Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

MEDAN MAKNA VERBA CUT DALAM BAHASA INGGRIS Oktaviana, Ika; Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti; Felayati, Safrina Arifiani; Liambo, Eka Yunita
MIMESIS Vol. 4 No. 1 (2023): JANUARI 2023
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v4i1.7183

Abstract

This study discusses meaning field of verb cut in English. This study is aimed at finding out the lexemes of verb cut and the semantic features contained in each lexeme. The data source for this study is obtained from the research results of Levin (1993) and the iweb corpus. The data of this research only takes lexemes mentioned as group member of verb cut. The data are collected is by finding and writing off groups of cut verbs contained in the book and the corpus. Then after being collected, the data was analyzed by looking for definitions of the group of cut verbs from three dictionaries, namely the Oxford Dictionary of English, Merriam Webster Dictionary, and Longman English Dictionary. After that, the data were analyzed according to the components of meaning contained in the verb cut group. The results of this study indicate that there are 18 lexemes as members of verb cut and there are four semantic features consisting of activity, instrument, object and result features.
Kontramitos Keluarga Ideal dalam Novel Kita Pergi Hari Ini Karya Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie Sabila, Adzkia; Aditya, Aldi; Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti
Haluan Sastra Budaya Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v8i2.79559

Abstract

The concept of the ideal family in Indonesian society has been embedded since the 20th century, especially during the new order era. However, in the novel we go today, there is a cat figure who acts as the main monster in the novel. This novel provides in illustration that monster figures can appear from those closest to them, namely family members. This research uses descriptive analysis methods, with content analysis techniques. The theory used is the myth put forward by Roland Barthes.
Penguatan Budaya Literasi Membaca pada Anak di Era Disrupsi Teknologi melalui Pendirian Komunitas Baca di Teluk Purwokerto Selatan: Indonesia Oktaviana, Ika; Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti; Asriyama, Weksa Pradita; Junawaroh, Siti
Jurnal Abdimas Madani dan Lestari (JAMALI) Volume 07, Issue 01, Maret 2025
Publisher : UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jamali.vol7.iss1.art7

Abstract

The era of technological disruption poses challenges in fostering a culture of reading literacy among children. This community service endeavor aims to fortify the reading culture among children in Teluk, South Purwokerto, addressing the issue of waning interest in reading. The endeavor involves establishing a reading community to promote reading habits and create an engaging and supportive reading environment. By enhancing reading literacy culture, the objective is to establish a robust and enduring reading culture. The outcomes of this endeavor demonstrate that it not only succeeded in nurturing children's interest in reading but also improved their language skills and critical thinking abilities in Teluk, South Purwokerto.
Menembus Batas Digital: Penguatan Literasi Digital bagi Ibu-Ibu PKK di Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan, Banyumas dalam Pencegahan Informasi Hoaks Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti; Oktaviana, Ika
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 2 (2024): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i2.768

Abstract

Di era perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, literasi digital menjadi aspek yang sangat krusial dan penting dalam kehidupan sehari-hari. Literasi digital perlu dipahami oleh semua kalangan masyarakat, termasuk di kalangan Ibu-ibu. Hal tersebut dikarenakan kalangan Ibu-ibu sangat rawan akan bahaya dari penggunaan platform digital. Ibu-ibu PKK di Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan, Banyumas menjadi salah satu yang masih kurang dalam memahami budaya literasi digital sehingga masih ditemukan adanya penyebaran informasi atau informasi hoaks di sekitar lingkungan tersebut. Berlatar dari hal tersebut, kegiatan pengabdian Masyarakat ini memiliki tujuan untuk menguatkan pemahaman dan pengetahuan akan literasi digital dalam pencegahan penyebaran informasi hoaks. Hasil dari kegiatan pengabdian ini memberikan dampak dan manfaat yang positif kepada Ibu-ibu PKK di Kelurahan Teluk, diantaranya dapat menguatkan pemahaman literasi digital, meningkatkan pengetahuan dasar akan bahaya informasi hoaks, menghindari penyebaran informasi hoaks, dan menjadikan Ibu-ibu PKK sebagai agen perubahan di PKK masing-masing RT untuk menggalakkan Gerakan Ibu-ibu anti hoaks.
DOMINASI ORANG DEWASA PADA CERITA ANAK HEI, ALGA KARYA CIKIE WAHAB Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti; Pandanwangi, Wiekandini Dyah; Aditya, Aldi; Yanti, Sri Nani Hari
CERMIN: Jurnal Penelitian Vol 9 No 1 (2025): JANUARI - JULI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/cermin_unars.v9i1.6600

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat dominasi orang dewasa terhadap tokoh anak dalam cerita anak Hei, Alga karya Cikie Wahab. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan konsep relasi kuasa yang dikemukakan oleh Michael Faucoult. Hasil penelitian menunjukan bahwa dominasi orang dewasa terhadap anak-anak dalam cerita ini menimbulkan tekanan yang cukup kuat pada perkembangan kejiwaan tokoh anak. Tekanan yang terus-menerus direpetisi oleh orang dewasa melalui dominasi kekuasaan dan kontrol yang mereka lakukan membuat anak mengalami ketertekanan, tetapi di sisi lain juga memicu munculnya upaya perlawanan atau resistensi dari pihak anak. Cerita anak Hei, Alga karya Cikie Wahab ini juga memuat kritik terhadap prilaku orang dewasa yang seringkali bersikap sewenang-wenang dan kurang memperhatikan suara serta perasaan anak-anak. Cerita Hei, Alga ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan moral bagi orang dewasa agar lebih bijak dalam menggunakan kekuasaan dan otoritasnya terhadap anak-anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian sastra anak, khususnya terkait representasi relasi kuasa dan dampaknya terhadap psikologi tokoh anak.
OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN PADA LIRIK LAGU DANGDUT: PERSPEKTIF SARA MILLS Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti; Kasih, Arum Rindu Sekar
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 10 No. 1 (2022): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v10i1.93-105

