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 4 No 1 (2021): MARET 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v4i2.2456

Abstract

Cultivation of silk worms has not much done by community although the need of silk worm’s cultivation has incresed continuesly time by time. In Fact, the process of cultivation relatively easy and also media for slik worm’s habitat is overfolwing. Therefore, the use of several substrate as media silk worm’s habitat is needed todo. The research was conducted at perum Green Hill Blok B8 for 5 weeks, starts from May until June 2019. This research was aimed to analysing the influence of silidity and the grade of silk worm’s protein after being given some different substrates, by using experimental method and randomized grup designed (RGD) wiht 4 treatments and 3 grup. P1 (control), treatment A (using goat feces), treatment B (using horse feces), treatment C(using cow feces). From those treatments, it can be concluded that different substrat showed a significant effect to absolute weight and the grade of silk worm’s protein. The highest score of absolute weight was resulted from treatment C for 6,7 gram’s and the lowest score was resulted from P1 (control) for 2,9 grams. Mean while. The highest protein content was resulted from treatment C 9,2%. It’s on cow feces