Abstract

Di  Indonesia,  dangdut  adalah  salah  satu  jenis  musik  yang  digemari oleh masyarakat.  Dangdut dianggap menjadi musik  yang “merakyat” karena  banyak  lagu  dangdut  yang  musiknya  enak  didengar  serta liriknya mudah dicerna sehingga masyarakat mudah menerima musik dangdut.  Pada  sekitar  tahun  2000,  musik  dangdut  semakin berkembang  dengan  munculnya  berbagai  variasi,  seperti  dangdut koplo.  Dangdut  koplo  banyak  berkembang  di  wilayah  pantura, khususnya  wilayah  Jawa  Timur.  Musiknya  yang  enerjik  dan  meriah membuat masyarakat menyukai jenis musik ini. Ditambah pula, lirik pada  lagu-lagu  dangdut  koplo  banyak  yang  bersinggungan  dengan kehidupan  sehari-hari.  Salah  satu  ciri  khas  dari  lirik  lagu  dangdut koplo  adalah  penggunaan  kosakata  “saru”  yang  di  dalamnya sebenarnya menempatkan perempuan sebagai objek. Selain itu, lagulagu  dangdut  koplo  dibawakan  oleh  perempuan  dengan  gaya panggung  yang  cukup  erotis.  Penelitian  ini  menggali  persoalan  lirik lagu  dangdut  koplo  yang  tampak  mengobjetivikasi  perempuan. Dengan  menggunakan  pendekatan  Sara  Mills,  penelitian  ini mengambil  sudut  pandang  feminis  dengan  melihat  sosok  perempuan pada sebuah teks lagu.Kata  Kunci/Keywords:  objektivikasi,  lirik  lagu,  dangdut  koplo, feminis
Perbedaan Fitur Berbahasa Perempuan dan Laki-Laki dalam Berkomentar sebagai Ekspresi Kecantikan: Studi Kasus Akun Instagram @tccandler Kasih, Arum Rindu Sekar; Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 10 No. 2 (2022): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v10i2.1-9

Abstract

Instagram merupakan salah satu platform yang cukup banyak diminati oleh masyarakat sebagai media berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Melalui fitur-fiturnya instagram menonjolkan konten visual, seperti foto, video/reel  dan Instagram story. Instagram juga memfasilitasi pengguna dan penonton untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk bahasa melalui caption dan kolom komentar. Akun-akun Instagram bercentang biru atau yang -sudah terverifikasi biasanya mendapatkan cukup banyak- komentar dari warganet. Salah satu akun terverifikasi yang mendapat cukup bahhhnyak follower atau pengikut, yaitu berjumlah 1,2 juta, adalah @tccandler. @tccandler merupakan akun yang mengunggah foto-foto artis papan atas dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang kemudian setiap tahunnya dibuat susunan peringkat dari nomor 1 sampai 100 berdasarkan kecantikan dan ketampanan dari figur publik tersebut. Tidak ada batasan bagi pengguna instagram, baik laki-laki maupun perempuan bisa memberi komentar pada unggahan yang muncul. Penelitian ini memfokuskan pada perbedaan penggunaan bahasa antara laki-laki dan perempuan dalam memberikan ekspresi kecantikan pada kolom komentar akun instagram @tccandler. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Data yang diambil berupa komentar dari warganet pada akun @tccandler. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode padan. Penyajian data dalam penelitian ini menggunakan metode formal dan metode informal yaitu dengan perumusan dengan tanda dan lambang-lambangjuga perumusan dengan kata-kata biasa. Perbedaan-perbedaan yang tampak jelas dari komentar yang muncul menunjukan bahwa komentar yang ditulis oleh pengguna perempuan lebih sopan dibanding laki-laki, Perempuan menggunakan bahasa yang lebih standar dibanding laki-laki, perempuan lebih banyak menggunaan sapaan dalam berkomentar dibanding laki-laki, dan perempuan lebih banyak mengekspresikan komentar dengan menggunakan emoji dibandingkan laki-laki.
Interaction of Natural and Cultural Elements of Village Names in Banyumas Regency: Study of Toponymy Oktaviana, Ika; Junawaroh, Siti; Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti
HUMANIKA Vol 32, No 2 (2025): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v32i2.77829

Abstract

This study delves into the complex relationship between natural and cultural elements in shaping the meanings of village names in Banyumas Regency. By using a qualitative approach that involves archival research and interviews with local residents, the research uncovers how these elements work together to maintain the region’s ecological and cultural identity. Through the analysis of the region's toponymy, the study identifies two main factors influencing village names: physical and non-physical nature. The physical nature includes geographical features such as hydrology, morphology, and biodiversity, while the non-physical nature encompasses intangible factors like climate and cultural heritage. The findings reveal that village names often mirror the local environment, historical events, and cultural stories, offering valuable insights into the community’s bond with their natural surroundings. This research adds to the understanding of how place names act as a repository of cultural and ecological knowledge, highlighting the significance of safeguarding the intangible heritage embedded within the toponymy of Banyumas Regency.